Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Sabtu, 19 Juni 2010
RB - Bagian Sepuluh
Dinda memandang rumah megah di depannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang tidak hanya megah dan nyaman untuk ditempati, tapi juga menyisakan begitu banyak kenangan manis dan pahit. Dan kini, ia harus melepas semuanya, termasuk Mbok Yana dan pak Maman yang mengabiskan hampir separuh umurnya untuk mengabdi pada keluarga Dinda.
“Baik – baik sama majikan yang baru ya mbok, pak!” ucap Dinda kepada Mbok Yana dan pak Maman.
Mbok Yana dan pak Maman akan tetap bekerja di rumah ini dengan majikannya yang baru. Itu adalah syarat yang diberikan Dinda kepada tuan Tan, pengusaha China, penyewa baru rumah ini.
Mbok Yana dan pak Maman mengangguk mengerti. “Kami mengerti non, malah kalau non nggak keberatan, non bisa tinggal sama mbok, di rumah mbok.” Mbok Yana memandang Dinda.
“Makasih Mbok, tapi biar Dinda cari kontrakan aja. Nanti kalau Dinda ada rezeki, pasti balik lagi tinggal di sini, sekarang Dinda pulang dulu ya, kasian Ryan nungguin ayah sendirian.”
Dinda menyalami pak Maman, lalu memeluk mbok Yana. Keduanya tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Kedua ibu dan anak yang tak ada hubungan darah itu berpelukan dengan erat.
“Jaga diri baik – baik ya non, kalau ada apa – apa datang atau telpon aja simbok, nanti sekali – kali mbok akan datang ke rumah sakit, jangan lupa minum obat .”
“Iya mbok..”
“Iya non, sama bapak juga nggak usah sungkan kalau mau minta tolong pada kami.” pak Maman menimpali.
“Makasih mbok, pak, untuk semuanya. Nanti kalau ayah udah sembuh, nanti Dinda telpon deh ke sini. Assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam..” jawab keduanya bersamaan.
Dinda segera melangkah menuju gerbang. Tapi baru beberapa langkah kemudian, teriakan mbok Yana kembali menghentikan langkahnya.
“Eh, iya non, lupa!”
“Ada apa lagi mbok?” tanya Dinda. Keningnya mengernyit.
“Anu.. salam ya, buat den Ryan dan non Zahra, mereka anak baik ya? mudah – mudahan aja dia jodohnya si non!”.Mbok Yana nyengir. Pak Maman menyikutnya.
“Siapa mbok?”
“Ya den Ryan! masak non Zahra?” mbok Yana nyengir lagi.
“Ah, mbok bisa aja.. ” Dinda tersenyum malu. Ia lalu melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya yang semakin menjauh meninggalkan mbok Yana dan pak Maman.
Ah, Ryan, Zahra. Tak banyak yang Dinda ketahui tentang kehidupan kedua sosok itu. Rasanya Ryan dan Zahra masuk kekehidupannya begitu saja. Dinda tak tahu darimana cowok itu memperoleh informasi tentang dirinya sampai sedetail itu. Di sekolah? memang rasanya tampang cowok itu sering terlihat, tapi siapa yang kenal? Yang jelas, Dinda menyadari secara tak langsung, Ryan dan Zahralah yang telah meyakinkan Dinda untuk terus bertahan sampai saat ini. Ah, tapi bagaimana kalau suatu saat Ryan juga akan sama dengan teman – temannya yang lain? Jodoh? Ah, Dinda tak berani berpikir terlalu jauh. Jodoh siapa yang tahu? Bukankah semua itu rahasia tuhan? Ryan. Ya, sosok itu memang istimewa dan terus terang rasanya memang ada yang terasa berbeda dengan cowok dan kakak - beradik itu sejak pertemuan pertama kali itu. Tapi entah apa.. Dinda tak tahu dan tak bisa mengingat hal itu. Otaknya terlalu lelah untuk memikirkan masalah itu.
……………….
08.00 pm.Di sebuah kafe, kawasan kuningan…
Ryan memasuki sebuah kafe dengan ragu – ragu. Suasana di dalam yang penuh dengan kepulan asap rokok dan lampu yang remang – remang membuat cowok itu kesulitan mengenali orang – orang di sekelilingnya. Matanya masih terus menyusuri meja demi meja, hingga akhirnya menemukan meja yang ia cari. Tujuh orang yang sudah sangat dihapalnya. Ketujuhnya asyik dengan pembicaraan mereka masing – masing. Ryan segera menuju meja tersebut.
“Nggi, Fer, bisa kita bicara sebentar?” Ryan mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan irama hentakan musik yang di setel dengan cukup keras itu. Merasa namanya disebut, Anggi dan Fery mendongak.
“Ngomong ya ngomong aja..” Anggi menyahuti.
“Gw Ryan, temen Dinda..”
Anggi ngakak, “Ha.. ha… hei temen – temen, dia bilang dia sekarang temennya Dinda, Dinda si tebece itu udah punya temen baru dia rupanya.”
“Ha… ha…” Serentak ruangan itu dipenuhi gelak tawa. Ryan berusaha untuk tidak peduli dengan sekelilingnya.
“Trus, lu mau apa ke sini, mau minta gw nemenin lagi tuh anak, trus ntar gw duluan yang mati dari pada dia? iya? Atau mo minta uang untuk berobat? Udah deh, dia emang lebih pantes kok temenan sama orang kuper dan kampungan kayak lu, udah sana! Ganggu gw aja!” Anggi mengepulkan asap rokoknya ke arah Ryan, membuat cowok itu terbatuk – batuk. Tawa kembali meledak memenuhi seisi ruangan.
Kali ini Ryan merasa tak dapat lagi menahan diri, mukanya memerah menahan amarah.
“Ok, gw kuper, tapi lebih baik dari pada kalian yang sombong kayak gini! Gw masih punya hati.. Teman macam apa kalian yang senang – senang diatas penderitaan orang lain? Asal kalian tahu, sekarang Ayah Dinda sedang di rawat di rumah sakit, korban tabrak lari, sedangkan Dinda kondisinya sendiri juga kalian tau sendiri. Sedangkan kalian? Kalian asyik besenang – senang di sini! Trus, Hanya karena tebece, lalu Dinda pantas menerima perlakuan seperti itu? ha? Apa dia pernah minta dikasih tebece? Hah?”
Keenam orang lainnya tampak tak peduli. Hanya Fery yang berubah ekspresinya dan terlihat menyimpan sesuatu di kepalanya. Keningnya berkerut dan terlihat sedang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Dan lu Fer, gw nggak nyangka lu orang yang serendah itu, lu tega ninggalin Dinda begitu aja. Lu rendah Fer! Pengecut!”
Fery tersentak dibentak begitu. Dipandangnya Ryan dengan tatapan tajam. Baru kali ini ada orang yang membentaknya, di depan umum lagi! naluri cowok itu segera bekerja. Ia berdiri dengan tangan terkepal.
“Hei, tau apa lu tentang gw? hah?! Tau apa lu tentang gw? tau pa lu tentang gw dan Dinda? Berani lu sama gw?” Fery mencengkram kerah baju Ryan sampai kusut. Ryanpun tampak siaga, siap membalas. Semua pengunjung kafe sekarang tampak diam, tak berani bersuara.
“Eit, STOP!! Udah Fer, masak lu mau berantem sama dia anak kampung gini, nggak lucu kan?” Selly menahan Fery, lalu berpaling pada Ryan, “Hei, berani lu ya, bentak – bentak gw dan temen – temen gw? lu pikir lu siapa? Keluar deh lu dari sini! Satpam..!” Selly melerai.
Dua orang lelaki bertubuh kekar dan berpakaian bertuliskan “security” segera pasang badan. Fery langsung melepaskan kerah baju Ryan, tanpa melepaskan tatapannya yang masih tajam. Tanpa menunggu kedua lelaki itu menyeretnya keluar, Ryan segera berbalik dan pergi meninggalkan hiruk pikuk yang kembali mewarnai kafe itu.
Percuma. Sungguh percuma meminta pertolongan mereka. Nggak cewek – cewek centil itu, nggak Fery, semuanya sama!, maki Ryan dalam hati. Lalu bagaimana lagi ia harus membantu gadis itu?
Ryan tahu betul kesulitan keuangan yang dialami Dinda, meskipun Dinda berusaha menyembunyikan hal itu kepadanya. Sementara ini memang uang hasil sewa rumah yang merupakan jalan terakhir itu cukup untuk membiayai perawatan pak Pram. Tapi sampai kapan uang itu mencukupi, sedangkan biaya perharinya saja mencapai jutaaan rupiah? Lalu bagaimana dengan pengobatan dan perawatan yang juga harus dijalani gadis itu agar sembuh dari tebe-nya?
………………..
Dinda baru hendak mengetuk pintu ruangan dokter Hans ketika terdengar suara dari dalam. Oo.. berarti sedang ada tamu, pikir Dinda, lalu duduk di bangku yang berderet di samping pintu masuk.
“Jadi nyonya akan membantu biaya pengobatan pak Pram selanjutnya?” tanya dokter Hans, memastikan apa yang disampaikan wanita itu sekali lagi.
“Ya, Dok, saya akan bayar semua biaya pengobatan untuk Pram..”
APA??!!
Dinda terlonjak kaget ketka mendengar nama ayahnya disebut – sebut. Gadis itu mencoba melihat ke dalam melalui celah tirai yang sedikit tersibak. Dan menajamkan pendengarannya Tampak seorang wanita tengah berbicara dengan dokter Hans. Tidak, wajah wanita itu tidak kelihatan, karena membelakangi jendela, hanya kalau dilihat dari bajunya sepertinya dia adalah seorang pengusaha atau bisniswomen. Dinda semakin menempelkan telinganya ke jendela dengan penuh penasaran. Siapa dia?
“Kami sangat berterima kasih sekali, karena terus terang kami melihat Putrinya sudah agak.. yah bingung karena kehabisan biaya. Saya jadi kasihan juga melihatnya. Gadis sekecil itu sudah harus menghadapi masalah hidup seperti ini, sedangkan kondisi pak Pram belum juga membaik, ada gumpalan darah yang menggumpal di bagian kepalanya. tapi, kalau boleh, bisakah anda memberitahu saya apa alasan kenapa anda melakukan ini nyonya ?” tanya dokter Hans lagi.
Dinda menanti jawaban selanjutnya dengan berdebar – debar.
Wanita itu tampak menghela napas panjang,” Tidak ada maksud apa – apa dokter, hanya saja pak Pram di mata saya adalah seorang yang baik, seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya..” jawab si wanita yang wajahnya masih belum kelihatan juga pleh Dinda itu.
Dinda terbelalak. Beberapa perkiraan langsung seperti tertulis di otaknya. “Seseorang yang teramat berarti? Siapa sebenarnya wanita itu? ada hubungan apa ayah dengan wanita itu? mungkinkah ayah… ah, tidak! Ah, ayah tak mungkin seperti itu!” Dinda berusaha menepis pikirannya.
“Dan saya juga minta pada dokter, tolong rahasiakan hal ini kepada siapapun dok, termasuk Dinda, putri pak Pram dok, dan juga anak - anak saya..”
Apa?! Dinda semakin penasaran. Jadi?
“Kalau boleh saya tau, kenapa harus dirahasiakan pada anak ibu?”. Tanya dokter Hans lagi.
Wanita itu terdiam. Dinda menanti kalimat selanjutnya dengan dada yang semakin membuncah. Napasnya tertahan. Ayo, cepat katakan!
“Begini dok, selama ini anak saya itu sangat benci sama Pram, saya takut mereka jadi tambah benci dan bertindak macam – macam kalo dia tau saya masih menghubungi, apalagi sampai membantu Pram. Biarlah semua menjadi rahasia sampai keadaan mengizinkan saya untuk menceritakan segalanya kepada mereka.“
Mas Pram? Ibu? Anak? Siapa wanita ini? Anaknya siapa? Mengapa harus dirahasiakan segala?
Dinda menanti kelanjutan percakapan itu dengan penuh dugaan. Tapi, tak ada pembicaraan lagi tampaknya. Dokter Hans terlihat manggut – manggut.
“Baiklah Dokter, saya permisi dulu. Kalau ada perkembangan tolong kabari saya, permisi.”
Suara wanita itu membuat Dinda kembali tersadar dengan posisinya yang masih berdiri tepat di depan pintu. Dengan cepat gadis itu berbalik mundur dan masuk ke toilet di samping ruangan tersebut.
Dinda merasa kepalanya seperti meledak ketika sosok itu keluar dari ruangan dengan tergesa - gesa. Dia mundur terhenyak ke belakang ketika sosok itu melintas di depan toilet tempatnya berdiri. Tante Tari? Mamanya… Fery?!
Beberapa pertanyaan langsung menyergap otak Dinda. Mungkinkah semua prasangka yang ada di kepalanya benar? Inikah jawaban atas tatapan aneh nyonya itu waktu di pesta ulang tahun putranya Fery waktu itu? Mungkinkah Fery terlibat atas semua yang dialami ayah dan dirinya dan yang terjadi selama ini sehingga semua harus dirahasiakan kepadanya? kalau benar Fery terlibat, apa arti kedekatan mereka selama ini? ataukah mungkinkah Fery hanya memanfaatkannya untuk membalaskan kebenciannya? Apakah perubahan sikapnya ini juga merupakan salah satu urutan dalam menuntaskan kebenciannya pada papa? Dinda merasa kepalanya semakin berputar. Pusing!
Huff. Dinda menarik napas panjang. Ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui dokter Hans. Ia kembali melangkah menuju kamar tempat ayahnya dirawat. Ia bernapas lega ketika di sana tak ada siapa - siapa. Tampaknya tante Tari langsung pulang, bisik hati Dinda.
Namun, hanya sesaat ia bernapas lega, kening Dinda kembali mengernyit begitu melihat seikat bunga mawar beraneka warna yang tergeletak di meja samping tempat tidur ayahnya. Dinda segera mengambil dan membaca nama si pengirimnya. Gadis itu langsung terperanjat, di kertas itu hanya ada kata “Untuk Mas Pram” dan tak ada tulisan apa – apa lagi!
Dinda merasa otaknya langsung berputar dengan otomatis. Mungkinkah tante Tari sempat mampir ke sini tadi? Ataukah dari seseorang yang lain? Atau dikirimkan melalui perawat? Oh, tunggu.. tunggu.. kalu dikirimkan lewat perawat atau dengan memesan, bukankah seharusnya ada nama pengirim atau minimal tulisan untuk siapa yang diberi?
Dinda lalu menghampiri perawat yang menunggu di ruang informasi, bunga itu tergenggam di tangannya.
“Maaf, suster!”
Suster yang sedang sibuk dengan berkas – berkas di mejanya itu menoleh, “Ya, mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini..”Dinda mengacungkan seikat bunga yang dipegangnya,”Apa suster lihat siapa yang membawa masuk bunga ini tadi?”
“O.. itu, ya. Tadi saya yang antar ke tempat pak Pram. Memangnya ada apa mbak?”
“Boleh saya tahu siapa yang menitipkannya?”
“Kalau namanya saya nggak tahu mbak, tapi yang jelas dia seorang wanita, saya lupa seperti apa rupanya, karena tadi saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya, jadi saya tak terlalu memperhatikannya.”
“Oh, begitu. Makasih suster.”
Suster itu mengangguk, lalu kembali sibuk dengan berkas – berkas di depannya. Dinda meninggalkan ruang informasi itu dengan wajah yang tak berubah dengan sebelum ia bertanya tadi. Seorang wanita? Siapa dia? Apakah wanita itu tante Tari? ataukah ada wanita lain yang menjenguk papa? Tapi ini? oh! Jadi berarti.. ah, bodo! EGP aja deh!, seru Dinda dalam hati.
Dinda bergegas kembali ke kamar ayahnya.
………..…………………
Dinda terduduk di depan ranjang ayahnya yang sudah terbaring selama empat puluh hari lebih itu. Ditatapnya mata ayahnya yang terbaring lekat – lekat. Sesekali tangan yang dari tadi tak lepas dari genggamannya itu diciumnya dengan sayang. Air mata mengalir dari matanya yang bening. Dengan pilu dan lirih ia berbisik, “ Ayah, ayah masih ingat sama Dinda? Dinda nggak tau ayah bisa dengerin Dinda apa nggak, tapi ayah harus dengerin Dinda! Dinda mohon ayah..! kalau ayah nggak bisa menjawab, tunjukkin sama Dinda kalo ayah bisa denger Dinda ngomong, beri Dinda sebuah tanda… tanda ayah bisa dengerin Dinda, tolonglah ayah!”
Dinda menelan ludah, suaranya semakin habis dan parau, “ Ayah, ayah harus tau, ayah sangat berarti buat Dinda. Ayah tahu? Dinda pengen banget kita balik kayak dulu lagi, jalan – jalan sekeluarga.. uhuk! Uhuk! tapi Dinda tahu, itu nggak mungkin karena bunda udah nggak ada, dan sekarang yang Dinda punya Cuma ayah! Ayah harus dengar, yang satu – satunya Dinda punya Cuma ayah . Dinda nggak sanggup lagi yah, kalau harus hidup tanpa ayah! Dinda nggak akan bisa menghadapi kenyataan ini.. tolonglah ayah.. Dinda nggak peduli ada hubungan apa ayah dengan ibunya Fery atau siapalah yang ngirim bunga itu buat ayah, asalkan ayah sembuh, Dinda nggak akan protes apapun lagi..”
Mata Dinda memandang ke sudut ruangan di tempat seikat bunga yang mulai layu itu. Entahlah, sampai sekarangpun Dinda masih bertanya – tanya siapakah wanita yang mengirimkan bunga tanpa pengirim itu. Ingin rasanya Dinda bertanya pada ayahnya, tapi itu tak mungkin! Pram tetap saja terbaring tak bergerak!
Dinda mengusap pipi ayahnya dengan punggung tangannya yang lembut. Mulutnya terus berkata di sela – sela batuknya dengan suaranya yang semakin serak,” Ayah, kita kan hidup bahagia lagi setelah ayah sembuh. Dinda akan terus ada di samping ayah, merawat ayah, memperhatikan ayah, menyayangi Ayah, kita akan hidup bahagia, meski kita udah nggak punya rumah bagus lagi, kemana – mana nggak pakai mobil, hidup dengan sederhana, uhukkk!!” Dinda terbatuk menahan sedih di hatinya.
“Dindapun nggak tau, apa Dinda masih punya umur yang panjang, ayah tau kenapa? karena setiap tahun minimal orang yang meninggal di Indonesia hampir lima ratus ribu per tahun.. karena itu, Dinda pengen dalam waktu yang nggak tentu ini Dinda bisa merawat ayah, menjaga ayah, berbakti pada ayah, ayah adalah satu – satunya yang bikin Dinda semangat lagi untuk hidup.. tolong Dinda ayah! Dinda… ”
Kalimat Dinda terhenti ketika merasakan tangannya basah dan hangat. Sudut mata ayahnya tampak mengeluarkan butiran air mata. Dinda terloncat kaget. Ia segera melompat ke luar ruangan.
” Dokter..! ayah bisa mendengarkan saya dokter! Zahra..! ke sini Ra, ayah, ayah bisa mendengarkan Dinda! Lihat Zahra! Ayah bereaksi, ayah bisa mendengarkan Dinda..“ jerit Dinda menghambur keluar kamar. Ia melompat seperti anak kecil yang kegirangan.
Zahra segera memanggil para suster dan dokter. Dalam sekejap kamar itu langsung dipenuhi kesibukan yang luar biasa.
…….bersambung ke bagian sebelas.…………….
Selasa, 15 Juni 2010
RB - Bagian Lima
Tok! Tok! Tok!
Dinda mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan hati – hati. Hatinya diliputi tanda tanya besar karena baru pertama kali ini pak Teguh, kepala sekola SMA Teladan, memanggilnya ke sini dengan tiba – tiba dan sendirian. Sebuah suara bariton yang sudah dikenalnya menyuruh Dinda untuk melangkah memasuki ruangan berbentuk persegi itu. Di pojok ruangan pak Teguh tampak sudah menunggunya. Dinda segera dipersilahkannya duduk.
“Maaf pak, ada apa ya bapak manggil saya?” tanya Dinda.
Pak teguh mamandang Dinda dengan tatapan yang tak dimengerti oleh gadis itu. Keningnya yang mulai keriput tampak mengernyit seperti berpikir. Dinda jadi tambah bingung dan sekali lagi menegur dengan suara agak dikeraskan, “Pak?”
“Eh, iya, iya.. begini nak Dinda, bapak dan sekolah ini bangga sekali dengan prestasi yang sudah kamu lakukan untuk sekolah ini.”
“Kok bapak jadi gitu ngomongnya sih? Itu
“Bapak tahu itu, tapi.. maafkan bapak nak Dinda, maafkan sekolah ini..” Pak teguh mengelap keringat di dahinya.
“Emang kenapa pak?” tanya Dinda tak mengerti, ”Maaf untuk apa?”
“Begini nak Dinda, kami sebenarnya ingin mengurus beasiswa nak Dinda secepat mungkin, seperti tahun – tahun sebelumnya, karena nak Dinda tau sendiri kan bentar lagi di sana semester baru akan segera dimulai, tapi kami mendapatkan bahwa ada satu syarat yang tidak bisa nak Dinda penuhi.”
Dinda terperangah.Kaget. Syarat? Bukankah semua syarat sudah dilengkapinya? Lalu?
“Syarat apa, pak?”
“Tes kesehatan.”
“Tes apa, pak?”
“Kesehatan.”
“Lho, bukannya sebelumnya nggak ada tes – tesan segala pak selain seleksi itu? Dan bukankah semua syaratnya udah saya penuhi?”
“Ya, tapi kami mendapatkan sebuah informasi penting.”
“Informasi apa, pak?”
“Informasi bahwa.. maaf, kami mendapatkan informasi dari sebuah sumber kalau nak Dinda mengidap penyakit tebece. Apakah informasi itu benar?”
PLUGG! Dinda bagai terlempar ke jurang yang dalam. Dinda mengangguk dengan lesu ,”Ya, pak.”
“Begini, sesuai perjanjian antara pihak sekolah dan mereka, mereka akan menolak siswi yang mengalami gangguan kesehatan dan berpenyakit menular, apalagi yang namanya, tebece. Mereka tidak mau menerima, kecuali ganti orang. Dan kalau kita mengulur – ulur waktu lagi, kita nggak akan bisa mengejar semester ini.”
Dinda terdiam. Perkataan pak Teguh barusan seperti mengikat lidahnya untuk membantah dan membela diri. Tebece? Bagaimana mungkin penyakit itu bisa jadi penghalang cita – cita seumur hidupnya? Apakah semua impiannya harus kandas hanya karena tebece yang dideritanya?
Dinda terhenyak. Tapi.. tunggu dulu. Kenapa pihak sekolah sampai tahu semua itu? bukankah tak ada yang tahu tentang hal ini? siapa yang mengatakan hal itu? siapa yang membocorkan rahasia itu? hal tes kesehatan beberapa bulan lalukah?
“Maaf pak, boleh saya tau dari mana pihak sekolah tahu hal itu?” tanya Dinda.
Pak Teguh lalu tampak mengaduk – aduk isi lacinya, seperti mencari – cari sesuatu. Dan akhirnya tangannya menggenggam sebuah amplop coklat yang akhirnya diangsurkannya amplop itu kepada Dinda.
Dinda menerima amplop itu dengan bingung dan penuh dengan tanda tanya. Tapi tak urung, tangannya segera membuka isi amplop polos itu dan mengeluarkan dua lembar kertas dari dalammya.
“Kepada kepala Sekolah SMU Teladan,
Saya hanya ingin memberitahukan, bahwa siswa yang bernama Adinda Putri adalah pengidap tubercolosis atau TBC dan tidak layak mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan. Harap ditindak lanjuti.. kalau sekolah bapak tidak ingin mendapat malu dan tercemar. Terima kasih bapak kepala yang baik.” dari : the best student.
Dinda terperanjat kaget. The best student? Siapa dia? Ia langsung melihat kertas lembar ke dua? Oh, my god! Apa ini? mengapa ini ada di sini? Dinda menahan napas. Dadanya terasa semakin sesak. Kertas itu.. kertas itu adalah hasil pemeriksaan laboratoriumnya!
“Kami mohon maaf nak Dinda, kami harap…”
“Tidak apa – apa, pak.” Potong Dinda dengan nada lesu.
“Benar nak Dinda, kami nggak bermaksud.. tapi demi kebaikan kamu, dan teman – temanmu juga, dan sekolah kita ini juga.”
“Tidak pak,” potong Dinda lagi, ”Saya tahu sekolah nggak salah. Mungkin emang jalan hidup saya nggak ke
“Terima kasih Dinda, oh ya, kamu akan digantikan oleh runner up waktu pemilihan, temanmu Selvy yang akan berangkat. Mudah – mudahan kamu cepat sembuh ya! Oh ya, kami tidak akan membocorkan hal ini kepada para siswa asalkan kamu tetap berobat dan berusaha untuk sembuh. Bapak yakin kamu pasti bisa sembuh.”
“Makasih juga pak, saya permisi, Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Dinda melangkah menuju pintu dengan lunglai. Ia pergi dengan membawa kepingan pecahan cahaya bintang yang mulai mulai padam pijar cahayanya. Hanya sebuah pertanyaan yang masih tersisa di kepala Dinda. Siapa orang yang begitu tega melakukan semua ini kepadanya? Dinda mencoba mengingat – ingat di mana ia terakhir kali meletakkan kertas itu, namun pikirannya buntu, kepalanya terasa berputar.
“Hai, Din..!” sapa sebuah suara ketika Dinda baru menutup pintu ruangan itu. Ia berbalik. Selvy berdiri di
“Hai juga.” Balas Dinda.
“Baru dari kepsek?”
Dinda mengangguk, “Ya, selamat ya..!”
“Oh, Eh.. iya. Makasih. Eh, gw masuk dulu ya, daaagh!” Selvy melambaikan tangan, lalu menghilang di balik pintu yang sama dengan yang tadi dimasuki Dinda. Dinda masih bisa menangkap senyum kemenangan yang terpancar di wajah cantik itu sebelum menghilang di balik daun pintu.
Dinda menatap tempat dimana bayangan itu menghilang sesaat, lalu berbalik menuju kelasnya dengan hati hancur. Dinda kembali berpikir. Selvi? Apakah Selvy yang melakukan semua ini? ya, mungkin hanya nama itulah yang masuk akal akan melakukan hal ini. Tapi, apakah memang sebesar itu kebencian Selvi padanya? Tapi, kalau bukan Selvy, lalu siapa yang begitu menginginkan kehancurannya? Siapa sosok yang begitu membencinya dan begitu tega menghancurkan impiannya? Menghancurkan cita – cita dan harapannya selama ini?
…bersambung ke bagian enam…………
Jumat, 11 Juni 2010
RB - Bagian Tiga
Hari masih pagi. Udara masih terasa segar dan sejuk, karena belum tercemar polusi asap kendaraan yang lalu lalang. Satu persatu mobil mobil berhenti di depan gerbang bangunan itu untuk menurunkan penumpangnya di sana, termasuk Dinda yang seperti biasanya diantar oleh sopirnya, pak Maman. Gadis itu bersiap untuk turun ketika pak Maman berbicara padanya..
“Maaf non, nanti pulang sekolahnya mau dijemput atau pulang sendiri?” tanyanya.
Dinda berpikir sesaat, mengingat – ingat acaranya nanti siang, “Nggg.. nggak usah deh, pak. Nanti Dinda pulang sendiri aja. Oh ya, pak, ini…” Dinda mengeluarkan sebuah amplop berukuran sedang dari tasnya, lalu menyerahkannya ke lelaki yang sudah puluhan tahun mengabdi di keluarganya itu.
Pak Maman menerima amplop itu dengan kening berkerut, “Ini apa, non?”
“Ini undangan acara sekolah Dinda, masih lama sih acaranya, tapi tolong kasih ke ayah ya, pak. “
“Baik, non. Tapi, kenapa non nggak kasih langsung aja ke tuan?”
“Tadi malam Dinda lupa, tadi ayah juga udah berangkat duluan, ya udah, hati – hati ya, pak!”
Pak Maman mengangguk, “Baik, non.”
BLAMM!! Dinda menutup pintu mobil, lalu bergegas memasuki gerbang sekolahnya. Namun baru beberapa saat ..
“Hei Din, selamat ya! elo masuk ke finalis pemilihan siswa teladan, lho!” Selly, Anggi, Mia dan Desi langsung menyambut Dinda begitu ia memasuki gerbang sekolah. Tas yang masih tersampir di bahu mereka menandakan bahwa keempat gadis itu juga baru tiba dan belum sempat ke kelas, sama seperti Dinda.
Dinda menatap para sahabatnya tak percaya.” Ah, yang bener? Masa sih?” tanya Dinda tak yakin, ”Kata siapa?”
Anggi, Selly, Mia, dan Desi tidak menjawab pertanyaan Dinda. Keempat gadis itu malah menyeret Dinda menuju mading sekolah.
Dinda menatap mading itu dengan tak mengerti, sampai akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Namanya tercantum di sana! Di deretan nama finalis siswa teladan!. Dinda menatap papan itu dengan tak percaya. Sedetik kemudian, senyumnya langsung mengembang. Namun..
“Biasa aja ya, kasian amat sih, kayak ngeliat apaan aja..”.
“Iya, gitu tuh norak!”
“Mending kalo bisa menang!”
Suara kasak – kusuk dari belakang membuat kelima gadis itu menoleh. Selvy and the gank, yang selama ini menganggap Dinda Cs sebagai musuh, sedang menatap mereka dengan pandangan sinis. Dinda baru mengerti, ketika ia membaca pengumuman itu sekali lagi. Ternyata Selvy termasuk ke dalam deretan data yang terpajang, alias finalis juga.
“Apa lu bilang?”. Balas Selly tak kalah sengitnya. Gadis mungil ini emang cepat emosian. Nggak usah dipancing – pancing juga dia bisa naik darah. (emangnya pompa air yang lagi ngadat, harus dipancing dulu? he..he..).
“No – rak!” Jawab anak yang agak gemuk.
“Padahal udah pasti nggak menang, ya Selv?” Kali ini si kuncir kuda ngomong sambil menghampiri dan menunjuk Dinda Cs.
“Belum tau dia siapa yang akan menang, Selvy.. belum tau dia gimana strategi buat menang, Lihat aja ntar Din, lu nggak bakalan bisa menang. Ya nggak Sel?” sambung si kuncir kuda lagi. Selvy yang dituju hanya memandang Dinda dengan tatapan yang tak dimengerti oleh Dinda.
“Apa lu bilang?” sambar Anggi.
“Gw bilang lu semua norak!”. ujar gadis berkuncir tengah.
“Hei, berani lu ya? Lu tuh yang norak!” Anggi menatap si kuncir kuda dengan berani. Kesel.
“Yang satu sok segalanya, yang lain?” lanjut gadis yang satu lagi.
“Kayak buntut aja, nempel kemana – mana, Buntut!” si rambut panjang Mila, menjawab ucapan temannya.
Sekarang bukan hanya Selly yang terlihat marah. Keempatnya seperti siap untuk tempur. Untunglah Dinda segera melerai, sebelum perang saudara itu dimulai.
“Udah ah, jangan diladenin, yuk!” ucap Dinda.
Dinda menarik tangan ke empat sobatnya untuk segera pergi dengan susah payah menjauhi Selvy Cs. Mereka berniat menuju kelas masing - masing. Hanya Selly yang masih mengomel, “Kenapa sih lu Din? Biarin aja kita kasih dia pelajaran sekali – kali, biar tau rasa! sombong banget sih tuh anak! Nyebelin banget!”
Dinda berusaha menenangkan Selly, “Nggak ada gunanya Sell, paling – paling kita Cuma bakalan nambah masalah aja kan?”
Selly mengangguk pelan, lalu diikuti yang lainnya.“ Trus, kan siapa yang menang nanti tergantung hasil pemilihan dewan juri, ya kalo dia yang pantas menang , pasti dia yang menang. Kalo gw, ya gw.. kita liat aja lah nanti. Lagi pula, kalau gw kepilih, ntar kasian dong lu semuanya! hadiah buat pemenang tahun ini kan dapet beasiswa belajar ke Australi, ya walaupun cuma beberapa bulan kan tapi kan lumayan, sepi kan tanpa gw?” Dinda cengengesan. Yang lain ikut mengangguk – anggukkan kepala.
“Tapi Din, kalau Selvy yang menang kan dia bisa lebih sombong tuh! Bisa – bisa kita diinjak – injak lagi!, ya?” Desi menimpali.
Anggi, Mia dan Dan Selly mengangguk mengiyakan. Dinda mengangkat bahu, “Up to her laaah!”
Setiap tahun Sekolah Teladan, sekolah Dinda, memang memilih satu di antara murid berprestasi. Murid yang terpilih akan mendapat beasiswa belajar di luar negeri untuk satu tahun. Begitupun dengan tahun ini. Negara tujuan tahun ini adalah Australia.
Australia, negeri kangguru. Tempat impian yang sejak kecil ingin sekali dikunjungi Dinda dan yang selalu dilihatnya dari acara – acara televisi saja. Dinda masih ingat, dulu bundanya pernah berjanji akan mengajak putri kecilnya ke negeri itu kalau Dinda sudah sedikit besar. Ah! bunda, janji itu tak akan pernah terlaksana. Ayah? Sejak itu ayah tak pernah peduli tentang mimpi Dinda..
Hmm, tapi Dinda bukannya tidak optimis, tapi ia sendiri sebenarnya ragu dan takut akan mengecewakan teman – temannya. Karena ia tahu sendiri, sebelum pemilihan nanti pasti akan ada seleksi ulang, wawancara, pooling, dan tanya jawab mengenai non akademis dan akademis. Walaupun seisi sekolah tak meragukan otak gadis itu, tapi Dinda masih ragu karena belakangan ini perhatian dan pikirannya didominasi oleh tebece yang sampai saat ini masih tak jelas perkembangannya dan bahkan cenderung memburuk dari sebelumnya. Ya, jadi mungkin wajar saja nanti kalau yang keluar sebagai pemenang nanti adalah Selvy atau yang lainnya, walaupun penilaiannya nggak cuma dari itu. Lebih dari itu, ada satu masalah yang mungkin akan mengganjal kemenangannya nanti (kalo menang lho!). Dinda kembali gundah.
Tiba – tiba Desi meringis sambil memegang perutnya. Wajah keempat sobat lainnya spontan berubah khawatir.
“Kenapa Des?”
“Lu sakit perut?”
“Atau maag lu kambuh?
“Atau lagi dapet?”
“Lu serius nih, Des?”
Keempat gadis itu menatap Desi penuh khawatir. Desi nyengir, membuat para sobatnya semakin bingung.
“Iya, kita ke kantin dulu yuukk, yuuukkk!.”ucap Desi dengan gayanya yang lugu. Lucu dan belagu!
Kontan keempat sosok lainnya bernapas lega, tapi kesal. Keempatnya langsung bersiap menjitak kepala gadis imut itu dan berteriak serentak, “Huuu… itu mah karena belom nyarap kali alias laper non! Makaaan aja dipikirin! Dasaaaarr!”
“AUUU!! Sakit tau!” jerit Desi ketika tangan – tangan itu mendarat di kepalanya.
…………………
Dinda berjalan dengan santai menuju tempat parkir mall tempat di mana ia biasa berbelanja dan mencari kebutuhan – kebutuhan yang diinginkannya, tempat dimana pak Maman, sopirnya, menunggu. Di tangannya tergenggam sebuah kantong plastik berisi kantong obat bertuliskan nama sebuah apotek dan beberapa barang belanja harian. Namun, beberapa saat menunggu, mobil yang ditunggunya itu tak juga menunjukkan tanda – tanda akan datang.
Dinda mulai gelisah. Berkali – kali diliriknya arloji yang melingkar manis di pergelangan tanggannya. Huff. Kemana sih pak Maman? Kan udah disuruh tunggu di sini? Mana panas, banyak asap, bikin sesak napas, udah tahu Dinda paling anti sama yang namanya asap belakangan ini, kok malah harus berlama – lama di basement yang banyak asap mobil begini! keluh Dinda. Ia menarik napas panjang, menumpahkan kekesalannya. Tiba – tiba sebuah suara dari arah belakang mengejutkankannya..
“Hai, Din…!”
Dinda menoleh, terkejut. Fery terlihat tersenyum ke arahnya.
“Fery? Kok kita bisa kebetulan ketemu ya?” ucap Dinda bingung, sekaligus surprise, “ Lagi ngapain di sini? Belanja?”
Fery tertawa, deretan – deretan giginya yang putih menambah pesonanya, “Nggaklah, tadi abis nganterin mama belanja. Kamu?”
“Ya, abis belanja. Trus sekarang mo kemana? Lagi nungguin mama kamu?”
“Nggak, malah mama nyuruh aku pulang duluan, ntar katanya dia bisa pulang naik taksi.”
“Oh..” mulut Dinda mengerucut.
“Kamu sendiri lagi ngapain sendirian di sini? Apa lagi nunggu seseorang? Atau lagi janjian sama Anggi?”
“Anggi?”
“Ya, tadi kan ada Anggi, aku ketemu kok tadi di dalam.”
“Ah, nggak, lagi nunggu pak Maman, sopirku. Tadi sih janjinya nunggu di sini, tapi udah lama aku nunggu dianya belum datang – datang juga. Mana di sini kan banyak asap gini, panas lagi!” keluh gadis itu sambil mengelap keringatnya yang mulai bercucuran dengan tissu.
“Oh, kirain janjian sama Anggi. Ya udah, gimana kalo kamu ikut aku aja, ntar aku anterin, kan kita searah. Yuk!” Ajak Fery.
“Aduh, jadi nggak enak nih Fer, nanti malah ngerepotin.” Dinda merasa nggak enak. Tapi Fery terus memaksa, “Udahlah, yuk!”
Akhirnya dengan ragu – ragu Dinda mengikuti langkah Fery. Sebuah sedan keluaran terbaru segera meluncur dari pusat perbelanjaan itu, diikuti mobil lainnya.
………bersambung ke Bagian Empat………….
RB - Bagian dua
“Ya ampun..! Dinda?!”
Koor Anggi dan Mia kompak begitu menyaksikan pemandangan mengejutkan di depan mata mereka. Mereka sudah rapi dan wangi, eh.. Dinda masih tidur dengan nyenyaknya!.
Haahh?!. Dinda terlonjak bangun oleh koor histeris dari luar kamarnya itu. Kepala Anggi dan Mia muncul dari balik daun pintu kamarnya yang terbuka. Kedua sobat karibnya itu sudah terlihat cantik dengan gaun berwarna muda yang membalut tubuh mereka. Wajah mereka yang sudah terpoles make-up langsung mengkerut begitu melihat Dinda yang masih meringkuk di tempat tidur, dengan baju tidur yang awut - awutan.
“Duh, gimana sih? dibilangin dijemput jam tujuh kok masih molor?!“ omel Mia, ikut sewot dan langsung duduk di depan meja rias Dinda untuk membetulkan make up-nya.
Dinda nyengir dengan wajah polosnya, pura - pura tak bersalah, “Sorry, gw ketiduran. Selly sama Desi mana? Atau nggak ikut?”. Ucapnya, lalu menyambar handuk yang tersampir di jemuran mungil di dekat pintu kamar mandi.
Mia dan Anggi menganggat bahu berbarengan, dan berseru serentak, “Nggak.”
“Nggak?”
“Nggak ngelewatin maksudnya..!”
Dinda geleng – geleng kepala. Hm.. dasar!
“Pada nunggu lo di mobil, maka jangan pake lama, kasian tuh anak dua pada bete nungguin lo.” Mia mendorong Dinda untuk segera masuk ke kamar mandi, “Buruan!”
“Iya, tapi tolong pilihin baju yang mau gw pake di lemari, ya?” Dinda mengerlingkan mata. Sebelum akhirnya menutup pintu kamar mandi.
Anggi dan Mia saling berpandangan, “Lu aja, Nggi! Gw mau ke mobil dulu.”. Ucap Mia buru - buru, lalu ngacir ke luar kamar, membuat Anggi bertambah cemberut.
Anggi menghembuskan napas kesal. Tapi meski begitu, Anggi langsung sibuk dengan setumpuk pakaian Dinda yang teronggok di samping sebuah amplop coklat yang hampir lecek. Anggi tersenyum penuh arti. Hmm... Dinda, Dinda! Apa sih yang nggak gw lakuin buat elo?
………………
07.00pm. Dua buah mobil berwarna mencolok berhenti di depan sebuah hotel berbintang. Lima orang gadis remaja bergegas turun dari keduanya. Mereka adalah Dinda, Anggi, Mia, Selly dan Desi. Kelimanya lalu bergegas memasuki gedung yang sudah penuh sesak dengan para undangan yang rata – rata remaja itu. Asap rokok mengepul, membuat Dinda berkali – kali menahan napas untuk tak lagi menghirup asap benda beracun itu.
Bukan, bukan Fery yang membuat Dinda memutuskan untuk datang kali ini, tapi terus terang Dinda merasa nggak enak sama Anggi and the gank karena hampir tiga mingguan mereka nggak jalan bareng!
Anggi akhirnya mengajak mereka duduk di sudut ruangan. Dari kejauhan, sesosok cowok berkulit putih terlihat langsung mendekat menyambut kedatangan mereka. Dari penampilannya yang rapi dan cara penyambutan teman - temannya, Dinda bisa menebak pastilah dia salah seorang yang penting di pesta ini. Dan ternyata tebakannya tepat.
“Hai, Semuanya!” cowok itu menyapa Dinda and the Gank.
“Hai juga Fer, selamat ulang tahun, ya?” Anggi langsung menghampiri sosok bertubuh atletis itu dan memberi ucapan selamat, disusul oleh Mia, Selly, Desi dan.. Dinda yang ikut menyalami dengan ragu – ragu.
Ow.. ini yang namanya Fery, ucap Dinda dalam hati. Cool, handsome, emh, Keren juga!. Dinda tersenyum malu dengan pikirannya.
“Thank’s ya semuanya udah bersedia datang. By the way, yang namanya Dinda yang mana nih, Nggi?.” Tanya Fery penuh selidik.
Degg!. Dinda langsung jadi salah tingkah. Ia mengalihkan pandangan kepada Anggi Cs. Hm, pasti ada yang bikin gara – gara nih!
“Oh iya, Din, ini Fery yang pengen banget kenal sama elo, Fer, ini Dinda, perfect kan orangnya? Udah pinter, baik, dari keluarga mampu, cantik lagi, perfect abis deh!” Ujar Anggi dengan gaya seperti sales sedang promosi.
Dinda menyikut perut Anggi yang bergaya seperti sales yang sedang promosi itu. Fery tersenyum. Anggi mengedipkan mata, membuat Dinda semakin salah tingkah!
“Nggi, udah ah, biasa aja lagi!” Dinda tak enak. Ia mencolek bahu sahabat karibnya. Anggi balas nyengir.
“Udahlah Din, nggak usah menyangkal, Anggi udah sering cerita tentang kamu kok, dan ternyata Anggi emang nggak bohong, kamu memang cantik, secantik nama kamu, Dinda.” ucap Fery tanpa sungkan – sungkan.
Brrrr.
Dinda merasakan muka merah seperti terbakar dan semakin memerah menahan malu atas pujian Fery. Mata gadis itu benar – benar melotot ke arah Anggi. Sedangkan Anggi? Gadis itu Cuma cengar – cengir aja diplototi kayak gitu, bikin kesel kan? (mangkel banget..!).
“Cool! Kita – kita nggak dikenalin nih?” Mia, Selly dan Desi ambil bagian. Fery balas menggelengkan kepala.
“Ah, lu kan udah sering ketemu. Yuk Din, sini gw kenalin sama nyokap gw” Ucap Fery membuat Dinda makin deg – degan, pasalnya ajakan itu cuma ditujukan untuk Dinda!.
Dinda menatap Anggi, Selly, Mia dan Desi. Keempatnya mengerling, pertanda Dinda harus mengikuti ajakan Fery.
Dinda mengikuti Fery dengan langkah ragu dan takut. “Mama Fery? Kayak apa ya? Serem nggak ya? Ntar jangan – jangan malah diomelin dan dicaci maki seperti di sinetron – sinetron lagi, trus diusir dari pesta, trus..” Dinda tersenyum sendiri dengan pikiran konyolnya.
Tapi ternyata Tante Tari, Mama Fery, menyambut Dinda dengan ramah, meski pada awalnya perempuan setengah baya itu menatap Dinda sedikit agak lama, membuat Dinda salah tingkah dan tertunduk malu.
Lagi – lagi Dinda menghela napas panjang. Perfect! Ya, semua orang menganggapnya begitu sempurna, semua ingin mengenalnya, semua menganggapnya tanpa cela. Tidak! ingin rasanya Dinda memberontak, berteriak dan mengatakan, “Semua salah! Aku tidak sesempurna itu!” tapi bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada mereka, Akankah setelah nanti teman – temannya tahu semuanya, semua akan tetap seperti ini? ataukah…
Ah, sudahlah, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, Dinda mencoba menepis semua pikiran buruknya, lalu gadis itu menarik napas dalam – dalam. Selanjutnya Dinda berusaha untuk ikut larut dengan suasana pesta yang semakin hiruk pikuk. Ditambah lagi, Fery yang tak pernah membiarkannya melamun sesaatpun. Sejenak kegelisahan dan keresahan bisa terlenyapkan dari kepala Dinda. Tapi sampai kapan semua akan seperti ini? apakah mungkin berterusan lari dari kenyataan pahit seperti ini?
……bersambung ke bagian tiga…………………
Minggu, 06 Juni 2010
RB - Bagian satu
Mentari belum terlalu condong ke ufuk barat, menandakan hari masih belum terlalu sore. Berbagai macam jenis dan merek mobil berderet dengan rapi di sepanjang jalan itu. Hiruk- pikuk bunyi klakson dari mobil-mobil yang pengemudinya tak sabaran ikut meramaikan kacaunya suasana di jalan itu. Diantaranya termasuk seorang gadis muda yang masih berusia belasan tahun.
Dinda, gadis itu mengemudikan sedan silvernya dengan hati – hati dan perlahan, mengikuti arus kendaraan yang padat hingga luber ke bahu jalan. Seragam putih abu – abu masih membalut tubuhnya. Matanya menerawang jauh, seakan tak terpengaruh dengan kemacetan lalu lintas yang tak kunjung habis – habisnya itu. Ada pancaran resah dan galau di sana. Sesekali matanya melirik amplop coklat bertuliskan ‘laboratorium radiologi’ yang tergeletak di jok coklat empuk di sampingnya. Hatinya gundah.
“Mengapa aku harus menerima amplop coklat itu? Mengapa aku yang harus mengalami semua ini? aku tak pernah menginginkan ini ya, Tuhan.. kenapa tidak…” batin Dinda menjerit ingin melepaskan beban berat di kepalanya.
Rrrrr! Rrrrr!.
Dinda tersadar dan terlonjak ketika handphon mungil di sakunya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal tertera di layarnya. Tangannya segera terulur untuk mengambil dan segera menekan tombol “yes” pada benda mungil itu.
“Halo, siapa nih?”sapa Dinda riang, berusaha membuat suaranya setenang mungkin.
“Din, ini gw, Anggi.” sahut suara dari seberang.
“Lu ganti nomer lagi, Nggi?”.
“Yo’i..”
Anggi adalah teman sekelas Dinda yang paling dekat dengannya, hobbinya emang gonta – ganti Handphone dan simcard. Maklum, Anggi juga anak seorang pengusaha yang kaya raya yang sukses. Jadi, jangan heran kalau ada telpon, dan yang ngomong Anggi lagi dan Anggi lagi!
“Ya, kenapa non, tumben nelpon gw? Uhuk uhuk!” ucap Dinda sembari menutup mulutnya dengan sapu tangan. Duh! batuk lagi!
“Din, lu sakit ya? Kok batuk – batuk sih?,” Anggi curiga,“Tapi, kalo gitu mah lu istirahat aja, kita juga nggak maksa kok, Din.”cegah Anggi buru - buru. Dinda jadi tak enak hati mendengarnya.
“Nggak kok, Nggi..” Jawab Dinda.
“Bener?” Anggi ragu.
Dinda mengangguk, lalu “Suwer, gw nggak apa – apa, ada apa tadi?” Dinda mengalihkan pembicaraan.
“Sekarang lu di mana? Ntar jam tujuh gw sama anak – anak jemput lu ya, jangan telat lho!” Anggi mewanti – wanti.
“Jemput? “kening Dinda berkulit putih itu mengkerut, “Bentar lagi nyampe rumah, emang pada mo kemana sih? Emang ada acara apaan lagi Nggi malem ini?”.tanya Dinda bingung. Kening gadis itu mengkerut seperti berpikir.
Anggi ketawa, “ Ih, lu mah.. masak sih lupa? hari ini kan ulang tahunnya Fery?”
“Fery? Fery siapa?”. Dinda Heran.
Anggi tertawa lagi mendengar pertanyaan Dinda “Ih, Fery, itu lho, Din, mantan kapten basket dan ketua OSIS sekolah kita tiga tahun lalu. Masak lu nggak tau sih?”
“Apa? Pengamen yang main basket pakai tangga, trus jatuh?” Dinda pura-pura tulalit. Anggi menghela napas kesal.
“Ih, lu kok tulalit ya sekarang?” Anggi sewot.
“Ih, enak aja! Swear, gw nggak tau!”
“Itu lho.. Fery.. Fery.. ih, nih anak!”
“Kemaren Dani, trus Gery, trus Tio, trus Andri, nah ini siapa lagi sih? heran deh sama lu pada! kok nggak ada habis-habisnya ya?”
“Udah deh, pokoknya keren abis deh Din! Dianya mau kenal sama lu, makanya, lu sih kabur mulu belakangan ini.”
“So, what, Nggi?”
“So what - so What, sewot kalee..!! udah deh! jangan banyak tanya, jam tujuh teng! Ok?”
“Eh, iya deh! gw tunggu ya, bisa aja deh lu!” Dinda akhirnya meng-iyakan dengan ragu – ragu.
Anggi tersenyum mendengar jawaban Dinda. Ia bersorak dalam hati. Yes! Sukses!
“Ok Nggi, bye..”
Dinda menutup telpon dengan gusar. Dinda sebenarnya bukan sengaja menghilang dari peredaran alias melupakan teman dengan tidak mengikuti acara – acara teman – temannya belakangan ini, tapi selama ini Dinda memang lagi nggak ada waktu! Sibuk? Memang sih, sibuk bolak – balik ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Anggi and the gank!
Huh! Dinda jadi bingung. Hatinya jadi bimbang. Berbagai macam pertanyaan mulai mengusiknya. “Apa aku harus tetap pergi, sedangkan amplop coklat itu… tapi kalau aku nggak pergi, berarti… ah, sudahlah, pergi atau tidak itu urusan nanti. Sekarang yang penting adalah sampai di rumah secepatnya, capek!”
Sedan itu melaju lebih cepat menembus keramaian ibu kota Jakarta yang semakin panas dan penuh dengan polusi. Blas!
……………………
“Assalamu’alaikum!” ucap Dinda begitu memasuki rumah.
“Wa’alaikum salam! eh, non udah pulang?” jawab Mbok Yana, wanita setengah baya, yang ketika sedang membersihkan lemari es. Wanita itupun lalu bergegas menyambut majikannya.
“Udah mbok.” Jawab Dinda, lalu langsung menuju kamar dan langsung merebahkan tubuh setelah meneguk segelas air putih yang tergeletak di atas meja belajarnya.
Dinda menghela napas panjang. Selama beberapa minggu ini kondisi tubuhnya memang menurun dan mudah sekali merasa capek atau terkadang tubuhnya agak demam dan berkeringat di malam hari, dan terkadang batuk kecil ikut menyelingi. Beberapa kali Anggi, Mia, Selly dan Desi mengajaknya untuk konsultasi ke dokter, tapi semua tak dihiraukan oleh Dinda. Pikirannya selalu optimis kalau batuk atau demam itu adalah hal biasa kalau menjelang pergantian musim. Toh, nanti juga sembuh dengan sendirinya, Dinda berkilah.
Itu dulu, dan sekarang? siapa yang tahu anggapan itu benar atau salah? Tiga minggu sejak saat itu, Dinda akhirnya memberanikan diri untuk memeriksakan diri ke dokter. Dan siapa sangka jawaban Dokter dan hasil pemeriksaan mantaoux, hasil rontgen, serta hasil pemeriksaan dahak selama tiga hari tadi pagi itu telah mencabik hatinya. Dinda sungguh terkejut setengah mati!
Bagaimana tidak? TBC alias tubercolosis, sebuah penyakit yang disebabkan oleh mycobacterium tubercolosis yang tak pernah terlintas di kepalanya selama ini, bahkan seumur hidupnya sekalipun. Ya, karena biasanya yang ia tahu, hanya orang – orang yang bergelut dengan rokok dan hidup kekurangan yang banyak mengidap penyakit itu, tepatnya penyakit orang miskin! Mustahil, bagi ia yang hidup berkecukupan dan jauh dari kekurangan gizi! Ataupun kalau orang kaya, pastilah ia seorang perokok berat.
Pikiran Dinda mengembara mencari jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya,” Ya Tuhan.. kenapa harus aku yang harus mengalami ini semua? Apa salahku sehingga ia harus mendapat penyakit yang memang kelihatannya baik – baik saja itu tapi bisa membunuh secara perlahan itu? kenapa harus aku..? aku tak bersalah, Tuhan..” Dinda bertanya dalam hati. Dadanya terasa sesak menahan beban. Pusing!
Dinda mencoba mencari jawaban. Kata – kata dokter tadi masih terngiang di kepalanya.
“Saya terus terang juga heran mengapa kamu yang masih muda, berkecukupan, dan terlihat sehat bisa mengidap penyakit ini. Dugaan saya, pertama, kamu tertular dari orang lain. Kedua, kamu tinggal di sekitar para perokok. Ketiga, mungkin dari radang paru – paru yang sudah lama dan akhirnya berkembang menjadi tebe.”
Air mata mulai mengalir deras di pipinya. Pikirannya masih mencari sekeping salah yang membuatnya menerima hasil rontgen, tes dahak dan tes mantoux di amplop coklat itu. Tapi apa? Apa yang membuatnya menderita seperti ini?
Dinda termenung. Dinda mencoba mengingat masa lalu. Selama ini kalau gaya hidup memang tak jauh berbeda dengan gaya hidup teman - teman se-Ganknya yang memang rata - rata orang berada yang suka party, cafe, dan acara serupa lainnya, tapi Dinda berani memastikan bahwa sekalipun ia tak pernah menyentuh benda yang namanya rokok atau apa saja lah namanya yang bisa menyebabkan penyakit maut itu datang menghampirinya!
Dinda menangis. Mulutnya terus menggumam kata – kata dengan lirih, ”Mengapa harus aku yang memiliki keadaan seperti ini? Mengapa bukan teman – temanku para pecandu rokok yang tak punya perasaan ketika dengan cueknya merokok di tempat – tempat umum itu? yang tak pernah berpikir tentang perasaan orang – orang sekitarnya yang kadang merasa sesak napas karena asapnya itu? Mengapa bukan para perokok yang berkeliaran di sekitarku? Sekarang apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau semua teman – teman tahu soal ini? Aku nggak mau hidup sendirian dengan penyakit ini, aku nggak mau sendirian, ya Allah..!” isak Dinda.
Pikiran – pikiran yang dipenuhi ketakutan dan kekesalan membuat kepala Dinda terasa semakin berputar. Kesal. Tapi siapa yang harus di salahkan? Tuhan? Tidak, itu tidak tepat. Sebuah amplop coklat masih tergeletak di sampingnya. Semua begitu berat, berat, dan berat. Lebih berat daripada menahan kelopak matanya yang tak kuasa ditahannya untuk tidak terpejam. Ia terlelap dengan berselimutkan sejuta pertanyaan.
…………bersambung ke bagian dua………..