masak

Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juni 2010

RB - Bagian Empat Belas

Dinda menyandarkan punggungnya di dinding ruangan sempit itu. Mukanya tampak agak pucat dan lelah. Dilapnya keringat yang bercucuran di wajahnya dengan sehelai handuk kecil yang dikeluarkannya dari tas kecil bawaannya. Pegal. Tamu restoran hari ini banyak sekali, sehingga ia dan karyawan lainnya merasa kewalahan melayani.

“Capek, Din?” tanya Nana, rekan seprofesinya.

“Yah, lumayan.” Jawab Dinda.

“Yah, ginilah Din kerja di sini, nggak kayak di kantoran, kerjanya Cuma duduk doang, nggak capek dan udah gitu gajinya gede lagi!”

“Ah, tapi otaknya kan capek juga mikir!” Dinda tak mau kalah.

“Ya, tapi kan nggak secapek kita, udah pake otot, capek lagi mikir..”

“Lho, emang mikirin apaan Na, kan yang mikirin nasib restorannya si bos, menu makanan dan minumannya juga urusan atas, emang kita capek mirin apa?” tanya Dinda penasaran. Nana mengernyitkan dahi. Mulutnya menganga, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Tapi..

“Capek mikirin gaji yang kecil! kira – kira cukup nggak ya, buat sampai akhir bulan.” Ujar Agus yang muncul tiba – tiba dari dapur, tanpa diduga oleh Nana.

Nana langsung cemberut. Dinda tersenyum, “Ah, kalian ada-ada aja, udah ah! makan yuk, laper nih!” Dinda menepuk - nepuk perutnya, lalu mengeluarkan kotak bekalnya. Agus dan Nana melakukan hal yang sama.

“Eh, Na..”

“Ha?”jawab Nana dengan mulut yang penuh nasi. Melihat hal itu Dinda tak jadi meneruskan kalimatnya dan menunggu gadis itu menelan semua nasi yang ada di mulutnya.

“Aha ci? Gadi hanggil, heharang hok dihuehin?” tanyanya, masih dengan nasi di mulut.

“Udah, ntar aja. Abisin dulu, ntar keselek lagi.. hanggil-hanggil..” nasihat Agus. Nana mengangguk, lalu cepat – cepat menelan nasi yang masih tersisa, “Ya, sudah nona!” ujarnya.

“Ngg.. lu pernah kebayang nggak seumpamanya…”

“Apa? Nana Ada yang mau nembak?” potong Agus cepat sebelum Dinda menyelesaikan pertanyaannya. Nana cemberut lagi, begitu pertanyaan yang seharusnya untuknya itu diserobot untuk kedua kalinya.

Agus mencibir, lalu bergegas bangkit meninggalkan mereka sebelum sendal Nana melayang ke kepalanya. Nana balas menatapnya dengan kesal, lalu kembali berpaling ke arah Dinda yang masih menunggu untuk melanjutkan kembali kalimatnya yang tadi terpotong.

“Kalau seumpamanya apa, Din?”

“Ya.. kayak yang dibilang Agus tadi..” canda Dinda.

“Ah, yang bener Din?” tanyanya antusias.

Dinda geleng – geleng kepala, “Ya, nggak laaahhh..!”

Nana urung senyum, “Trus apa dong?”

“Nggg..” Dinda ragu – ragu melanjutkan kalimatnya,“Ngg.. Kalau ternyata selama ini, selama bertahun – tahun lamanya ternyata baru sekarang lu tahu kalau ternyata lu sebenarnya punya saudara tiri dan ibu tiri?”

“Emang elo.. punya saudara tiri ya, Din?” tanya Nana hati-hati.

Dinda mengangguk, “Ya, ayah baru cerita ke aku, rahasia itu ia pendam sejak belasan tahun yang lalu..”

“Berarti bokap lu punya istri dua?”

“Ya.”

“Setelah nyokap lu meninggal?”

Dinda menggeleng, “Nggak, sebelum nyokap gw meninggal, atas saran nyokap gw.”

“Kok bisa?”

“Bisa aja.”

“Nyokap lu nggak marah? Trus di mana mereka sekarang? Kan katanya lu Cuma tinggal berdua sama bokap lu..”

Dinda mengangkat bahu, “Gw sendiri nggak tahu, Ayah nggak pernah cerita apa-apa lagi soal itu, tapi.. “ ucapan Dinda terpotong. Dahinya mengernyit dan matanya menerawang.

“Tapi apa?”

“Tapi entah mengapa, kok gw ngerasa mereka itu ada di sekitar gw ya? Gw nggak tahu siapa mereka, tapi.. kok rasanya mereka ada di dekat gw, tapi gw nggak inget apa yang bikin gw ngerasa kayak gitu, Na..”

“Emang lu nggak tahu sama sekali ciri – cirinya? Kan kalo saudara biasanya ada dikit – dikit miripnya..”

“Justru itu Na, masalahnya dia bukan anak kandung bokap gw. Dia itu anak bawaan istrinya itu, artinya, dia itu anak tiri bokap gw, trus kalau yang satu lagi gw nggak tau dia cowok atau cewek.”

“Lho, kok?”

“Iya, soalnya waktu itu adik gw itu masih dalam kandungan.”

“O…” mulut Nana mengerucut bulat mengucapkan huruf itu. keningnya sekarang ikut mengernyit, “Ya udah, kita selidiki aja..” ceplosnya enteng.

Kening Dinda jadi tambah berkerut, “Selidiki? Selidiki dari mana Na? Emangnya gw mo harus nanya Ayah gw lagi? nggak, mendingan gw nggak nanya dari pada dia sedih lagi..”

“Yee, siapa yang bilang begitu. Maksud gw.. lu cari aja diam – diam, siapa tahu bokap lu masih nyimpan photo lama, gw yakin nggak mungkin dia nggak nyimpan barang satupun..” Nana mengecungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.

Dinda mengangguk –angguk. Iya juga ya? Mungkin aja..

…………………

Pram tampak tengah sibuk dengan tumpukan koran di depannya. Tangannya sibuk membalik halaman demi halaman. Sebuah tongkat tersandar tepat di sampingnya. Dinda mendekati sosok itu dengan wajah ceria.

“Lho, udah pulang, Din?” tanyanya sebelum Dinda membuka suara.

“Udah, yah. Kan tadi Dinda masuk shift pagi.. ayah kok sibuk banget kayaknya, lagi ngapain sih?”

“Nggg, yah. Cari – cari sesuatulah! Udah sana makan, ayah udah masak tuh buat kamu.”

“Waahhh, ayahku baik sekali..!” puji Dinda. Ia lalu melenggang menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia baru ingat tujuannya semula waktu datang tadi. Ia kembali berbalik.

“Ayah..”

“Ya?”

“Ayah masih nyimpen album – album Dinda sama bunda waktu kecil nggak?”

“Ada. Kenapa?”

“Dinda mau lihat dong..!”.

“Buat apa, sayang?” jawabnya tanpa menoleh dari halaman yang sedang dicermatinya dengan hati – hati.

“Dinda mau lihat sebentar, ada perlu, buat.. buat biodata.” Jawab Dinda bohong.

“Sebentar, ayah lihat dulu.”

Pram segera melipat korannya, lalu mengambil tongkatnya dan beranjak dari tempat duduknya. Dengan dibantu Dinda, ia segera membuka lemari pakaiannya, lalu menurunkan sebuah koper kecil yang sedikit berdebu. Dibukanya koper itu dengan hati – hati, lalu mengeluarkan isi demi isi dari koper itu. Dinda menunggu dengan dada yang berdebar.

Akhirnya, setelah tiga per empat dari semua isi koper yang terbongkar, didapatinya dua buah album berukuran sedang yang tampak sudah sangat usang. Dikeluarkannya kedua album itu, lalu diserahkannya kepada Dinda.

Dinda menerima album itu dengan campuran berbagai perasaan. Ia lalu membawa album itu ke kamarnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Pram memandanginya dengan tatapan aneh, lalu kembali ke kesibukannya semula.

Setibanya di kamar, Dinda tak sabar untuk segera membuka album itu. Dengan tergesa – gesa ia melompat ke tempat tidur, lalu membalik lembar demi lembar photo yang terpajang di sana dengan teliti dan penuh selidik.

“Ah, kenapa semua hanya photo aku dan bunda? Kenapa tak ada photo tante Sintya atau anaknya itu?” desah Dinda kecewa dengan album yang bertama yang didapatinya tidak memberikan apa yang dicarinya.

Dinda lalu membuka album yang ke dua. Ia melakukan hal yang sama seperti yang pertama. Lembar demi lembar, photo demi photo. Hingga akhirnya ia akan menutup album itu dengan penuh kecewa, tiba – tiba.. matanya memaksanya untuk kembali ke halaman sebelumnya. Dua photo didempetkan jadi satu!.

Dengan hati – hati segera dilepaskannya steples yang menempelkan kedua photo itu dan terlihatlah wajah seorang wanita, yang dibuat bertahun – tahun yang lalu dan dengan dandanan yang mungkin sedang musim waktu zaman itu. Polesan make up tipis menutupi kulitnya yang putih, tapi hal itu tak membuat Dinda tak mengenali wajah itu. Ya, wajah yang beberapa waktu lalu dijumpainya! Yang terasa begitu dekat dengannya dan langsung akrab dengannya, yang anaknya selalu mendampingi dan membantunya, dia adalah.. Ibu Ryan! Ibu Zahra!

Dengan dada berdebar dan berharap cemas Dinda membaca tulisan di balik photo itu. “Sintya.” Dinda terhenyak.

…………bersambung ke bagian 15………………….

Kamis, 17 Juni 2010

RB - Bagian Delapan

Di suatu rumah mungil, 14 tahun yang lalu..

Sintya, Seorang ibu muda, sedang mondar – mandir dengan gelisah. Rambutnya yang panjang terikat dengan asal dengan sebuah ikat rambut berwarna putih. Sesekali tangannya meraba perutnya yang sedikit membuncit. Ia sedang hamil. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat dengan jelas, menandakan ia kurang tidur beberapa hari ini.

“Ma, papa mau datang ya, ma?” tanya anak kecil yang tengah asyik dengan mainan di depannya.

“Iya, sayang.”

“Emang kita mau pelgi ya, mama?”

“Nggak, sayang. Papa Cuma mau ajak tante Tyas ke sini. Papa sekarang akan jemput dia.”

“Tante Tyas, ma?”

“Iya, tante Tyas, ada Dinda juga, seumur sama kamu, nanti nggak boleh berantem ya..”

“Nanti papa bawa mainan ya, ma?”

“Iya, udah sana. Mandi dulu, biar nanti kalau papa datang, nanti papa senang, malu kan kalau masih belepotan begitu?”

“Ya, ma.“ Anak itu mengangguk dengan patuh, lalu menuju kamar, mengambil handuk, dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Sepeninggal anaknya, Sintya kembali dengan kesibukannya. Mondar-mandir dan sesekali melongok ke jendela. Hatinya diliputi rasa was-was, “Mas Pram, apa yang terjadi? Apa semuanya baik – baik saja? Kenapa sampai jam segini belum juga datang? Bukankah mereka seharusnya sudah sampai sejak dua jam yang lalu? Ataukah Tyas memang tak bisa menerima kehadirannya? Dan karena itu.. mereka tak jadi kemari?”

Sintya tenggelam dalam pikiran dan penantiannya. Ia memandang ke luar Jendela dengan harap cemas.

Di waktu yang sama, Di Kawasan Puncak…

Hari masih belum terlalu siang. Jalan kawasan puncak yang masih sepi dengan arus kendaraan yang biasanya padat merayap. Mungkin karena ini bukan hari libur dan hujan deras yang mengguyur jalan yang dikelilingi kebun teh itu dengan lebatnya, sehingga lebih banyak para pengemudi yang memutuskan untuk berhenti dan berteduh di pondok – pondok di sepanjang jalan sambil menikmati jagung bakar atau singkong bakar yang dijajakan penjual yang berasal dari penduduk setempat. Sebuah sedan hitam tampak masih berjalan dengan perlahan..

“Yah, nanti Dinda mau makan jagung bakal ya, kalo udah sampai di puncak.” celoteh gadis kecil yang masih cadel ‘er’ itu dengan gembiranya ketika mobil mulai memasuki kawasan perkebunan teh yang semakin lama semakin menghijau di daerah puncak.

“Iya, trus apa lagi?” jawab Pram dengan sabar.

“Telus, beli mainan boneka balbie..”

“Kalo udah beli boneka barbie?”

“Udah gitu, beli bajunya juga, baju Dinda juga ya, yah?”

“Iya, sayang, trus..?”

“Beli straubely, telus Dinda mau beli kuda – kudaan, maenan... pokonya semua ya yah?..”

Pram tertawa melihat tingkah putrinya. Dibelainya rambut Dinda dengan saying, “Kalau udah semua?”

“Eit, stop. Dinda, udah ah, jangan gangguin Ayah terus, Ayah kan lagi nyetir, tanyanya sama bunda aja ya? Ayah juga, udah tahu lagi ujan, perlu konsentrasi nyetirnya, eh, malah ngeladenin si Dinda, udah tau anaknya nggak mau diam..” Ucap Tyas, sang istri, panjang lebar.

Pram tersenyum melihat wajah khawatir istrinya. Dari dulu Tyas memang tipe orang yang penuh kekhawatiran. Ia juga tipe orang yang penuh konsentrasi kalau melakukan pekerjaan, termasuk soal menyetir. Makanya, kalau pergi bareng Tyas, dia harus sedia banyak kaset biar nggak ngantuk! Soalnya gimanapun diajak becanda atau ngobrol, pasti nggak diladenin! Tapi itu dulu, sebelum ada Dinda kecil yang lebih cerewet kalau bertanya di sepanjang jalan dan selalu ngambek kalau pertanyaannya nggak dijawab. (Hayo, milih mana? Ngambeknya Dinda tea nggak tanggung – tanggung, bisa sehari semalem, he..he..).

“Makanya, tadi ayah bilang juga apa? Berhenti aja dulu, eh, bundanya nggak mau, ya kan Din?”sahut Pram.

“Hmm, anak sama ayah sama aja!”

“Iya, kan bisa jajan, tapi Dinda juga pengen cepat sampai, Nda.”

“Tuh kan? Dan lagi kan Sintya mas, dia pasti udah nungguin kita dari tadi, udah masakin lagi, kalo berhenti dulu paling nggak pasti dua jam-an, ya kan? Bilang aja pada mau makan jagung bakar dulu.”.

Pram nyengir. Ketahuan ni yee..!

“Yes madame!”. Pram segera berkonsentrasi kembali dengan jalan yang semakin licin dan kabur oleh air hujan.

Sambil menyetir, pikiran Pram kembali melayang,“Ah, Tyas.. selalu memikirkan orang lain. Entah terbuat dari apakah hati bidadariku ini. entah, entahlah, rasanya beban ini semakin berat. Bagaimana aku harus mempertemukan mereka nanti? Mempertemukan dua orang perempuan yang sama – sama aku cintai? Tyas memang sudah menerima kehadiran Syntya sejak awal. Tapi bagaimanapun Pram tahu pasti ada goresan luka di sana, walaupun sedikit. tentang.. Sintya? Aku.. aku tak sanggup melihat Sintya terluka lagi, tapi aku juga lebih tak sanggup melihat Tyas terluka, walaupun Tyas menerima dengan lapang dada, tapi aku tahu, sebagai perempuan sedikit ataupun banyak pasti merasa sakit, tapi aku.. ” Pram merasakan dadanya sesak oleh semua angan – angan buruknya.

Tiba – tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dari arah yag berlawanan. Pram yang sangat terkejut dengan kondisi yang tak terduga itu segera berusaha menghidari truk itu dengan sedikit membanting stir agak ke kanan. Tias menjerit panik dan segera mendekap Dinda kuat – kuat.

BRAKKK!!!

Sebuah hantaman keras di sisi kiri membuat Pram kehilangan kendali. Sedan itu terseret oleh truk yang baru berhenti setelah beberapa meter, lalu menabrak sedan berwarna hitam lain yang melaju berlawanan arah dengannya, diiringi jeritan penumpang di dalamnya.

Pram langsung tak sadarkan diri. Di sebelahnya Tyas berlumuran darah dan tergeletak lemah. Tangannya mendekap Dinda yang juga tak sadarkan diri. Dinda merasakan sebuah tangan mengguncang – guncang tubuhnya dan sebuah suara lemah bundanya berusaha menyadarkannya, suara itu semakin lama semakin jelas bergaung di telinganya..

“Dinda, bangun..”

Bunda? Ada apa? Suara bunda?

“Dinda… “ suara itu terasa semakin mendekat di telinga Dinda.

“Dinda, non Dinda! ini Mbok Yana..”

HAHH!!!

Dinda langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya bermandikan keringat. Di samping Dinda mbok Yana memandangnya dengan wajah cemas. Dinda langsung memeluk Mbok Yana.

“Mbok? ”

“Non nggak apa – apa?”

“Nggak, Mbok.” Dinda menggeleng, lalu melepaskan pelukannya. ”Dinda Cuma mimpi tentang kecelakaan waktu itu, Mbok.” ucap Dinda, kesedihan masih menghiasi wajah sayunya.

“Tapi, mbok kenapa udah ngebangunin Dinda? Bukannya belum pagi ya?”. Ucap Dinda heran.

“Anu, Non., tuan..”

“Kenapa dengan ayah Mbok?” Dinda was – was.

“Tuan belum pulang dari semalam, tuan juga nggak telpon, Mbok khawatir, makanya mbok bangunin non, karena Mbok kan nggak hapal non nomor telpon tuan.”

Kening Dinda langsung berkerut. Hatinya mulai dipenuhi rasa takut dan cemas. Ayah nggak pulang?

Hmm.. ini adalah kasus pertama! Selama ini ayah memang sering pulang malam sejak bunda meninggal, tapi ayah nggak pernah sampai nggak pulang, ataupun kalau ada rapat di luar kota, ayah pasti akan memberitahu Dinda atau mbok Yana lewat telpon atau SMS. Ada apa? Kemana ? Apa yang terjadi dengan Ayah?

“Ya udah, mbok. Nanti Dinda coba hubungi handphon ayah, Dinda cuci muka dulu ya!”

Mbok Yana mengangguk, lalu segera keluar. Dinda segera bergegas menuju kamar mandi. Beban pikirannya bertambah. Kemana Ayah semalaman?

Dinda segera menyambar handphonnya. Jemari mungilnya mulai menekan bebarapa tombol nomor. Beberapa kali ia mengulangi hal yang sama, tapi tak membuahkan hasil. Nomor handphon ayahnya tetap tak bisa dihubungi. Dinda mulai gelisah. Ayah? Kemana ayah?

Kriiing! Kriiingg!

Bunyi telpon rumah parallel di kamarnya membuat Dinda segera meletakkan handponnya dan cepat – cepat menyambar gagang telepon di samping tempat tidurnya. Ayah?

“Halo..”. ucap Dinda gemetar.

“Assalamu’alaikum, Bisa bicara dengan Dinda?” jawab sebuah suara bariton dari seberang telepon. Dinda mendesah kecewa. Bukan suara ayah!

“Wa’alaikum salam. Ya, ini Dinda. Maaf, ini siapa ya?”

“Ini Ryan, yang motornya kamu tumpangin waktu itu, masih ingat? Saya cuma mau mastiin apa kamu baik – baik aja.”

“O, baik, saya nggak apa – apa, makasih ya kemarin.”

“Sama – sama, Din. Syukurlah kalau begitu.” jawab Ryan.

Dahi Dinda langsung mengernyit begitu mendengar Ryan menyebutkan namanya. Dinda langsung bertanya, “Lho, kok kamu tahu namaku?”

“Ah, nggak, ya udah dulu ya! Assalamualaikum!” sahut Ryan.

Dinda langsung teringat dengan jas hujan yang dipinjamkan sosok itu kemarin. Spontan ia berteriak sebelum gagang telpon itu diletakkan “O oh, ya, tunggu! sorry ya, jas hujannya masih sama aku, kapan aku bisa kembaliin?”

“Ya, kalau kamunya masih belum sehat banget, ya biar aku aja yang ambil nanti kalau aku ada waktu, ok? Atau titip aja di kantin sekolah kamu, sama bu Sami, penjaganya. Assalamu’alaikum.”

“Wa.. wa’alaikum salam..” jawab Dinda gelagapan. Telpon kok buru – buru amat?

Dinda meletakkan gagang telepon dengan masih mengernyitkan dahi. Sejenak mendung di wajahnya sedikit terhapus. Tapi, tiba – tiba kening Dinda berkerut. Dari mana sosok yang bernama Ryan itu tahu nama dan nomor telponnya? Kok dia kenal sama penjaga kantin sekolahnya? Siapa dia?

KRIIINGGG! KRINGGG!

Deg! Sekali lagi Dinda terlonjak kaget. Lalu meraih gagang telepon. Mungkinkah yang kali ini benar – benar ayah? Dinda berharap dengan cemas, ”Ya, halo?”

“Maaf, apakah betul ini dengan keluarga bapak Pram?”

“Ya, saya putrinya, ada apa ya mbak? Mbak ini dari siapa? Kenapa tahu nomor telpon sini?”. Tanya Dinda tak sabar. Suster itu melanjutkan, “Begini dik, kami dari rumah sakit Cipto, bapak adik sekarang ada di rumah sakit, sekarang..”

“Kenapa dengan ayah saya, mbak?” potong Dinda. Bagaimanapun, kejadian empat belas tahun lalu masih sangat jelas membekas di kepala gadis itu, membuatnya sangat anti dengan kata – kata yang berbau rumah sakit, apalagi sampai harus berurusan dengan pihak rumah sakit.

“Semalam pak Pram mengalami kecelakaan, korban tabrak lari, sekarang pak Pram dalam keadaan koma di rumah sakir Cipto, kejadiannya.. mbak, mbak?”

BRUKKK!

Dinda merasakan kepalanya berputar – putar mengikuti kalimat yang dikatakan oleh penelpon itu. Seakan ada palu yang besar sekali menghantam kepalanya, membuat semuanya langsung terasa semakin berat dan.. gelap!.

………bersambung ke bagian sembilan.…………

jgn lupa coment-nya ya.thq

Selasa, 15 Juni 2010

RB - Bagian Lima

Jakarta, Sehari Setelah Pemilihan Siswa Teladan…

Tok! Tok! Tok!

Dinda mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan hati – hati. Hatinya diliputi tanda tanya besar karena baru pertama kali ini pak Teguh, kepala sekola SMA Teladan, memanggilnya ke sini dengan tiba – tiba dan sendirian. Sebuah suara bariton yang sudah dikenalnya menyuruh Dinda untuk melangkah memasuki ruangan berbentuk persegi itu. Di pojok ruangan pak Teguh tampak sudah menunggunya. Dinda segera dipersilahkannya duduk.

“Maaf pak, ada apa ya bapak manggil saya?” tanya Dinda.

Pak teguh mamandang Dinda dengan tatapan yang tak dimengerti oleh gadis itu. Keningnya yang mulai keriput tampak mengernyit seperti berpikir. Dinda jadi tambah bingung dan sekali lagi menegur dengan suara agak dikeraskan, “Pak?”

“Eh, iya, iya.. begini nak Dinda, bapak dan sekolah ini bangga sekali dengan prestasi yang sudah kamu lakukan untuk sekolah ini.”

“Kok bapak jadi gitu ngomongnya sih? Itu kan emang udah jadi kewajiban Dinda pak, untuk menjaga dan mengangkat nama sekolah kita ini.” ucap Dinda tersenyum melihat kegugupan kepala sekolahnya.

“Bapak tahu itu, tapi.. maafkan bapak nak Dinda, maafkan sekolah ini..” Pak teguh mengelap keringat di dahinya.

“Emang kenapa pak?” tanya Dinda tak mengerti, ”Maaf untuk apa?”

“Begini nak Dinda, kami sebenarnya ingin mengurus beasiswa nak Dinda secepat mungkin, seperti tahun – tahun sebelumnya, karena nak Dinda tau sendiri kan bentar lagi di sana semester baru akan segera dimulai, tapi kami mendapatkan bahwa ada satu syarat yang tidak bisa nak Dinda penuhi.”

Dinda terperangah.Kaget. Syarat? Bukankah semua syarat sudah dilengkapinya? Lalu?

“Syarat apa, pak?”

“Tes kesehatan.”

“Tes apa, pak?”

“Kesehatan.”

“Lho, bukannya sebelumnya nggak ada tes – tesan segala pak selain seleksi itu? Dan bukankah semua syaratnya udah saya penuhi?”

“Ya, tapi kami mendapatkan sebuah informasi penting.”

“Informasi apa, pak?”

“Informasi bahwa.. maaf, kami mendapatkan informasi dari sebuah sumber kalau nak Dinda mengidap penyakit tebece. Apakah informasi itu benar?”

PLUGG! Dinda bagai terlempar ke jurang yang dalam. Dinda mengangguk dengan lesu ,”Ya, pak.”

“Begini, sesuai perjanjian antara pihak sekolah dan mereka, mereka akan menolak siswi yang mengalami gangguan kesehatan dan berpenyakit menular, apalagi yang namanya, tebece. Mereka tidak mau menerima, kecuali ganti orang. Dan kalau kita mengulur – ulur waktu lagi, kita nggak akan bisa mengejar semester ini.”

Dinda terdiam. Perkataan pak Teguh barusan seperti mengikat lidahnya untuk membantah dan membela diri. Tebece? Bagaimana mungkin penyakit itu bisa jadi penghalang cita – cita seumur hidupnya? Apakah semua impiannya harus kandas hanya karena tebece yang dideritanya?

Dinda terhenyak. Tapi.. tunggu dulu. Kenapa pihak sekolah sampai tahu semua itu? bukankah tak ada yang tahu tentang hal ini? siapa yang mengatakan hal itu? siapa yang membocorkan rahasia itu? hal tes kesehatan beberapa bulan lalukah?

“Maaf pak, boleh saya tau dari mana pihak sekolah tahu hal itu?” tanya Dinda.

Pak Teguh lalu tampak mengaduk – aduk isi lacinya, seperti mencari – cari sesuatu. Dan akhirnya tangannya menggenggam sebuah amplop coklat yang akhirnya diangsurkannya amplop itu kepada Dinda.

Dinda menerima amplop itu dengan bingung dan penuh dengan tanda tanya. Tapi tak urung, tangannya segera membuka isi amplop polos itu dan mengeluarkan dua lembar kertas dari dalammya. Ada dua lembar kertas yang bertuliskan huruf – huruf yang diketik. Mata Dinda yang bening menelusuri huruf demi huruf yang tercetak tebal dan rapi pada lembar kertas yang pertama itu.

“Kepada kepala Sekolah SMU Teladan,

Saya hanya ingin memberitahukan, bahwa siswa yang bernama Adinda Putri adalah pengidap tubercolosis atau TBC dan tidak layak mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan. Harap ditindak lanjuti.. kalau sekolah bapak tidak ingin mendapat malu dan tercemar. Terima kasih bapak kepala yang baik.” dari : the best student.

Dinda terperanjat kaget. The best student? Siapa dia? Ia langsung melihat kertas lembar ke dua? Oh, my god! Apa ini? mengapa ini ada di sini? Dinda menahan napas. Dadanya terasa semakin sesak. Kertas itu.. kertas itu adalah hasil pemeriksaan laboratoriumnya!

“Kami mohon maaf nak Dinda, kami harap…”

“Tidak apa – apa, pak.” Potong Dinda dengan nada lesu.

“Benar nak Dinda, kami nggak bermaksud.. tapi demi kebaikan kamu, dan teman – temanmu juga, dan sekolah kita ini juga.”

“Tidak pak,” potong Dinda lagi, ”Saya tahu sekolah nggak salah. Mungkin emang jalan hidup saya nggak ke sana, nggak apa – apa kok pak, mungkin lain kali saya bisa ke sana. Yah, kalaupun sekolah terpaksa mengizinkan saya ke sana, tapi.. yah, hasil lab itupun akan mengatakan hal yang sebenarnya. Saya mengerti, pak. Tapi, kalau boleh saya tahu, siapa yang akan menggantikan saya pak?”

“Terima kasih Dinda, oh ya, kamu akan digantikan oleh runner up waktu pemilihan, temanmu Selvy yang akan berangkat. Mudah – mudahan kamu cepat sembuh ya! Oh ya, kami tidak akan membocorkan hal ini kepada para siswa asalkan kamu tetap berobat dan berusaha untuk sembuh. Bapak yakin kamu pasti bisa sembuh.”

“Makasih juga pak, saya permisi, Assalamu ‘alaikum.”

“Wa’alaikum salam.”

Dinda melangkah menuju pintu dengan lunglai. Ia pergi dengan membawa kepingan pecahan cahaya bintang yang mulai mulai padam pijar cahayanya. Hanya sebuah pertanyaan yang masih tersisa di kepala Dinda. Siapa orang yang begitu tega melakukan semua ini kepadanya? Dinda mencoba mengingat – ingat di mana ia terakhir kali meletakkan kertas itu, namun pikirannya buntu, kepalanya terasa berputar.

“Hai, Din..!” sapa sebuah suara ketika Dinda baru menutup pintu ruangan itu. Ia berbalik. Selvy berdiri di sana dengan tersenyum.

“Hai juga.” Balas Dinda.

“Baru dari kepsek?”

Dinda mengangguk, “Ya, selamat ya..!”

“Oh, Eh.. iya. Makasih. Eh, gw masuk dulu ya, daaagh!” Selvy melambaikan tangan, lalu menghilang di balik pintu yang sama dengan yang tadi dimasuki Dinda. Dinda masih bisa menangkap senyum kemenangan yang terpancar di wajah cantik itu sebelum menghilang di balik daun pintu.

Dinda menatap tempat dimana bayangan itu menghilang sesaat, lalu berbalik menuju kelasnya dengan hati hancur. Dinda kembali berpikir. Selvi? Apakah Selvy yang melakukan semua ini? ya, mungkin hanya nama itulah yang masuk akal akan melakukan hal ini. Tapi, apakah memang sebesar itu kebencian Selvi padanya? Tapi, kalau bukan Selvy, lalu siapa yang begitu menginginkan kehancurannya? Siapa sosok yang begitu membencinya dan begitu tega menghancurkan impiannya? Menghancurkan cita – cita dan harapannya selama ini?

…bersambung ke bagian enam…………