Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Jumat, 25 Juni 2010
Pindah Blog
Cek di blog tersebut ya, banyak cerita seru lainnya lho..!
terima kasih.
Rabu, 23 Juni 2010
RB- Bagian Enam Belas
Tiga bulan kemudian…
Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.
Uhuk!! Uhuk!!
Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.
“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.
“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.
Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!
“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.
“O.. Ryan, sekarang dia
“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”
“Kakak ipar?”
“Ryan
Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.
Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.
“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.
Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini?
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.
“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.
Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?
Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.
Sementara itu…
Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?
Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.
Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!
Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.
“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.
“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.
Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.
“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.
“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.
“Tolong, Din!
“Ok, kamu Cuma punya waktu
Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.
“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.
Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.
“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”
“Karena apa?”
“Atas semua salah saya selama ini.”
“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”
“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”
“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”
Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “
“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!
“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.
Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”
“Aku dan Anggi..”
“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”
Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.
Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.
“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.
Uhuk! Huk!
Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah!
Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…
……………….
Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.
“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.
“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.
“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw
Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.
“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.
“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.
Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.
“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”
“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”
“Yah, namanya juga temen Din,
Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.
Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”
“Kalau mau? Cinta
Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”
“
“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.
“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.
Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.
Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?
……………….
“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.
Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!
Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?
Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di
Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?
Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!
…………bersambung ke bagian 17……
Selasa, 22 Juni 2010
RB - Bagian Empat Belas
Dinda menyandarkan punggungnya di dinding ruangan sempit itu. Mukanya tampak agak pucat dan lelah. Dilapnya keringat yang bercucuran di wajahnya dengan sehelai handuk kecil yang dikeluarkannya dari tas kecil bawaannya. Pegal. Tamu restoran hari ini banyak sekali, sehingga ia dan karyawan lainnya merasa kewalahan melayani.
“Capek, Din?” tanya Nana, rekan seprofesinya.
“Yah, lumayan.” Jawab Dinda.
“Yah, ginilah Din kerja di sini, nggak kayak di kantoran, kerjanya Cuma duduk doang, nggak capek dan udah gitu gajinya gede lagi!”
“Ah, tapi otaknya
“Ya, tapi
“Lho, emang mikirin apaan Na,
“Capek mikirin gaji yang kecil! kira – kira cukup nggak ya, buat sampai akhir bulan.” Ujar Agus yang muncul tiba – tiba dari dapur, tanpa diduga oleh Nana.
Nana langsung cemberut. Dinda tersenyum, “Ah, kalian ada-ada aja, udah ah! makan yuk, laper nih!” Dinda menepuk - nepuk perutnya, lalu mengeluarkan kotak bekalnya. Agus dan Nana melakukan hal yang sama.
“Eh, Na..”
“Ha?”jawab Nana dengan mulut yang penuh nasi. Melihat hal itu Dinda tak jadi meneruskan kalimatnya dan menunggu gadis itu menelan semua nasi yang ada di mulutnya.
“Aha ci? Gadi hanggil, heharang hok dihuehin?” tanyanya, masih dengan nasi di mulut.
“Udah, ntar aja. Abisin dulu, ntar keselek lagi.. hanggil-hanggil..” nasihat Agus. Nana mengangguk, lalu cepat – cepat menelan nasi yang masih tersisa, “Ya, sudah nona!” ujarnya.
“Ngg.. lu pernah kebayang nggak seumpamanya…”
“Apa? Nana
Agus mencibir, lalu bergegas bangkit meninggalkan mereka sebelum sendal Nana melayang ke kepalanya. Nana balas menatapnya dengan kesal, lalu kembali berpaling ke arah Dinda yang masih menunggu untuk melanjutkan kembali kalimatnya yang tadi terpotong.
“Kalau seumpamanya apa, Din?”
“Ya.. kayak yang dibilang Agus tadi..” canda Dinda.
“Ah, yang bener Din?” tanyanya antusias.
Dinda geleng – geleng kepala, “Ya, nggak laaahhh..!”
Nana urung senyum, “Trus apa dong?”
“Nggg..” Dinda ragu – ragu melanjutkan kalimatnya,“Ngg.. Kalau ternyata selama ini, selama bertahun – tahun lamanya ternyata baru sekarang lu tahu kalau ternyata lu sebenarnya punya saudara tiri dan ibu tiri?”
“Emang elo.. punya saudara tiri ya, Din?” tanya Nana hati-hati.
Dinda mengangguk, “Ya, ayah baru cerita ke aku, rahasia itu ia pendam sejak belasan tahun yang lalu..”
“Berarti bokap lu punya istri dua?”
“Ya.”
“Setelah nyokap lu meninggal?”
Dinda menggeleng, “Nggak, sebelum nyokap gw meninggal, atas saran nyokap gw.”
“Kok bisa?”
“Bisa aja.”
“Nyokap lu nggak marah? Trus di mana mereka sekarang?
Dinda mengangkat bahu, “Gw sendiri nggak tahu, Ayah nggak pernah cerita apa-apa lagi soal itu, tapi.. “ ucapan Dinda terpotong. Dahinya mengernyit dan matanya menerawang.
“Tapi apa?”
“Tapi entah mengapa, kok gw ngerasa mereka itu ada di sekitar gw ya? Gw nggak tahu siapa mereka, tapi.. kok rasanya mereka ada di dekat gw, tapi gw nggak inget apa yang bikin gw ngerasa kayak gitu, Na..”
“Emang lu nggak tahu sama sekali ciri – cirinya?
“Justru itu Na, masalahnya dia bukan anak kandung bokap gw. Dia itu anak bawaan istrinya itu, artinya, dia itu anak tiri bokap gw, trus kalau yang satu lagi gw nggak tau dia cowok atau cewek.”
“Lho, kok?”
“Iya, soalnya waktu itu adik gw itu masih dalam kandungan.”
“O…” mulut Nana mengerucut bulat mengucapkan huruf itu. keningnya sekarang ikut mengernyit, “Ya udah, kita selidiki aja..” ceplosnya enteng.
Kening Dinda jadi tambah berkerut, “Selidiki? Selidiki dari mana Na? Emangnya gw mo harus nanya Ayah gw lagi? nggak, mendingan gw nggak nanya dari pada dia sedih lagi..”
“Yee, siapa yang bilang begitu. Maksud gw.. lu cari aja diam – diam, siapa tahu bokap lu masih nyimpan photo lama, gw yakin nggak mungkin dia nggak nyimpan barang satupun..” Nana mengecungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dinda mengangguk –angguk. Iya juga ya? Mungkin aja..
…………………
Pram tampak tengah sibuk dengan tumpukan koran di depannya. Tangannya sibuk membalik halaman demi halaman. Sebuah tongkat tersandar tepat di sampingnya. Dinda mendekati sosok itu dengan wajah ceria.
“Lho, udah pulang, Din?” tanyanya sebelum Dinda membuka suara.
“Udah, yah. Kan tadi Dinda masuk shift pagi.. ayah kok sibuk banget kayaknya, lagi ngapain sih?”
“Nggg, yah. Cari – cari sesuatulah! Udah sana makan, ayah udah masak tuh buat kamu.”
“Waahhh, ayahku baik sekali..!” puji Dinda. Ia lalu melenggang menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia baru ingat tujuannya semula waktu datang tadi. Ia kembali berbalik.
“Ayah..”
“Ya?”
“Ayah masih nyimpen album – album Dinda sama bunda waktu kecil nggak?”
“Ada. Kenapa?”
“Dinda mau lihat dong..!”.
“Buat apa, sayang?” jawabnya tanpa menoleh dari halaman yang sedang dicermatinya dengan hati – hati.
“Dinda mau lihat sebentar, ada perlu, buat.. buat biodata.” Jawab Dinda bohong.
“Sebentar, ayah lihat dulu.”
Pram segera melipat korannya, lalu mengambil tongkatnya dan beranjak dari tempat duduknya. Dengan dibantu Dinda, ia segera membuka lemari pakaiannya, lalu menurunkan sebuah koper kecil yang sedikit berdebu. Dibukanya koper itu dengan hati – hati, lalu mengeluarkan isi demi isi dari koper itu. Dinda menunggu dengan dada yang berdebar.
Akhirnya, setelah tiga per empat dari semua isi koper yang terbongkar, didapatinya dua buah album berukuran sedang yang tampak sudah sangat usang. Dikeluarkannya kedua album itu, lalu diserahkannya kepada Dinda.
Dinda menerima album itu dengan campuran berbagai perasaan. Ia lalu membawa album itu ke kamarnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Pram memandanginya dengan tatapan aneh, lalu kembali ke kesibukannya semula.
Setibanya di kamar, Dinda tak sabar untuk segera membuka album itu. Dengan tergesa – gesa ia melompat ke tempat tidur, lalu membalik lembar demi lembar photo yang terpajang di sana dengan teliti dan penuh selidik.
“Ah, kenapa semua hanya photo aku dan bunda? Kenapa tak ada photo tante Sintya atau anaknya itu?” desah Dinda kecewa dengan album yang bertama yang didapatinya tidak memberikan apa yang dicarinya.
Dinda lalu membuka album yang ke dua. Ia melakukan hal yang sama seperti yang pertama. Lembar demi lembar, photo demi photo. Hingga akhirnya ia akan menutup album itu dengan penuh kecewa, tiba – tiba.. matanya memaksanya untuk kembali ke halaman sebelumnya. Dua photo didempetkan jadi satu!.
Dengan hati – hati segera dilepaskannya steples yang menempelkan kedua photo itu dan terlihatlah wajah seorang wanita, yang dibuat bertahun – tahun yang lalu dan dengan dandanan yang mungkin sedang musim waktu zaman itu. Polesan make up tipis menutupi kulitnya yang putih, tapi hal itu tak membuat Dinda tak mengenali wajah itu. Ya, wajah yang beberapa waktu lalu dijumpainya! Yang terasa begitu dekat dengannya dan langsung akrab dengannya, yang anaknya selalu mendampingi dan membantunya, dia adalah.. Ibu Ryan! Ibu Zahra!
Dengan dada berdebar dan berharap cemas Dinda membaca tulisan di balik photo itu. “Sintya.” Dinda terhenyak.
…………bersambung ke bagian 15………………….
Senin, 21 Juni 2010
RB - Bagian Sebelas
Pram membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk di sela – sela gorden membuatnya tak bisa membuka mata secara langsung, karena belum terbiasa dengan sinar terang. Perlahan, matanya yang masih kabur mencoba menangkap bayangan gadis yang tertidur pulas di samping tempat tidurnya. Dinda. Tangan Pram berusaha menggapai dan membangunkan gadis semata wayang kesayangannya itu. Namun, sepertinya tangannya terasa sangat lemah, sehingga hanya mampu mengenai gelas yang tergeletak di sampingnya. Gelas itu oleng beberapa saat sebelum akhirnya pecah berantakan jatuh ke lantai.
Praaannggg..!!!
Dinda terlonjak dari tidurnya begitu mendengar benda pecah yang tak jauh dari telinganya. Matanya yang masih bengkak mencoba mencari sumber suara. Dinda langsung terlonjak kaget dengan apa yang di lihatnya. Di depannya, Ayahnya telah membuka mata. Ayahnya telah sadar!
Dinda segera memanggil dokter dan perawat. Setelah dokter mamastikan bahwa Pram, ayahnya, akan baik – baik saja, langsung saja bak anak kecil, Dinda segera memeluk, menciumi tangan dan kening ayahnya dengan suka cita. Sedangkan bibir mungilnya tak henti – hentinya mengucapkan syukur. Tak dihiraukannya dokter yang meninggalkannya dengan geleng – geleng kepala, serta Ryan dan Zahra yang baru datang membawakan makan siang yang menatapnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Air mata ikut menetes di pipinya. Satu masalah terselesaikan, walaupun ribuan masalah lainnya masih menunggu gadis itu.
……………………………
“Din…”
Sebuah suara mengagetkan Dinda yang sedang menyuapi ayahnya sarapan bubur pagi itu. Rasanya dulu suara itu pernah bergaung di pendengarannya. Dinda menoleh dengan cepat.
“Selvy?” Dinda mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Ryan yang berdiri di samping Selvy menganggukkan kepala meyakinkan Dinda, lalu menggantikan Dinda menyuapi pak Pram. Dinda tak segera berbicara, setelah diambilnya sapu tangan penutup mulutnya kalau batuk, gadis itu langsung mengajak Selvy ke ruang tunggu di depan kamar ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk, untuk apa dia ke sini setelah semua yang terjadi?
“Sorry Din, gw baru dateng sekarang, gw minta maaf atas kejadian waktu itu.” jelas Selvy, penyesalan jelas terpancar dari matanya. Dinda memandang Selvy bingung.
“Minta maaf?”
“Ya, minta maaf atas sikap gw, lu mau
Dinda tergagap. Ya Tuhan, apakah ini berarti dugaannya selama ini terhadap Selvy adalah benar?
Kening Dinda berkerut, tapi ia tak berani bertanya apa – apa selain menganggukkan kepala, “Gw.. gw nggak pernah mikirin itu lagi kok, gw udah maafin semuanya.”
Selvy langsung memeluk Dinda, “Gw ternyata salah paham ya Din sama lo, ternyata lu baik banget orangnya, kita temenan, ya ? gw malu sama sikap gw selama ini sama elo, Din.”
Dinda bengong. It’s Right? It’s enough ? apakah semua ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan itu? Semudah itukah? Seakan itu adalah kesalahan yang sangat kecil?
“Selvy..!!”
Sebuah bentakan dari belakangnya membuat Selvy melepaskan pelukannya dari Dinda. Anggi berdiri di
“Ngapain lu di sini?” Anggi langsung menarik tangan Selvy dengan kasar, seolah – olah menjauhkan gadis itu dari Dinda.
“Lu sendiri ngapain?” balas Selvy sengit.
“Mau tau aja lu, gw ingetin ya, lu jangan coba – coba deketin Dinda, jangan mentang – mentang selama ini gw nggak bareng Dinda deh! atau lu kurang puas udah ngerebut gelar siswa teladan? Jangan pura – pura baik, ok!?” Anggi mendorong Selvy agar gadis itu menjauhi Dinda.
“Gw nggak pura – pura baik Din, Nggi, tapi..” Selvy memandang Dinda ragu,”Ah, Ok, Din. Ngg.. ok, gw pulang dulu ya?”
Tanpa menunggu jawaban, akhirnya Selvy meninggalkan Dinda yang masih melongo dengan pandangan tak mengerti menatap mantan sahabat dan mantan saingannya itu.
“Din, maafin gw ya? selama ini, gw tau gw salah ninggalin lu sendirian. Gw baru sadar, seharusnya gw nggak ngebiarin lu sendirian memikul beban seberat ini.“ ucap Anggi berubah lembut.
Dinda semakin bingung. Tadi Sevy, sekarang Anggi?
“Din..” Anggi menepuk bahu Dinda.
Dinda tersadr dari lamunannya, “Eh, I..iya, udahlah Nggi, lu nggak salah, semua wajar kok.” Ujar Dinda sambil menahan batuknya.
Dinda menatap Anggi. Keduanya tersenyum. Lalu Anggi menarik Dinda menuju mobil, mengambil plastik berisi oleh – oleh yang dibawanya.
“Selvy ngapain nemuin lu, Din?” tanya Anggi sambil mengeluarkan bawaannya dari bagasi.
“Dia minta maaf.”
“Minta maaf?”
“Ya.”
“Tuh
“Dugaan apa?”
“Iya, dia pasti mau ngambil kesempatan buat ngedeketin lu selagi kita – kita nggak ada.. jangan – jangan dia juga lagi yang ngelakuin semua ini sama elo, sampai – sampai kita benci sama elo…” Anggi menutup bagasi, lalu kembali mengunci mobilnya.
“Nggak tahu lah, siapapun nggak masalah. Semua udah lewat Nggi.” Ucap Dinda, lalu mengikuti Anggi yang berjalan masuk menuju kolidor rumah sakit yang menghubungkan dengan kamar ayahnya.
Sementara itu…
Selvy mengamati Anggi dan Dinda yang berjalan dari kejauhan dengan kesal. Dinda. Sedikit lagi! padahal sedikit lagi… seandainya saja Anggi tidak muncul, pasti ia akan berhasil melakukan hal itu! pasti ia akan bisa mengatakan hal itu! tinggal selangkah lagi! ah, Dinda, gadis itu begitu kuat, tapi akankah ia masih sekuat itu jika mengetahui kenyataan itu?. Bisik batin Selvy lirih, lalu meninggalkan kawasan rumah sakit.
………..…………….
“Aku bingung..” ujar Dinda suatu sore kepada Zahra dan Ryan.
“Bingung?” sahut Ryan dan Zahra berbarengan. Zahra memandang Ryan dengan tajam. Ryan mengerti arti pandangan itu.
“Ya.”
“Sebabnya?” kali ini hanya Zahra yang menyahuti, sedangkan Ryan kembali sibuk dengan buku di tangannya.
“Ya… a.. aku bingung sama Anggi dan Selvy, kok mereka tiba – tiba dateng barengan, padahal selama ini mereka nggak pernah mikirin aku, eh, kok pada dateng tiba – tiba, apalagi sampai nengokin ayah.. udah gitu mwnghilangnya juga barengan. Aneh
Zahra mengerutkan kening. Ryan yang mau tak mau ikut mendengar, juga ikut berpikir, walaupun matanya terpaku pada buku di tangannya itu.
Dinda menceritakan pertemuannya siang itu dengan Anggi dan Selvy, kedua gadis itu memang langsung tiba – tiba menghilang, alias nggak pernah datang lagi menemui Dinda. Cukup aneh memang. Apalagi sikap Selvy yang berbeda waktu itu, yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa Dinda tak tahu.
“Aneh memang, tapi menurut aku, kak Dinda nggak usah pikirin, mungkin aja ini jawaban atas doa – doa kakak selama ini atau memang Allah telah membukakan pintu hati mareka saat ini, siapa tahu..!!” Zahra mengangkat bahu, “Udahlah kak, nggak usah bingung, yang namanya temen, seneng bareng, susah juga bareng, lupain aja mereka, banyak yang harus kakak pikirin selain mereka. Trus ntar kalo kakak udah bener – bener sembuh, baru deh kakak pilih yang mana yang bener – bener temen.”
“Betul, Din!” Ryan akhirnya menimpali juga, “Sekarang mulai aja siap – siapin barang buat pulang, tadi aku udah bicara ke dokter, katanya kalau keadaan normal – normal aja lusa om udah bisa dibawa pulang.”
“Bener?” Dinda kaget,”Kok kalian nggak bilang – bilang sama aku sih? Jahat!“ Buugg! Dinda melempar dua bantal kursi yang tadi di tangannya kepada Ryan dan Zahra, membuat kedua kakak beradik itu reflek mengelak.
Dan dalam waktu singkat, bantal di ruangan itu melayang kembali. Perang bantal!
“
Dinda jadi bengong. Lho, Kok dia yang repot?
“Iya, ntar aku yang repot bawa kakak ke rumah sakit jiwa! ha.. ha..”
Blukgk! Sekali lagi bantal di tangan Dinda mengenai kepala Zahra, “Dasar! Kakak adik jailnya kompak..!”
Namun, akhirnya gadis itu beranjak juga mengambil kantong obat di laci tak jauh dari tempat duduknya. Satu persatu obat tablet yang bertuliskan rifamficin, pirazinamid, etanbutol, dan streptomizin itu di keluarkannya dan di telannya dengan segelas air yang diangsurkan Ryan kepadanya. Tapi, baru beberapa saat..
“Yan..”
“Apalagi? Bentar Yan, bentar Ra, kenapa?”
“Gimana ya kabarnya Fery?”
Ryan terdiam sesaat.
“Udah ah, ngapain sih kamu mikirin dia?” Ryan sewot.
“Ya, lupain aja kak, kalau jodoh
“Yeee, anak kecil ikut – ikutan, emang tahu?” balas Dinda. Zahra nyengir. Dinda tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zahra diam, “Hmm…”
“Apa lagi?” Ryan dan Zahra berbarengan.
“Nggak, Cuma mikir aja, sampai kapan ya aku kayak gini? Apa aku bisa ya bertahan terus sama obat – obat ini?”
Dinda menatap sekantong obat di tangannya dengan sedih. Ryan menatap Dinda perasaan tak menentu.
“Din, kamu pasti bisa bertahan, percayalah Din. Kamu aja bisa melewati masa – masa sulit kemarin, kenapa sekarang kamu nggak bisa? Kamu pasti bisaa! Aku dan Zahra akan terus nemenin kamu Din, sampai kamu sembuh..” Ryan menatap Dinda, berusaha membangkitkan rasa optimis gadis rapuh itu.
“Kalian nggak takut ketularan?” tanya Dinda.
“Kak Dinda. Aku ulangi, Temen susah bareng, seneng juga bareng. Kalo aku berpikiran kayak gitu, udah lama kita nggak mau deket – deket sama kakak! Itu kata seseorang sih..”Zahra mengerling ke arah Ryan.
Ryan jadi salah tingkah.
Zahra menggengam tangan Dinda, “Aku nggak berharap apa – apa, aku Cuma pengen lihat kak Dinda yang dulu, yang selalu tersenyum. karena itu, kakak harus terus berjuang ya? Mau
“Huuu! iya Nona sok dewasa. tapi, dapet kata – kata dari mana nih anak?”kening Dinda mengerut.
“He.. he..” Zahra nyengir, “Dari buku harian seseorang..” jawabnya polos, sambil mengerling jail ke arah Ryan.
Hukkggkk!.
Muka Ryan langsung bersemu merah seketika. Ketiganya lalu larut dalam canda di sela – sela batuk kecil Dinda, walau masih terbesit kerinduan dan pertanyaan dalam hati Dinda.
Ah, seandainya yang berkata demikian adalah Fery dan teman - temannya.. Tapi, entahlah! Fery, kemana sosok itu? mengapa tak sekalipun Fery menemuinya? Lalu ayah? Jika mereka akan pulang besok, bagaimana cara menjelaskan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu? termasuk masalah penjualan rumah? Serta menjelaskan kenyataan yang ada?
“Eh, Din..” Suara Ryan membuyarkan lamunan Dinda.
“Ya?”
“Untuk besok siang aku udah minta tolong si mbok buat nungguin papa kamu, karena itu kamu bisa ikut aku dan Zahra besok.”
“Ikut? Kemana?”
“Ke rumahku, ke rumah kami.”
“Emang ada acara apa?”
“Nggak, kita
Dinda berpikir sejanak, lalu “Ngg, nggak apa-apa kali ya? ya deh! jam berapa?”
“Jam setengah satu siang.”
“Ok.” Jawab Dinda. Ngg..ibu, seperti apa ya, ibunya Ryan dan gadis kecil itu? Ah, mudah – mudahan saja baik, lembut, pengertian, ramah.. ah, Bunda, itukan seperti bunda. Mungkinkah ibunya Ryan juga seperti bunda?
Dinda kembali tenggelam dalam lamunan dan angan - angannya.
…………………
Dinda mngikuti Ryan dan Zahra memasuki pekarangan sebuah ruah mungil. Ryan mengetuk pintu rumah mungil itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita setengah baya membukakan pintu itu dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh senyum. Dinda segera menebak, mungkinkah ini ibu mereka?
Dugaan Dinda tampaknya tak meleset. Ryan dan Zahra segera membungkuk mencium tangan wanita itu. Dinda mengikuti melakukan hal yang sama dengan agak canggung dan kikuk. Tangan lembut wanita itu tampak sedikit gemetar ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Dinda.
“Bu, ini Dinda,”Ryan memperkenalkan Dinda, “Din, ini ibuku.”
“Ibuku juga.” sambung Zahra tak mau kalah.
Dinda tersenyum. Wanita itu membalas senyumnya,”Ayo, silahkan duduk. Ibu bikinkan minum dulu ya, Dinda mau minum apa?”
“Ah, nggak usah repot – repot, bu. Apa aja boleh.”
Ryan dan Zahra pamit sebentar meninggalkan Dinda untuk berganti pakaian. Dinda mengamati seisi ruangan itu. Ruang tamu yang sederhana. Tak ada pajangan, hanya ada beberapa photo Ryan sewaktu masih SD dan SMP, juga photo Zahra dan beberapa photo ibu Ryan sewaktu masih gadis. Tiba – tiba saja Dinda merasakan ada sesuatu yang kurang di ruangan itu. Tapi, ia tak segera menemukan kekurangan itu, karena pikirannya segera terhenti karena ibu Ryan telah kembali dengan membawa nampan yang di atasnya ada tiga gelas air sirop.
“Maaf, ya Din, ini seadanya.” Ibu itu meletakkan gelas di depan Dinda.
“Nggak apa-apa kok, bu.” Jawab Dinda, bersamaan dengan kemunculan Ryan dari arah kamarnya. Tampaknya ia sudah berganti baju.
“Bagaimana kabarnya ayah Dinda sekarang?”
“Ya, udah lumayan baik, bu. Mungkin besok udah bisa pulang.”
“Syukurlah..” wanita itu menarik napas panjang.
Demikianlah! Setelah itu dua jam mereka terlibat dalam percakapan – percakapan sehari – hari. Mulai dari pekerjaan, sekolah, sampai – sampai membicarakan resep masakan, dan banyak hal lainnya, diselingi tawa renyah yang sesekali terdengar. Akrab dan hangat, walaupun banyak hal yang tak dimengerti oleh Dinda dalam percakapan itu.
…………………….
Jumat, 18 Juni 2010
RB - Bagian Sembilan
Dinda masih terpaku menatap wajah ayahnya yang dibalut perban yang masih menyisakan bercak merah darah yang terbaring beberapa meter di depannya. Tangan Gadis itu menggenggam seikat bunga yang bertuliskan namanya. Mulut gadis itu tak henti – hentinya berbicara, walaupun sosok yang diajaknya bicara tak juga menjawab.
“Ayah, makasih bunganya. Dinda baru tahu kalau ayah sebenarnya sayang banget sama Dinda.. maafin Dinda yah, harusnya Dinda bisa jagain Ayah. Dinda tau, Ayah juga kesepian, sama seperti Dinda setelah bunda pergi ninggalin kita.. yah, ayah harus tau, Dinda sayang sama ayah, Dinda nggak mau ayah ninggalin Dinda, ayah harus berusaha untuk hidup, sama kayak Dinda! Ayah nggak boleh ninggalin Dinda, Nggak boleh..” Ucap Dinda serak. Air mata membanjiri matanya yang tampak membengkak karena menangis semalaman.
Tangannya menggenggam tangan dingin lelaki yang dicintainya yang terbaring lemah itu. Airmata mengalir deras di sela – sela suara seraknya yang semakin habis. Dua hari sudah ayahnya terbaring, tanpa menunjukkan perubahan apa – apa. Seandainya bisa, sungguh ingin rasanya Dinda menggantikan tubuh itu berbaring di sana itu..
“Maaf, non Dinda..”
“Ya, mbok?”
“Anu.. ada .. ada temannya di luar, mbok suruh masuk atau tunggu aja?” suara mbok Yana membuat Dinda menoleh. Gadis itu mengusap airmatanya, “ Siapa mbok? Kalau Cuma satu atau dua orang, suruh masuk aja, Mbok.” jawab Dinda. Mbok Yana mengangkat bahu, lalu kembali keluar.
Teman. Siapa yang masih mengakuinya sebagai teman setelah semua ini terjadi? Apakah itu Anggi Cs yang kembali setelah pergi meninggalkannya begitu saja sejak saat itu? Ataukah Fery, yang langsung berubah drastis setelah semua yang dialaminya?
Ah, Fery.. perih sekali rasanya hati Dinda ketika mengingat nama itu. Dulu, sebelum semua ini terjadi sosok Fery adalah teman terbaik di mata Dinda. Fery yang selalu menyanjungnya dan dapat membuatnya melupakan segala resah. Memang seharusnya Dinda tidak berprasangka, tapi bukankah kenyataan bahwa Fery memang menghilang dari kehidupannya sejak berita tentang dirinya yang mengidap tebece menyebar di sekolah itu?
“Assalamualaikum..” Dinda reflek menoleh ke asal suara di belakangnya. Sosok tegap Ryan berdiri di sana. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis berkerudung rapi, usianya kira – kira tiga belas atau empat belas tahun, tiga atau empat tahun lebih muda dari cowok itu.
“Eh, wa’alaikum salam. Kamu.. Kok kamu tau aku ada di sini? Dan dia?” Tanya Dinda sejenak mengalihkan perhatian dari ayahnya yang terbaring. Matanya beralih ke sosok di samping Ryan.
“Eh, nggak, tadi aku ke rumah kamu, karena sudah tiga hari ini aku nyari kamu di sekolah, tapi kamunya nggak masuk terus, trus kata bu Sami yang jaga, katanya ayah kamu lagi dirawat. Oh ya, ini Zahra adikku.”
Sosok yang disebut Zahra segera mengulurkan tangan, Dinda menyambut uluran tangan itu. Mata mereka berpandangan sejenak. Sesaat Dinda merasa ada sesuatu yang lain pada gadis itu, namun entah apa.
“Gimana keadaan ayah kamu?” Ryan kembali mengagetkan Dinda.
“Ya, seperti yang kamu lihat Yan, ayah masih koma. Aku selalu bicara sama ayah, tapi ayahku tetap nggak ngejawab.”
“Kamu sabar aja ya? Mungkin emang ini ujian buat kamu” ucap Ryan.
Dinda mengangguk. Ya, Dinda juga berharap hal yang sama dengan Ryan dan berdoa semua ini akan segera berlalu dari hidupnya. Bukankah selalu ada ungkapan yang mengatakan bahwa badai pasti akan berlalu ?
“Oh ya, Aku beliin makan ya, kamu ngobrol aja sama adikku ya, sekalian buat mbok yang di depan. Ra, temenin kak Dinda ya!” ujar Ryan.
Zahra mengangguk. Dinda memandang mereka dengan penuh terima kasih, “Makasih Yan, Zahra. Oh ya, Ryan, kamu nggak mau lihat keadaan ayahku dulu?” tanya Dinda dengan nada yang seriang mungkin dan senyum terpaksa.
“O, i.. iya, nanti aja. Setelah beli makan buat kamu.” Ryan gelagapan dan berusaha menutupi rasa gugupnya dengan membalas senyum sebelum ia meninggalkan Dinda. Zahra menatap kepergian kakaknya dengan bingung.
Di sampingnya, Dinda menatap bayangan Ryan yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan kolidor rumah sakit. ”Ya Allah, kuatkan hatiku menjalani semua ini, jangan biarkan Ayah meninggalkanku saat ini, berilah kekuatan padanya untuk bisa melewati deritanya dan.. Bunda, ya Allah.. Dinda kangen baget sama bunda.” Dinda bergumam dalam hati.
Selanjutnya Dinda larut dalam percakapannya dengan Zahra. Gadis itu, walaupun lebih muda dari pada Dinda, tapi ternyata enak diajak ngobrol dan dewasa. Sedikit banyak Dinda merasakan beban di pundaknya sedikit lebih ringan.
……….…………..
Hari ketiga setelah kecelakaan…
Sosok itu menatap Pram yang terbaring tak berdaya di depannya dengan perasaan tak menentu. Kesal, sedih, kasihan, dan marah bercampur jadi satu di ekspresinya yang kaku. Sebuah photo lama tergenggam di tangannya yang mengepal keras.
“Pram.. atau harus aku panggil papa? papa tiriku, apa kabar? Apa? Kamu nggak kenal aku? Oh, ya! Pantas saja, karena kita ketemu udah lamaaa.. banget!. Aku siapa? Aku anakmu! Anak yang terus menunggumu datang sejak empat belas tahu yang lalu.. ibu? Papa pasti ingin bertanya tentang ibu dan adikku kan? Ibuku masih menunggumu, pa, sampai saat ini..!” sosok itu berhenti sejenak, lalu menyapukan pandangan ke sekitarnya, takut ada yang mendengar kata – katanya.
Sementara itu, sosok yang ditatapnya masih tak bergerak. Ia melanjutkan bicaranya, “Ibuku menunggu siang dan malam, bekerja membanting tulang demi kehidupan kami. Ibuku menuggumu! Aku memang kesal padamu, aku sempat benci, aku sempat ingin kau lenyap saja dari dunia ini. tapi, sekarang tidak, pa! Aku ingin kau sadar, sadar! Hadapi aku!” Sosok itu tergugu menahan isak dan luapan emosinya yang tertahan, “Ya, aku tak tahu alasannya, tapi yang aku tahu, aku tidak menjalani hidup seperti anak lainnya, seperti Dinda misalnya. Hidupku penuh kepahitan, pa, karena itu aku .. aku rasanya tak ingin Dinda.. ”
Sosok itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dari kejauhan terdengar langkah – langkah yang semakin mendekat. Sosok itu segera bangkit dengan terburu – buru, namun berusaha agar tampak wajar. Ia melangkah perlahan menuju pintu. Seorang suster yang berpapasan dengannya di depan pintu tersenyum padanya. Ia membalas senyum itu dengan penuh arti.
Minggu ketiga setelah kecelakaan Pram..
Dinda termagu sendirian di depan kolidor rumah sakit yang dipenuhi semerbak bau obat. Di tangannya tergenggam sebuah buku mungil, buku tabungan. Mobil, surat – surat berharga yang ditinggalkan Ayah untuknya, satu persatu melayang sudah untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit itu. Perusahaan ayahnya tak banyak dapat membantu, karena kondisinyapun sedang sulit. Hanya beberapa kali waktu itu mereka datang menjenguk. Sekarang, tabungan.. Dinda menatap saldo di buku tabungan yang ada di tangannya yang semakin menipis dengan desah napas panjang. Ayah, tolong Dinda ayah..!
“DOR!!”
Hah!! Dinda tersentak kaget. Di depannya Zahra berdiri cengengesan melihat kekagetan gadis itu. Dinda langsung menekuk mukanya jadi delapan, cemberut.
“Assalamu’alaikum. Kakak kok bengong aja? Gimana keadaan oom sekarang?”
“Wa’alaikum salam. Masih sama, belum sadar. Kamu sendirian? Kamu bawa apaan?” Tanya Dinda begitu melihat tangan kanan gadis kecil itu menjinjing sebuah plastik putih.
Zahra tersenyum, lalu mengangsurkan plastik itu kepada Dinda, ”Ada titipan makanan buat kak Dinda, nih!”
Dinda menerima bungkusan itu dengan senyum mengembang. Laper!! Tangan gadis itu langsung membuka kardus nasi itu dengan hati – hati. “Makasih ya, Enak nih kayaknya.. kamu yang masak?”
Senyum Zahra terlihat pudar seketika, Dinda jadi bingung, “Ada apa? Aku salah ngomong ya?” tanya Dinda hati – hati, takut ada yang salah dengan ucapannya.
Zahra menggeleng, memandang Dinda sesaat, lalu “Nggak, iya, itu dari ibuku. Dia yang yang masak buat kamu, aku belum ahli masak..” sahutnya dengan malu – malu.
“Ce ilee.. gitu aja sedih, ntar juga lama – lama kamu pasti bisa. Aku juga belum bisa masak. Ini buat aku?”
“Iya, buat kakak.”
“Emangnya ibu kamu kenal sama aku?”
“Ya, nggak sih, Cuma Kak Ryan yang cerita.”
“Ryan yang cerita?”
“Yup!”
“Kamu tinggal sama siapa aja? Ayah? Adik?”
“Nggak, Cuma sama ibu sama kak Ryan aja kok, aku udah nggak punya ayah dan nggak punya adik.”
Dinda tercenung. Pikirannya berusaha menangkap hikmah yang bisa diambilnya dari perkataan Zahra. Benarkah? Nasib mereka sama. Dinda punya bunda, dan Ryan dan Zahra punya ibu. Selama ini Dinda selalu berpikir betapa malangnya hidupnya tanpa bunda, tapi ternyata masih ada juga yang bernasib malang seperti dirinya? Bukankah seharusnya juga bersyukur masih memiliki Ayah yang tinggal serumah dengannya, meskipun seringkali tak peduli padanya? Dan si Mbok yang perhatian sebagai pengganti bunda? Jadi itukah sebabnya Ryan begitu benci dan kesal sekali mendengar perkataannya waktu malam itu?
“Mungkin kita emang senasib kak, Jodoh kali! He..he..”
Dinda langsung cemberut. “Yeee! ngasal! Ogah ah!”
“Lho, kok?”
“Ogah, emangnya lesbong?”
“Yee, emang jodoh dalam hal nikah aja, cocok temenan juga namanya berjodoh.”
“Ehem!”
Deheman dari belakang mereka membuat keduanya menoleh,“ Udah akrab nih kayaknya.” sapa Ryan.
“Yeee! datang – datang bukannya ucap salam, malah ehem – ehem..” Zahra buru – buru menimpali.
Ryan jadi malu, “Iya, assalamu’alaikum..” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam.” koor keduanya.”
“Eh, Yan, Tapi kok kamu tahu bundaku udah meninggal? Aku kan nggak pernah cerita?” Selidik Dinda.
“Ada aja!” hm, lagi – lagi nih anak.
“Huuu..! sok detektifnya kumat deh!” sambung Zahra.
“Jangan – jangan kamu CIA ya? Atau FBI, yang dikasih kerjaan buat mata – matain aku?”
“Yee.. kurang kerjaan amat tuh agen! Emangnya kamu sepenting apa? Putri presiden aja nggak gitu – gitu amat! Ya pokoknya ada deh! mau tau aja!”
Hm… JTAK! Buku kecil yang tadi di tangan Dinda langsung melayang ke kepala cowok itu, membuat cowok itu mengaduh.
“Syukur!! Nih tambah lagi!” Zahra ikut menimpali, sebuah bantal sofa sekarang ada di tangannya, siap melayang.
Ryan buru – buru menghidar dari serangan kedua gadis itu. Namun, jauh di hatinya, Ryan merasa senang bisa membuat Dinda kembali tersenyum, meski ada sesuatu yang tersimpan di balik senyumnya itu. Sejenak semua beban yang tadi ada di kepalanya terlupakan oleh Dinda.
…………………
Bulan kedua setelah kecelakaan Pram…
“Jadi, ayah saya nggak bisa terus dirawat di sini kalau saya nggak bisa bayar biaya sebesar ini dokter? Mengapa sebesar ini dokter?”. Tanya Dinda meyakinkan pendengarannya atas penjelasan dokter yang begitu panjang tadi. Mata gadis itu tak lepas dari sebuah kertas yang bertuliskan nominal yang siapapun pasti akan terbelalak melihatnya.
“Jadi memang begitulah..”
“Tapi kenapa, dokter?”
“Yah, nona, saya rasa nona tahu dan sudah cukup besar dan dewasa untuk mengerti hal – hal seperti ini, perawatan ayah nona itu bukan perawatan biasa, tapi koma! Anda juga pasti pernah dengar kan? dan dana yang nona bayarkan beberapa waktu yang lalu sudah tidak mencukupi untuk biaya perawatan selanjutnya. Pihak rumah sakit sebenarnya sudah berusaha membantu, tapi bantuan yang bisa kami berikan juga terbatas, karena banyak pasien lain yang juga membutuhkan bantuan. Saya rasa anda mengerti, nona.” Dokter Hans mengakhiri pembicaraannya.
“Tapi, bukannya biasanya di setiap rumah sakit ada keringanan untuk orang yang nggak mampu, dok?”
“Ya, mungkin nanti nona bisa tanya di bagian administrasi. Yah, biasanya ada beberapa syarat yang harus dilengkapi dulu.”
“Ya, makasih dokter. Mungkin saya akan coba ke sana.”
Dinda tertunduk sedih. Lalu pamit keluar ruangan.
Dinda bukan hanya mengerti dengan ucapan dokter Hans, tapi juga paham betul apa artinya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebesar puluhan juta itu untuk kelanjutan biaya rumah sakit ayahnya?. Perusahaan tempat ayahnya bekerja tak lagi bisa memberikan dana cash, perhiasan terakhir peninggalan bunda sudah terjual kemarin siang, sementara untuk mencari pekerjaan tanpa ijazah SMU yang seharusnya diperolehnya beberapa bulan lagi? pekerjaan apa yang bisa didapatkan gadis kecil sepertinya di tengah panasnya persaingan ibukota saat ini? Paling berapa sih gaji pegawai lulusan SMU apalagi yang nggak lulus?
Hufh! SMU. Dinda jadi teringat sekolahnya yang terbengkalai dan tentang teman – temannya. Sungguh menyenangkan saat – saat dulu. Tidak seperti sekarang yang sejak peristiwa itu, tak seorangpun dari Anggi, Mia, Selly ataupun Desi yang datang menjenguknya ke rumah sakit ini. jadi bagaimana mungkin ia bisa meminta bantuan? Sedangkan meminta bantuan kepada guru – guru yang sempat beberapa kali datang menjenguk jelas rasanya nggak mungkin, Dinda tahu pasti kondisi ekonomi dan keluarga mereka yang juga pas-pasan karena gaji guru yang kecil. Sementara minta tolong Ryan? Jelas lebih nggak mungkin lagi, karena Dinda tahu Ryan juga harus membantu biaya sekolah Zahra dan bibinya menghidupi dua adik sepupunya yang juga masih sekolah dan kecil – kecil. lalu? Huh! Dahi Dinda semakin mengernyit. Hm, apa ya yang bisa ia lakukan sekarang?
“Din, kamu kenapa?”. teguran Ryan yang baru tiba entah dari mana mengagetkan Dinda.
“Eh, nggak apa – apa. Zahra mana?” Jawab Dinda berbohong.
“Mungkin bentar lagi datang, tadi dia ada les dulu, dia kan udah mau ujian kenaikan kelas.”
“Ow..” mulut Dinda mengerucut.
“Hm.. gitu. oh ya, Ini ada surat dari sekolah kamu, tadi nggak sengaja aku lewat rumah kamu, trus mampir dan mbok Yana ngasih ini.. katanya kamu diperbolehkan ikut ujian akhir, nanti bulan Juni, jadi kamu siapin aja mulai sekarang.”
“Bener, Yan? Aku bisa ujian? Bisa lulus?” Dinda menatap Ryan tak percaya. Ryan mengangguk, ”Bisa ujian, kalo lulus mah tergantung kamu”
Dinda memplototi Ryan dengan jengkel. Ryan langsung salah tingkah.
Sejak kejadian itu Dinda memang sudah tak pernah memikirkan akan masuk sekolah lagi, apalagi yang namanya mengikuti ujian. Bukannya tak ingin, tapi dalam situasi seperti ini?
“Trus, bungkusan itu?” Dinda melirik bungkusan yang dijinjing Ryan.
“Ini ada titipan dari rumah, mbok Yana udah cerita sama aku soal penyakit kamu, trus Mbok Yana nitip ini ke aku, katanya ini ramuan tradisional untuk mengobati tebece, campuran dari bunga tembelekan, akar alang – alang, kencur, gula batu rebus, sama air yang disaring.” jelas Ryan panjang lebar.
“Buat apa?” Dinda bingung.
“Ya buat kamu minum tiap hari.”
“Kamu kan tahu aku paling benci minum jamu? Pahit! ”
“Mau aku suruh Zahra maksa kamu minum?”
Dinda menggeleng dengan cepat. Ryan ketawa melihat ekspresi Dinda yang langsung seperti orang mau muntah, “ Bodo! Kata simbok ini bisa buat nyembuhin tebece, tapi kamu harus minum rutin dua kali sehari, trus katanya ini untuk selanjutnya kamu harus ambil sendiri tiap pagi ke rumah, jelas?”
Dinda mengkerut. Huh.. udah maksa, pahit, pake ngambil sendiri lagi! maunya diambilin! He.. he.. Dinda nyengir.
Tapi sesaat kemudian Dinda kembali terdiam.
Rumah? Oh! Ya.. mengapa tak pernah terpikirkan olehnya selama ini? ia masih memiliki rumah! Tapi, kalau rumah itu ia jual atau sewakan?, bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Ayah nanti? lalu ia akan tinggal dimana? tapi, bukankah yang penting ayah bisa sembuh? Bukankah ia bisa mencari kontrakan kecil dulu, sambil mencari kerja? Apapun akan dikorbankannya untuk ayah! ya, apapun! Termasuk jatah berobatnya yang habis akhir bulan ini.. (Eit, diam – diam ya! ini nggak boleh ketahuan Ryan, lho!)
“Makasih Yan!, tolong jaga Ayahku sebentar ya..! bentar lagi aku balik kok, ok? Nggak pake lama kok, paling cuma beberapa jam. Kalau Zahra datang, suruh nunggu aja, ok?” Dinda mengatupkan kedua tangan di dadanya.
Lalu gadis itu langsung berlari, setelah mengambil dompetnya di laci lemari bangsal tempat ayahnya dirawat, tanpa mempedulikan Ryan yang masih bingung menatap bungkusan dan surat yang masih digenggamnya. Bingung. Makasih? For what? (kan titipannye belom aye kasihin, non!) .
….……bersambung ke bagian sepuluh……………
leve coment y