masak

Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label islami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Juni 2010

Pindah Blog

Untuk Cerita bersambung Lainnya mulai tanggal 26 Juni selanjutnya hanya akan di posting di www.rangkaiankata2.wordpress.com
Cek di blog tersebut ya, banyak cerita seru lainnya lho..!

terima kasih.

Rabu, 23 Juni 2010

RB- Bagian Enam Belas

Tiga bulan kemudian…

Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.

Uhuk!! Uhuk!!

Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.

“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.

“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.

Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!

“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.

“O.. Ryan, sekarang dia di Bandung, kan udah mulai kuliah.. ntar sebulan sekali juga dia pulang. Kenapa Na? ”tanya Dinda sambil terus membereskan meja yang kotor dan memasukkan piring yang sudah terpakai ke dalam baskom yang dibawanya.

“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”

“Kakak ipar?”

“Ryan kan saudara tiri gw, anak tiri bokap gw..”

Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.

Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.

“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.

Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini? Ada hubungan apa diantara mereka berdua? Mungkinkah mereka…

Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.

“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.

Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?

Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.

Sementara itu…

Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?

Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.

Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!

Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.

“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.

“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.

Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.

“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.

“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.

“Tolong, Din! lima menit aja kasih saya waktu, saya janji setelah itu saya akan pergi..” Fery memohon dengan wajah memelas.

“Ok, kamu Cuma punya waktu lima menit, setelah itu kamu harus pergi dari hadapan saya.” Ucap Dinda dingin. Nana dan Agus yang tadinya berniat nguping, jadi mengkerut. Keduanya lalu menyingkir pelan – pelan. Sama cowok cakep kok galak? Syereeemm!

Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.

“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.

Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.

“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”

“Karena apa?”

“Atas semua salah saya selama ini.”

“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”

“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”

“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”

Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “

“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!

“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.

Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”

“Aku dan Anggi..”

“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”

Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.

Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.

“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.

Uhuk! Huk!

Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah! Ada darah di tisu itu! seketika Dinda merasakan dadanya terasa begitu sesak dan oksigen yang semakin menipis. Brukk!. Tubuh lemahnya ambruk. Gelap.

Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…

……………….

Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.

“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.

“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.

“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw kan takut kalo ngeliat orang pingsan. Emang lu kenapa sih Din?” tanya Agus.

Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.

“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.

“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.

Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.

“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”

“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”

“Yah, namanya juga temen Din, kan lu sendiri yang bilang kalau sahabat sejati itu “ada di waktu senang dan susah” Ya kan, Na?” Agus melemparkan pandangan ke Nana. Nana balas mengangguk. Ketiganya lalu tersenyum.

Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.

Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”

“Kalau mau? Cinta kan tak kenal kasta.” Dinda tambah mengoda dengan memijam istilah lagu pop yang sempat ngetop tahun sembilan puluhan itu.

Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”

Ada. Cuma itu buat yang baru permulaan, kalau yang udah pernah putus berobat sampai dua kali kayak gw udah susah ngurusnya, harus kesinilah, rujuk kesitulah.. ada sih yang mau ngasih langsung, Cuma gw harus bayar juga obat – obat lainnya, ya vitaminlah katanya, atau apalah, tapi intinya tetap aja mahal! Ya, kecuali kalau baru berobat permulaan, mungkin bisa langsung dapat obat. Gw waktu itu pernah ke klinik deket rumah, gw kan nggak tahu apa – apa ya? Gw cerita aja kalau gw udah pernah putus berobat dua kali.. eh, bukannya langsung dikasih obat, malah tuh dokter nggak mau ngasih gw obat, gw malah disuruh ngurus surat dan macem – macem dulu ke rumah sakit kota..”

“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.

“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.

Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.

Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?

……………….

“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.

Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!

Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?

Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di sana. Sebuah alamat lengkap tertulis di sana. Dinda mengenali tulisan itu sebagai tulisan ayahnya.

Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?

Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!

…………bersambung ke bagian 17……

Sabtu, 19 Juni 2010

RB - Bagian Sepuluh

Beberapa hari kemudian setelah percakapan itu..
Dinda memandang rumah megah di depannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang tidak hanya megah dan nyaman untuk ditempati, tapi juga menyisakan begitu banyak kenangan manis dan pahit. Dan kini, ia harus melepas semuanya, termasuk Mbok Yana dan pak Maman yang mengabiskan hampir separuh umurnya untuk mengabdi pada keluarga Dinda.
“Baik – baik sama majikan yang baru ya mbok, pak!” ucap Dinda kepada Mbok Yana dan pak Maman.
Mbok Yana dan pak Maman akan tetap bekerja di rumah ini dengan majikannya yang baru. Itu adalah syarat yang diberikan Dinda kepada tuan Tan, pengusaha China, penyewa baru rumah ini.
Mbok Yana dan pak Maman mengangguk mengerti. “Kami mengerti non, malah kalau non nggak keberatan, non bisa tinggal sama mbok, di rumah mbok.” Mbok Yana memandang Dinda.
“Makasih Mbok, tapi biar Dinda cari kontrakan aja. Nanti kalau Dinda ada rezeki, pasti balik lagi tinggal di sini, sekarang Dinda pulang dulu ya, kasian Ryan nungguin ayah sendirian.”
Dinda menyalami pak Maman, lalu memeluk mbok Yana. Keduanya tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Kedua ibu dan anak yang tak ada hubungan darah itu berpelukan dengan erat.
“Jaga diri baik – baik ya non, kalau ada apa – apa datang atau telpon aja simbok, nanti sekali – kali mbok akan datang ke rumah sakit, jangan lupa minum obat .”
“Iya mbok..”
“Iya non, sama bapak juga nggak usah sungkan kalau mau minta tolong pada kami.” pak Maman menimpali.
“Makasih mbok, pak, untuk semuanya. Nanti kalau ayah udah sembuh, nanti Dinda telpon deh ke sini. Assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam..” jawab keduanya bersamaan.
Dinda segera melangkah menuju gerbang. Tapi baru beberapa langkah kemudian, teriakan mbok Yana kembali menghentikan langkahnya.
“Eh, iya non, lupa!”
“Ada apa lagi mbok?” tanya Dinda. Keningnya mengernyit.
“Anu.. salam ya, buat den Ryan dan non Zahra, mereka anak baik ya? mudah – mudahan aja dia jodohnya si non!”.Mbok Yana nyengir. Pak Maman menyikutnya.
“Siapa mbok?”
“Ya den Ryan! masak non Zahra?” mbok Yana nyengir lagi.
“Ah, mbok bisa aja.. ” Dinda tersenyum malu. Ia lalu melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya yang semakin menjauh meninggalkan mbok Yana dan pak Maman.
Ah, Ryan, Zahra. Tak banyak yang Dinda ketahui tentang kehidupan kedua sosok itu. Rasanya Ryan dan Zahra masuk kekehidupannya begitu saja. Dinda tak tahu darimana cowok itu memperoleh informasi tentang dirinya sampai sedetail itu. Di sekolah? memang rasanya tampang cowok itu sering terlihat, tapi siapa yang kenal? Yang jelas, Dinda menyadari secara tak langsung, Ryan dan Zahralah yang telah meyakinkan Dinda untuk terus bertahan sampai saat ini. Ah, tapi bagaimana kalau suatu saat Ryan juga akan sama dengan teman – temannya yang lain? Jodoh? Ah, Dinda tak berani berpikir terlalu jauh. Jodoh siapa yang tahu? Bukankah semua itu rahasia tuhan? Ryan. Ya, sosok itu memang istimewa dan terus terang rasanya memang ada yang terasa berbeda dengan cowok dan kakak - beradik itu sejak pertemuan pertama kali itu. Tapi entah apa.. Dinda tak tahu dan tak bisa mengingat hal itu. Otaknya terlalu lelah untuk memikirkan masalah itu.

……………….

08.00 pm.Di sebuah kafe, kawasan kuningan…
Ryan memasuki sebuah kafe dengan ragu – ragu. Suasana di dalam yang penuh dengan kepulan asap rokok dan lampu yang remang – remang membuat cowok itu kesulitan mengenali orang – orang di sekelilingnya. Matanya masih terus menyusuri meja demi meja, hingga akhirnya menemukan meja yang ia cari. Tujuh orang yang sudah sangat dihapalnya. Ketujuhnya asyik dengan pembicaraan mereka masing – masing. Ryan segera menuju meja tersebut.
“Nggi, Fer, bisa kita bicara sebentar?” Ryan mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan irama hentakan musik yang di setel dengan cukup keras itu. Merasa namanya disebut, Anggi dan Fery mendongak.
“Ngomong ya ngomong aja..” Anggi menyahuti.
“Gw Ryan, temen Dinda..”
Anggi ngakak, “Ha.. ha… hei temen – temen, dia bilang dia sekarang temennya Dinda, Dinda si tebece itu udah punya temen baru dia rupanya.”
“Ha… ha…” Serentak ruangan itu dipenuhi gelak tawa. Ryan berusaha untuk tidak peduli dengan sekelilingnya.
“Trus, lu mau apa ke sini, mau minta gw nemenin lagi tuh anak, trus ntar gw duluan yang mati dari pada dia? iya? Atau mo minta uang untuk berobat? Udah deh, dia emang lebih pantes kok temenan sama orang kuper dan kampungan kayak lu, udah sana! Ganggu gw aja!” Anggi mengepulkan asap rokoknya ke arah Ryan, membuat cowok itu terbatuk – batuk. Tawa kembali meledak memenuhi seisi ruangan.
Kali ini Ryan merasa tak dapat lagi menahan diri, mukanya memerah menahan amarah.
“Ok, gw kuper, tapi lebih baik dari pada kalian yang sombong kayak gini! Gw masih punya hati.. Teman macam apa kalian yang senang – senang diatas penderitaan orang lain? Asal kalian tahu, sekarang Ayah Dinda sedang di rawat di rumah sakit, korban tabrak lari, sedangkan Dinda kondisinya sendiri juga kalian tau sendiri. Sedangkan kalian? Kalian asyik besenang – senang di sini! Trus, Hanya karena tebece, lalu Dinda pantas menerima perlakuan seperti itu? ha? Apa dia pernah minta dikasih tebece? Hah?”
Keenam orang lainnya tampak tak peduli. Hanya Fery yang berubah ekspresinya dan terlihat menyimpan sesuatu di kepalanya. Keningnya berkerut dan terlihat sedang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Dan lu Fer, gw nggak nyangka lu orang yang serendah itu, lu tega ninggalin Dinda begitu aja. Lu rendah Fer! Pengecut!”
Fery tersentak dibentak begitu. Dipandangnya Ryan dengan tatapan tajam. Baru kali ini ada orang yang membentaknya, di depan umum lagi! naluri cowok itu segera bekerja. Ia berdiri dengan tangan terkepal.
“Hei, tau apa lu tentang gw? hah?! Tau apa lu tentang gw? tau pa lu tentang gw dan Dinda? Berani lu sama gw?” Fery mencengkram kerah baju Ryan sampai kusut. Ryanpun tampak siaga, siap membalas. Semua pengunjung kafe sekarang tampak diam, tak berani bersuara.
“Eit, STOP!! Udah Fer, masak lu mau berantem sama dia anak kampung gini, nggak lucu kan?” Selly menahan Fery, lalu berpaling pada Ryan, “Hei, berani lu ya, bentak – bentak gw dan temen – temen gw? lu pikir lu siapa? Keluar deh lu dari sini! Satpam..!” Selly melerai.
Dua orang lelaki bertubuh kekar dan berpakaian bertuliskan “security” segera pasang badan. Fery langsung melepaskan kerah baju Ryan, tanpa melepaskan tatapannya yang masih tajam. Tanpa menunggu kedua lelaki itu menyeretnya keluar, Ryan segera berbalik dan pergi meninggalkan hiruk pikuk yang kembali mewarnai kafe itu.
Percuma. Sungguh percuma meminta pertolongan mereka. Nggak cewek – cewek centil itu, nggak Fery, semuanya sama!, maki Ryan dalam hati. Lalu bagaimana lagi ia harus membantu gadis itu?
Ryan tahu betul kesulitan keuangan yang dialami Dinda, meskipun Dinda berusaha menyembunyikan hal itu kepadanya. Sementara ini memang uang hasil sewa rumah yang merupakan jalan terakhir itu cukup untuk membiayai perawatan pak Pram. Tapi sampai kapan uang itu mencukupi, sedangkan biaya perharinya saja mencapai jutaaan rupiah? Lalu bagaimana dengan pengobatan dan perawatan yang juga harus dijalani gadis itu agar sembuh dari tebe-nya?

………………..

Dinda baru hendak mengetuk pintu ruangan dokter Hans ketika terdengar suara dari dalam. Oo.. berarti sedang ada tamu, pikir Dinda, lalu duduk di bangku yang berderet di samping pintu masuk.
“Jadi nyonya akan membantu biaya pengobatan pak Pram selanjutnya?” tanya dokter Hans, memastikan apa yang disampaikan wanita itu sekali lagi.
“Ya, Dok, saya akan bayar semua biaya pengobatan untuk Pram..”
APA??!!
Dinda terlonjak kaget ketka mendengar nama ayahnya disebut – sebut. Gadis itu mencoba melihat ke dalam melalui celah tirai yang sedikit tersibak. Dan menajamkan pendengarannya Tampak seorang wanita tengah berbicara dengan dokter Hans. Tidak, wajah wanita itu tidak kelihatan, karena membelakangi jendela, hanya kalau dilihat dari bajunya sepertinya dia adalah seorang pengusaha atau bisniswomen. Dinda semakin menempelkan telinganya ke jendela dengan penuh penasaran. Siapa dia?
“Kami sangat berterima kasih sekali, karena terus terang kami melihat Putrinya sudah agak.. yah bingung karena kehabisan biaya. Saya jadi kasihan juga melihatnya. Gadis sekecil itu sudah harus menghadapi masalah hidup seperti ini, sedangkan kondisi pak Pram belum juga membaik, ada gumpalan darah yang menggumpal di bagian kepalanya. tapi, kalau boleh, bisakah anda memberitahu saya apa alasan kenapa anda melakukan ini nyonya ?” tanya dokter Hans lagi.
Dinda menanti jawaban selanjutnya dengan berdebar – debar.
Wanita itu tampak menghela napas panjang,” Tidak ada maksud apa – apa dokter, hanya saja pak Pram di mata saya adalah seorang yang baik, seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya..” jawab si wanita yang wajahnya masih belum kelihatan juga pleh Dinda itu.
Dinda terbelalak. Beberapa perkiraan langsung seperti tertulis di otaknya. “Seseorang yang teramat berarti? Siapa sebenarnya wanita itu? ada hubungan apa ayah dengan wanita itu? mungkinkah ayah… ah, tidak! Ah, ayah tak mungkin seperti itu!” Dinda berusaha menepis pikirannya.
“Dan saya juga minta pada dokter, tolong rahasiakan hal ini kepada siapapun dok, termasuk Dinda, putri pak Pram dok, dan juga anak - anak saya..”
Apa?! Dinda semakin penasaran. Jadi?
“Kalau boleh saya tau, kenapa harus dirahasiakan pada anak ibu?”. Tanya dokter Hans lagi.
Wanita itu terdiam. Dinda menanti kalimat selanjutnya dengan dada yang semakin membuncah. Napasnya tertahan. Ayo, cepat katakan!
“Begini dok, selama ini anak saya itu sangat benci sama Pram, saya takut mereka jadi tambah benci dan bertindak macam – macam kalo dia tau saya masih menghubungi, apalagi sampai membantu Pram. Biarlah semua menjadi rahasia sampai keadaan mengizinkan saya untuk menceritakan segalanya kepada mereka.“
Mas Pram? Ibu? Anak? Siapa wanita ini? Anaknya siapa? Mengapa harus dirahasiakan segala?
Dinda menanti kelanjutan percakapan itu dengan penuh dugaan. Tapi, tak ada pembicaraan lagi tampaknya. Dokter Hans terlihat manggut – manggut.
“Baiklah Dokter, saya permisi dulu. Kalau ada perkembangan tolong kabari saya, permisi.”
Suara wanita itu membuat Dinda kembali tersadar dengan posisinya yang masih berdiri tepat di depan pintu. Dengan cepat gadis itu berbalik mundur dan masuk ke toilet di samping ruangan tersebut.
Dinda merasa kepalanya seperti meledak ketika sosok itu keluar dari ruangan dengan tergesa - gesa. Dia mundur terhenyak ke belakang ketika sosok itu melintas di depan toilet tempatnya berdiri. Tante Tari? Mamanya… Fery?!
Beberapa pertanyaan langsung menyergap otak Dinda. Mungkinkah semua prasangka yang ada di kepalanya benar? Inikah jawaban atas tatapan aneh nyonya itu waktu di pesta ulang tahun putranya Fery waktu itu? Mungkinkah Fery terlibat atas semua yang dialami ayah dan dirinya dan yang terjadi selama ini sehingga semua harus dirahasiakan kepadanya? kalau benar Fery terlibat, apa arti kedekatan mereka selama ini? ataukah mungkinkah Fery hanya memanfaatkannya untuk membalaskan kebenciannya? Apakah perubahan sikapnya ini juga merupakan salah satu urutan dalam menuntaskan kebenciannya pada papa? Dinda merasa kepalanya semakin berputar. Pusing!
Huff. Dinda menarik napas panjang. Ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui dokter Hans. Ia kembali melangkah menuju kamar tempat ayahnya dirawat. Ia bernapas lega ketika di sana tak ada siapa - siapa. Tampaknya tante Tari langsung pulang, bisik hati Dinda.
Namun, hanya sesaat ia bernapas lega, kening Dinda kembali mengernyit begitu melihat seikat bunga mawar beraneka warna yang tergeletak di meja samping tempat tidur ayahnya. Dinda segera mengambil dan membaca nama si pengirimnya. Gadis itu langsung terperanjat, di kertas itu hanya ada kata “Untuk Mas Pram” dan tak ada tulisan apa – apa lagi!
Dinda merasa otaknya langsung berputar dengan otomatis. Mungkinkah tante Tari sempat mampir ke sini tadi? Ataukah dari seseorang yang lain? Atau dikirimkan melalui perawat? Oh, tunggu.. tunggu.. kalu dikirimkan lewat perawat atau dengan memesan, bukankah seharusnya ada nama pengirim atau minimal tulisan untuk siapa yang diberi?
Dinda lalu menghampiri perawat yang menunggu di ruang informasi, bunga itu tergenggam di tangannya.
“Maaf, suster!”
Suster yang sedang sibuk dengan berkas – berkas di mejanya itu menoleh, “Ya, mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini..”Dinda mengacungkan seikat bunga yang dipegangnya,”Apa suster lihat siapa yang membawa masuk bunga ini tadi?”
“O.. itu, ya. Tadi saya yang antar ke tempat pak Pram. Memangnya ada apa mbak?”
“Boleh saya tahu siapa yang menitipkannya?”
“Kalau namanya saya nggak tahu mbak, tapi yang jelas dia seorang wanita, saya lupa seperti apa rupanya, karena tadi saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya, jadi saya tak terlalu memperhatikannya.”
“Oh, begitu. Makasih suster.”
Suster itu mengangguk, lalu kembali sibuk dengan berkas – berkas di depannya. Dinda meninggalkan ruang informasi itu dengan wajah yang tak berubah dengan sebelum ia bertanya tadi. Seorang wanita? Siapa dia? Apakah wanita itu tante Tari? ataukah ada wanita lain yang menjenguk papa? Tapi ini? oh! Jadi berarti.. ah, bodo! EGP aja deh!, seru Dinda dalam hati.
Dinda bergegas kembali ke kamar ayahnya.

………..…………………

Dinda terduduk di depan ranjang ayahnya yang sudah terbaring selama empat puluh hari lebih itu. Ditatapnya mata ayahnya yang terbaring lekat – lekat. Sesekali tangan yang dari tadi tak lepas dari genggamannya itu diciumnya dengan sayang. Air mata mengalir dari matanya yang bening. Dengan pilu dan lirih ia berbisik, “ Ayah, ayah masih ingat sama Dinda? Dinda nggak tau ayah bisa dengerin Dinda apa nggak, tapi ayah harus dengerin Dinda! Dinda mohon ayah..! kalau ayah nggak bisa menjawab, tunjukkin sama Dinda kalo ayah bisa denger Dinda ngomong, beri Dinda sebuah tanda… tanda ayah bisa dengerin Dinda, tolonglah ayah!”
Dinda menelan ludah, suaranya semakin habis dan parau, “ Ayah, ayah harus tau, ayah sangat berarti buat Dinda. Ayah tahu? Dinda pengen banget kita balik kayak dulu lagi, jalan – jalan sekeluarga.. uhuk! Uhuk! tapi Dinda tahu, itu nggak mungkin karena bunda udah nggak ada, dan sekarang yang Dinda punya Cuma ayah! Ayah harus dengar, yang satu – satunya Dinda punya Cuma ayah . Dinda nggak sanggup lagi yah, kalau harus hidup tanpa ayah! Dinda nggak akan bisa menghadapi kenyataan ini.. tolonglah ayah.. Dinda nggak peduli ada hubungan apa ayah dengan ibunya Fery atau siapalah yang ngirim bunga itu buat ayah, asalkan ayah sembuh, Dinda nggak akan protes apapun lagi..”
Mata Dinda memandang ke sudut ruangan di tempat seikat bunga yang mulai layu itu. Entahlah, sampai sekarangpun Dinda masih bertanya – tanya siapakah wanita yang mengirimkan bunga tanpa pengirim itu. Ingin rasanya Dinda bertanya pada ayahnya, tapi itu tak mungkin! Pram tetap saja terbaring tak bergerak!
Dinda mengusap pipi ayahnya dengan punggung tangannya yang lembut. Mulutnya terus berkata di sela – sela batuknya dengan suaranya yang semakin serak,” Ayah, kita kan hidup bahagia lagi setelah ayah sembuh. Dinda akan terus ada di samping ayah, merawat ayah, memperhatikan ayah, menyayangi Ayah, kita akan hidup bahagia, meski kita udah nggak punya rumah bagus lagi, kemana – mana nggak pakai mobil, hidup dengan sederhana, uhukkk!!” Dinda terbatuk menahan sedih di hatinya.
“Dindapun nggak tau, apa Dinda masih punya umur yang panjang, ayah tau kenapa? karena setiap tahun minimal orang yang meninggal di Indonesia hampir lima ratus ribu per tahun.. karena itu, Dinda pengen dalam waktu yang nggak tentu ini Dinda bisa merawat ayah, menjaga ayah, berbakti pada ayah, ayah adalah satu – satunya yang bikin Dinda semangat lagi untuk hidup.. tolong Dinda ayah! Dinda… ”
Kalimat Dinda terhenti ketika merasakan tangannya basah dan hangat. Sudut mata ayahnya tampak mengeluarkan butiran air mata. Dinda terloncat kaget. Ia segera melompat ke luar ruangan.
” Dokter..! ayah bisa mendengarkan saya dokter! Zahra..! ke sini Ra, ayah, ayah bisa mendengarkan Dinda! Lihat Zahra! Ayah bereaksi, ayah bisa mendengarkan Dinda..“ jerit Dinda menghambur keluar kamar. Ia melompat seperti anak kecil yang kegirangan.
Zahra segera memanggil para suster dan dokter. Dalam sekejap kamar itu langsung dipenuhi kesibukan yang luar biasa.

…….bersambung ke bagian sebelas.…………….