Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Jumat, 25 Juni 2010
Pindah Blog
Cek di blog tersebut ya, banyak cerita seru lainnya lho..!
terima kasih.
Rabu, 23 Juni 2010
RB-Bagian Sembilan Belas
“Din, maafin kita semua, ya? Seharusnya kita tetap dampingin elo, bantuin elo untuk melewati semua ini.. seandainya saja kita nggak ninggalin elo.. pasti semuanya nggak akan begini.. ” Mia menggenggam tangan Dinda. Matanya dipenuhi oleh butir – butir bening air mata dan memancarkan rasa penyesalan yang amat sangat.
Dinda hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Hati Mia, Selly, Desy dan Anggi semakin teriris – iris. Ketiganya tak mampu menahan rasa sedih mereka dan menahan isak tangis.
Tiba – tiba suasana yang beku itu dicairkan oleh suara dari arah pintu. Dokter Frans!
“Bapak Pram, nyonya Tari..” panggilan dokter mengagetkan semua yang hadir di ruangan itu. Tanpa banyak bertanya, Pram dan Tari segera mengikuti isyarat dokter yang bernama Frans itu menuju ruangannya.
“Begini pak, ibu Tari.. kami tetap akan berusaha semampu kami, tapi kami juga tidak mau membohong bapak dan ibu tentang keadaan Dinda, ini adalah saat – saat yang sulit..” Dokter Frans membuka perbincangan.
“Memangnya keadaan Dinda bagaimana Dokter?” tanya Pram cepat.
“Tubercolosis sebenarnya penyakit yang bisa diobati dan pemerintah sendiri sebenarnya menyiapkan pengobatan gratis untuk penyakit ini. Kalau pasien bisa mengikuti pengobatan menurut semestinya, Insya Allah akan sembuh. Cuma, kebanyakan pasien biasanya tidak tahan karena pengobatan yang membutuhkan waktu yang panjang, sehingga banyak yang putus berobat.. dan akibatnya kumat tebece jadi kebal terhadap obat – obatan.. Dan itulah yang dialami Dinda yang putus berobat berkali – kali dan sudah terbilang parah dan sudah mengeluarkan batuk darah.. serta tebece tidak lagi hanya menyerang paru – parunya, tapi juga telah menyerah organ – organ lainnya.. dan juga mungkin karena selama ini ia kurang istirahat, kami menemukan ada pendarahan bagian organ dalamnya, untuk itu kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan ini,“ Dokter itu menunjuk hasil roentgen di layer proyektor di sampingnya,” Anda lihat kan? Dalam roentgen Thorax, tulang yang padat akan terlihat putih, sedangkan udara akan terlihat hitam.. tapi ini, lihatlah! Bayangan putih di mana – mana, itu artinya ada infeksi di mana – mana, dan juga undara yang tersimpan di paru – parunya sangat sedikit.”
“Berapa persen kemungkinan akan sembuh dok?” tanya Pram dengan penuh harap dan rasa takut.
“Ada, tapi sangat kecil kalau tidak segera ditangani.. sementara ini kami sudah memberi obat – obat yang mungkin akan membantu, tapi kami sendiri tidak yakin.. obat – obat itu hanya untuk sementara.. apalagi, kemungkinan pasien punya asma dan penyakit lainnya.. tapi, kami bukan tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, karena itu kita semua harus berdoa.”
Pram dan Tari menarik napas dalam – dalam. Semua terdiam.
“Maaf, Dokter…”
Suara lain di belakang mereka membuat ketiganya menoleh. Kaget. Ryan berdiri di sana.
“Ryan? Kok kamu bisa ke sini?” tanya Pram spontan.
“Maaf, apakah anda ada perlu dengan pak Pram atau Ibu Tari?” potong dokter Frans.
“Nggak, dokter. Saya Ryan, Nngg.. temannya Dinda. Ngg.. Maaf, sebenarnya saya sudah sejak tadi mendengar pembicaraan dokter di sini, hm.. saya Cuma menyampaikan informasi yang saya dapat.”
“Tentang apa?”
“Saya baca di internet, dan ternyata ada rumah sakit pertama yang didirikan oleh WHO dan pemerintah Latvia yang khusus menangani pasien putus berobat dan pasien yang terbilang cukup parah.”
“Oh, ya.. saya juga tahu hal itu, waktu pengobatannya cukup singkat dan memang saya tadinya akan menyarankan itu. Dan untuk pengobatan lainnya pun mungkin akan lebih baik di sana. Bagaimana pak, bu?” dokter Frans berpaling pada Pram dan tante Tari. Pram dan Tari menghela napas pasrah, seperti tak ada pilihan.
“Ngg.. tapi..” Ryan tiba – tiba tampak ragu.
“Tapi apa?” tanya Pram dan Tari serentak. Cemas.
“Saya juga dapat informasi kalau ternyata biayanya seratus kali lipat berobat biasa…”
“Itu benar.” Dokter Frans mengangguk mengiyakan.
“Saya akan bantu, dokter..” ucap tante Tari tiba – tiba, mengejutkan Pram dan Ryan. Tari mengangguk meyakinkan ketiga orang itu. Pram dan Ryan memandang Tari dengan tatapan terima kasih yang tak bisa digambarkan dengan kata- kata. Haru semerbak mewangi di ruangan itu seketika.
…………………
Fery masih termagu sendirian di samping tempat tidur Dinda. Matanya terus memandangi Dinda yang tertidur pulas. Hatinya masih terasa was-was, walaupun sejak beberapa saat yang lalu gadis di depannya itu tak lagi membutuhkan alat bantu pernapasan. Hatinya terasa pedih, begitu mengingat apa yang terjadi selama ini.
“Fer, Zahra..”
Fery dan Zahra yang sedari tadi membisu terlonjak kaget. Terlebih lagi melihat Dinda yang ternyata kini telah terbangun.
“Kok pada bengong? Mana.. yang lainnya?”
“Eh, em.. itu.. “ Fery gelagapan, “Temen – temen kamu udah pulang, waktu kamu tidur tadi, trus ayah kamu sama mamaku masih di ruang dokter..”
“Ra, Ryan udah datang ya?” tanya Dinda dengan suara lemah. Wajah terlihat semakin pucat, seputih kapas.
“Udah kak, maaf, Zahra terpaksa kasih tahu kak Ryan, tadi pas dia datang kakak lagi tidur, sekarang dia lagi ke ruang dokter.” Jawab Zahra agak cangung.
“Kamu nggak ngasih tau kan, Fer tentang apa yang terjadi?”
“Belum sempat, Din..”
“Ada apa sih kak?” Tanya Zahra penasaran.
Dinda tak menjawab, matanya terlihat berkaca – kaca. Zahra tak berani bertanya lebih jauh lagi.
“Tolong jangan kasih tau apa-apa ya? Janji ya, Fer?” pinta Dinda.
Fery mengangguk. Hatinya terasa teriris – iris dan sedih, “udah, Din.. kamu nggak usah mikirin apa – apa dulu, yang penting kamu bisa sembuh, ok? Oh, ya.. tadi Selvy telpon, dia titip salam buat kamu..” bujuk Fery.
“Iya.. makasih ya, kalian udah nungguin aku..”
“Seharusnya aku yang makasih, Din.. kamu nggak benci sama aku, padahal aku udah nyakitin hati kamu..” Fery tertunduk. Hatinya diliputi rasa bersalah. Dinda tersenyum.
“Udahlah, jangan diungkit lagi, semua ini bukan salah siapa – siapa. Lagipula aku senang sekarang, semua udah kembali kayak semula, teman – teman.. ayah.. kamu.. juga Ryan.. aku udah tenang sekarang, Fer.. kalaupun aku harus pergi..”
Fery dan Zahra tak tahan mendengar ucapan Dinda. Fery memalingkan mukanya. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Zahra reflek menyilangkan jarinya di bibir Dinda, menyuruh gadis itu menghentikan ucapannya, “Kak, please.. jangan bilang begitu, kakak pasti sembuh! kakak akan sembuh.”
“Benar, Din.. “
Terdengar suara dari arah Pintu ruangan yang terkuak.
“Ryan? Ayah? Tante Tari?” ucap Dinda.
“Ya, nak, besok kita akan berangkat ke Latvia..” jelas Pram. Dinda menatap ayahnya dengan bingung.
“Buat apa, yah?”
“Ya, buat berobat laah, masak mo piknik!” celetuk Ryan.
Dinda tersenyum, lalu “Trus, biayanya..?”
Pram dan Ryan tidak segera menjawab. Keduanya hanya memandang Tari dan mengedipkan mata sebagai isyarat. Dinda segera mengerti.
“Makasih ya, tante. Maaf, Dinda merepotkan..” tante Tari mengangguk, Dinda lalu berpaling pada Pram, “Ayah, Dinda mau bicara berempat dengan ayah, Zahra dan Ryan.” pinta Dinda
Pram bingung. Semua yang hadir di ruangan itu segera menyingkir, lalu melangkah ke luar ruangan dengan wajah mengerti, walaupun wajah mereka diliputi rasa ingin tahu.
“Ayah, ayah nggak akan menuntut Anggi kan?”
“Nggak, sayang. Ayah udah maafkan semuanya.”
“Ayah, kalau boleh, Dinda punya satu permintaan sebelum Dinda dibawa kesana” ucap Dinda. Pram memandang Dinda bingung.
“Permintaan apa, Din?” tanya Pram.
“Dinda.. Dinda ingin ayah mau bertemu dengan seseorang..” ucap gadis itu sembari berpaling pada Ryan. Ryan balas mengangguk.
“Siapa?”
Dinda berpikir sejenak, lalu dikuatkannya hati mengatakan hal itu, “Tante.. tante Sintya.” Jawabnya pendek. Wajah Pram langsung diliputi rasa terkejut.
Di sisi lain, Ryan dan Zahra memandang Dinda dengan tak kalah terkejut. Dinda balas menatap mereka dengan wajah memohon agar kedua kakak beradik itu mengerti.
“Yan, sudah saatnya semua rahasia ini dibongkar.” Gumam Dinda pelan. Ia memberi isyarat agar Ryan mendekat.
“Din, aku…” ia berusaha membantah, tapi akhirnya ia menyadari kebenaran kata-kata gadis itu. tak ada lagi yang harus dirahasiakan, jangan adalagi teka – teki!
Dinda berpaling pada Pram, “Yah, maaf Dinda menyelidiki ini sendiri dan tak memberitahu ayah tentang semua yang sudah Dinda ketahui selama ini.. ini Ryan, anaknya tante Sintya. Dan ini.. “ Dinda berpaling pada Zahra yang sedari tadi menunduk cemas.”Ini anak.. anak ayah..” Dinda mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan penuh ragu – ragu.
Zahra tak berani menengadahkan mukanya. Wajah itu berubah seputih kapas. Pram apalagi. Ia terperanjat kaget, “Apa?! kamu bilang apa, Din?”
“Ya, ayah. Dinda.. Dinda menemukan photo tante Sintya dan ternyata.. dia adalah ibu dari Ryan dan Zahra, yang selama ini menemani Dinda, menjaga ayah..”
“Benarkah itu, Din? Ryan? Zahra”
Ketiganya langsung mengangguk menjawab pertanyaan itu. lalu ia memandang Dinda, Zahra dan Ryan secara bergantian. Tanpa diduga ia menghambur memeluk anak itu, memeluk Zahra, lalu memeluk Ryan.
“Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami kembali…” air mata menetes dari sudut mata Pram. Dinda memandang pemandangan dengan perasaan haru.
“Kapan ayah mau menemui tante Sintya?” sela Dinda.
Pram melepaskan pelukannya, matanya memandang ketiga anak yang kini berdiri di depannya secara bergantian,”Ayah… ayah..” Pram tak dapat melanjutkan kata – katanya.
“Kenapa Yah?”
“Beri ayah waktu..” gumam laki – laki setengah baya itu lirih. Matanya menerawang sedih. Ryan segera memapahnya duduk di kursi di samping tempat tidur Dinda.
Semua menghela napas panjang.
……………………..
Sintya sedang duduk di kursi ruang tengah. Sebuah majalah tergeletak di depannya. Ia membolak – balik kertas itu dengan malas, seperti bosan dan capek. Tiba – tiba…
“Tok! Tok! Tok! Assalamu’alaikum…”
Suara ketukan pintu dan sebuah suara yang amat dikenalnya membuat ibu satu anak itu menoleh, “Wa’alaikumussalam” jawabnya, lalu beranjak menuju ruang tamu.
Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap orang – orang yang datang bersama Ryan. Mereka tak lain adalah Dinda dan.. Pram!
Ryan segera menyalami wanita itu, diikuti oleh Dinda, sedangkan Pram masih terpaku di depan pintu dengan mata tak berkedip dan rasa tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
“Ibu.. maafkan Ryan. Ini..,”Ryan berpaling pada Pram,”Ibu.. ibu belum lupa bukan?”
Wanita itu tak bergeming dan seperti tak mendengar apa yang dikatakan Ryan. Matanya menatap lurus ke depan. Menatap Pram.
“Mas..” ucapnya dengan bibir gemetar.
“Sintya? Saya.. saya mencarimu kemana – mana…”
“Maafkan saya, mas…”
Dinda dan Ryan tak ingin menggangu suasana itu. Keduanya lalu segera menyingkir ke ruang tengah, membiarkan kedua orang yang baru bertemu itu.
Pram mendekati Sintya, “Saya.. Tyas..”
“Maafkan saya, mas. Saya pergi karena saya tak ingin merusak keluarga mas.. tapi, saya tak tahu kalau Tyas.. ah, saya tak tahu Tyas sudah meninggal.. sampai saya mendengar kata – kata yang diucapkan Dinda waktu acara sekolah itu.. saya benar – benar kaget..” Sintya mengucapkan kata – kata itu dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya hancur berkeping – keping.
“Kamu tidak salah, saya yang salah.. saya yang melibatkan kamu dengan semua masalah ini.. saya yang tak berhasil menemukanmu..”
“Mas, jangan bilang begitu.. tak ada lagi yang harus disalahkan sekarang..”
Keduanya lalu beradu pandang, ada secercah kesedihan, kehilang dan kebahagiaan yang terpancar di sana.
“Mereka… “ Pram menunjuk Ryan dan Dinda yang memandang mereka dari kejauhan.
Sintya mengangguk, “Ya, mereka adalah anak – anak kita, anak – anak yang manis..” Gumamnya.
“Ya, rahasia Tuhan memang tak bisa kita duga.. “Ucapan syukur mengalir dari mulut Pram. Keduanya mengucapkan syukur tiada henti.
………………………..
Bandara Sukarno Hatta, dua hari kemudian…
Dinda membetulkan kain selendang yang menutupi kepala dan rambut panjangnya dengan rapat. Wajahnya yang pucat tertutupi oleh serinya. Empat orang gadis sebayanya bergantian memeluknya. Mereka adalah keempat sobat Dinda. Anggi menyerahkan handphon mungilnya kepada Dinda. Gadis itu menerimanya dengan senang.
“Makasih ya, semuanya..” jawab Dinda lirih.
Dinda langsung memeluk erat Anggi, Mia, Selly dan Desi, para sahabatnya sekali lagi, dengan perasaan bahagia bercampur sedih. Bahagia, karena semuanya sudah kembali seperti semula, sedih karena akan berpisah dan belum tentu akan bertemu kembali. Anggi, Mia, Selly dan Desy membalas pelukan Dinda. Kelima gadis itu tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata.
“Ayo, anak–anak, kita harus pergi sekarang.” Pram menyadarkan mereka akan waktu yang semakin sempit.
Anggi Cs segera melepaskan pelukan mereka. Dinda segera berpaling ke arah lain. Dinda segera menghampiri Fery dan Selvy yang hanya beberapa langkah darinya.
“Fer, makasih atas semuanya, Selv.. maaf ya, kalo gw sempat berburuk sangka sama elo, kapan lu balik lagi ke australi?”
“Sama – sama, Din.. mungkin minggu ini, alhamdulillah, tempat gw dapat beasiswa dulu nawarin beasiswa untuk nerusin kuliah gw juga, doakan aja lancar, biar ntar kalo lu nyusul tahun depan, udah ada yang bantu lo di sana.. ” ujar Selvy dan langsung memeluk Dinda. Dinda membalas pelukan itu dengan hangat.
Fery menyalami Dinda dengan canggung. Dinda menyambut uluran tangannya dengan menelungkupkan kedua tangannya di dada, seperti salaman ala sunda. Zahra memandang Dinda dengan tersenyum (karena yang ngajarin Dinda Zahra lho, termasuk kerudung yang sekarang menempel di kepala Dinda!)
“Ok, Hati – hati ya, Din. Oh, ya.. Yan, jaga Dinda baik – baik ya!” ucap Fery setengah berteriak ke arah Ryan. Ryan balas mengacungkan jempol, lalu bergegas memeluk Fery, “Sorry ya, gw sempat ngatain lu yang enggak – enggak..”ujar Ryan.
“Ah, justru gw yang harus minta maaf, jaga Dinda baik – baik ya, gw tahu cuma lu mengerti dia Yan, kayaknya gw harus belajar banyak nih dari elo sebelum gw jadi ipar lu...” Fery menepuk – nepuk punggung Ryan.
Semua yang hadir terbelalak, termasuk Dinda dan Zahra. Mereka semua serentak berseru, “Ipar?! Ngincer kakak atau adeknya?”.
Muka Dinda dan Zahra seketika itu juga berubah merah. Keduanya tertawa. Semua ikut tertawa.
Dinda, Pram, Anggi Cs, tante Tari dan Sintya memandang pemandangan itu dengan geleng – geleng kepala.
Dinda lalu berpaling pada Sintya, “I.. ibu.. jaga kesehatan baik – baik ya, doakan Dinda..” ujar Dinda dengan gugup, lalu berpaling pada Zahra, “Ra, jaga ibu baik – baik ya..”.
Zahra mengangguk, lalu memeluk Dinda. Sintya tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk gadis yang baru beberapa dua hari memanggilnya dengan sebutan ibu itu dengan perasaan sayang.
“Ibu pasti doakan, nak.. “ ucapnya, membiarkan gadis itu tetap memeluknya untuk beberapa saat.
Selang beberapa detik kemudian, terdengar pengumuman untuk nomor pesawat yang akan mereka tumpangi. Dinda mencium tangan wanita itu dengan takzim. Ryan mengikuti.
“Mas, saya titip Ryan..” ucapnya sembari memandang Pram. Pram mengangguk, lalu mengulurkan tangan, sebagai salam perpisahan.
Pram dan Ryan lalu membimbing Dinda meninggalkan ruang tunggu, diikuti tante Tari. Semua menatap pemandangan itu dengan perasaan sedih, cemas, dan penuh harap. akankah waktu masih berkenan mempertemukan mereka kembali ataukah justru menjadikan pertemuan ini pertemuan terakhir? Entahlah! Tak ada yang berani memastikan dan memberi jawaban, hanya waktu yang bisa memberikan jawaban atas semua rahasia di dunia ini...
……THE END….
RB-Bagian Delapan Belas
“Ma, Fery ma.. Fery jahat sama anggi, nuduh Anggi yang nggak – nggak, ma..!” sahut Anggi, ia menarik – narik tangan tante Tari seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Dinda terperangah, keningnya langsung berkerut., “Mama?” ucap Dinda spontan.
Tante Tari berpaling pada Fery, “Ada apa sebenarnya, Fer?” tanyanya bingung.
“Semua akan jelas, ma..” ucap Fery. Suaranya bergetar.
“Jadi.. Fery dan Anggi..” suara Dinda seperti tersekat. Pram menatap kejadian di depannya dengan tatapan bingung. Untungnya Fery segera cepat tanggap dengan raut muka Dinda dan Pram.
“Ya, Din, Anggi adalah adikku satu - satunya..” jelas Fery menjawab dan memberi kepastian atas pertanyaan di kepala Dinda dan om Pram.
Dinda memandang Anggi, “Nggi, kenapa kamu nggak pernah bilang tentang hal ini?”
Anggi melengos.
“Maaf, Nggi.. gw nggak dapat lagi ngebantu elo, gw nggak bisa ngebohongin diri gw terus, gw nggak bisa melihat Dinda lebih mederita lagi..” Feri memandang Anggi.
APA?!
Dinda terbelalak kaget. Kepalanya semakin terasa berat. Anggi langsung terlihat beringas, “Bohong! Lu bohong Fer! Gw nggak salah! Anggi nggak salah, ma.. Din, gw nggak bohong Din.. semua Fery yang ngelakuin, bukan gw..!!” Anggi menarik lengan baju mamanya
“Nggi, nggak ada gunanya menyangkal lagi Nggi, gw ngeliat mobil lu lewat di depan gw di malam gw mau nambrak om Pram, lu juga yang ngirim surat dan nyebarin berita itu di sekolah, lu juga yang melarang temen – temen lu buat ngejenguk dan deketin Dinda, termasuk Selvy, lu juga kan yang sengaja ngajak gw ke kafe itu kan? bahkan lu ngejebak dia dengan ngasih nomor telpon Dinda ke Ryan, tapi lu gagal karena ternyata Ryan akhirnya memang benar – benar bersahabat dengan Dinda, nggak seperti keinginan lu kan?” Fery terlihat berusaha menahan perasaannya yang hancur lebur. Dinda terbelalak.
“Dari mana lu tahu?!! Hah!!” Bentak Anggi. Mukanya memerah menahan marah dan kesal. Fery segera menuju meja belajar kamar itu dan mengeluarkan sebuah buku berwarna pink, seperti sebuah diary.
“BRENGSEKK! Lu brengsek Fer..!!” Anggi berusaha menerjang dan memukul Fery. Pram dan tante Tari segera memeganginya. Anggi memberontak.
“Maafin gw Nggi, gw ngelakuin ini semua justru karena gw sayang sama elo, gw nggak mau lu ngelakuin yang lebih jauh lagi..” Fery menahan perasaannya.
“Bohong!! Lu brengsek, Fer!”
Dinda terpana. Ia seperti tidak yakin dengan apa yang di dengarnya, “Anggi? Jadi.. elo..”
“Iya, gw! kenapa kaget? Iya, gw yang ngambil hasil lab lu yang lu taro di tempat tidur waktu kita mo berangkat ke pesta, gw juga yang ngatur pertemuan lu sama Fery yang brengsek ini, gw yang nyebarin di sekolah, gw yang kirim surat, gw yang nabrak ayah lu, gw yang bikin Selvy dan temen – teman menjauh dari lu, semuanya gw!! Termasuk gw yang suruh Selvy ngejauhin elo! Ngerti?!!” bentak Anggi, bibirnya menyeringai. Seperti seringai seekor srigala yang bersiap menerkam mangsanya. Dinda tergidik.
“Kenapa lu lakuin semua ini ke gw Nggi? Apa salah gw?” tanya Dinda berusaha setenang mungkin, agar kepalanya tidak semakin sakit.
“Kenapa lu harus kaget? Awalnya gw nggak mau ngelakuin itu, tapi ini karena lu Fer! Lu lamban!” Fery menuding Fery. Tangannya teracung di depan wajah Fery, ”Awalnya lu nggak salah Din.. yang salah itu bokap lu ini!!” Anggi menunjuk Pram yang berdiri di samping Dinda. Lalu, ”Gara-gara bokap lu ini gw harus kehilangan papa! Gw harus menderita, beda sama lu yang hidup dengan tenang..” mata Anggi memerah menahan marah.
“Anggi, om benar – benar tidak sengaja.. itu benar - benar kecelakaan..!” Pram buka suara.
“Benar Nggi..”tante Tari berusaha meyakinkan putrinya.
“Gw nggak peduli!” Anggi histeris.
“Jadi.. lu temenan sama gw untuk balas dendam?”
“Tadinya nggak juga, tapi begitu ngeliat lu yang begitu cantik, baik, dan perfect, gw jadi benci!” Anggi histeris.
“Kenapa Nggi? Padahal gw nganggap lu temen baik gw.. sahabat gw..” tanya Dinda bingung, bercampur sedih.
“Teman baik? O.. justru itu, lu tahu kenapa gw justru benci sama lu justru setelah gw jadi temen baik lu?”
Dinda menggeleng.
Anggi menatap Dinda semakin tajam, “Justru itu, karena lu terlalu baik, semua teman – teman yang awalnya nurut sama gw, justru jadi nurut sama lu! Apa – apa lu, ini – itu elu, dan gw? gw selalu kalah sama lu Din.. bener! Kayak buntut!”
“Tapi gw nggak pernah bermaksud begitu, Nggi..”
“Alaaah.. nggak usah sok baik!”
“Gw nggak sok baik, gw Cuma pengen lu tahu kalo gw nggak pernah bermaksud membuat lu jadi nomor dua.. “
“Basi!”
“Nggi, kalau lu beranggapan, gw bahagia setelah kecelakaan itu, lu salah besar. Gw juga kehilangan bunda..”
“Benar Nggi, kamu nggak tahu apa – apa, kamu nggak pantas menyalahkan Dinda. Dindapun sudah kehilangan ibunya karena kecelakaan itu, sama kayak kita.. dan satu hal yang nggak kamu tahu, selama itu ayah Dindalah yang membantu mama, sampai kita bisa hidup kayak gini..” tante Tari membujuk Anggi.
“Itu belum cukup, ma.. karena papa nggak akan bisa diganti dengan harta ini!!”
Dinda terdiam. Sekali lagi sekeping hatinya terasa hancur lebur dan berderai. Kepala Dinda menjadi terasa semakin berat dan pusing. Semua peristiwa beberapa waktu lalu langsung terasa berputar – putar di kepalanya. Berbagai kejadian langsung hadir bergantian dan berebut di ruang benak kepala Dinda. Jantung dinda berpacu dengan cepat dan berdebar dengan keras. Wajah – wajah di depannya semakin menjauh dan mengabur. Tubuh gadis itu terkulai. Semua terasa gelap. Brukk!
Sementara itu di tempat lain..
Ryan tengah sibuk mengklik situs – situs di internet. sesekali tangannya mengganti kata kunci yang dicarinya, lalu mencatat informasi – informasi yang telah didapatnya. Demikianlah yang dilakukannya berulang – ulang, hingga didapatkannya sederet informasi yang dibutuhkannya yaitu, sebuah halaman yang memuat informasi tentang sebuah rumah sakit khusus yang didirikan oleh WHO dan Latvia untuk perawatan khusus penderita TBC, yang merupakan rumah sakit khusus yang menangani kuman tebece yang kebal terhadap obat – obatan atau pengobatan yang sering terputus dalam waktu yang lebih pendek!.Dinda nggak akan semenderita berobat di sini, yang pengobatannya harus melalui suntikan setiap hari atau obat yang berkepanjangan selama enam bulan atau sembilan bulan, atau bahkan lebih!
Ryan tersenyum. Segera dimatikannya komputer rental tersebut. setelah membayar di kasir, segera ia berlari mencari wartel terdekat. Hanya satu yang ia ingin lakukan saat ini yaitu, memberitakan kabar gembira ini kepada Dinda! Dinda pasti senang, karena ia akan sembuh!
Ryan langsung menekan beberapa digit nomor telpon interlokal. RrRrRr..!!!RrRrRr..!! RrRrRr…
Sepi. Tak ada jawaban.
Ryan menekan nomor itu sekali lagi, namun lagi – lagi tak ada yang mengangkat. Kemana gadis itu? Bukankah seharusnya ia ada di rumah, atau ayah ada di rumah?
Ryan akhirnya menyerah. Ia memutar kepalanya. Zahra, ya.. ia akan menelpon Zahra saja. Tepat setelah dering ke dua barulah telpon di seberang diangkat. Ryan bicara dengan tidak sabar.
“Halo, Assalamu’alaikum, Zahra, ini kakak,. APA Ra?! Dinda dirawat di rumah sakit?! Keadaannya bagaimana?.. APA??! Di mana Ra? Ibu lagi kesana?”
Ryan meletakkan gagang telpon dengan tergesa – gesa dan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia tersandar lemas di depan box telepon. Pikirannya kalut, air mata mengalir deras dan membanjiri sudut matanya. TIDAAAK! Dinda…!!
………bersambung ke bagian 19………..
RB- Bagian Enam Belas
Tiga bulan kemudian…
Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.
Uhuk!! Uhuk!!
Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.
“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.
“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.
Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!
“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.
“O.. Ryan, sekarang dia
“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”
“Kakak ipar?”
“Ryan
Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.
Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.
“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.
Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini?
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.
“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.
Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?
Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.
Sementara itu…
Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?
Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.
Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!
Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.
“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.
“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.
Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.
“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.
“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.
“Tolong, Din!
“Ok, kamu Cuma punya waktu
Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.
“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.
Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.
“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”
“Karena apa?”
“Atas semua salah saya selama ini.”
“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”
“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”
“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”
Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “
“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!
“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.
Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”
“Aku dan Anggi..”
“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”
Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.
Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.
“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.
Uhuk! Huk!
Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah!
Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…
……………….
Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.
“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.
“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.
“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw
Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.
“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.
“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.
Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.
“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”
“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”
“Yah, namanya juga temen Din,
Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.
Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”
“Kalau mau? Cinta
Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”
“
“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.
“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.
Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.
Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?
……………….
“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.
Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!
Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?
Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di
Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?
Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!
…………bersambung ke bagian 17……
Senin, 21 Juni 2010
RB - Bagian Dua Belas
Dinda dan Ryan memapah Pram memasuki halaman sebuah rumah kecil yang sederhana. Sementara itu Zahra membawakan barang bawaan mereka. Pram terlihat ragu ketika Dinda membimbingnyanya masuk dan membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya, sedangkan Ryan kembali ke luar untuk membantu Zahra menurunkan barang – barang bawaan mereka. Berbagai pertanyaan berserakan di kepalanya. Dinda segera membawa ayahnya duduk di kursi. Lalu ia sendiri duduk di sampingnya. Keningnya tampak mengkerut berusaha mencari kata – kata yang tepat untuk menjelaskan semua yang ada di kepalanya.
“Ayah, maafin Dinda ya, karena sekarang kita udah nggak punya rumah sebagus dulu, dan Dinda menyewakannya tanpa menunggu persetujuan ayah dan sekarang, ayah terpaksa tinggal di rumah kecil ini.. Dinda janji ya, nanti setelah Dinda dapat kerja, Dinda akan nabung, biar kita bisa tinggal rumah itu lagi..”
Dinda menggenggam tangan Pram. Pram memandang Dinda beberapa saat dengan perasaan haru, sedih, dan bangga. Dinda, inilah salah satu sikap Dinda yang persis sekali seperti Tyas, selalu minta maaf terlebih dulu kalau merasa salah. Perasaan yang begitu lembut dan perasa. Ah, Tyas.. seandainya kamu masih ada, kamu pasti bangga melihat Dinda sekarang, anak kita sudah dewasa..
“Ayah? ayah marah sama Dinda?” Dinda bertanya sekali lagi ketika melihat Pram tak juga menjawab pertanyaannya sekali lagi.
Pram tersadar dari lamunannya. Senyumnya mengembang. Segara dipeluknya gadis kecilnya itu dengan saying, “Dinda, mana mungkin ayah marah.. ayah justru bangga, karena kamu udah bisa ngambil keputusan sendiri, ayah bangga kamu bisa bertahan merawat ayah selama itu. Yah, harta hanya titipan dari yang Maha Kuasa dan dapat dicari, tapi keluarga? rumah kita sekarang ini emang kecil, tapi bukankah sering dikatakan ,’ rumah yang sempit akan terasa lapang, asalkan penghuninya berhati lapang’ ya, kan?” Pram mengusap rambut putrinya dengan sayang. Ryan yang sudah selesai membereskan barang – barang menyaksikan pemandangan ayah dan anak itu dengan penuh perhatian dan penuh rasa haru. (hiks.. hiks.. kayak di telenovela.. )
………………
Jakarta, Awal Juni 2005
Dinda mengemasi berkas – berkasnya yang berceceran di lantai. Ini adalah hari ke tiga ia berkeliling di tengah panasnya kota demi mengharapkan sebuah pekerjaan. Panas dan hujan sudah dilewatinya. Perkantoran di gedung – gedung bertingkat sampai yang hanya di petakan kecil sekalipun telah dimasukinya. Namun sampai saat ini belum membuahkan hasil. Semuanya tersangkut pada riwayat kesehatannya, TBC. Memang sih ada beberapa kantor yang tidak mempedulikan itu, tapi tidak ada kecocokan dalam gaji. Atau ada yang gajinya cocok, pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan.
Huff. Ternyata emang sulit ya, cari kerja dengan Cuma bermodal ijazah SMU, desah Dinda. Ijazah? Ya, berkat kemurahan hati kepala sekolahnya, akhirnya Dinda diperbolehkan mengikuti ujian akhir dan tentu saja di tempat yang terpisah dari murid lainnya. Dan berkat kesungguhan Ryan dan Zahra (lho, kok mereka? Oh iya, pasalnya sebelum mengikuti ujian, merekalah yang mengajari Dinda semua materi yang sempat ditinggalkan Dinda), hingga akhirnya gadis itu bisa memperoleh ijazahnya beberapa hari yang lalu.
“Ehem.. ehem.. anak ayah sedang mikirin siapa nih? “ deheman ayahnya membuat Dinda berhenti melamun. Pram, ayahnya tengah berdiri di pintu kamar dengan kruk di ketiak kanannya. Muka Dinda langsung bersemu merah (kepergok ni ye..).
“Ah, ayah! Nggak kok, Dinda Cuma lagi mikirin kerjaan apa lagi yang harus Dinda coba lamar.” jawab Dinda.
“O, kirain mikirin ngg..” Pram pura – pura berpikir dan menopang dagunya, berpikir.
“Nggg apa? Ayo, mulai deh! Ayah ada – ada aja, yang Dinda pikirin tuh Cuma ayah, suwer deh! Tak kan ada cinta yang lain..” Dinda menirukan sebuah lagu yang cukup ngetop. Tiba – tiba..
“Assalamu ‘alaikum!”
Suara dari pintu membuat Dinda berhenti berkoar, eh, menyanyi!. Hm.. pasti Ryan, bisik gadis itu dalam hati. Dan ternyata dugaannya nggak salah, Ryan memang udah cengar – cengir di sana!
“Hmmm, lumayan juga suaranya,” komentar Ryan iseng. Dinda tersenyum malu. Tapi.. “Lumayan nakutin tikus maksudnya! he..he..”
Dinda berubah manyun. Huh! Dasar, nyebeliinnnn lin.. lin..!
“Ada juga nggak apa – apa kok, Oh ya, Din, kamu udah putusin kamu mau kuliah Dimana? Ryan gimana? Oh ya, kok tumben Zahra nggak ikut?” tanya Pram.
“Eh, ada ooom. Zahra bentar lagi juga nyusul kesini oom.” cowok itu mesem – mesem begitu menyadari Pram sedang duduk di kursi tamu. Gantian Dinda yang cengar – cengir. Rasain!
“Ryan diterima di teknik ITB om, jadi, minggu depan harus berangkat ke Bandung.” jawab Ryan.
“Gitu – gitu kan fisikanya paling pinter di sekolahan yah! Kalo Dinda, Dinda belum tahu, pokoknya Dinda nggak mau macam – macam, Dinda Cuma pengen ayah sembuh dulu, baru abis itu mikirin kuliah Dinda, ok?” ucap Dinda sambil membolak balik tawaran yang diberikan Anggi kemarin, mulutnya mengerucut.
“Oh iya, gimana keadaan ibumu? Sehat? Ah, karena kamu udah banyak bantu om dan Dinda, mungkin nanti sesekali om pengen ketemu sama ibumu.” Sambung Pram.
Ryan terlihat sedikit gelagapan, “Nggg, ibu sehat, om. Tapi sekarang sedang sibuk, ngg.. mungkin..” suara Ryan tersendat, seperti ada sesuatu mengganjal tenggorokannya.
“Mungkin apa?”
“Ah, nggak, om.” Jawab Ryan menutupi apa yang ada di pikirannya. Pram tak lagi bertanya. Karena Dinda segera menyodorkan sebuah iklan yang sudah digarisi di depan mukanya.
“Yah, lihat deh! Nggg, kalo ngelamar pelayan di restoran untuk sementara dulu nggak apa – apa kali ya? Gimana yah, cocok nggak tampang Dinda yah? Ok kan Yan?”
“Cocok, buat nakutin preman yang nagih uang keamanan Din! he..hee.. “ jawab Ryan asal. Ggrr.. Dinda tambah cemberut, “Becanda denk! Mendingan cari kerjaan part time di butik – butik atau toko islam aja Din, kan kamu bisa sekalian belajar pakai jilbab.”
Kening Dinda berkerut, “ Belajar pakai jilbab kayak Zahra?”
Ryan mengangguk. Dinda memandang Ayahnya, “ Pantes juga kali ya, yah? Seragam kerja panjang, trus pakai jilbab, gimana yah?” Dinda memandang Pram meminta pendapat.
Pram terdiam. Ia mengerti dengan ucapan putrinya. Dinda, sebegitu besarkah cintamu pada ayahmu ini? Sampai harus mencari pekerjaan dan menunda kuliah demi Ayahmu ini? mengapa selama ini aku tak menyadarinya selama ini?
“Lho, kok ayah jadi diam? Dinda kan nanya pendapat ayah...” Dinda bingung. Ryan yang tadinya cengengesan ikut diam.
Pram menatap Dinda, “Nggak, nggak apa – apa kalo kamu suka, lagian mungkin memang sudah sepantasnya kamu memakai kerudung. Dan sementara itu, sambil nanti ayah coba hubungi beberapa mantan relasi papa di kantor apa ada yang butuh staff di sana, sekaligus nanyain apa ayah masih bisa masuk lagi ke sana. Ngg.. tadi, ayah cuma mikir aja, kalau ayah nggak ngalamin seperti ini, kamu pasti sedang sibuk seperti temen – temenmu yang lain sekarang, sibuk nyari tempat kuliah, tes ke sana – sini atau siap – siap kuliah di universitas favorit dan bukannya sibuk cari kerjaan. “
“Udah ah, ayah. “ Dinda memotong perkataan ayahnya, ”Kok ngomong gitu sih? kan ayah sendiri yang ngomong, semua ada hikmahnya, jadi kita ambil hikmahnya aja, ok? Mungkin Dinda mau ngasih kesempatan dulu buat orang lain kuliah di sana, lumayan kan satu bangku? Hmm, Dinda mo masak dulu, biar ntar kita bisa makan bareng – bareng. Ayah ngobrol aja sama tuan iseng ini ya? Ok?” ujar Dinda. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum, sebelum berlalu menuju dapur. Pram geleng – geleng kepala melihat ulah putrinya. Dinda.. Dinda !
Di dapur, Dinda merenungkan kembali kata – kata ayahnya. Hati Dinda terasa teriris. Bukan, bukan karena ia memikirkan kenyataan bahwa dirinya tak bisa seperti teman – temannya yang lain, juga bukan memikirkan keadaan ayahnya yang membuatnya seperti ini.. karena tanpa kejadian yang menimpa ayahnyapun ia pasti akan mengalami seperti ini. Tapi, hatinya terasa pedih karena memikir kenyataan tentang keadaan dirinya yang kian hari semakin memburuk dan membayangkan waktu yang semakin menyempit, Apalagi mengingat beberapa hari terakhir ini frekuensi batuknya yang semakin menjadi – jadi dan dadanya yang sering kali terasa sakit. Pilu.
…………bersambung ke bagian 13…………
RB - Bagian Sebelas
Pram membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk di sela – sela gorden membuatnya tak bisa membuka mata secara langsung, karena belum terbiasa dengan sinar terang. Perlahan, matanya yang masih kabur mencoba menangkap bayangan gadis yang tertidur pulas di samping tempat tidurnya. Dinda. Tangan Pram berusaha menggapai dan membangunkan gadis semata wayang kesayangannya itu. Namun, sepertinya tangannya terasa sangat lemah, sehingga hanya mampu mengenai gelas yang tergeletak di sampingnya. Gelas itu oleng beberapa saat sebelum akhirnya pecah berantakan jatuh ke lantai.
Praaannggg..!!!
Dinda terlonjak dari tidurnya begitu mendengar benda pecah yang tak jauh dari telinganya. Matanya yang masih bengkak mencoba mencari sumber suara. Dinda langsung terlonjak kaget dengan apa yang di lihatnya. Di depannya, Ayahnya telah membuka mata. Ayahnya telah sadar!
Dinda segera memanggil dokter dan perawat. Setelah dokter mamastikan bahwa Pram, ayahnya, akan baik – baik saja, langsung saja bak anak kecil, Dinda segera memeluk, menciumi tangan dan kening ayahnya dengan suka cita. Sedangkan bibir mungilnya tak henti – hentinya mengucapkan syukur. Tak dihiraukannya dokter yang meninggalkannya dengan geleng – geleng kepala, serta Ryan dan Zahra yang baru datang membawakan makan siang yang menatapnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Air mata ikut menetes di pipinya. Satu masalah terselesaikan, walaupun ribuan masalah lainnya masih menunggu gadis itu.
……………………………
“Din…”
Sebuah suara mengagetkan Dinda yang sedang menyuapi ayahnya sarapan bubur pagi itu. Rasanya dulu suara itu pernah bergaung di pendengarannya. Dinda menoleh dengan cepat.
“Selvy?” Dinda mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Ryan yang berdiri di samping Selvy menganggukkan kepala meyakinkan Dinda, lalu menggantikan Dinda menyuapi pak Pram. Dinda tak segera berbicara, setelah diambilnya sapu tangan penutup mulutnya kalau batuk, gadis itu langsung mengajak Selvy ke ruang tunggu di depan kamar ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk, untuk apa dia ke sini setelah semua yang terjadi?
“Sorry Din, gw baru dateng sekarang, gw minta maaf atas kejadian waktu itu.” jelas Selvy, penyesalan jelas terpancar dari matanya. Dinda memandang Selvy bingung.
“Minta maaf?”
“Ya, minta maaf atas sikap gw, lu mau
Dinda tergagap. Ya Tuhan, apakah ini berarti dugaannya selama ini terhadap Selvy adalah benar?
Kening Dinda berkerut, tapi ia tak berani bertanya apa – apa selain menganggukkan kepala, “Gw.. gw nggak pernah mikirin itu lagi kok, gw udah maafin semuanya.”
Selvy langsung memeluk Dinda, “Gw ternyata salah paham ya Din sama lo, ternyata lu baik banget orangnya, kita temenan, ya ? gw malu sama sikap gw selama ini sama elo, Din.”
Dinda bengong. It’s Right? It’s enough ? apakah semua ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan itu? Semudah itukah? Seakan itu adalah kesalahan yang sangat kecil?
“Selvy..!!”
Sebuah bentakan dari belakangnya membuat Selvy melepaskan pelukannya dari Dinda. Anggi berdiri di
“Ngapain lu di sini?” Anggi langsung menarik tangan Selvy dengan kasar, seolah – olah menjauhkan gadis itu dari Dinda.
“Lu sendiri ngapain?” balas Selvy sengit.
“Mau tau aja lu, gw ingetin ya, lu jangan coba – coba deketin Dinda, jangan mentang – mentang selama ini gw nggak bareng Dinda deh! atau lu kurang puas udah ngerebut gelar siswa teladan? Jangan pura – pura baik, ok!?” Anggi mendorong Selvy agar gadis itu menjauhi Dinda.
“Gw nggak pura – pura baik Din, Nggi, tapi..” Selvy memandang Dinda ragu,”Ah, Ok, Din. Ngg.. ok, gw pulang dulu ya?”
Tanpa menunggu jawaban, akhirnya Selvy meninggalkan Dinda yang masih melongo dengan pandangan tak mengerti menatap mantan sahabat dan mantan saingannya itu.
“Din, maafin gw ya? selama ini, gw tau gw salah ninggalin lu sendirian. Gw baru sadar, seharusnya gw nggak ngebiarin lu sendirian memikul beban seberat ini.“ ucap Anggi berubah lembut.
Dinda semakin bingung. Tadi Sevy, sekarang Anggi?
“Din..” Anggi menepuk bahu Dinda.
Dinda tersadr dari lamunannya, “Eh, I..iya, udahlah Nggi, lu nggak salah, semua wajar kok.” Ujar Dinda sambil menahan batuknya.
Dinda menatap Anggi. Keduanya tersenyum. Lalu Anggi menarik Dinda menuju mobil, mengambil plastik berisi oleh – oleh yang dibawanya.
“Selvy ngapain nemuin lu, Din?” tanya Anggi sambil mengeluarkan bawaannya dari bagasi.
“Dia minta maaf.”
“Minta maaf?”
“Ya.”
“Tuh
“Dugaan apa?”
“Iya, dia pasti mau ngambil kesempatan buat ngedeketin lu selagi kita – kita nggak ada.. jangan – jangan dia juga lagi yang ngelakuin semua ini sama elo, sampai – sampai kita benci sama elo…” Anggi menutup bagasi, lalu kembali mengunci mobilnya.
“Nggak tahu lah, siapapun nggak masalah. Semua udah lewat Nggi.” Ucap Dinda, lalu mengikuti Anggi yang berjalan masuk menuju kolidor rumah sakit yang menghubungkan dengan kamar ayahnya.
Sementara itu…
Selvy mengamati Anggi dan Dinda yang berjalan dari kejauhan dengan kesal. Dinda. Sedikit lagi! padahal sedikit lagi… seandainya saja Anggi tidak muncul, pasti ia akan berhasil melakukan hal itu! pasti ia akan bisa mengatakan hal itu! tinggal selangkah lagi! ah, Dinda, gadis itu begitu kuat, tapi akankah ia masih sekuat itu jika mengetahui kenyataan itu?. Bisik batin Selvy lirih, lalu meninggalkan kawasan rumah sakit.
………..…………….
“Aku bingung..” ujar Dinda suatu sore kepada Zahra dan Ryan.
“Bingung?” sahut Ryan dan Zahra berbarengan. Zahra memandang Ryan dengan tajam. Ryan mengerti arti pandangan itu.
“Ya.”
“Sebabnya?” kali ini hanya Zahra yang menyahuti, sedangkan Ryan kembali sibuk dengan buku di tangannya.
“Ya… a.. aku bingung sama Anggi dan Selvy, kok mereka tiba – tiba dateng barengan, padahal selama ini mereka nggak pernah mikirin aku, eh, kok pada dateng tiba – tiba, apalagi sampai nengokin ayah.. udah gitu mwnghilangnya juga barengan. Aneh
Zahra mengerutkan kening. Ryan yang mau tak mau ikut mendengar, juga ikut berpikir, walaupun matanya terpaku pada buku di tangannya itu.
Dinda menceritakan pertemuannya siang itu dengan Anggi dan Selvy, kedua gadis itu memang langsung tiba – tiba menghilang, alias nggak pernah datang lagi menemui Dinda. Cukup aneh memang. Apalagi sikap Selvy yang berbeda waktu itu, yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa Dinda tak tahu.
“Aneh memang, tapi menurut aku, kak Dinda nggak usah pikirin, mungkin aja ini jawaban atas doa – doa kakak selama ini atau memang Allah telah membukakan pintu hati mareka saat ini, siapa tahu..!!” Zahra mengangkat bahu, “Udahlah kak, nggak usah bingung, yang namanya temen, seneng bareng, susah juga bareng, lupain aja mereka, banyak yang harus kakak pikirin selain mereka. Trus ntar kalo kakak udah bener – bener sembuh, baru deh kakak pilih yang mana yang bener – bener temen.”
“Betul, Din!” Ryan akhirnya menimpali juga, “Sekarang mulai aja siap – siapin barang buat pulang, tadi aku udah bicara ke dokter, katanya kalau keadaan normal – normal aja lusa om udah bisa dibawa pulang.”
“Bener?” Dinda kaget,”Kok kalian nggak bilang – bilang sama aku sih? Jahat!“ Buugg! Dinda melempar dua bantal kursi yang tadi di tangannya kepada Ryan dan Zahra, membuat kedua kakak beradik itu reflek mengelak.
Dan dalam waktu singkat, bantal di ruangan itu melayang kembali. Perang bantal!
“
Dinda jadi bengong. Lho, Kok dia yang repot?
“Iya, ntar aku yang repot bawa kakak ke rumah sakit jiwa! ha.. ha..”
Blukgk! Sekali lagi bantal di tangan Dinda mengenai kepala Zahra, “Dasar! Kakak adik jailnya kompak..!”
Namun, akhirnya gadis itu beranjak juga mengambil kantong obat di laci tak jauh dari tempat duduknya. Satu persatu obat tablet yang bertuliskan rifamficin, pirazinamid, etanbutol, dan streptomizin itu di keluarkannya dan di telannya dengan segelas air yang diangsurkan Ryan kepadanya. Tapi, baru beberapa saat..
“Yan..”
“Apalagi? Bentar Yan, bentar Ra, kenapa?”
“Gimana ya kabarnya Fery?”
Ryan terdiam sesaat.
“Udah ah, ngapain sih kamu mikirin dia?” Ryan sewot.
“Ya, lupain aja kak, kalau jodoh
“Yeee, anak kecil ikut – ikutan, emang tahu?” balas Dinda. Zahra nyengir. Dinda tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zahra diam, “Hmm…”
“Apa lagi?” Ryan dan Zahra berbarengan.
“Nggak, Cuma mikir aja, sampai kapan ya aku kayak gini? Apa aku bisa ya bertahan terus sama obat – obat ini?”
Dinda menatap sekantong obat di tangannya dengan sedih. Ryan menatap Dinda perasaan tak menentu.
“Din, kamu pasti bisa bertahan, percayalah Din. Kamu aja bisa melewati masa – masa sulit kemarin, kenapa sekarang kamu nggak bisa? Kamu pasti bisaa! Aku dan Zahra akan terus nemenin kamu Din, sampai kamu sembuh..” Ryan menatap Dinda, berusaha membangkitkan rasa optimis gadis rapuh itu.
“Kalian nggak takut ketularan?” tanya Dinda.
“Kak Dinda. Aku ulangi, Temen susah bareng, seneng juga bareng. Kalo aku berpikiran kayak gitu, udah lama kita nggak mau deket – deket sama kakak! Itu kata seseorang sih..”Zahra mengerling ke arah Ryan.
Ryan jadi salah tingkah.
Zahra menggengam tangan Dinda, “Aku nggak berharap apa – apa, aku Cuma pengen lihat kak Dinda yang dulu, yang selalu tersenyum. karena itu, kakak harus terus berjuang ya? Mau
“Huuu! iya Nona sok dewasa. tapi, dapet kata – kata dari mana nih anak?”kening Dinda mengerut.
“He.. he..” Zahra nyengir, “Dari buku harian seseorang..” jawabnya polos, sambil mengerling jail ke arah Ryan.
Hukkggkk!.
Muka Ryan langsung bersemu merah seketika. Ketiganya lalu larut dalam canda di sela – sela batuk kecil Dinda, walau masih terbesit kerinduan dan pertanyaan dalam hati Dinda.
Ah, seandainya yang berkata demikian adalah Fery dan teman - temannya.. Tapi, entahlah! Fery, kemana sosok itu? mengapa tak sekalipun Fery menemuinya? Lalu ayah? Jika mereka akan pulang besok, bagaimana cara menjelaskan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu? termasuk masalah penjualan rumah? Serta menjelaskan kenyataan yang ada?
“Eh, Din..” Suara Ryan membuyarkan lamunan Dinda.
“Ya?”
“Untuk besok siang aku udah minta tolong si mbok buat nungguin papa kamu, karena itu kamu bisa ikut aku dan Zahra besok.”
“Ikut? Kemana?”
“Ke rumahku, ke rumah kami.”
“Emang ada acara apa?”
“Nggak, kita
Dinda berpikir sejanak, lalu “Ngg, nggak apa-apa kali ya? ya deh! jam berapa?”
“Jam setengah satu siang.”
“Ok.” Jawab Dinda. Ngg..ibu, seperti apa ya, ibunya Ryan dan gadis kecil itu? Ah, mudah – mudahan saja baik, lembut, pengertian, ramah.. ah, Bunda, itukan seperti bunda. Mungkinkah ibunya Ryan juga seperti bunda?
Dinda kembali tenggelam dalam lamunan dan angan - angannya.
…………………
Dinda mngikuti Ryan dan Zahra memasuki pekarangan sebuah ruah mungil. Ryan mengetuk pintu rumah mungil itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita setengah baya membukakan pintu itu dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh senyum. Dinda segera menebak, mungkinkah ini ibu mereka?
Dugaan Dinda tampaknya tak meleset. Ryan dan Zahra segera membungkuk mencium tangan wanita itu. Dinda mengikuti melakukan hal yang sama dengan agak canggung dan kikuk. Tangan lembut wanita itu tampak sedikit gemetar ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Dinda.
“Bu, ini Dinda,”Ryan memperkenalkan Dinda, “Din, ini ibuku.”
“Ibuku juga.” sambung Zahra tak mau kalah.
Dinda tersenyum. Wanita itu membalas senyumnya,”Ayo, silahkan duduk. Ibu bikinkan minum dulu ya, Dinda mau minum apa?”
“Ah, nggak usah repot – repot, bu. Apa aja boleh.”
Ryan dan Zahra pamit sebentar meninggalkan Dinda untuk berganti pakaian. Dinda mengamati seisi ruangan itu. Ruang tamu yang sederhana. Tak ada pajangan, hanya ada beberapa photo Ryan sewaktu masih SD dan SMP, juga photo Zahra dan beberapa photo ibu Ryan sewaktu masih gadis. Tiba – tiba saja Dinda merasakan ada sesuatu yang kurang di ruangan itu. Tapi, ia tak segera menemukan kekurangan itu, karena pikirannya segera terhenti karena ibu Ryan telah kembali dengan membawa nampan yang di atasnya ada tiga gelas air sirop.
“Maaf, ya Din, ini seadanya.” Ibu itu meletakkan gelas di depan Dinda.
“Nggak apa-apa kok, bu.” Jawab Dinda, bersamaan dengan kemunculan Ryan dari arah kamarnya. Tampaknya ia sudah berganti baju.
“Bagaimana kabarnya ayah Dinda sekarang?”
“Ya, udah lumayan baik, bu. Mungkin besok udah bisa pulang.”
“Syukurlah..” wanita itu menarik napas panjang.
Demikianlah! Setelah itu dua jam mereka terlibat dalam percakapan – percakapan sehari – hari. Mulai dari pekerjaan, sekolah, sampai – sampai membicarakan resep masakan, dan banyak hal lainnya, diselingi tawa renyah yang sesekali terdengar. Akrab dan hangat, walaupun banyak hal yang tak dimengerti oleh Dinda dalam percakapan itu.
…………………….