Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Rabu, 23 Juni 2010
RB-Bagian Sembilan Belas
“Din, maafin kita semua, ya? Seharusnya kita tetap dampingin elo, bantuin elo untuk melewati semua ini.. seandainya saja kita nggak ninggalin elo.. pasti semuanya nggak akan begini.. ” Mia menggenggam tangan Dinda. Matanya dipenuhi oleh butir – butir bening air mata dan memancarkan rasa penyesalan yang amat sangat.
Dinda hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Hati Mia, Selly, Desy dan Anggi semakin teriris – iris. Ketiganya tak mampu menahan rasa sedih mereka dan menahan isak tangis.
Tiba – tiba suasana yang beku itu dicairkan oleh suara dari arah pintu. Dokter Frans!
“Bapak Pram, nyonya Tari..” panggilan dokter mengagetkan semua yang hadir di ruangan itu. Tanpa banyak bertanya, Pram dan Tari segera mengikuti isyarat dokter yang bernama Frans itu menuju ruangannya.
“Begini pak, ibu Tari.. kami tetap akan berusaha semampu kami, tapi kami juga tidak mau membohong bapak dan ibu tentang keadaan Dinda, ini adalah saat – saat yang sulit..” Dokter Frans membuka perbincangan.
“Memangnya keadaan Dinda bagaimana Dokter?” tanya Pram cepat.
“Tubercolosis sebenarnya penyakit yang bisa diobati dan pemerintah sendiri sebenarnya menyiapkan pengobatan gratis untuk penyakit ini. Kalau pasien bisa mengikuti pengobatan menurut semestinya, Insya Allah akan sembuh. Cuma, kebanyakan pasien biasanya tidak tahan karena pengobatan yang membutuhkan waktu yang panjang, sehingga banyak yang putus berobat.. dan akibatnya kumat tebece jadi kebal terhadap obat – obatan.. Dan itulah yang dialami Dinda yang putus berobat berkali – kali dan sudah terbilang parah dan sudah mengeluarkan batuk darah.. serta tebece tidak lagi hanya menyerang paru – parunya, tapi juga telah menyerah organ – organ lainnya.. dan juga mungkin karena selama ini ia kurang istirahat, kami menemukan ada pendarahan bagian organ dalamnya, untuk itu kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan ini,“ Dokter itu menunjuk hasil roentgen di layer proyektor di sampingnya,” Anda lihat kan? Dalam roentgen Thorax, tulang yang padat akan terlihat putih, sedangkan udara akan terlihat hitam.. tapi ini, lihatlah! Bayangan putih di mana – mana, itu artinya ada infeksi di mana – mana, dan juga undara yang tersimpan di paru – parunya sangat sedikit.”
“Berapa persen kemungkinan akan sembuh dok?” tanya Pram dengan penuh harap dan rasa takut.
“Ada, tapi sangat kecil kalau tidak segera ditangani.. sementara ini kami sudah memberi obat – obat yang mungkin akan membantu, tapi kami sendiri tidak yakin.. obat – obat itu hanya untuk sementara.. apalagi, kemungkinan pasien punya asma dan penyakit lainnya.. tapi, kami bukan tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, karena itu kita semua harus berdoa.”
Pram dan Tari menarik napas dalam – dalam. Semua terdiam.
“Maaf, Dokter…”
Suara lain di belakang mereka membuat ketiganya menoleh. Kaget. Ryan berdiri di sana.
“Ryan? Kok kamu bisa ke sini?” tanya Pram spontan.
“Maaf, apakah anda ada perlu dengan pak Pram atau Ibu Tari?” potong dokter Frans.
“Nggak, dokter. Saya Ryan, Nngg.. temannya Dinda. Ngg.. Maaf, sebenarnya saya sudah sejak tadi mendengar pembicaraan dokter di sini, hm.. saya Cuma menyampaikan informasi yang saya dapat.”
“Tentang apa?”
“Saya baca di internet, dan ternyata ada rumah sakit pertama yang didirikan oleh WHO dan pemerintah Latvia yang khusus menangani pasien putus berobat dan pasien yang terbilang cukup parah.”
“Oh, ya.. saya juga tahu hal itu, waktu pengobatannya cukup singkat dan memang saya tadinya akan menyarankan itu. Dan untuk pengobatan lainnya pun mungkin akan lebih baik di sana. Bagaimana pak, bu?” dokter Frans berpaling pada Pram dan tante Tari. Pram dan Tari menghela napas pasrah, seperti tak ada pilihan.
“Ngg.. tapi..” Ryan tiba – tiba tampak ragu.
“Tapi apa?” tanya Pram dan Tari serentak. Cemas.
“Saya juga dapat informasi kalau ternyata biayanya seratus kali lipat berobat biasa…”
“Itu benar.” Dokter Frans mengangguk mengiyakan.
“Saya akan bantu, dokter..” ucap tante Tari tiba – tiba, mengejutkan Pram dan Ryan. Tari mengangguk meyakinkan ketiga orang itu. Pram dan Ryan memandang Tari dengan tatapan terima kasih yang tak bisa digambarkan dengan kata- kata. Haru semerbak mewangi di ruangan itu seketika.
…………………
Fery masih termagu sendirian di samping tempat tidur Dinda. Matanya terus memandangi Dinda yang tertidur pulas. Hatinya masih terasa was-was, walaupun sejak beberapa saat yang lalu gadis di depannya itu tak lagi membutuhkan alat bantu pernapasan. Hatinya terasa pedih, begitu mengingat apa yang terjadi selama ini.
“Fer, Zahra..”
Fery dan Zahra yang sedari tadi membisu terlonjak kaget. Terlebih lagi melihat Dinda yang ternyata kini telah terbangun.
“Kok pada bengong? Mana.. yang lainnya?”
“Eh, em.. itu.. “ Fery gelagapan, “Temen – temen kamu udah pulang, waktu kamu tidur tadi, trus ayah kamu sama mamaku masih di ruang dokter..”
“Ra, Ryan udah datang ya?” tanya Dinda dengan suara lemah. Wajah terlihat semakin pucat, seputih kapas.
“Udah kak, maaf, Zahra terpaksa kasih tahu kak Ryan, tadi pas dia datang kakak lagi tidur, sekarang dia lagi ke ruang dokter.” Jawab Zahra agak cangung.
“Kamu nggak ngasih tau kan, Fer tentang apa yang terjadi?”
“Belum sempat, Din..”
“Ada apa sih kak?” Tanya Zahra penasaran.
Dinda tak menjawab, matanya terlihat berkaca – kaca. Zahra tak berani bertanya lebih jauh lagi.
“Tolong jangan kasih tau apa-apa ya? Janji ya, Fer?” pinta Dinda.
Fery mengangguk. Hatinya terasa teriris – iris dan sedih, “udah, Din.. kamu nggak usah mikirin apa – apa dulu, yang penting kamu bisa sembuh, ok? Oh, ya.. tadi Selvy telpon, dia titip salam buat kamu..” bujuk Fery.
“Iya.. makasih ya, kalian udah nungguin aku..”
“Seharusnya aku yang makasih, Din.. kamu nggak benci sama aku, padahal aku udah nyakitin hati kamu..” Fery tertunduk. Hatinya diliputi rasa bersalah. Dinda tersenyum.
“Udahlah, jangan diungkit lagi, semua ini bukan salah siapa – siapa. Lagipula aku senang sekarang, semua udah kembali kayak semula, teman – teman.. ayah.. kamu.. juga Ryan.. aku udah tenang sekarang, Fer.. kalaupun aku harus pergi..”
Fery dan Zahra tak tahan mendengar ucapan Dinda. Fery memalingkan mukanya. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Zahra reflek menyilangkan jarinya di bibir Dinda, menyuruh gadis itu menghentikan ucapannya, “Kak, please.. jangan bilang begitu, kakak pasti sembuh! kakak akan sembuh.”
“Benar, Din.. “
Terdengar suara dari arah Pintu ruangan yang terkuak.
“Ryan? Ayah? Tante Tari?” ucap Dinda.
“Ya, nak, besok kita akan berangkat ke Latvia..” jelas Pram. Dinda menatap ayahnya dengan bingung.
“Buat apa, yah?”
“Ya, buat berobat laah, masak mo piknik!” celetuk Ryan.
Dinda tersenyum, lalu “Trus, biayanya..?”
Pram dan Ryan tidak segera menjawab. Keduanya hanya memandang Tari dan mengedipkan mata sebagai isyarat. Dinda segera mengerti.
“Makasih ya, tante. Maaf, Dinda merepotkan..” tante Tari mengangguk, Dinda lalu berpaling pada Pram, “Ayah, Dinda mau bicara berempat dengan ayah, Zahra dan Ryan.” pinta Dinda
Pram bingung. Semua yang hadir di ruangan itu segera menyingkir, lalu melangkah ke luar ruangan dengan wajah mengerti, walaupun wajah mereka diliputi rasa ingin tahu.
“Ayah, ayah nggak akan menuntut Anggi kan?”
“Nggak, sayang. Ayah udah maafkan semuanya.”
“Ayah, kalau boleh, Dinda punya satu permintaan sebelum Dinda dibawa kesana” ucap Dinda. Pram memandang Dinda bingung.
“Permintaan apa, Din?” tanya Pram.
“Dinda.. Dinda ingin ayah mau bertemu dengan seseorang..” ucap gadis itu sembari berpaling pada Ryan. Ryan balas mengangguk.
“Siapa?”
Dinda berpikir sejenak, lalu dikuatkannya hati mengatakan hal itu, “Tante.. tante Sintya.” Jawabnya pendek. Wajah Pram langsung diliputi rasa terkejut.
Di sisi lain, Ryan dan Zahra memandang Dinda dengan tak kalah terkejut. Dinda balas menatap mereka dengan wajah memohon agar kedua kakak beradik itu mengerti.
“Yan, sudah saatnya semua rahasia ini dibongkar.” Gumam Dinda pelan. Ia memberi isyarat agar Ryan mendekat.
“Din, aku…” ia berusaha membantah, tapi akhirnya ia menyadari kebenaran kata-kata gadis itu. tak ada lagi yang harus dirahasiakan, jangan adalagi teka – teki!
Dinda berpaling pada Pram, “Yah, maaf Dinda menyelidiki ini sendiri dan tak memberitahu ayah tentang semua yang sudah Dinda ketahui selama ini.. ini Ryan, anaknya tante Sintya. Dan ini.. “ Dinda berpaling pada Zahra yang sedari tadi menunduk cemas.”Ini anak.. anak ayah..” Dinda mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan penuh ragu – ragu.
Zahra tak berani menengadahkan mukanya. Wajah itu berubah seputih kapas. Pram apalagi. Ia terperanjat kaget, “Apa?! kamu bilang apa, Din?”
“Ya, ayah. Dinda.. Dinda menemukan photo tante Sintya dan ternyata.. dia adalah ibu dari Ryan dan Zahra, yang selama ini menemani Dinda, menjaga ayah..”
“Benarkah itu, Din? Ryan? Zahra”
Ketiganya langsung mengangguk menjawab pertanyaan itu. lalu ia memandang Dinda, Zahra dan Ryan secara bergantian. Tanpa diduga ia menghambur memeluk anak itu, memeluk Zahra, lalu memeluk Ryan.
“Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami kembali…” air mata menetes dari sudut mata Pram. Dinda memandang pemandangan dengan perasaan haru.
“Kapan ayah mau menemui tante Sintya?” sela Dinda.
Pram melepaskan pelukannya, matanya memandang ketiga anak yang kini berdiri di depannya secara bergantian,”Ayah… ayah..” Pram tak dapat melanjutkan kata – katanya.
“Kenapa Yah?”
“Beri ayah waktu..” gumam laki – laki setengah baya itu lirih. Matanya menerawang sedih. Ryan segera memapahnya duduk di kursi di samping tempat tidur Dinda.
Semua menghela napas panjang.
……………………..
Sintya sedang duduk di kursi ruang tengah. Sebuah majalah tergeletak di depannya. Ia membolak – balik kertas itu dengan malas, seperti bosan dan capek. Tiba – tiba…
“Tok! Tok! Tok! Assalamu’alaikum…”
Suara ketukan pintu dan sebuah suara yang amat dikenalnya membuat ibu satu anak itu menoleh, “Wa’alaikumussalam” jawabnya, lalu beranjak menuju ruang tamu.
Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap orang – orang yang datang bersama Ryan. Mereka tak lain adalah Dinda dan.. Pram!
Ryan segera menyalami wanita itu, diikuti oleh Dinda, sedangkan Pram masih terpaku di depan pintu dengan mata tak berkedip dan rasa tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
“Ibu.. maafkan Ryan. Ini..,”Ryan berpaling pada Pram,”Ibu.. ibu belum lupa bukan?”
Wanita itu tak bergeming dan seperti tak mendengar apa yang dikatakan Ryan. Matanya menatap lurus ke depan. Menatap Pram.
“Mas..” ucapnya dengan bibir gemetar.
“Sintya? Saya.. saya mencarimu kemana – mana…”
“Maafkan saya, mas…”
Dinda dan Ryan tak ingin menggangu suasana itu. Keduanya lalu segera menyingkir ke ruang tengah, membiarkan kedua orang yang baru bertemu itu.
Pram mendekati Sintya, “Saya.. Tyas..”
“Maafkan saya, mas. Saya pergi karena saya tak ingin merusak keluarga mas.. tapi, saya tak tahu kalau Tyas.. ah, saya tak tahu Tyas sudah meninggal.. sampai saya mendengar kata – kata yang diucapkan Dinda waktu acara sekolah itu.. saya benar – benar kaget..” Sintya mengucapkan kata – kata itu dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya hancur berkeping – keping.
“Kamu tidak salah, saya yang salah.. saya yang melibatkan kamu dengan semua masalah ini.. saya yang tak berhasil menemukanmu..”
“Mas, jangan bilang begitu.. tak ada lagi yang harus disalahkan sekarang..”
Keduanya lalu beradu pandang, ada secercah kesedihan, kehilang dan kebahagiaan yang terpancar di sana.
“Mereka… “ Pram menunjuk Ryan dan Dinda yang memandang mereka dari kejauhan.
Sintya mengangguk, “Ya, mereka adalah anak – anak kita, anak – anak yang manis..” Gumamnya.
“Ya, rahasia Tuhan memang tak bisa kita duga.. “Ucapan syukur mengalir dari mulut Pram. Keduanya mengucapkan syukur tiada henti.
………………………..
Bandara Sukarno Hatta, dua hari kemudian…
Dinda membetulkan kain selendang yang menutupi kepala dan rambut panjangnya dengan rapat. Wajahnya yang pucat tertutupi oleh serinya. Empat orang gadis sebayanya bergantian memeluknya. Mereka adalah keempat sobat Dinda. Anggi menyerahkan handphon mungilnya kepada Dinda. Gadis itu menerimanya dengan senang.
“Makasih ya, semuanya..” jawab Dinda lirih.
Dinda langsung memeluk erat Anggi, Mia, Selly dan Desi, para sahabatnya sekali lagi, dengan perasaan bahagia bercampur sedih. Bahagia, karena semuanya sudah kembali seperti semula, sedih karena akan berpisah dan belum tentu akan bertemu kembali. Anggi, Mia, Selly dan Desy membalas pelukan Dinda. Kelima gadis itu tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata.
“Ayo, anak–anak, kita harus pergi sekarang.” Pram menyadarkan mereka akan waktu yang semakin sempit.
Anggi Cs segera melepaskan pelukan mereka. Dinda segera berpaling ke arah lain. Dinda segera menghampiri Fery dan Selvy yang hanya beberapa langkah darinya.
“Fer, makasih atas semuanya, Selv.. maaf ya, kalo gw sempat berburuk sangka sama elo, kapan lu balik lagi ke australi?”
“Sama – sama, Din.. mungkin minggu ini, alhamdulillah, tempat gw dapat beasiswa dulu nawarin beasiswa untuk nerusin kuliah gw juga, doakan aja lancar, biar ntar kalo lu nyusul tahun depan, udah ada yang bantu lo di sana.. ” ujar Selvy dan langsung memeluk Dinda. Dinda membalas pelukan itu dengan hangat.
Fery menyalami Dinda dengan canggung. Dinda menyambut uluran tangannya dengan menelungkupkan kedua tangannya di dada, seperti salaman ala sunda. Zahra memandang Dinda dengan tersenyum (karena yang ngajarin Dinda Zahra lho, termasuk kerudung yang sekarang menempel di kepala Dinda!)
“Ok, Hati – hati ya, Din. Oh, ya.. Yan, jaga Dinda baik – baik ya!” ucap Fery setengah berteriak ke arah Ryan. Ryan balas mengacungkan jempol, lalu bergegas memeluk Fery, “Sorry ya, gw sempat ngatain lu yang enggak – enggak..”ujar Ryan.
“Ah, justru gw yang harus minta maaf, jaga Dinda baik – baik ya, gw tahu cuma lu mengerti dia Yan, kayaknya gw harus belajar banyak nih dari elo sebelum gw jadi ipar lu...” Fery menepuk – nepuk punggung Ryan.
Semua yang hadir terbelalak, termasuk Dinda dan Zahra. Mereka semua serentak berseru, “Ipar?! Ngincer kakak atau adeknya?”.
Muka Dinda dan Zahra seketika itu juga berubah merah. Keduanya tertawa. Semua ikut tertawa.
Dinda, Pram, Anggi Cs, tante Tari dan Sintya memandang pemandangan itu dengan geleng – geleng kepala.
Dinda lalu berpaling pada Sintya, “I.. ibu.. jaga kesehatan baik – baik ya, doakan Dinda..” ujar Dinda dengan gugup, lalu berpaling pada Zahra, “Ra, jaga ibu baik – baik ya..”.
Zahra mengangguk, lalu memeluk Dinda. Sintya tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk gadis yang baru beberapa dua hari memanggilnya dengan sebutan ibu itu dengan perasaan sayang.
“Ibu pasti doakan, nak.. “ ucapnya, membiarkan gadis itu tetap memeluknya untuk beberapa saat.
Selang beberapa detik kemudian, terdengar pengumuman untuk nomor pesawat yang akan mereka tumpangi. Dinda mencium tangan wanita itu dengan takzim. Ryan mengikuti.
“Mas, saya titip Ryan..” ucapnya sembari memandang Pram. Pram mengangguk, lalu mengulurkan tangan, sebagai salam perpisahan.
Pram dan Ryan lalu membimbing Dinda meninggalkan ruang tunggu, diikuti tante Tari. Semua menatap pemandangan itu dengan perasaan sedih, cemas, dan penuh harap. akankah waktu masih berkenan mempertemukan mereka kembali ataukah justru menjadikan pertemuan ini pertemuan terakhir? Entahlah! Tak ada yang berani memastikan dan memberi jawaban, hanya waktu yang bisa memberikan jawaban atas semua rahasia di dunia ini...
……THE END….
RB- Bagian Enam Belas
Tiga bulan kemudian…
Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.
Uhuk!! Uhuk!!
Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.
“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.
“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.
Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!
“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.
“O.. Ryan, sekarang dia
“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”
“Kakak ipar?”
“Ryan
Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.
Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.
“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.
Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini?
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.
“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.
Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?
Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.
Sementara itu…
Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?
Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.
Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!
Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.
“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.
“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.
Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.
“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.
“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.
“Tolong, Din!
“Ok, kamu Cuma punya waktu
Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.
“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.
Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.
“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”
“Karena apa?”
“Atas semua salah saya selama ini.”
“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”
“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”
“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”
Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “
“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!
“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.
Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”
“Aku dan Anggi..”
“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”
Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.
Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.
“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.
Uhuk! Huk!
Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah!
Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…
……………….
Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.
“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.
“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.
“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw
Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.
“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.
“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.
Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.
“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”
“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”
“Yah, namanya juga temen Din,
Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.
Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”
“Kalau mau? Cinta
Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”
“
“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.
“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.
Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.
Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?
……………….
“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.
Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!
Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?
Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di
Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?
Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!
…………bersambung ke bagian 17……
Senin, 21 Juni 2010
RB - Bagian Tiga Belas
Tapi sesaat Pram bimbang. Benarkah anak itu adalah anak perempuan itu, anak Sintya? Kalau memang benar, mengapa anak itu tak pernah mengatakan apapun tentang dirinya ataupun tentang ibunya? Apakah karena anak itu tak tahu ada hubungan apa antara ia dan ibunya? Apakah wanita itu tak pernah cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum anak itu lahir ke dunia ini? Ataukah ada sesuatu di balik semua ini?
Pram resah. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat itu, ke sebuah rahasia tak seorangpun mengetahuinya…
…………………
Delapan belas tahun Lalu…
Pram mengendarai mobilnya dengan hati – hati melewati tikungan demi tikungan. Ia baru saja pulang dari menyelesaikan sebuah proyeknya di sebuah desa kecil di daerah Jawa barat. Sesekali matanya melirik spion dan sesekali memandang deretan tebing – tebing tinggi yang dilewatinya. Sepi dan sunyi.
Namun tiba – tiba matanya menangkap seperti sesosok orang yang terbaring diantara semak – semak di bawah tebing curam itu. Pram berusaha menepis pa yang terpikir oleh otaknya. Tapi, akhirnya ia menghentikan mobilnya juga dengan mendadak, lalu mundur kembali ke tempat yang tadi ia yakini dimana ia melihat sosok terbaring itu. Dadanya berdegup kencang ketika menyadari bahwa penglihatannya ternyata tidak salah! Seonggok tubuh manusia!
Sosok itu tak bergerak. Tapi Pram yakin sosok itu adalah manusia. Ia lalu memutuskan untuk turun, lalu mendekati sosok terbaring tak berdaya itu.
Pram terkesiap. Wanita. Ternyata seorang wanita!. Pram meraba denyut nadi wanita itu. Ia lalu bernapas lega ketika didapatinya nadi wanita itu masih berdenyut. Tanpa menunggu lagi, segera digotongnya sosok itu ke mobilnya, lalu melarikan mobil itu dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.
…………………………..
Pram berdiri dengan gelisah di depan kamar sebuah rumah sakit. Dua puluh menit sudah ia menunggui wanita itu, namun wanita yang tak dikenal itu belum juga siuman dan dokter masih belum keluar dari kamar itu. hatinya bertanya – tanya, apakah sebenarnya yang terjadi dengan wanita itu? korban perampokankah, perkosaankah, pembunuhankah, atau apa?
Pram menduga – duga dalam hati, sambil sesekali menguap. Sampai sebuah teriakan histeris yang berasal dari kamar yang ditunggunya itu mengagetkannya. Pram mencoba mendekati pintu, namun belum ada tanda – tanda pintu itu akan dibuka. Lalu ia mencoba mengintip dari celah – celah hordeng jendela.
Samar – samar ia bisa melihat seorang wanita (wanita itu) sedang meronta dan histeris. Para suster dan dokter tampak berusaha menenangkannya dengan susah payah. Dan.. lalu wanita itu terkulai lemah. Mungkin diberi suntik penenang, pikir Pram.
Selang beberapa detik, pintu kamar itu terbuka. Seorang dokter segera menghampiri Pram, “Maaf, apakah anda keluarga yang ada di dalam?” tanya dokter itu pada Pram.
Pram menggeleng, “Sebenarnya bukan, dok. Memang saya yang membawanya tadi kesini dan mengurus administrasinya, saya temukan dia dalam keadaan tak sadar, saya sendiri belum tahu siapa dia.”
“O.. begitu. Namanya Sintya, ia mengatakannya kepada kami tadi. Sekarang ia sedang istirahat.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, dok?”
“Hanya ia sendiri yang tahu apa yang menimpanya. Kemungkinan ia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya shok berat, dan ia sedang hamil. Saya khawatir kondisinya bisa berakibat buruk bagi bayinya. Mungkin nanti setelah ia tenang, anda bisa menemui dan menanyainya. Saya permisi dulu, saya sarankan anda menungguinya dulu sementara waktu.”
“Baik, dok. Terima kasih.”
Dokter itu berlalu. Tinggallah Pram dengan kebingungannya. Ia lalu mengambil handpone-nya kembali, lalu menelpon Tyas, memberitahukan pembatalan kepulangannya. Ia lalu melangkah masuk menuju kursi ruang tamu kamar itu. Sekilas melemparkan pandangan ke sosok yang terbaring tenang di ruangan itu.
…………………….
Suara sesegukan tangis membangunkan Pram yang tertidur di sofa itu. Pram mengerjab – ngerjabkan matanya, lalu melihat Sintya, wanita itu, tengah menangis. Pram mencoba mendekat.
“Maaf, saya yang membawa anda semalam ke sini.”
“Kenapa?” tanya wanita itu dengan kesal, “Kenapa?”
“Mengapa? Mengapa saya bawa ke sini? Karena saya ingin menolong anda.” Pram sedikit kesal dengan pertanyaan itu.
“Biarkan, kenapa nggak biarin aja saya mati? Biar saya mati.. saya tak pantas lagi untuk hidup” wanita itu tergugu. Tangisnya semakin kencang dan memilukan, seakan sedang menyesali sesuatu. Bibirnya mengucapkan kalimat – kalimat tak jelas. Pram menunggu sampai wanita itu menuntaskan tangisnya.
“Boleh saya bertanya tentang apa yang menyebabkan anda seperti ini? Saya janji akan membantu semampu saya.” Pram memberanikan diri bertanya.
“Nggak ada yang bisa bantu saya..!!”
“Saya akan coba.“Pram meyakinkan.
Wanita itu menyeka air matanya, ia terdiam beberapa saat, matanya menerawang jauh..
“Dia.. saya bertemu dengannya sudah lama, sejak saya bekerja di salah satu perusahaannya, dia bilang.. dia mencntai saya dan akan menikahi saya, tapi.. tapi dia malah menghancurkan hidup saya, dia meninggalkan saya, mencampakkan saya saat tahu saya sedang hamil, dan berpaling pada wanita lain. Ia menikah dengan wanita lain dan dia.. dia tidak mengakui anak ini..” wanita itu meraba perutnya.
“Saya sudah terlanjur berbohong pada keluarga saya bahwa saya saya sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Ya, saya terpaksa berbohong demi anak ini, dan berharap ia akan segera menikahi saya walaupun hanya nikah sirri, dan kami bisa pulang menjenguk orang tua saya di kampung nanti bersama – sama. Tapi, dia tetap tidak mengindahkan permintaan saya. Ia malah pindah ke kota di mana wanita itu tinggal. Saya bingung..! saya ingin pulang, tapi saya tak berani pulang sendiri. Saya sudah terlanjur bilang kalau saya pulang bersama suami saya, tapi sekarang hidup saya sudah hancur, saya ingin mati saja.. biarkan saya mati..”
Wanita itu menangis lagi. Pram tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya duduk memandangi wanita itu dengan sedih. Sebuah pikiran lalu terlintas di benaknya.
“Berapa lama Nona…”
“Sintya, nama saya Sintya.”
“Ya, baik. Sintya, berapa lama anda akan menjenguk orang tua anda itu?”
“Orang tua saya di Sukabumi, biasanya hanya dua hari.”
“Hanya dua hari?”
“Ya, kenapa?”
“Saya rasa anda tak bisa pulang sendirian dengan kondisi psikologis seperti ini. Saya akan mengantar anda. Itu kalau anda tak keberatan dengan bantuan yang saya tawarkan itu.”
“Maksud anda?”
“Saya akan mengantar nona, kalau nona mengizinkan, setelah itu saya akan pulang.”
“Itu artinya… tidak! saya tak sanggup pulang. Saya tak sanggup menghadapi semua ini! Saya nggak bisa..! Saya nggak berani..!”
“Saya akan antar.”
“Imbalan apa yang anda harapkan dari saya?”
“Tidak ada.”
“Apa?!” Sintya terperanjat.
“Ya, tidak ada. Saya hanya ingin membantu saja. Tapi, sungguh saya tidak akan melakukan apa-apa selain memainkan peran yang akan anda berikan kepada saya di depan orang tua anda, entah sebagai teman, adik, sopir, ataupun yang lainnya. Semua terserah anda. Hanya itu. saya bersumpah.”
“Setelah itu?”
“Setelah mengantar anda saya langsung pulang, dan urusan selanjutnya adalah urusan anda, tapi saya sarankan anda istirahat dulu di sana sampai kondisi anda membaik. Kasihan, bayi itu tak berdosa. Akan lebih berdosa lagi kalau membiarkannya tersia – siakan. Mati tak akan menyelesaikan masalah. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya, walaupun itu harus menempuh jalan yang sulit. Jadi, hadapilah! Mengakui kebohongan dan keadaan yang sebenarnya memang sulit, tapi akan lebih sulit lagi kalau menyelesaikan kebohongan dengan kebohongan lagi..”
“Jadi?”
“Jadi, saya sarankan anda menceritakan yang sebenarnya kepada keluarga anda, saya yakin mereka akan mengerti.”
Wanita itu termenung. Lalu mengangguk dengan perlahan. Itulah awal perkenalan mereka. Pram dan Sintya.
……………………..
DORRRR!!!
Suara dan tepukan di bahunya membuat Pram kembali ke dunia yang sebenarnya. Dilihatnya Dinda cengengesan duduk di sampingnya.
“Dinda, ngagetin ayah aja!”
“Emang ada yang papa pikirin ya?”
“Nggak..”
“Bohong. Buaya kok mau dikadalin?”
“Emang ini buaya, ya?” Pram menunjuk Dinda.
“Ah, ayah mah gitu!” Dinda cemberut, “Ayo dong cerita ke Dinda!”
“Emang nggak, Cuma ingat masa lalu.”
“Ah, yang bener? Ada yang ayah rahasiakan ya ke Dinda?”
“Emang kamu merasa begitu?”
Dinda mengangguk, “Dinda kan udah gede, Yah.. Dinda kan udah bisa mengerti. Ya, kalau ayah nggak keberatan Dinda menawarkan diri lho untuk mendengarkan cerita atau masalah ayah.”
“Duh, bidadari kecilku udah dewasa nih ceritanya?” Pram mengacak rambut Dinda, “Tapi bener kok, ayah cuma inget masa lalu..”
“Ya udah, kalau nggak mau, Dinda nggak maksa!” Gadis itu cemberut.
Pram tersenyum, “Lho, katanya udah dewasa? Tapi kok cemberut gitu? Ngambek? Ok, nih, sini papa ceritain. Dulu, jaman dahulu kala, seribu tahun yang lalu..” Pram memulai ceritanya, tapi tiba-tiba..
“Stop, stop. Ih, ayah nyebelin! emangnya Dinda anak kecil apa? Pake mulai dari jaman dahulu kala..”
“Lha, trus apa dong?”
“Apa kek, waktu kek, tahun kek..”
“Iya, ya.. bidadari kecil, eh, Bidadari dewasa. Begini.. “
Lalu mengalir mengalirlah cerita Pram tentang ingatannya tadi, tentang Sintya. Dinda mendengarkannya dengan serius.
“Lalu…?”
“Lalu kami sempat bertemu beberapa kali setelah itu dan setahun kemudian baru ayah menikah dengannya, dengan Sintya.”
Dinda merasakan debar di dadanya lebih cepat dan semua saraf – sarafnya menegang, “Jadi.. jadi ayah punya istri lain selain bunda? Ayah ayah pernah mengkhianati bunda?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Ayah menikahi Sintya atas saran dan persetujuan dan saran dari bundamu.”
“Bunda melakukan itu? mengapa?”
“Itulah yang sampai sekarang belum ayah mengerti. Ia merelakan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Yang ayah tahu..Tyas, bundamu, adalah seorang bidadari, benar – benar seperti bidadari dan memiliki hati bidadari, sampai sekarangpun ayah tak tahu rahasia bidadari itu sehingga bisa setegar itu…”
“Lalu, dimana tante Sintya sekarang?”
“Ayah nggak tahu.”
“Apa bunda pernah bertemu dengannya?”
“Belum. Seharusnya kita, Ayah, bunda, dan kamu bertemu empat belas tahun yang lalu. Tapi, kecelakaan itu… ya, dalam perjalanan kesana terjadi kecelakaan itu, dan bundamu…” Pram tak kuasa meneruskan kata – katanya.
“Ya, Dinda mengerti. Tapi, kenapa setelah itu ayah tidak mau menemui siapa?oh, tante Syntya?”
Pram menatap Dinda sedih.
“Bukannya tidak mau. Enam bulan setelah kecelakaan itu, setelah ayah sembuh, ayah berusaha mencarinya ke rumah kami yang dulu, tapi kata para tetangga di sana, Sintya dan anaknya sudah pindah sejak beberapa bulan yang lalu, lalu papa mencari ke rumah orang tuanya, di Sukabumi, tapi mereka bilang, mereka tak tahu apa – apa tentang keberadaannya..”
Dinda manggut-manggut, dahinya berkerut.
“Ngg.. bukankah dia punya anak?”
“Ya, dua orang, yang satu mungkin kalau masih hidup, mungkin seumur kamu, karena waktu itu kalian lahir secara bersamaan, Cuma beda bulan. Sedang satu lagi waktu itu masih dalam kandungan. Ayah juga nggak tahu, laki – laki atau perempuan..”
“Berarti Dinda punya adik tiri?”
“Bukan, satu kakak tiri, dia lebih dulu lahir dari kamu. Dan satu adik tiri”
“Ya, kakak tiri dan adik tiri.” Ucap Dinda pelan.
Kepala Dinda kembali berusaha memecahkan semua kata – kata yang terekam di otaknya tadi. Sebuah rahasia besar. Tapi, anak - anak itu… di mana sekarang anak yang disebut – sebut papa sebagai saudara tirinya itu? satu tanya sudah terjawab, meninggalkan pertanyaan baru di hati Dinda. Ibu tiri, saudara tiri…
“Oh ya, gimana kerjaannya? Dapet di butik atau took Islam seperti saran Ryan itu?”
Dinda menggelang, “Nggak yah, susah! Pada penuh! Kayaknya Dinda nyari kerjaan di restoran biasa aja dulu deh, sambil lihat – lihat kerjaan lain.”
“Yaaah, ayah nggak jadi ngelihat bidadari ayah pakai jilbab dong!”
“Emang belum saatnya kali, yah! Dinda kasih Zahra aja gelar bidadarinya deh, kan Zahra pakai jilbab!”
Pram tertawa,” Kamu ini ada – ada aja.”
Dinda ikut tertawa.
…………bersambung ke bagian empat belas……………..
RB - Bagian Sebelas
Pram membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk di sela – sela gorden membuatnya tak bisa membuka mata secara langsung, karena belum terbiasa dengan sinar terang. Perlahan, matanya yang masih kabur mencoba menangkap bayangan gadis yang tertidur pulas di samping tempat tidurnya. Dinda. Tangan Pram berusaha menggapai dan membangunkan gadis semata wayang kesayangannya itu. Namun, sepertinya tangannya terasa sangat lemah, sehingga hanya mampu mengenai gelas yang tergeletak di sampingnya. Gelas itu oleng beberapa saat sebelum akhirnya pecah berantakan jatuh ke lantai.
Praaannggg..!!!
Dinda terlonjak dari tidurnya begitu mendengar benda pecah yang tak jauh dari telinganya. Matanya yang masih bengkak mencoba mencari sumber suara. Dinda langsung terlonjak kaget dengan apa yang di lihatnya. Di depannya, Ayahnya telah membuka mata. Ayahnya telah sadar!
Dinda segera memanggil dokter dan perawat. Setelah dokter mamastikan bahwa Pram, ayahnya, akan baik – baik saja, langsung saja bak anak kecil, Dinda segera memeluk, menciumi tangan dan kening ayahnya dengan suka cita. Sedangkan bibir mungilnya tak henti – hentinya mengucapkan syukur. Tak dihiraukannya dokter yang meninggalkannya dengan geleng – geleng kepala, serta Ryan dan Zahra yang baru datang membawakan makan siang yang menatapnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Air mata ikut menetes di pipinya. Satu masalah terselesaikan, walaupun ribuan masalah lainnya masih menunggu gadis itu.
……………………………
“Din…”
Sebuah suara mengagetkan Dinda yang sedang menyuapi ayahnya sarapan bubur pagi itu. Rasanya dulu suara itu pernah bergaung di pendengarannya. Dinda menoleh dengan cepat.
“Selvy?” Dinda mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Ryan yang berdiri di samping Selvy menganggukkan kepala meyakinkan Dinda, lalu menggantikan Dinda menyuapi pak Pram. Dinda tak segera berbicara, setelah diambilnya sapu tangan penutup mulutnya kalau batuk, gadis itu langsung mengajak Selvy ke ruang tunggu di depan kamar ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk, untuk apa dia ke sini setelah semua yang terjadi?
“Sorry Din, gw baru dateng sekarang, gw minta maaf atas kejadian waktu itu.” jelas Selvy, penyesalan jelas terpancar dari matanya. Dinda memandang Selvy bingung.
“Minta maaf?”
“Ya, minta maaf atas sikap gw, lu mau
Dinda tergagap. Ya Tuhan, apakah ini berarti dugaannya selama ini terhadap Selvy adalah benar?
Kening Dinda berkerut, tapi ia tak berani bertanya apa – apa selain menganggukkan kepala, “Gw.. gw nggak pernah mikirin itu lagi kok, gw udah maafin semuanya.”
Selvy langsung memeluk Dinda, “Gw ternyata salah paham ya Din sama lo, ternyata lu baik banget orangnya, kita temenan, ya ? gw malu sama sikap gw selama ini sama elo, Din.”
Dinda bengong. It’s Right? It’s enough ? apakah semua ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan itu? Semudah itukah? Seakan itu adalah kesalahan yang sangat kecil?
“Selvy..!!”
Sebuah bentakan dari belakangnya membuat Selvy melepaskan pelukannya dari Dinda. Anggi berdiri di
“Ngapain lu di sini?” Anggi langsung menarik tangan Selvy dengan kasar, seolah – olah menjauhkan gadis itu dari Dinda.
“Lu sendiri ngapain?” balas Selvy sengit.
“Mau tau aja lu, gw ingetin ya, lu jangan coba – coba deketin Dinda, jangan mentang – mentang selama ini gw nggak bareng Dinda deh! atau lu kurang puas udah ngerebut gelar siswa teladan? Jangan pura – pura baik, ok!?” Anggi mendorong Selvy agar gadis itu menjauhi Dinda.
“Gw nggak pura – pura baik Din, Nggi, tapi..” Selvy memandang Dinda ragu,”Ah, Ok, Din. Ngg.. ok, gw pulang dulu ya?”
Tanpa menunggu jawaban, akhirnya Selvy meninggalkan Dinda yang masih melongo dengan pandangan tak mengerti menatap mantan sahabat dan mantan saingannya itu.
“Din, maafin gw ya? selama ini, gw tau gw salah ninggalin lu sendirian. Gw baru sadar, seharusnya gw nggak ngebiarin lu sendirian memikul beban seberat ini.“ ucap Anggi berubah lembut.
Dinda semakin bingung. Tadi Sevy, sekarang Anggi?
“Din..” Anggi menepuk bahu Dinda.
Dinda tersadr dari lamunannya, “Eh, I..iya, udahlah Nggi, lu nggak salah, semua wajar kok.” Ujar Dinda sambil menahan batuknya.
Dinda menatap Anggi. Keduanya tersenyum. Lalu Anggi menarik Dinda menuju mobil, mengambil plastik berisi oleh – oleh yang dibawanya.
“Selvy ngapain nemuin lu, Din?” tanya Anggi sambil mengeluarkan bawaannya dari bagasi.
“Dia minta maaf.”
“Minta maaf?”
“Ya.”
“Tuh
“Dugaan apa?”
“Iya, dia pasti mau ngambil kesempatan buat ngedeketin lu selagi kita – kita nggak ada.. jangan – jangan dia juga lagi yang ngelakuin semua ini sama elo, sampai – sampai kita benci sama elo…” Anggi menutup bagasi, lalu kembali mengunci mobilnya.
“Nggak tahu lah, siapapun nggak masalah. Semua udah lewat Nggi.” Ucap Dinda, lalu mengikuti Anggi yang berjalan masuk menuju kolidor rumah sakit yang menghubungkan dengan kamar ayahnya.
Sementara itu…
Selvy mengamati Anggi dan Dinda yang berjalan dari kejauhan dengan kesal. Dinda. Sedikit lagi! padahal sedikit lagi… seandainya saja Anggi tidak muncul, pasti ia akan berhasil melakukan hal itu! pasti ia akan bisa mengatakan hal itu! tinggal selangkah lagi! ah, Dinda, gadis itu begitu kuat, tapi akankah ia masih sekuat itu jika mengetahui kenyataan itu?. Bisik batin Selvy lirih, lalu meninggalkan kawasan rumah sakit.
………..…………….
“Aku bingung..” ujar Dinda suatu sore kepada Zahra dan Ryan.
“Bingung?” sahut Ryan dan Zahra berbarengan. Zahra memandang Ryan dengan tajam. Ryan mengerti arti pandangan itu.
“Ya.”
“Sebabnya?” kali ini hanya Zahra yang menyahuti, sedangkan Ryan kembali sibuk dengan buku di tangannya.
“Ya… a.. aku bingung sama Anggi dan Selvy, kok mereka tiba – tiba dateng barengan, padahal selama ini mereka nggak pernah mikirin aku, eh, kok pada dateng tiba – tiba, apalagi sampai nengokin ayah.. udah gitu mwnghilangnya juga barengan. Aneh
Zahra mengerutkan kening. Ryan yang mau tak mau ikut mendengar, juga ikut berpikir, walaupun matanya terpaku pada buku di tangannya itu.
Dinda menceritakan pertemuannya siang itu dengan Anggi dan Selvy, kedua gadis itu memang langsung tiba – tiba menghilang, alias nggak pernah datang lagi menemui Dinda. Cukup aneh memang. Apalagi sikap Selvy yang berbeda waktu itu, yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa Dinda tak tahu.
“Aneh memang, tapi menurut aku, kak Dinda nggak usah pikirin, mungkin aja ini jawaban atas doa – doa kakak selama ini atau memang Allah telah membukakan pintu hati mareka saat ini, siapa tahu..!!” Zahra mengangkat bahu, “Udahlah kak, nggak usah bingung, yang namanya temen, seneng bareng, susah juga bareng, lupain aja mereka, banyak yang harus kakak pikirin selain mereka. Trus ntar kalo kakak udah bener – bener sembuh, baru deh kakak pilih yang mana yang bener – bener temen.”
“Betul, Din!” Ryan akhirnya menimpali juga, “Sekarang mulai aja siap – siapin barang buat pulang, tadi aku udah bicara ke dokter, katanya kalau keadaan normal – normal aja lusa om udah bisa dibawa pulang.”
“Bener?” Dinda kaget,”Kok kalian nggak bilang – bilang sama aku sih? Jahat!“ Buugg! Dinda melempar dua bantal kursi yang tadi di tangannya kepada Ryan dan Zahra, membuat kedua kakak beradik itu reflek mengelak.
Dan dalam waktu singkat, bantal di ruangan itu melayang kembali. Perang bantal!
“
Dinda jadi bengong. Lho, Kok dia yang repot?
“Iya, ntar aku yang repot bawa kakak ke rumah sakit jiwa! ha.. ha..”
Blukgk! Sekali lagi bantal di tangan Dinda mengenai kepala Zahra, “Dasar! Kakak adik jailnya kompak..!”
Namun, akhirnya gadis itu beranjak juga mengambil kantong obat di laci tak jauh dari tempat duduknya. Satu persatu obat tablet yang bertuliskan rifamficin, pirazinamid, etanbutol, dan streptomizin itu di keluarkannya dan di telannya dengan segelas air yang diangsurkan Ryan kepadanya. Tapi, baru beberapa saat..
“Yan..”
“Apalagi? Bentar Yan, bentar Ra, kenapa?”
“Gimana ya kabarnya Fery?”
Ryan terdiam sesaat.
“Udah ah, ngapain sih kamu mikirin dia?” Ryan sewot.
“Ya, lupain aja kak, kalau jodoh
“Yeee, anak kecil ikut – ikutan, emang tahu?” balas Dinda. Zahra nyengir. Dinda tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zahra diam, “Hmm…”
“Apa lagi?” Ryan dan Zahra berbarengan.
“Nggak, Cuma mikir aja, sampai kapan ya aku kayak gini? Apa aku bisa ya bertahan terus sama obat – obat ini?”
Dinda menatap sekantong obat di tangannya dengan sedih. Ryan menatap Dinda perasaan tak menentu.
“Din, kamu pasti bisa bertahan, percayalah Din. Kamu aja bisa melewati masa – masa sulit kemarin, kenapa sekarang kamu nggak bisa? Kamu pasti bisaa! Aku dan Zahra akan terus nemenin kamu Din, sampai kamu sembuh..” Ryan menatap Dinda, berusaha membangkitkan rasa optimis gadis rapuh itu.
“Kalian nggak takut ketularan?” tanya Dinda.
“Kak Dinda. Aku ulangi, Temen susah bareng, seneng juga bareng. Kalo aku berpikiran kayak gitu, udah lama kita nggak mau deket – deket sama kakak! Itu kata seseorang sih..”Zahra mengerling ke arah Ryan.
Ryan jadi salah tingkah.
Zahra menggengam tangan Dinda, “Aku nggak berharap apa – apa, aku Cuma pengen lihat kak Dinda yang dulu, yang selalu tersenyum. karena itu, kakak harus terus berjuang ya? Mau
“Huuu! iya Nona sok dewasa. tapi, dapet kata – kata dari mana nih anak?”kening Dinda mengerut.
“He.. he..” Zahra nyengir, “Dari buku harian seseorang..” jawabnya polos, sambil mengerling jail ke arah Ryan.
Hukkggkk!.
Muka Ryan langsung bersemu merah seketika. Ketiganya lalu larut dalam canda di sela – sela batuk kecil Dinda, walau masih terbesit kerinduan dan pertanyaan dalam hati Dinda.
Ah, seandainya yang berkata demikian adalah Fery dan teman - temannya.. Tapi, entahlah! Fery, kemana sosok itu? mengapa tak sekalipun Fery menemuinya? Lalu ayah? Jika mereka akan pulang besok, bagaimana cara menjelaskan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu? termasuk masalah penjualan rumah? Serta menjelaskan kenyataan yang ada?
“Eh, Din..” Suara Ryan membuyarkan lamunan Dinda.
“Ya?”
“Untuk besok siang aku udah minta tolong si mbok buat nungguin papa kamu, karena itu kamu bisa ikut aku dan Zahra besok.”
“Ikut? Kemana?”
“Ke rumahku, ke rumah kami.”
“Emang ada acara apa?”
“Nggak, kita
Dinda berpikir sejanak, lalu “Ngg, nggak apa-apa kali ya? ya deh! jam berapa?”
“Jam setengah satu siang.”
“Ok.” Jawab Dinda. Ngg..ibu, seperti apa ya, ibunya Ryan dan gadis kecil itu? Ah, mudah – mudahan saja baik, lembut, pengertian, ramah.. ah, Bunda, itukan seperti bunda. Mungkinkah ibunya Ryan juga seperti bunda?
Dinda kembali tenggelam dalam lamunan dan angan - angannya.
…………………
Dinda mngikuti Ryan dan Zahra memasuki pekarangan sebuah ruah mungil. Ryan mengetuk pintu rumah mungil itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita setengah baya membukakan pintu itu dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh senyum. Dinda segera menebak, mungkinkah ini ibu mereka?
Dugaan Dinda tampaknya tak meleset. Ryan dan Zahra segera membungkuk mencium tangan wanita itu. Dinda mengikuti melakukan hal yang sama dengan agak canggung dan kikuk. Tangan lembut wanita itu tampak sedikit gemetar ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Dinda.
“Bu, ini Dinda,”Ryan memperkenalkan Dinda, “Din, ini ibuku.”
“Ibuku juga.” sambung Zahra tak mau kalah.
Dinda tersenyum. Wanita itu membalas senyumnya,”Ayo, silahkan duduk. Ibu bikinkan minum dulu ya, Dinda mau minum apa?”
“Ah, nggak usah repot – repot, bu. Apa aja boleh.”
Ryan dan Zahra pamit sebentar meninggalkan Dinda untuk berganti pakaian. Dinda mengamati seisi ruangan itu. Ruang tamu yang sederhana. Tak ada pajangan, hanya ada beberapa photo Ryan sewaktu masih SD dan SMP, juga photo Zahra dan beberapa photo ibu Ryan sewaktu masih gadis. Tiba – tiba saja Dinda merasakan ada sesuatu yang kurang di ruangan itu. Tapi, ia tak segera menemukan kekurangan itu, karena pikirannya segera terhenti karena ibu Ryan telah kembali dengan membawa nampan yang di atasnya ada tiga gelas air sirop.
“Maaf, ya Din, ini seadanya.” Ibu itu meletakkan gelas di depan Dinda.
“Nggak apa-apa kok, bu.” Jawab Dinda, bersamaan dengan kemunculan Ryan dari arah kamarnya. Tampaknya ia sudah berganti baju.
“Bagaimana kabarnya ayah Dinda sekarang?”
“Ya, udah lumayan baik, bu. Mungkin besok udah bisa pulang.”
“Syukurlah..” wanita itu menarik napas panjang.
Demikianlah! Setelah itu dua jam mereka terlibat dalam percakapan – percakapan sehari – hari. Mulai dari pekerjaan, sekolah, sampai – sampai membicarakan resep masakan, dan banyak hal lainnya, diselingi tawa renyah yang sesekali terdengar. Akrab dan hangat, walaupun banyak hal yang tak dimengerti oleh Dinda dalam percakapan itu.
…………………….
Selasa, 15 Juni 2010
RB - Bagian Lima
Tok! Tok! Tok!
Dinda mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan hati – hati. Hatinya diliputi tanda tanya besar karena baru pertama kali ini pak Teguh, kepala sekola SMA Teladan, memanggilnya ke sini dengan tiba – tiba dan sendirian. Sebuah suara bariton yang sudah dikenalnya menyuruh Dinda untuk melangkah memasuki ruangan berbentuk persegi itu. Di pojok ruangan pak Teguh tampak sudah menunggunya. Dinda segera dipersilahkannya duduk.
“Maaf pak, ada apa ya bapak manggil saya?” tanya Dinda.
Pak teguh mamandang Dinda dengan tatapan yang tak dimengerti oleh gadis itu. Keningnya yang mulai keriput tampak mengernyit seperti berpikir. Dinda jadi tambah bingung dan sekali lagi menegur dengan suara agak dikeraskan, “Pak?”
“Eh, iya, iya.. begini nak Dinda, bapak dan sekolah ini bangga sekali dengan prestasi yang sudah kamu lakukan untuk sekolah ini.”
“Kok bapak jadi gitu ngomongnya sih? Itu
“Bapak tahu itu, tapi.. maafkan bapak nak Dinda, maafkan sekolah ini..” Pak teguh mengelap keringat di dahinya.
“Emang kenapa pak?” tanya Dinda tak mengerti, ”Maaf untuk apa?”
“Begini nak Dinda, kami sebenarnya ingin mengurus beasiswa nak Dinda secepat mungkin, seperti tahun – tahun sebelumnya, karena nak Dinda tau sendiri kan bentar lagi di sana semester baru akan segera dimulai, tapi kami mendapatkan bahwa ada satu syarat yang tidak bisa nak Dinda penuhi.”
Dinda terperangah.Kaget. Syarat? Bukankah semua syarat sudah dilengkapinya? Lalu?
“Syarat apa, pak?”
“Tes kesehatan.”
“Tes apa, pak?”
“Kesehatan.”
“Lho, bukannya sebelumnya nggak ada tes – tesan segala pak selain seleksi itu? Dan bukankah semua syaratnya udah saya penuhi?”
“Ya, tapi kami mendapatkan sebuah informasi penting.”
“Informasi apa, pak?”
“Informasi bahwa.. maaf, kami mendapatkan informasi dari sebuah sumber kalau nak Dinda mengidap penyakit tebece. Apakah informasi itu benar?”
PLUGG! Dinda bagai terlempar ke jurang yang dalam. Dinda mengangguk dengan lesu ,”Ya, pak.”
“Begini, sesuai perjanjian antara pihak sekolah dan mereka, mereka akan menolak siswi yang mengalami gangguan kesehatan dan berpenyakit menular, apalagi yang namanya, tebece. Mereka tidak mau menerima, kecuali ganti orang. Dan kalau kita mengulur – ulur waktu lagi, kita nggak akan bisa mengejar semester ini.”
Dinda terdiam. Perkataan pak Teguh barusan seperti mengikat lidahnya untuk membantah dan membela diri. Tebece? Bagaimana mungkin penyakit itu bisa jadi penghalang cita – cita seumur hidupnya? Apakah semua impiannya harus kandas hanya karena tebece yang dideritanya?
Dinda terhenyak. Tapi.. tunggu dulu. Kenapa pihak sekolah sampai tahu semua itu? bukankah tak ada yang tahu tentang hal ini? siapa yang mengatakan hal itu? siapa yang membocorkan rahasia itu? hal tes kesehatan beberapa bulan lalukah?
“Maaf pak, boleh saya tau dari mana pihak sekolah tahu hal itu?” tanya Dinda.
Pak Teguh lalu tampak mengaduk – aduk isi lacinya, seperti mencari – cari sesuatu. Dan akhirnya tangannya menggenggam sebuah amplop coklat yang akhirnya diangsurkannya amplop itu kepada Dinda.
Dinda menerima amplop itu dengan bingung dan penuh dengan tanda tanya. Tapi tak urung, tangannya segera membuka isi amplop polos itu dan mengeluarkan dua lembar kertas dari dalammya.
“Kepada kepala Sekolah SMU Teladan,
Saya hanya ingin memberitahukan, bahwa siswa yang bernama Adinda Putri adalah pengidap tubercolosis atau TBC dan tidak layak mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan. Harap ditindak lanjuti.. kalau sekolah bapak tidak ingin mendapat malu dan tercemar. Terima kasih bapak kepala yang baik.” dari : the best student.
Dinda terperanjat kaget. The best student? Siapa dia? Ia langsung melihat kertas lembar ke dua? Oh, my god! Apa ini? mengapa ini ada di sini? Dinda menahan napas. Dadanya terasa semakin sesak. Kertas itu.. kertas itu adalah hasil pemeriksaan laboratoriumnya!
“Kami mohon maaf nak Dinda, kami harap…”
“Tidak apa – apa, pak.” Potong Dinda dengan nada lesu.
“Benar nak Dinda, kami nggak bermaksud.. tapi demi kebaikan kamu, dan teman – temanmu juga, dan sekolah kita ini juga.”
“Tidak pak,” potong Dinda lagi, ”Saya tahu sekolah nggak salah. Mungkin emang jalan hidup saya nggak ke
“Terima kasih Dinda, oh ya, kamu akan digantikan oleh runner up waktu pemilihan, temanmu Selvy yang akan berangkat. Mudah – mudahan kamu cepat sembuh ya! Oh ya, kami tidak akan membocorkan hal ini kepada para siswa asalkan kamu tetap berobat dan berusaha untuk sembuh. Bapak yakin kamu pasti bisa sembuh.”
“Makasih juga pak, saya permisi, Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Dinda melangkah menuju pintu dengan lunglai. Ia pergi dengan membawa kepingan pecahan cahaya bintang yang mulai mulai padam pijar cahayanya. Hanya sebuah pertanyaan yang masih tersisa di kepala Dinda. Siapa orang yang begitu tega melakukan semua ini kepadanya? Dinda mencoba mengingat – ingat di mana ia terakhir kali meletakkan kertas itu, namun pikirannya buntu, kepalanya terasa berputar.
“Hai, Din..!” sapa sebuah suara ketika Dinda baru menutup pintu ruangan itu. Ia berbalik. Selvy berdiri di
“Hai juga.” Balas Dinda.
“Baru dari kepsek?”
Dinda mengangguk, “Ya, selamat ya..!”
“Oh, Eh.. iya. Makasih. Eh, gw masuk dulu ya, daaagh!” Selvy melambaikan tangan, lalu menghilang di balik pintu yang sama dengan yang tadi dimasuki Dinda. Dinda masih bisa menangkap senyum kemenangan yang terpancar di wajah cantik itu sebelum menghilang di balik daun pintu.
Dinda menatap tempat dimana bayangan itu menghilang sesaat, lalu berbalik menuju kelasnya dengan hati hancur. Dinda kembali berpikir. Selvi? Apakah Selvy yang melakukan semua ini? ya, mungkin hanya nama itulah yang masuk akal akan melakukan hal ini. Tapi, apakah memang sebesar itu kebencian Selvi padanya? Tapi, kalau bukan Selvy, lalu siapa yang begitu menginginkan kehancurannya? Siapa sosok yang begitu membencinya dan begitu tega menghancurkan impiannya? Menghancurkan cita – cita dan harapannya selama ini?
…bersambung ke bagian enam…………