Untuk Cerita bersambung Lainnya mulai tanggal 26 Juni selanjutnya hanya akan di posting di www.rangkaiankata2.wordpress.com
Cek di blog tersebut ya, banyak cerita seru lainnya lho..!
terima kasih.
Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Tampilkan postingan dengan label detective. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label detective. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Juni 2010
Rabu, 23 Juni 2010
RB-Bagian Delapan Belas
“Anggi?!” Jerit Dinda tertahan. Anggi langsung berhenti memberontak, lalu menepiskan tangan Fery dan langsung berlari ke dekat tante Tari.
“Ma, Fery ma.. Fery jahat sama anggi, nuduh Anggi yang nggak – nggak, ma..!” sahut Anggi, ia menarik – narik tangan tante Tari seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Dinda terperangah, keningnya langsung berkerut., “Mama?” ucap Dinda spontan.
Tante Tari berpaling pada Fery, “Ada apa sebenarnya, Fer?” tanyanya bingung.
“Semua akan jelas, ma..” ucap Fery. Suaranya bergetar.
“Jadi.. Fery dan Anggi..” suara Dinda seperti tersekat. Pram menatap kejadian di depannya dengan tatapan bingung. Untungnya Fery segera cepat tanggap dengan raut muka Dinda dan Pram.
“Ya, Din, Anggi adalah adikku satu - satunya..” jelas Fery menjawab dan memberi kepastian atas pertanyaan di kepala Dinda dan om Pram.
Dinda memandang Anggi, “Nggi, kenapa kamu nggak pernah bilang tentang hal ini?”
Anggi melengos.
“Maaf, Nggi.. gw nggak dapat lagi ngebantu elo, gw nggak bisa ngebohongin diri gw terus, gw nggak bisa melihat Dinda lebih mederita lagi..” Feri memandang Anggi.
APA?!
Dinda terbelalak kaget. Kepalanya semakin terasa berat. Anggi langsung terlihat beringas, “Bohong! Lu bohong Fer! Gw nggak salah! Anggi nggak salah, ma.. Din, gw nggak bohong Din.. semua Fery yang ngelakuin, bukan gw..!!” Anggi menarik lengan baju mamanya
“Nggi, nggak ada gunanya menyangkal lagi Nggi, gw ngeliat mobil lu lewat di depan gw di malam gw mau nambrak om Pram, lu juga yang ngirim surat dan nyebarin berita itu di sekolah, lu juga yang melarang temen – temen lu buat ngejenguk dan deketin Dinda, termasuk Selvy, lu juga kan yang sengaja ngajak gw ke kafe itu kan? bahkan lu ngejebak dia dengan ngasih nomor telpon Dinda ke Ryan, tapi lu gagal karena ternyata Ryan akhirnya memang benar – benar bersahabat dengan Dinda, nggak seperti keinginan lu kan?” Fery terlihat berusaha menahan perasaannya yang hancur lebur. Dinda terbelalak.
“Dari mana lu tahu?!! Hah!!” Bentak Anggi. Mukanya memerah menahan marah dan kesal. Fery segera menuju meja belajar kamar itu dan mengeluarkan sebuah buku berwarna pink, seperti sebuah diary.
“BRENGSEKK! Lu brengsek Fer..!!” Anggi berusaha menerjang dan memukul Fery. Pram dan tante Tari segera memeganginya. Anggi memberontak.
“Maafin gw Nggi, gw ngelakuin ini semua justru karena gw sayang sama elo, gw nggak mau lu ngelakuin yang lebih jauh lagi..” Fery menahan perasaannya.
“Bohong!! Lu brengsek, Fer!”
Dinda terpana. Ia seperti tidak yakin dengan apa yang di dengarnya, “Anggi? Jadi.. elo..”
“Iya, gw! kenapa kaget? Iya, gw yang ngambil hasil lab lu yang lu taro di tempat tidur waktu kita mo berangkat ke pesta, gw juga yang ngatur pertemuan lu sama Fery yang brengsek ini, gw yang nyebarin di sekolah, gw yang kirim surat, gw yang nabrak ayah lu, gw yang bikin Selvy dan temen – teman menjauh dari lu, semuanya gw!! Termasuk gw yang suruh Selvy ngejauhin elo! Ngerti?!!” bentak Anggi, bibirnya menyeringai. Seperti seringai seekor srigala yang bersiap menerkam mangsanya. Dinda tergidik.
“Kenapa lu lakuin semua ini ke gw Nggi? Apa salah gw?” tanya Dinda berusaha setenang mungkin, agar kepalanya tidak semakin sakit.
“Kenapa lu harus kaget? Awalnya gw nggak mau ngelakuin itu, tapi ini karena lu Fer! Lu lamban!” Fery menuding Fery. Tangannya teracung di depan wajah Fery, ”Awalnya lu nggak salah Din.. yang salah itu bokap lu ini!!” Anggi menunjuk Pram yang berdiri di samping Dinda. Lalu, ”Gara-gara bokap lu ini gw harus kehilangan papa! Gw harus menderita, beda sama lu yang hidup dengan tenang..” mata Anggi memerah menahan marah.
“Anggi, om benar – benar tidak sengaja.. itu benar - benar kecelakaan..!” Pram buka suara.
“Benar Nggi..”tante Tari berusaha meyakinkan putrinya.
“Gw nggak peduli!” Anggi histeris.
“Jadi.. lu temenan sama gw untuk balas dendam?”
“Tadinya nggak juga, tapi begitu ngeliat lu yang begitu cantik, baik, dan perfect, gw jadi benci!” Anggi histeris.
“Kenapa Nggi? Padahal gw nganggap lu temen baik gw.. sahabat gw..” tanya Dinda bingung, bercampur sedih.
“Teman baik? O.. justru itu, lu tahu kenapa gw justru benci sama lu justru setelah gw jadi temen baik lu?”
Dinda menggeleng.
Anggi menatap Dinda semakin tajam, “Justru itu, karena lu terlalu baik, semua teman – teman yang awalnya nurut sama gw, justru jadi nurut sama lu! Apa – apa lu, ini – itu elu, dan gw? gw selalu kalah sama lu Din.. bener! Kayak buntut!”
“Tapi gw nggak pernah bermaksud begitu, Nggi..”
“Alaaah.. nggak usah sok baik!”
“Gw nggak sok baik, gw Cuma pengen lu tahu kalo gw nggak pernah bermaksud membuat lu jadi nomor dua.. “
“Basi!”
“Nggi, kalau lu beranggapan, gw bahagia setelah kecelakaan itu, lu salah besar. Gw juga kehilangan bunda..”
“Benar Nggi, kamu nggak tahu apa – apa, kamu nggak pantas menyalahkan Dinda. Dindapun sudah kehilangan ibunya karena kecelakaan itu, sama kayak kita.. dan satu hal yang nggak kamu tahu, selama itu ayah Dindalah yang membantu mama, sampai kita bisa hidup kayak gini..” tante Tari membujuk Anggi.
“Itu belum cukup, ma.. karena papa nggak akan bisa diganti dengan harta ini!!”
Dinda terdiam. Sekali lagi sekeping hatinya terasa hancur lebur dan berderai. Kepala Dinda menjadi terasa semakin berat dan pusing. Semua peristiwa beberapa waktu lalu langsung terasa berputar – putar di kepalanya. Berbagai kejadian langsung hadir bergantian dan berebut di ruang benak kepala Dinda. Jantung dinda berpacu dengan cepat dan berdebar dengan keras. Wajah – wajah di depannya semakin menjauh dan mengabur. Tubuh gadis itu terkulai. Semua terasa gelap. Brukk!
Sementara itu di tempat lain..
Ryan tengah sibuk mengklik situs – situs di internet. sesekali tangannya mengganti kata kunci yang dicarinya, lalu mencatat informasi – informasi yang telah didapatnya. Demikianlah yang dilakukannya berulang – ulang, hingga didapatkannya sederet informasi yang dibutuhkannya yaitu, sebuah halaman yang memuat informasi tentang sebuah rumah sakit khusus yang didirikan oleh WHO dan Latvia untuk perawatan khusus penderita TBC, yang merupakan rumah sakit khusus yang menangani kuman tebece yang kebal terhadap obat – obatan atau pengobatan yang sering terputus dalam waktu yang lebih pendek!.Dinda nggak akan semenderita berobat di sini, yang pengobatannya harus melalui suntikan setiap hari atau obat yang berkepanjangan selama enam bulan atau sembilan bulan, atau bahkan lebih!
Ryan tersenyum. Segera dimatikannya komputer rental tersebut. setelah membayar di kasir, segera ia berlari mencari wartel terdekat. Hanya satu yang ia ingin lakukan saat ini yaitu, memberitakan kabar gembira ini kepada Dinda! Dinda pasti senang, karena ia akan sembuh!
Ryan langsung menekan beberapa digit nomor telpon interlokal. RrRrRr..!!!RrRrRr..!! RrRrRr…
Sepi. Tak ada jawaban.
Ryan menekan nomor itu sekali lagi, namun lagi – lagi tak ada yang mengangkat. Kemana gadis itu? Bukankah seharusnya ia ada di rumah, atau ayah ada di rumah?
Ryan akhirnya menyerah. Ia memutar kepalanya. Zahra, ya.. ia akan menelpon Zahra saja. Tepat setelah dering ke dua barulah telpon di seberang diangkat. Ryan bicara dengan tidak sabar.
“Halo, Assalamu’alaikum, Zahra, ini kakak,. APA Ra?! Dinda dirawat di rumah sakit?! Keadaannya bagaimana?.. APA??! Di mana Ra? Ibu lagi kesana?”
Ryan meletakkan gagang telpon dengan tergesa – gesa dan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia tersandar lemas di depan box telepon. Pikirannya kalut, air mata mengalir deras dan membanjiri sudut matanya. TIDAAAK! Dinda…!!
………bersambung ke bagian 19………..
“Ma, Fery ma.. Fery jahat sama anggi, nuduh Anggi yang nggak – nggak, ma..!” sahut Anggi, ia menarik – narik tangan tante Tari seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Dinda terperangah, keningnya langsung berkerut., “Mama?” ucap Dinda spontan.
Tante Tari berpaling pada Fery, “Ada apa sebenarnya, Fer?” tanyanya bingung.
“Semua akan jelas, ma..” ucap Fery. Suaranya bergetar.
“Jadi.. Fery dan Anggi..” suara Dinda seperti tersekat. Pram menatap kejadian di depannya dengan tatapan bingung. Untungnya Fery segera cepat tanggap dengan raut muka Dinda dan Pram.
“Ya, Din, Anggi adalah adikku satu - satunya..” jelas Fery menjawab dan memberi kepastian atas pertanyaan di kepala Dinda dan om Pram.
Dinda memandang Anggi, “Nggi, kenapa kamu nggak pernah bilang tentang hal ini?”
Anggi melengos.
“Maaf, Nggi.. gw nggak dapat lagi ngebantu elo, gw nggak bisa ngebohongin diri gw terus, gw nggak bisa melihat Dinda lebih mederita lagi..” Feri memandang Anggi.
APA?!
Dinda terbelalak kaget. Kepalanya semakin terasa berat. Anggi langsung terlihat beringas, “Bohong! Lu bohong Fer! Gw nggak salah! Anggi nggak salah, ma.. Din, gw nggak bohong Din.. semua Fery yang ngelakuin, bukan gw..!!” Anggi menarik lengan baju mamanya
“Nggi, nggak ada gunanya menyangkal lagi Nggi, gw ngeliat mobil lu lewat di depan gw di malam gw mau nambrak om Pram, lu juga yang ngirim surat dan nyebarin berita itu di sekolah, lu juga yang melarang temen – temen lu buat ngejenguk dan deketin Dinda, termasuk Selvy, lu juga kan yang sengaja ngajak gw ke kafe itu kan? bahkan lu ngejebak dia dengan ngasih nomor telpon Dinda ke Ryan, tapi lu gagal karena ternyata Ryan akhirnya memang benar – benar bersahabat dengan Dinda, nggak seperti keinginan lu kan?” Fery terlihat berusaha menahan perasaannya yang hancur lebur. Dinda terbelalak.
“Dari mana lu tahu?!! Hah!!” Bentak Anggi. Mukanya memerah menahan marah dan kesal. Fery segera menuju meja belajar kamar itu dan mengeluarkan sebuah buku berwarna pink, seperti sebuah diary.
“BRENGSEKK! Lu brengsek Fer..!!” Anggi berusaha menerjang dan memukul Fery. Pram dan tante Tari segera memeganginya. Anggi memberontak.
“Maafin gw Nggi, gw ngelakuin ini semua justru karena gw sayang sama elo, gw nggak mau lu ngelakuin yang lebih jauh lagi..” Fery menahan perasaannya.
“Bohong!! Lu brengsek, Fer!”
Dinda terpana. Ia seperti tidak yakin dengan apa yang di dengarnya, “Anggi? Jadi.. elo..”
“Iya, gw! kenapa kaget? Iya, gw yang ngambil hasil lab lu yang lu taro di tempat tidur waktu kita mo berangkat ke pesta, gw juga yang ngatur pertemuan lu sama Fery yang brengsek ini, gw yang nyebarin di sekolah, gw yang kirim surat, gw yang nabrak ayah lu, gw yang bikin Selvy dan temen – teman menjauh dari lu, semuanya gw!! Termasuk gw yang suruh Selvy ngejauhin elo! Ngerti?!!” bentak Anggi, bibirnya menyeringai. Seperti seringai seekor srigala yang bersiap menerkam mangsanya. Dinda tergidik.
“Kenapa lu lakuin semua ini ke gw Nggi? Apa salah gw?” tanya Dinda berusaha setenang mungkin, agar kepalanya tidak semakin sakit.
“Kenapa lu harus kaget? Awalnya gw nggak mau ngelakuin itu, tapi ini karena lu Fer! Lu lamban!” Fery menuding Fery. Tangannya teracung di depan wajah Fery, ”Awalnya lu nggak salah Din.. yang salah itu bokap lu ini!!” Anggi menunjuk Pram yang berdiri di samping Dinda. Lalu, ”Gara-gara bokap lu ini gw harus kehilangan papa! Gw harus menderita, beda sama lu yang hidup dengan tenang..” mata Anggi memerah menahan marah.
“Anggi, om benar – benar tidak sengaja.. itu benar - benar kecelakaan..!” Pram buka suara.
“Benar Nggi..”tante Tari berusaha meyakinkan putrinya.
“Gw nggak peduli!” Anggi histeris.
“Jadi.. lu temenan sama gw untuk balas dendam?”
“Tadinya nggak juga, tapi begitu ngeliat lu yang begitu cantik, baik, dan perfect, gw jadi benci!” Anggi histeris.
“Kenapa Nggi? Padahal gw nganggap lu temen baik gw.. sahabat gw..” tanya Dinda bingung, bercampur sedih.
“Teman baik? O.. justru itu, lu tahu kenapa gw justru benci sama lu justru setelah gw jadi temen baik lu?”
Dinda menggeleng.
Anggi menatap Dinda semakin tajam, “Justru itu, karena lu terlalu baik, semua teman – teman yang awalnya nurut sama gw, justru jadi nurut sama lu! Apa – apa lu, ini – itu elu, dan gw? gw selalu kalah sama lu Din.. bener! Kayak buntut!”
“Tapi gw nggak pernah bermaksud begitu, Nggi..”
“Alaaah.. nggak usah sok baik!”
“Gw nggak sok baik, gw Cuma pengen lu tahu kalo gw nggak pernah bermaksud membuat lu jadi nomor dua.. “
“Basi!”
“Nggi, kalau lu beranggapan, gw bahagia setelah kecelakaan itu, lu salah besar. Gw juga kehilangan bunda..”
“Benar Nggi, kamu nggak tahu apa – apa, kamu nggak pantas menyalahkan Dinda. Dindapun sudah kehilangan ibunya karena kecelakaan itu, sama kayak kita.. dan satu hal yang nggak kamu tahu, selama itu ayah Dindalah yang membantu mama, sampai kita bisa hidup kayak gini..” tante Tari membujuk Anggi.
“Itu belum cukup, ma.. karena papa nggak akan bisa diganti dengan harta ini!!”
Dinda terdiam. Sekali lagi sekeping hatinya terasa hancur lebur dan berderai. Kepala Dinda menjadi terasa semakin berat dan pusing. Semua peristiwa beberapa waktu lalu langsung terasa berputar – putar di kepalanya. Berbagai kejadian langsung hadir bergantian dan berebut di ruang benak kepala Dinda. Jantung dinda berpacu dengan cepat dan berdebar dengan keras. Wajah – wajah di depannya semakin menjauh dan mengabur. Tubuh gadis itu terkulai. Semua terasa gelap. Brukk!
Sementara itu di tempat lain..
Ryan tengah sibuk mengklik situs – situs di internet. sesekali tangannya mengganti kata kunci yang dicarinya, lalu mencatat informasi – informasi yang telah didapatnya. Demikianlah yang dilakukannya berulang – ulang, hingga didapatkannya sederet informasi yang dibutuhkannya yaitu, sebuah halaman yang memuat informasi tentang sebuah rumah sakit khusus yang didirikan oleh WHO dan Latvia untuk perawatan khusus penderita TBC, yang merupakan rumah sakit khusus yang menangani kuman tebece yang kebal terhadap obat – obatan atau pengobatan yang sering terputus dalam waktu yang lebih pendek!.Dinda nggak akan semenderita berobat di sini, yang pengobatannya harus melalui suntikan setiap hari atau obat yang berkepanjangan selama enam bulan atau sembilan bulan, atau bahkan lebih!
Ryan tersenyum. Segera dimatikannya komputer rental tersebut. setelah membayar di kasir, segera ia berlari mencari wartel terdekat. Hanya satu yang ia ingin lakukan saat ini yaitu, memberitakan kabar gembira ini kepada Dinda! Dinda pasti senang, karena ia akan sembuh!
Ryan langsung menekan beberapa digit nomor telpon interlokal. RrRrRr..!!!RrRrRr..!! RrRrRr…
Sepi. Tak ada jawaban.
Ryan menekan nomor itu sekali lagi, namun lagi – lagi tak ada yang mengangkat. Kemana gadis itu? Bukankah seharusnya ia ada di rumah, atau ayah ada di rumah?
Ryan akhirnya menyerah. Ia memutar kepalanya. Zahra, ya.. ia akan menelpon Zahra saja. Tepat setelah dering ke dua barulah telpon di seberang diangkat. Ryan bicara dengan tidak sabar.
“Halo, Assalamu’alaikum, Zahra, ini kakak,. APA Ra?! Dinda dirawat di rumah sakit?! Keadaannya bagaimana?.. APA??! Di mana Ra? Ibu lagi kesana?”
Ryan meletakkan gagang telpon dengan tergesa – gesa dan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia tersandar lemas di depan box telepon. Pikirannya kalut, air mata mengalir deras dan membanjiri sudut matanya. TIDAAAK! Dinda…!!
………bersambung ke bagian 19………..
Selasa, 22 Juni 2010
RB - Bagian Lima Belas
“Eh, Yan, kalau boleh aku tahu, ayah kamu kerjanya apa? Di mana?” tanya Dinda sore itu, ketika Ryan mampir ke tempat restoran dimana ia bekerja.
Ryan tampak gugup, lalu menyeruput tehnya, lalu memutar – mutar cangkir itu. Dinda memperhatikan semua gelagat itu dengan cermat dan penuh curiga.
“Kenapa? aku nggak boleh tahu ya?” tanya Dinda hati – hati. Ryan langsung menoleh cepat, ia memandang Dinda, “Nggak Din, aku udah nggak punya ayah sejak kecil. Aku, Zahra dan ibuku hanya hidup bertiga aja.”
“Memangnya setelah berpisah dengan ayahmu, ibu kamu nggak pernah nikah lagi?”
“Nggak. Pernah aku suruh nikah lagi, tapi ibu menolak.”
“Kenapa?”
“Ya nggak tahu. Emang kenapa sih Din kok kamu tiba – tiba cerewet begini soal keluargaku?”Ryan sedikit kesal.
“Nggak. Nanya aja. Nggak boleh?”
“Boleh aja, Cuma kan nggak biasanya begitu.”
“Kan baru sekarang ingatnya, jadi baru sekarang juga nanyanya. Oh, udah ya, ada tamu, Dinda ke belakang dulu.” Dinda beranjak dari duduknya. Tapi, tiba – tiba..
“Din, tunggu..!”
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Ia segera berbalik, lalu menghampiri Ryan, “Ada apa? Ada yang mau kamu omongin?”
Ryan terlihat ragu – ragu,”Nggg, besok aku berangkat ke Bandung. Kuliah semester satu udah mau mulai. Aku.. aku..”
“Kamu kenapa?” tanya Dinda setenang mungkin.
“Aku minta maaf karena aku nggak bisa bantu kamu lagi dan mungkin aku akan titip Zahra.”
“Nggak apa-apa kok. Hati – hati ya di sana nanti. semoga semua yang kamu cita-citakan tercapai semua..”
“Oh ya, nanti sore aku dan Zahra diundang ke acara kegiatan sosial di kampung sebelah, kalau kamu mau ikut, nanti aku dan Zahra akan jemput kamu, mungkin untuk terakhir kalinya kita pergi bertiga ..”
Dinda mengangguk, lalu meninggalkan Ryan yang memandangnya sekilas dengan tatapan sedih untuk beberapa saat, lalu kembali asyik dengan pikirannya dan memutar – mutar cangkir tehnya, sambil sesekali memainkan sendok kecil yang tergeletak di atas piring di depannya itu.
Ryan termagu, tatapannya penuh dengan rasa was-was dan takut, “Ada apa sebenarnya? Mengapa Dinda tiba – tiba menanyakan hal itu, padahal selama ini sekalipun tak pernah dibicarakannya? Apakah Dinda sudah mengetahui semua rahasia itu? tentang aku, Zahra, dan Ibu? Kalau sudah, mengapa gadis itu tak langsung saja mengatakan hal itu? Ataukah aku harus mengatakan hal itu langsung kepadanya sebelum.. sebelum kami berpisah nanti? ah, tidak. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, semua pertanyaan dan teka – teki ini.. ”
Ryan menghabiskan potongan terakhir puding yang tersisa di piringnya, lalu menyeruput teh terakhir yang tersisa di dasar cangkirnya, lalu bergegas menuju kasir dan meninggalkan restoran kecil itu dengan perasaan kacau tak menentu.
…………………………
Rumah Ryan dan Zahra…
Zahra keluar menuju ruang makan untuk membuatkan Dinda minum. Ryan duduk dengan kepala tertunduk, “Din, aku.. mau bicara..” Ryan memecah kebekuan sore terakhir itu dengan suara gemetar. Ini untuk pertama kalinya Dinda melihat cowok itu bicara gelagapan sampai gemetar seperti ini.
“Ya, aku juga mau bicara..” sahut Dinda.
“Oh ya, ya udah kamu aja duluan..”
“Nggak, kamu aja Yan.”
Ryan menarik napas panjang. Wajahnya serius, sungguh sangat berbeda dengan Ryan yang biasanya. Dindapun demikian. Ia memperhatikan dengan pernuh perhatian dan menunggu kata – kata yang akan diucapkan Ryan dengan berdebar – debar dan rasa penasaran yang meluap – luap.
“Nggg, aku.. Cuma mau tanya, apa kamu sudah tahu rahasia.. rahasia diantara kita?”
“Maksud kamu rahasia orang tua kita?”
Ryan tampak sedikir terkejut dengan jawaban Dinda, tapi sesaat kemudian ia tampak sudah bisa menguasai keadaan kembali.
“Jadi.. jadi kamu sudah mengetahuinya?”
Dinda mengangguk,”Ya, aku tahu secara nggak sengaja.”
“Ok, ok. Sekarang giliran kamu bicara.”
“Aku Cuma beberapa pertanyaan..” sahut Dinda pendek.
“Apa itu?”
“Apa.. kamu terlibat dengan semua kejadian yang kami alami selama ini? kenapa kamu dan Zahra mendekatiku selama ini? Kenapa tiba – tiba kalian memasuki kehidupanku?”
“Din!”sanggah Ryan cepat, “Aku tak mengerti maksud kamu.. ok, ok. Aku akan cerita.. begini..” Ryan menarik napas dalam – dalam, ia mulai bercerita.
“Aku akui, memang sudah lama memperhatikan kamu, sejak satu sekolah denganmu. Aku sendiri nggak ngerti Din, tapi yang jelas aku merasa ada sesuatu yang membuat aku terus memperhatikanmu. Mungkin itulah yang disebut ikatan batin.. Waktu itu aku belum sadar kalau kamu adalah anak.. om Pram. Mama pernah cerita padaku tentang papaku, tepatnya mungkin papa tiriku.. dan kehidupannya di masa lalu, tapi.. aku benar – benar nggak tahu kalau siapa dia.. sampai waktu itu, waktu acara pemilihan siswa teladan itu.. secara nggak sengaja aku liahat profile kamu, nama orang tuamu.. dan akhirnya aku menyelidiki semuanya, dan akhirnya akupun mengetahui kenyataan itu..” Ryan mengakhiri ceritanya.
“Hanya itu?”
“Ya”
“Kamu nggak dendam sama aku?”tanya Dinda.
“Dendam? Kenapa aku harus dendam?”
“Karena ayahku meninggalkan kalian..”
Ryan memandang Dinda dengan tatapan tajam,“Aku percaya sama ibu, aku tetap berpegang pada kata – kata ibu. Ibu selalu mengatakan bahwa ia justru berhutang budi sama ayahmu, jadi itu juga yang membuat aku dan Zahra berusaha menemani kamu, menjagamu.. jadi tak ada alasan bagiku untuk membencimu.. tak ada alasan bagiku untuk membenci saudara tiriku sendiri.. dan…”
Ucapan Ryan terputus. Rupanya tanpa mereka sadari Zahra sudah berdiri di pintu ruang tamu dengan wajah terkejut dan tangannya yang memegang nampan gemetaran tak menentu. Wajah Ryan pucat pasi. Dinda memandang Ryan dan Zahra secara bergantian.
“Zahra udah dengar semuanya, kak.”
“Maafin kakak, Ra. Kakak dan Ibu terpaksa merahasiakan semuanya dari kamu.”
“Kenapa kak? Kenapa harus dirahasiakan?” terlihat sedikit kilat kemarahan dimata gadis itu. Zahra meletakkan baki yang dibawanya di atas meja, lalu duduk di samping Ryan.
“Karena.. kakak dan ibu nggak mau kamu punya anggapan yang salah tentang papa kamu.”
Ryan dan Dinda saling berpandangan dan menghela napas panjang. Zahra diam. Matanya terlihat mulai berkaca - kaca.
“Jadi.. papa Zahra masih hidup, kak?”
Ryan mengangguk ragu dan takut. Zahra kembali diam untuk beberapa saat. Ryan dan Dinda ikut diam, tak berani bicara. Mendadak suasana hening mencekam menguasai ruang tamu kecil itu. Sampai akhirnya tanpa diduga…
“Alhamdulillah… ya Allah, Zahra masih punya ayah.. dan punya kakak.” gumam lirih itu meluncur dari bibir gadis itu. Ia menghambur memeluk Dinda.
“Alhamdulillah.. “ sambut Ryan dan Dinda. Lega.
…………bersambung ke bagian enam belas……………..
Ryan tampak gugup, lalu menyeruput tehnya, lalu memutar – mutar cangkir itu. Dinda memperhatikan semua gelagat itu dengan cermat dan penuh curiga.
“Kenapa? aku nggak boleh tahu ya?” tanya Dinda hati – hati. Ryan langsung menoleh cepat, ia memandang Dinda, “Nggak Din, aku udah nggak punya ayah sejak kecil. Aku, Zahra dan ibuku hanya hidup bertiga aja.”
“Memangnya setelah berpisah dengan ayahmu, ibu kamu nggak pernah nikah lagi?”
“Nggak. Pernah aku suruh nikah lagi, tapi ibu menolak.”
“Kenapa?”
“Ya nggak tahu. Emang kenapa sih Din kok kamu tiba – tiba cerewet begini soal keluargaku?”Ryan sedikit kesal.
“Nggak. Nanya aja. Nggak boleh?”
“Boleh aja, Cuma kan nggak biasanya begitu.”
“Kan baru sekarang ingatnya, jadi baru sekarang juga nanyanya. Oh, udah ya, ada tamu, Dinda ke belakang dulu.” Dinda beranjak dari duduknya. Tapi, tiba – tiba..
“Din, tunggu..!”
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Ia segera berbalik, lalu menghampiri Ryan, “Ada apa? Ada yang mau kamu omongin?”
Ryan terlihat ragu – ragu,”Nggg, besok aku berangkat ke Bandung. Kuliah semester satu udah mau mulai. Aku.. aku..”
“Kamu kenapa?” tanya Dinda setenang mungkin.
“Aku minta maaf karena aku nggak bisa bantu kamu lagi dan mungkin aku akan titip Zahra.”
“Nggak apa-apa kok. Hati – hati ya di sana nanti. semoga semua yang kamu cita-citakan tercapai semua..”
“Oh ya, nanti sore aku dan Zahra diundang ke acara kegiatan sosial di kampung sebelah, kalau kamu mau ikut, nanti aku dan Zahra akan jemput kamu, mungkin untuk terakhir kalinya kita pergi bertiga ..”
Dinda mengangguk, lalu meninggalkan Ryan yang memandangnya sekilas dengan tatapan sedih untuk beberapa saat, lalu kembali asyik dengan pikirannya dan memutar – mutar cangkir tehnya, sambil sesekali memainkan sendok kecil yang tergeletak di atas piring di depannya itu.
Ryan termagu, tatapannya penuh dengan rasa was-was dan takut, “Ada apa sebenarnya? Mengapa Dinda tiba – tiba menanyakan hal itu, padahal selama ini sekalipun tak pernah dibicarakannya? Apakah Dinda sudah mengetahui semua rahasia itu? tentang aku, Zahra, dan Ibu? Kalau sudah, mengapa gadis itu tak langsung saja mengatakan hal itu? Ataukah aku harus mengatakan hal itu langsung kepadanya sebelum.. sebelum kami berpisah nanti? ah, tidak. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, semua pertanyaan dan teka – teki ini.. ”
Ryan menghabiskan potongan terakhir puding yang tersisa di piringnya, lalu menyeruput teh terakhir yang tersisa di dasar cangkirnya, lalu bergegas menuju kasir dan meninggalkan restoran kecil itu dengan perasaan kacau tak menentu.
…………………………
Rumah Ryan dan Zahra…
Zahra keluar menuju ruang makan untuk membuatkan Dinda minum. Ryan duduk dengan kepala tertunduk, “Din, aku.. mau bicara..” Ryan memecah kebekuan sore terakhir itu dengan suara gemetar. Ini untuk pertama kalinya Dinda melihat cowok itu bicara gelagapan sampai gemetar seperti ini.
“Ya, aku juga mau bicara..” sahut Dinda.
“Oh ya, ya udah kamu aja duluan..”
“Nggak, kamu aja Yan.”
Ryan menarik napas panjang. Wajahnya serius, sungguh sangat berbeda dengan Ryan yang biasanya. Dindapun demikian. Ia memperhatikan dengan pernuh perhatian dan menunggu kata – kata yang akan diucapkan Ryan dengan berdebar – debar dan rasa penasaran yang meluap – luap.
“Nggg, aku.. Cuma mau tanya, apa kamu sudah tahu rahasia.. rahasia diantara kita?”
“Maksud kamu rahasia orang tua kita?”
Ryan tampak sedikir terkejut dengan jawaban Dinda, tapi sesaat kemudian ia tampak sudah bisa menguasai keadaan kembali.
“Jadi.. jadi kamu sudah mengetahuinya?”
Dinda mengangguk,”Ya, aku tahu secara nggak sengaja.”
“Ok, ok. Sekarang giliran kamu bicara.”
“Aku Cuma beberapa pertanyaan..” sahut Dinda pendek.
“Apa itu?”
“Apa.. kamu terlibat dengan semua kejadian yang kami alami selama ini? kenapa kamu dan Zahra mendekatiku selama ini? Kenapa tiba – tiba kalian memasuki kehidupanku?”
“Din!”sanggah Ryan cepat, “Aku tak mengerti maksud kamu.. ok, ok. Aku akan cerita.. begini..” Ryan menarik napas dalam – dalam, ia mulai bercerita.
“Aku akui, memang sudah lama memperhatikan kamu, sejak satu sekolah denganmu. Aku sendiri nggak ngerti Din, tapi yang jelas aku merasa ada sesuatu yang membuat aku terus memperhatikanmu. Mungkin itulah yang disebut ikatan batin.. Waktu itu aku belum sadar kalau kamu adalah anak.. om Pram. Mama pernah cerita padaku tentang papaku, tepatnya mungkin papa tiriku.. dan kehidupannya di masa lalu, tapi.. aku benar – benar nggak tahu kalau siapa dia.. sampai waktu itu, waktu acara pemilihan siswa teladan itu.. secara nggak sengaja aku liahat profile kamu, nama orang tuamu.. dan akhirnya aku menyelidiki semuanya, dan akhirnya akupun mengetahui kenyataan itu..” Ryan mengakhiri ceritanya.
“Hanya itu?”
“Ya”
“Kamu nggak dendam sama aku?”tanya Dinda.
“Dendam? Kenapa aku harus dendam?”
“Karena ayahku meninggalkan kalian..”
Ryan memandang Dinda dengan tatapan tajam,“Aku percaya sama ibu, aku tetap berpegang pada kata – kata ibu. Ibu selalu mengatakan bahwa ia justru berhutang budi sama ayahmu, jadi itu juga yang membuat aku dan Zahra berusaha menemani kamu, menjagamu.. jadi tak ada alasan bagiku untuk membencimu.. tak ada alasan bagiku untuk membenci saudara tiriku sendiri.. dan…”
Ucapan Ryan terputus. Rupanya tanpa mereka sadari Zahra sudah berdiri di pintu ruang tamu dengan wajah terkejut dan tangannya yang memegang nampan gemetaran tak menentu. Wajah Ryan pucat pasi. Dinda memandang Ryan dan Zahra secara bergantian.
“Zahra udah dengar semuanya, kak.”
“Maafin kakak, Ra. Kakak dan Ibu terpaksa merahasiakan semuanya dari kamu.”
“Kenapa kak? Kenapa harus dirahasiakan?” terlihat sedikit kilat kemarahan dimata gadis itu. Zahra meletakkan baki yang dibawanya di atas meja, lalu duduk di samping Ryan.
“Karena.. kakak dan ibu nggak mau kamu punya anggapan yang salah tentang papa kamu.”
Ryan dan Dinda saling berpandangan dan menghela napas panjang. Zahra diam. Matanya terlihat mulai berkaca - kaca.
“Jadi.. papa Zahra masih hidup, kak?”
Ryan mengangguk ragu dan takut. Zahra kembali diam untuk beberapa saat. Ryan dan Dinda ikut diam, tak berani bicara. Mendadak suasana hening mencekam menguasai ruang tamu kecil itu. Sampai akhirnya tanpa diduga…
“Alhamdulillah… ya Allah, Zahra masih punya ayah.. dan punya kakak.” gumam lirih itu meluncur dari bibir gadis itu. Ia menghambur memeluk Dinda.
“Alhamdulillah.. “ sambut Ryan dan Dinda. Lega.
…………bersambung ke bagian enam belas……………..
Label:
bersambung,
cari penerbit,
cerita,
detective,
dewasa,
free,
gratis,
menarik,
novel,
online,
pendek,
rahasia bidadari,
remaja,
seru
Langganan:
Postingan (Atom)