Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Jumat, 25 Juni 2010
Pindah Blog
Cek di blog tersebut ya, banyak cerita seru lainnya lho..!
terima kasih.
Rabu, 23 Juni 2010
RB-Bagian Delapan Belas
“Ma, Fery ma.. Fery jahat sama anggi, nuduh Anggi yang nggak – nggak, ma..!” sahut Anggi, ia menarik – narik tangan tante Tari seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya.
Dinda terperangah, keningnya langsung berkerut., “Mama?” ucap Dinda spontan.
Tante Tari berpaling pada Fery, “Ada apa sebenarnya, Fer?” tanyanya bingung.
“Semua akan jelas, ma..” ucap Fery. Suaranya bergetar.
“Jadi.. Fery dan Anggi..” suara Dinda seperti tersekat. Pram menatap kejadian di depannya dengan tatapan bingung. Untungnya Fery segera cepat tanggap dengan raut muka Dinda dan Pram.
“Ya, Din, Anggi adalah adikku satu - satunya..” jelas Fery menjawab dan memberi kepastian atas pertanyaan di kepala Dinda dan om Pram.
Dinda memandang Anggi, “Nggi, kenapa kamu nggak pernah bilang tentang hal ini?”
Anggi melengos.
“Maaf, Nggi.. gw nggak dapat lagi ngebantu elo, gw nggak bisa ngebohongin diri gw terus, gw nggak bisa melihat Dinda lebih mederita lagi..” Feri memandang Anggi.
APA?!
Dinda terbelalak kaget. Kepalanya semakin terasa berat. Anggi langsung terlihat beringas, “Bohong! Lu bohong Fer! Gw nggak salah! Anggi nggak salah, ma.. Din, gw nggak bohong Din.. semua Fery yang ngelakuin, bukan gw..!!” Anggi menarik lengan baju mamanya
“Nggi, nggak ada gunanya menyangkal lagi Nggi, gw ngeliat mobil lu lewat di depan gw di malam gw mau nambrak om Pram, lu juga yang ngirim surat dan nyebarin berita itu di sekolah, lu juga yang melarang temen – temen lu buat ngejenguk dan deketin Dinda, termasuk Selvy, lu juga kan yang sengaja ngajak gw ke kafe itu kan? bahkan lu ngejebak dia dengan ngasih nomor telpon Dinda ke Ryan, tapi lu gagal karena ternyata Ryan akhirnya memang benar – benar bersahabat dengan Dinda, nggak seperti keinginan lu kan?” Fery terlihat berusaha menahan perasaannya yang hancur lebur. Dinda terbelalak.
“Dari mana lu tahu?!! Hah!!” Bentak Anggi. Mukanya memerah menahan marah dan kesal. Fery segera menuju meja belajar kamar itu dan mengeluarkan sebuah buku berwarna pink, seperti sebuah diary.
“BRENGSEKK! Lu brengsek Fer..!!” Anggi berusaha menerjang dan memukul Fery. Pram dan tante Tari segera memeganginya. Anggi memberontak.
“Maafin gw Nggi, gw ngelakuin ini semua justru karena gw sayang sama elo, gw nggak mau lu ngelakuin yang lebih jauh lagi..” Fery menahan perasaannya.
“Bohong!! Lu brengsek, Fer!”
Dinda terpana. Ia seperti tidak yakin dengan apa yang di dengarnya, “Anggi? Jadi.. elo..”
“Iya, gw! kenapa kaget? Iya, gw yang ngambil hasil lab lu yang lu taro di tempat tidur waktu kita mo berangkat ke pesta, gw juga yang ngatur pertemuan lu sama Fery yang brengsek ini, gw yang nyebarin di sekolah, gw yang kirim surat, gw yang nabrak ayah lu, gw yang bikin Selvy dan temen – teman menjauh dari lu, semuanya gw!! Termasuk gw yang suruh Selvy ngejauhin elo! Ngerti?!!” bentak Anggi, bibirnya menyeringai. Seperti seringai seekor srigala yang bersiap menerkam mangsanya. Dinda tergidik.
“Kenapa lu lakuin semua ini ke gw Nggi? Apa salah gw?” tanya Dinda berusaha setenang mungkin, agar kepalanya tidak semakin sakit.
“Kenapa lu harus kaget? Awalnya gw nggak mau ngelakuin itu, tapi ini karena lu Fer! Lu lamban!” Fery menuding Fery. Tangannya teracung di depan wajah Fery, ”Awalnya lu nggak salah Din.. yang salah itu bokap lu ini!!” Anggi menunjuk Pram yang berdiri di samping Dinda. Lalu, ”Gara-gara bokap lu ini gw harus kehilangan papa! Gw harus menderita, beda sama lu yang hidup dengan tenang..” mata Anggi memerah menahan marah.
“Anggi, om benar – benar tidak sengaja.. itu benar - benar kecelakaan..!” Pram buka suara.
“Benar Nggi..”tante Tari berusaha meyakinkan putrinya.
“Gw nggak peduli!” Anggi histeris.
“Jadi.. lu temenan sama gw untuk balas dendam?”
“Tadinya nggak juga, tapi begitu ngeliat lu yang begitu cantik, baik, dan perfect, gw jadi benci!” Anggi histeris.
“Kenapa Nggi? Padahal gw nganggap lu temen baik gw.. sahabat gw..” tanya Dinda bingung, bercampur sedih.
“Teman baik? O.. justru itu, lu tahu kenapa gw justru benci sama lu justru setelah gw jadi temen baik lu?”
Dinda menggeleng.
Anggi menatap Dinda semakin tajam, “Justru itu, karena lu terlalu baik, semua teman – teman yang awalnya nurut sama gw, justru jadi nurut sama lu! Apa – apa lu, ini – itu elu, dan gw? gw selalu kalah sama lu Din.. bener! Kayak buntut!”
“Tapi gw nggak pernah bermaksud begitu, Nggi..”
“Alaaah.. nggak usah sok baik!”
“Gw nggak sok baik, gw Cuma pengen lu tahu kalo gw nggak pernah bermaksud membuat lu jadi nomor dua.. “
“Basi!”
“Nggi, kalau lu beranggapan, gw bahagia setelah kecelakaan itu, lu salah besar. Gw juga kehilangan bunda..”
“Benar Nggi, kamu nggak tahu apa – apa, kamu nggak pantas menyalahkan Dinda. Dindapun sudah kehilangan ibunya karena kecelakaan itu, sama kayak kita.. dan satu hal yang nggak kamu tahu, selama itu ayah Dindalah yang membantu mama, sampai kita bisa hidup kayak gini..” tante Tari membujuk Anggi.
“Itu belum cukup, ma.. karena papa nggak akan bisa diganti dengan harta ini!!”
Dinda terdiam. Sekali lagi sekeping hatinya terasa hancur lebur dan berderai. Kepala Dinda menjadi terasa semakin berat dan pusing. Semua peristiwa beberapa waktu lalu langsung terasa berputar – putar di kepalanya. Berbagai kejadian langsung hadir bergantian dan berebut di ruang benak kepala Dinda. Jantung dinda berpacu dengan cepat dan berdebar dengan keras. Wajah – wajah di depannya semakin menjauh dan mengabur. Tubuh gadis itu terkulai. Semua terasa gelap. Brukk!
Sementara itu di tempat lain..
Ryan tengah sibuk mengklik situs – situs di internet. sesekali tangannya mengganti kata kunci yang dicarinya, lalu mencatat informasi – informasi yang telah didapatnya. Demikianlah yang dilakukannya berulang – ulang, hingga didapatkannya sederet informasi yang dibutuhkannya yaitu, sebuah halaman yang memuat informasi tentang sebuah rumah sakit khusus yang didirikan oleh WHO dan Latvia untuk perawatan khusus penderita TBC, yang merupakan rumah sakit khusus yang menangani kuman tebece yang kebal terhadap obat – obatan atau pengobatan yang sering terputus dalam waktu yang lebih pendek!.Dinda nggak akan semenderita berobat di sini, yang pengobatannya harus melalui suntikan setiap hari atau obat yang berkepanjangan selama enam bulan atau sembilan bulan, atau bahkan lebih!
Ryan tersenyum. Segera dimatikannya komputer rental tersebut. setelah membayar di kasir, segera ia berlari mencari wartel terdekat. Hanya satu yang ia ingin lakukan saat ini yaitu, memberitakan kabar gembira ini kepada Dinda! Dinda pasti senang, karena ia akan sembuh!
Ryan langsung menekan beberapa digit nomor telpon interlokal. RrRrRr..!!!RrRrRr..!! RrRrRr…
Sepi. Tak ada jawaban.
Ryan menekan nomor itu sekali lagi, namun lagi – lagi tak ada yang mengangkat. Kemana gadis itu? Bukankah seharusnya ia ada di rumah, atau ayah ada di rumah?
Ryan akhirnya menyerah. Ia memutar kepalanya. Zahra, ya.. ia akan menelpon Zahra saja. Tepat setelah dering ke dua barulah telpon di seberang diangkat. Ryan bicara dengan tidak sabar.
“Halo, Assalamu’alaikum, Zahra, ini kakak,. APA Ra?! Dinda dirawat di rumah sakit?! Keadaannya bagaimana?.. APA??! Di mana Ra? Ibu lagi kesana?”
Ryan meletakkan gagang telpon dengan tergesa – gesa dan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Ia tersandar lemas di depan box telepon. Pikirannya kalut, air mata mengalir deras dan membanjiri sudut matanya. TIDAAAK! Dinda…!!
………bersambung ke bagian 19………..
RB - Bagian Tujuh Belas
Tak lama kemudian, senyumnya mengembang. Hatinya bersorak, sesuai rencana, akhirnya gadis itu datang! Dinda datang! Ah, lihat saja, sebentar lagi akan ada kekacauan sodara – sodara! Perang saudara antara ayah dan anak! Hati gadis itu bersorak riang.
Sesuai rencana, Dinda berjalan tergesa – gesa memasuki pekarangan rumah yang tak diketahuinya siapa si empunya rumah itu. Si gadis langsung mengambil tempat strategis untuk mendengar pembicaraan, namun tak terlihat dari lantai satu.
Sesampainya di pintu masuk, Dinda segera mengetuk pintu dengan ragu - ragu. Seorang perempuan setengah baya segera membukakan pintu dan mempersilahkan gadis itu masuk. Namun, baru beberapa langkah Dinda melangkah, ia langsung terperanjat dengan pemandangan di depannya. Matanya terpaku pada dua sosok yanga tengah asyik berbicara di ruang tengah. Ayah? Siapa wanita itu? pemilik rumah inikah? oh! Tante Tari!
“Dinda?” Ayah Dinda dan tante Tari serempak berseru kaget. Kedua sosok itupun seperti sangat terkejut ketika menyadari kehadiran Dinda di sana. Dinda seperti ingin lari saat itu, tapi rasa keingintahuannya lagi – lagi membuat kakinya seperti terpaku dan tak mampu beranjak dari tempatnya berpijak. Kenapa ayah tak pernah cerita kalau ternyata ia mengenal tante Tari? kenapa ayah mesti merahasiakan pertemuan ini? Hati Dinda berbisik, semua harus jelas! Semua teka – teki ini harus diselesaikan!
Pram dan tante Tari bergegas menghampiri Dinda.
“Ayah? Tante? Kenapa..” Dinda gelagapan. Kepalanya pusing, semua pertanyaannya yang tadi menempel di kepalanya tadi seperti hilang seketika.
“Dinda.. denger dulu penjelasan ayah..” Pram berusaha menenangkan Dinda, di rengkuhnya gadis itu untuk segera duduk.
Tapi tampaknya kepala gadis itu tak dapat lagi menguasai hatinya. Dinda menepiskan tangan ayahnya,” Apa arti semua ini, yah? Lalu cerita ayah beberapa hari yang lalu itu… ”
“Dinda, sungguh…”
“Nggak usah ayah, cukup Dinda di sini aja.. ayo, ceritakan semua kebenaran yang selama ini ayah sembunyikan dari Dinda..” Dinda menatap Tari dengan tatapan sinis.
“Nggak ada, sayang..”
“Jangan panggil Dinda kayak gitu, sampai semuanya ayah ceritakan.. Dinda sudah siap dengerin semuanya, Dinda sudah siap sejak Dinda melihat tante datang ke rumah sakit, membayarkan semua sisa biaya rumah sakit ayah, ayo tante, ayah..” Dinda mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
“Dinda.. kami tak ada hubungan apa-apa. Sungguh!” jelas tante Tari.
“Seperti.. teman maksud tante?”
Tante Tari dan Pram mengangguk.
“Teman? kok kayak anak kecil aja? Atau emang ayah dan tante yang menganggap Dinda sebagai anak kecil, yang nggak mengerti apa – apa? Dinda kan punya mata dan hati. Ha?” Dinda tertawa sini.
“Ya, Din.. percayalah sama ayah, ayah nggak pernah bohong sama kamu. Ayah kesini cuma mau ngucapin terima kasih.” Pram meyakinkan Dinda.
“Apa wajar teman membayarkan biaya sebanyak itu? dengan cara rahasia - rahasiaan segala? apa wajar pake kirim - kiriman bunga segala? Apa wajar ketemu diam – diam dan tanpa sepengetahuan Dinda?”
“Tante emang membayar sisa biayanya, itu sebagai.. ah, tante punya alasan.. tapi.. bunga? Bunga apa?” tante Tari terlihat bingung.
“Alah, tante nggak usah pura – pura nggak tahu!” Dinda kesal, ”Gimana mungkin tante nggak tahu bunga yang tante letakkan di kamar ayah waktu ke rumah sakit itu! Dinda nggak bodoh tante, Dinda udah dewasa.. udah ngerti!” mata gadis itu semakin merah menahan perasaannya yang bercampur aduk. Pram dan Tari saling berpandangan.
“Sekarang.. Dinda udah nggak percaya sama siapapun..”
“Dinda, ayah…” Pram mencoba memotong.
“Stop yah, Dinda belum selesai.. Dinda capek dibohongin.. sama tante yang baik dan Dinda kira nggak punya maksud apa – apa, sama ayah yang semua Dinda korbankan untuknya, tapi bohong sama Dinda, ayah jahat! “
“Maafin ayah Dinda.. ayah nggak bermaksud bohong sama kamu.. “ Pram menatap Dinda dengan sungguh-sungguh. Dinda tak bergeming, sampai…
“Ayah kamu benar Din, dia nggak bohong.. diantara kami emang nggak ada apa – apa, pasti itu Cuma kerjaan orang iseng.. kamu harus percaya itu.” tante Tari ikut meyakinkan Dinda.
“Dinda nggak percaya… Dinda nggak percaya..” dinda menggeleng. Air mata dengan deras membanjiri pipinya dari tadi.
“Cukup Din, semua yang dikatakan ayah kamu dan mamaku bener, tak ada yang membohongimu..”
Sebuah suara bariton yang rasanya amat dikenalnya membuat kepala Dinda menoleh, oh.. tidak hanya Dinda, tapi juga tante Tari dan Pram, ayah Dinda. Jantung Dinda langsung berdegup kencang. Keningnya mengernyit, mulutnya yangsung berucap spontan, “Fery? Ngapain kamu di sini?”
“Boleh kan aku di sini sesukaku, di rumahku sendiri.”
“Ya, Din.. maaf, aku udah dengerin kalian dari tadi dan aku rasa aku harus ikut campur. Karena aku nggak tahan lagi harus terus membohongi kamu dan diriku sendiri..”
“Tau apa kamu?”
“Tahu semuanya, tapi please, tolong maafin aku dulu”
“Untuk apa?” Dinda bingung.
“Karena aku sempat benci sama kamu.. bukan, bukan karena tebece itu, bukan karena.,ah, tapi…”
“Tapi apa ?” tanya Dinda sengit.
“Tapi karena kecelakaan empat belas tahun yang lalu.. karena aku nggak bisa maafin ayah kamu yang bikin papaku meninggal karena ditabrak mobil ayah kamu… aku…” Fery tak dapat melanjutkan kata – katanya.
Dinda merasakan kepalanya semakin berat untuk menangkap kalimat – kalimat yang diucapkan Fery. Ia memandang ayahnya sebentar. Lelaki itu hanya mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Fery. Gadis itu memandang Fery dengan tatapan tajam.
“Jadi…jadi.. semua ini adalah acara balas dendam kamu sama mamamu sama aku dan ayah? Iya?!” Dinda setengah berteriak, “ Sukses acara kamu bikin aku kehilangan beasiswa? Sukses bikin aku kehilangan teman karena berita yang kamu sebarkan di sekolah? bahagia lihat ayahku terkapar berlumuran darah karena di tabrak? Masih kurang dengan keadaan kami yang sekarang tinggal di kontrakan kecil? Masih kurang? Apalagi yang kamu inginkan setelah ini? Hah?!” Dinda menatap Fery dan tante Tari tak berkedip. Semua uneg – unegnya selama ini seakan tumpah seketika.
“Tidak Din, kamu salah paham.. “Fery berusaha meyakinkan Dinda, juga Pram,
“Aku nggak percaya Fer, aku nggak percaya kamu tega melakukan perbuatan serendah itu sama aku dan ayahku!”
“Dengerin aku dulu, Din..”
“Apa? Apa yang harus aku dengerin?” Dinda semakin tak kuasa mngendalikan emosinya. Pram memegang pundak Dinda.
“Tadinya aku memang berencana menabrak oom di malam itu, aku ngikutin ayah kamu memang waktu, sampai ban mobilnya kempes di tengah jalan.. dan aku memang ikut berhenti beberapa meter setelah om Pram berhenti, tapi entah kenapa di saat – saat terakhir aku jadi bimbang, aku ngerasa aku sangat pengecut, dan akhirnya aku pulang tanpa mempedulikan apa – apa.. aku sama sekali nggak ngelakuin itu Din.. aku berani ber..”
“Apa?! Berani apa? Nggak ada lagi yang aku percaya sama kamu.. aku nggak nyangka Fer, kamu pengen kenal sama aku Cuma karena manfaatin aku aja untuk dendam kamu Fer..” Dinda memandang Fery, lalu beralih ke tante Tari,“ Tante juga.. semua nggak ada yang Dinda percaya..”
“Nggak Din, kamu nggak boleh ngomong begitu.. waktu di pesta itu aku belum tahu kalau kamu adalah anak om Pram, juga waktu makan malam itu, sungguh Din! Dan mama juga ngebantu biaya rumah sakit ayah kamu juga sebagai balas budi..”
“Aku nggak percaya..”
“Ya, Din.. mungkin Pram belum sempat cerita, dulu setelah papanya Fery, suami tante kecelakaan, papa kamu lah yang bantu tante dan perusahaan kami.. jadi, wajar kan kalo tante juga bantu ayah kamu?” jelas tante Tari.
“Jadi semua ini.. selama ini.. oh, Dinda bingung..” Dinda memegang kepalanya yang semakin sakit.
“Sebentar, ada yang harus kamu tahu..” ucap Fery.
Dengan tergesa - gesa Fery berlari meninggalkan Dinda, Pram dan mamanya menuju lantai dua. Entah apa yang akan dilakukannya, entahlah..
Satu menit, dua menit, lima menit berlalu. Fery tak juga muncul dari lantai dua. Dinda menunggu dengan dada berdebar. Tangannya masih memijit – mijit kepalanya yang semakin sakit. Sementara itu Pram dan tante Tari memandang gadis itu dengan tatapan cemas.
“AAAAAH...!”
Tiba – tiba Dinda, Pram dan tante Tari dikejutkan oleh teriakan melengking seorang perempuan yang terdengar dari lantai dua.
Mereka segera berlari menuju asal suara yang ternyata dari salah satu kamar itu. Langkah Dinda tiba – tiba terhenti. Kakinya seperti terpaku, matanya terbelalak kaget ketika menyaksikan peristiwa di depannya. Fery sedang berusaha menarik tangan seorang gadis yang meronta dengan sekuat tenaga. Gadis itu adalah.. Anggi!
………bersambung ke bagian 18……..
RB- Bagian Enam Belas
Tiga bulan kemudian…
Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.
Uhuk!! Uhuk!!
Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.
“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.
“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.
Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!
“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.
“O.. Ryan, sekarang dia
“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”
“Kakak ipar?”
“Ryan
Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.
Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.
“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.
Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini?
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.
“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.
Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?
Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.
Sementara itu…
Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?
Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.
Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!
Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.
“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.
“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.
Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.
“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.
“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.
“Tolong, Din!
“Ok, kamu Cuma punya waktu
Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.
“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.
Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.
“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”
“Karena apa?”
“Atas semua salah saya selama ini.”
“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”
“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”
“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”
Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “
“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!
“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.
Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”
“Aku dan Anggi..”
“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”
Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.
Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.
“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.
Uhuk! Huk!
Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah!
Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…
……………….
Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.
“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.
“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.
“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw
Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.
“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.
“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.
Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.
“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”
“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”
“Yah, namanya juga temen Din,
Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.
Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”
“Kalau mau? Cinta
Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”
“
“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.
“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.
Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.
Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?
……………….
“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.
Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!
Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?
Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di
Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?
Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!
…………bersambung ke bagian 17……
Selasa, 22 Juni 2010
RB - Bagian Lima Belas
Ryan tampak gugup, lalu menyeruput tehnya, lalu memutar – mutar cangkir itu. Dinda memperhatikan semua gelagat itu dengan cermat dan penuh curiga.
“Kenapa? aku nggak boleh tahu ya?” tanya Dinda hati – hati. Ryan langsung menoleh cepat, ia memandang Dinda, “Nggak Din, aku udah nggak punya ayah sejak kecil. Aku, Zahra dan ibuku hanya hidup bertiga aja.”
“Memangnya setelah berpisah dengan ayahmu, ibu kamu nggak pernah nikah lagi?”
“Nggak. Pernah aku suruh nikah lagi, tapi ibu menolak.”
“Kenapa?”
“Ya nggak tahu. Emang kenapa sih Din kok kamu tiba – tiba cerewet begini soal keluargaku?”Ryan sedikit kesal.
“Nggak. Nanya aja. Nggak boleh?”
“Boleh aja, Cuma kan nggak biasanya begitu.”
“Kan baru sekarang ingatnya, jadi baru sekarang juga nanyanya. Oh, udah ya, ada tamu, Dinda ke belakang dulu.” Dinda beranjak dari duduknya. Tapi, tiba – tiba..
“Din, tunggu..!”
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Ia segera berbalik, lalu menghampiri Ryan, “Ada apa? Ada yang mau kamu omongin?”
Ryan terlihat ragu – ragu,”Nggg, besok aku berangkat ke Bandung. Kuliah semester satu udah mau mulai. Aku.. aku..”
“Kamu kenapa?” tanya Dinda setenang mungkin.
“Aku minta maaf karena aku nggak bisa bantu kamu lagi dan mungkin aku akan titip Zahra.”
“Nggak apa-apa kok. Hati – hati ya di sana nanti. semoga semua yang kamu cita-citakan tercapai semua..”
“Oh ya, nanti sore aku dan Zahra diundang ke acara kegiatan sosial di kampung sebelah, kalau kamu mau ikut, nanti aku dan Zahra akan jemput kamu, mungkin untuk terakhir kalinya kita pergi bertiga ..”
Dinda mengangguk, lalu meninggalkan Ryan yang memandangnya sekilas dengan tatapan sedih untuk beberapa saat, lalu kembali asyik dengan pikirannya dan memutar – mutar cangkir tehnya, sambil sesekali memainkan sendok kecil yang tergeletak di atas piring di depannya itu.
Ryan termagu, tatapannya penuh dengan rasa was-was dan takut, “Ada apa sebenarnya? Mengapa Dinda tiba – tiba menanyakan hal itu, padahal selama ini sekalipun tak pernah dibicarakannya? Apakah Dinda sudah mengetahui semua rahasia itu? tentang aku, Zahra, dan Ibu? Kalau sudah, mengapa gadis itu tak langsung saja mengatakan hal itu? Ataukah aku harus mengatakan hal itu langsung kepadanya sebelum.. sebelum kami berpisah nanti? ah, tidak. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, semua pertanyaan dan teka – teki ini.. ”
Ryan menghabiskan potongan terakhir puding yang tersisa di piringnya, lalu menyeruput teh terakhir yang tersisa di dasar cangkirnya, lalu bergegas menuju kasir dan meninggalkan restoran kecil itu dengan perasaan kacau tak menentu.
…………………………
Rumah Ryan dan Zahra…
Zahra keluar menuju ruang makan untuk membuatkan Dinda minum. Ryan duduk dengan kepala tertunduk, “Din, aku.. mau bicara..” Ryan memecah kebekuan sore terakhir itu dengan suara gemetar. Ini untuk pertama kalinya Dinda melihat cowok itu bicara gelagapan sampai gemetar seperti ini.
“Ya, aku juga mau bicara..” sahut Dinda.
“Oh ya, ya udah kamu aja duluan..”
“Nggak, kamu aja Yan.”
Ryan menarik napas panjang. Wajahnya serius, sungguh sangat berbeda dengan Ryan yang biasanya. Dindapun demikian. Ia memperhatikan dengan pernuh perhatian dan menunggu kata – kata yang akan diucapkan Ryan dengan berdebar – debar dan rasa penasaran yang meluap – luap.
“Nggg, aku.. Cuma mau tanya, apa kamu sudah tahu rahasia.. rahasia diantara kita?”
“Maksud kamu rahasia orang tua kita?”
Ryan tampak sedikir terkejut dengan jawaban Dinda, tapi sesaat kemudian ia tampak sudah bisa menguasai keadaan kembali.
“Jadi.. jadi kamu sudah mengetahuinya?”
Dinda mengangguk,”Ya, aku tahu secara nggak sengaja.”
“Ok, ok. Sekarang giliran kamu bicara.”
“Aku Cuma beberapa pertanyaan..” sahut Dinda pendek.
“Apa itu?”
“Apa.. kamu terlibat dengan semua kejadian yang kami alami selama ini? kenapa kamu dan Zahra mendekatiku selama ini? Kenapa tiba – tiba kalian memasuki kehidupanku?”
“Din!”sanggah Ryan cepat, “Aku tak mengerti maksud kamu.. ok, ok. Aku akan cerita.. begini..” Ryan menarik napas dalam – dalam, ia mulai bercerita.
“Aku akui, memang sudah lama memperhatikan kamu, sejak satu sekolah denganmu. Aku sendiri nggak ngerti Din, tapi yang jelas aku merasa ada sesuatu yang membuat aku terus memperhatikanmu. Mungkin itulah yang disebut ikatan batin.. Waktu itu aku belum sadar kalau kamu adalah anak.. om Pram. Mama pernah cerita padaku tentang papaku, tepatnya mungkin papa tiriku.. dan kehidupannya di masa lalu, tapi.. aku benar – benar nggak tahu kalau siapa dia.. sampai waktu itu, waktu acara pemilihan siswa teladan itu.. secara nggak sengaja aku liahat profile kamu, nama orang tuamu.. dan akhirnya aku menyelidiki semuanya, dan akhirnya akupun mengetahui kenyataan itu..” Ryan mengakhiri ceritanya.
“Hanya itu?”
“Ya”
“Kamu nggak dendam sama aku?”tanya Dinda.
“Dendam? Kenapa aku harus dendam?”
“Karena ayahku meninggalkan kalian..”
Ryan memandang Dinda dengan tatapan tajam,“Aku percaya sama ibu, aku tetap berpegang pada kata – kata ibu. Ibu selalu mengatakan bahwa ia justru berhutang budi sama ayahmu, jadi itu juga yang membuat aku dan Zahra berusaha menemani kamu, menjagamu.. jadi tak ada alasan bagiku untuk membencimu.. tak ada alasan bagiku untuk membenci saudara tiriku sendiri.. dan…”
Ucapan Ryan terputus. Rupanya tanpa mereka sadari Zahra sudah berdiri di pintu ruang tamu dengan wajah terkejut dan tangannya yang memegang nampan gemetaran tak menentu. Wajah Ryan pucat pasi. Dinda memandang Ryan dan Zahra secara bergantian.
“Zahra udah dengar semuanya, kak.”
“Maafin kakak, Ra. Kakak dan Ibu terpaksa merahasiakan semuanya dari kamu.”
“Kenapa kak? Kenapa harus dirahasiakan?” terlihat sedikit kilat kemarahan dimata gadis itu. Zahra meletakkan baki yang dibawanya di atas meja, lalu duduk di samping Ryan.
“Karena.. kakak dan ibu nggak mau kamu punya anggapan yang salah tentang papa kamu.”
Ryan dan Dinda saling berpandangan dan menghela napas panjang. Zahra diam. Matanya terlihat mulai berkaca - kaca.
“Jadi.. papa Zahra masih hidup, kak?”
Ryan mengangguk ragu dan takut. Zahra kembali diam untuk beberapa saat. Ryan dan Dinda ikut diam, tak berani bicara. Mendadak suasana hening mencekam menguasai ruang tamu kecil itu. Sampai akhirnya tanpa diduga…
“Alhamdulillah… ya Allah, Zahra masih punya ayah.. dan punya kakak.” gumam lirih itu meluncur dari bibir gadis itu. Ia menghambur memeluk Dinda.
“Alhamdulillah.. “ sambut Ryan dan Dinda. Lega.
…………bersambung ke bagian enam belas……………..
Senin, 21 Juni 2010
RB - Bagian Tiga Belas
Tapi sesaat Pram bimbang. Benarkah anak itu adalah anak perempuan itu, anak Sintya? Kalau memang benar, mengapa anak itu tak pernah mengatakan apapun tentang dirinya ataupun tentang ibunya? Apakah karena anak itu tak tahu ada hubungan apa antara ia dan ibunya? Apakah wanita itu tak pernah cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum anak itu lahir ke dunia ini? Ataukah ada sesuatu di balik semua ini?
Pram resah. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat itu, ke sebuah rahasia tak seorangpun mengetahuinya…
…………………
Delapan belas tahun Lalu…
Pram mengendarai mobilnya dengan hati – hati melewati tikungan demi tikungan. Ia baru saja pulang dari menyelesaikan sebuah proyeknya di sebuah desa kecil di daerah Jawa barat. Sesekali matanya melirik spion dan sesekali memandang deretan tebing – tebing tinggi yang dilewatinya. Sepi dan sunyi.
Namun tiba – tiba matanya menangkap seperti sesosok orang yang terbaring diantara semak – semak di bawah tebing curam itu. Pram berusaha menepis pa yang terpikir oleh otaknya. Tapi, akhirnya ia menghentikan mobilnya juga dengan mendadak, lalu mundur kembali ke tempat yang tadi ia yakini dimana ia melihat sosok terbaring itu. Dadanya berdegup kencang ketika menyadari bahwa penglihatannya ternyata tidak salah! Seonggok tubuh manusia!
Sosok itu tak bergerak. Tapi Pram yakin sosok itu adalah manusia. Ia lalu memutuskan untuk turun, lalu mendekati sosok terbaring tak berdaya itu.
Pram terkesiap. Wanita. Ternyata seorang wanita!. Pram meraba denyut nadi wanita itu. Ia lalu bernapas lega ketika didapatinya nadi wanita itu masih berdenyut. Tanpa menunggu lagi, segera digotongnya sosok itu ke mobilnya, lalu melarikan mobil itu dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.
…………………………..
Pram berdiri dengan gelisah di depan kamar sebuah rumah sakit. Dua puluh menit sudah ia menunggui wanita itu, namun wanita yang tak dikenal itu belum juga siuman dan dokter masih belum keluar dari kamar itu. hatinya bertanya – tanya, apakah sebenarnya yang terjadi dengan wanita itu? korban perampokankah, perkosaankah, pembunuhankah, atau apa?
Pram menduga – duga dalam hati, sambil sesekali menguap. Sampai sebuah teriakan histeris yang berasal dari kamar yang ditunggunya itu mengagetkannya. Pram mencoba mendekati pintu, namun belum ada tanda – tanda pintu itu akan dibuka. Lalu ia mencoba mengintip dari celah – celah hordeng jendela.
Samar – samar ia bisa melihat seorang wanita (wanita itu) sedang meronta dan histeris. Para suster dan dokter tampak berusaha menenangkannya dengan susah payah. Dan.. lalu wanita itu terkulai lemah. Mungkin diberi suntik penenang, pikir Pram.
Selang beberapa detik, pintu kamar itu terbuka. Seorang dokter segera menghampiri Pram, “Maaf, apakah anda keluarga yang ada di dalam?” tanya dokter itu pada Pram.
Pram menggeleng, “Sebenarnya bukan, dok. Memang saya yang membawanya tadi kesini dan mengurus administrasinya, saya temukan dia dalam keadaan tak sadar, saya sendiri belum tahu siapa dia.”
“O.. begitu. Namanya Sintya, ia mengatakannya kepada kami tadi. Sekarang ia sedang istirahat.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, dok?”
“Hanya ia sendiri yang tahu apa yang menimpanya. Kemungkinan ia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya shok berat, dan ia sedang hamil. Saya khawatir kondisinya bisa berakibat buruk bagi bayinya. Mungkin nanti setelah ia tenang, anda bisa menemui dan menanyainya. Saya permisi dulu, saya sarankan anda menungguinya dulu sementara waktu.”
“Baik, dok. Terima kasih.”
Dokter itu berlalu. Tinggallah Pram dengan kebingungannya. Ia lalu mengambil handpone-nya kembali, lalu menelpon Tyas, memberitahukan pembatalan kepulangannya. Ia lalu melangkah masuk menuju kursi ruang tamu kamar itu. Sekilas melemparkan pandangan ke sosok yang terbaring tenang di ruangan itu.
…………………….
Suara sesegukan tangis membangunkan Pram yang tertidur di sofa itu. Pram mengerjab – ngerjabkan matanya, lalu melihat Sintya, wanita itu, tengah menangis. Pram mencoba mendekat.
“Maaf, saya yang membawa anda semalam ke sini.”
“Kenapa?” tanya wanita itu dengan kesal, “Kenapa?”
“Mengapa? Mengapa saya bawa ke sini? Karena saya ingin menolong anda.” Pram sedikit kesal dengan pertanyaan itu.
“Biarkan, kenapa nggak biarin aja saya mati? Biar saya mati.. saya tak pantas lagi untuk hidup” wanita itu tergugu. Tangisnya semakin kencang dan memilukan, seakan sedang menyesali sesuatu. Bibirnya mengucapkan kalimat – kalimat tak jelas. Pram menunggu sampai wanita itu menuntaskan tangisnya.
“Boleh saya bertanya tentang apa yang menyebabkan anda seperti ini? Saya janji akan membantu semampu saya.” Pram memberanikan diri bertanya.
“Nggak ada yang bisa bantu saya..!!”
“Saya akan coba.“Pram meyakinkan.
Wanita itu menyeka air matanya, ia terdiam beberapa saat, matanya menerawang jauh..
“Dia.. saya bertemu dengannya sudah lama, sejak saya bekerja di salah satu perusahaannya, dia bilang.. dia mencntai saya dan akan menikahi saya, tapi.. tapi dia malah menghancurkan hidup saya, dia meninggalkan saya, mencampakkan saya saat tahu saya sedang hamil, dan berpaling pada wanita lain. Ia menikah dengan wanita lain dan dia.. dia tidak mengakui anak ini..” wanita itu meraba perutnya.
“Saya sudah terlanjur berbohong pada keluarga saya bahwa saya saya sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Ya, saya terpaksa berbohong demi anak ini, dan berharap ia akan segera menikahi saya walaupun hanya nikah sirri, dan kami bisa pulang menjenguk orang tua saya di kampung nanti bersama – sama. Tapi, dia tetap tidak mengindahkan permintaan saya. Ia malah pindah ke kota di mana wanita itu tinggal. Saya bingung..! saya ingin pulang, tapi saya tak berani pulang sendiri. Saya sudah terlanjur bilang kalau saya pulang bersama suami saya, tapi sekarang hidup saya sudah hancur, saya ingin mati saja.. biarkan saya mati..”
Wanita itu menangis lagi. Pram tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya duduk memandangi wanita itu dengan sedih. Sebuah pikiran lalu terlintas di benaknya.
“Berapa lama Nona…”
“Sintya, nama saya Sintya.”
“Ya, baik. Sintya, berapa lama anda akan menjenguk orang tua anda itu?”
“Orang tua saya di Sukabumi, biasanya hanya dua hari.”
“Hanya dua hari?”
“Ya, kenapa?”
“Saya rasa anda tak bisa pulang sendirian dengan kondisi psikologis seperti ini. Saya akan mengantar anda. Itu kalau anda tak keberatan dengan bantuan yang saya tawarkan itu.”
“Maksud anda?”
“Saya akan mengantar nona, kalau nona mengizinkan, setelah itu saya akan pulang.”
“Itu artinya… tidak! saya tak sanggup pulang. Saya tak sanggup menghadapi semua ini! Saya nggak bisa..! Saya nggak berani..!”
“Saya akan antar.”
“Imbalan apa yang anda harapkan dari saya?”
“Tidak ada.”
“Apa?!” Sintya terperanjat.
“Ya, tidak ada. Saya hanya ingin membantu saja. Tapi, sungguh saya tidak akan melakukan apa-apa selain memainkan peran yang akan anda berikan kepada saya di depan orang tua anda, entah sebagai teman, adik, sopir, ataupun yang lainnya. Semua terserah anda. Hanya itu. saya bersumpah.”
“Setelah itu?”
“Setelah mengantar anda saya langsung pulang, dan urusan selanjutnya adalah urusan anda, tapi saya sarankan anda istirahat dulu di sana sampai kondisi anda membaik. Kasihan, bayi itu tak berdosa. Akan lebih berdosa lagi kalau membiarkannya tersia – siakan. Mati tak akan menyelesaikan masalah. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya, walaupun itu harus menempuh jalan yang sulit. Jadi, hadapilah! Mengakui kebohongan dan keadaan yang sebenarnya memang sulit, tapi akan lebih sulit lagi kalau menyelesaikan kebohongan dengan kebohongan lagi..”
“Jadi?”
“Jadi, saya sarankan anda menceritakan yang sebenarnya kepada keluarga anda, saya yakin mereka akan mengerti.”
Wanita itu termenung. Lalu mengangguk dengan perlahan. Itulah awal perkenalan mereka. Pram dan Sintya.
……………………..
DORRRR!!!
Suara dan tepukan di bahunya membuat Pram kembali ke dunia yang sebenarnya. Dilihatnya Dinda cengengesan duduk di sampingnya.
“Dinda, ngagetin ayah aja!”
“Emang ada yang papa pikirin ya?”
“Nggak..”
“Bohong. Buaya kok mau dikadalin?”
“Emang ini buaya, ya?” Pram menunjuk Dinda.
“Ah, ayah mah gitu!” Dinda cemberut, “Ayo dong cerita ke Dinda!”
“Emang nggak, Cuma ingat masa lalu.”
“Ah, yang bener? Ada yang ayah rahasiakan ya ke Dinda?”
“Emang kamu merasa begitu?”
Dinda mengangguk, “Dinda kan udah gede, Yah.. Dinda kan udah bisa mengerti. Ya, kalau ayah nggak keberatan Dinda menawarkan diri lho untuk mendengarkan cerita atau masalah ayah.”
“Duh, bidadari kecilku udah dewasa nih ceritanya?” Pram mengacak rambut Dinda, “Tapi bener kok, ayah cuma inget masa lalu..”
“Ya udah, kalau nggak mau, Dinda nggak maksa!” Gadis itu cemberut.
Pram tersenyum, “Lho, katanya udah dewasa? Tapi kok cemberut gitu? Ngambek? Ok, nih, sini papa ceritain. Dulu, jaman dahulu kala, seribu tahun yang lalu..” Pram memulai ceritanya, tapi tiba-tiba..
“Stop, stop. Ih, ayah nyebelin! emangnya Dinda anak kecil apa? Pake mulai dari jaman dahulu kala..”
“Lha, trus apa dong?”
“Apa kek, waktu kek, tahun kek..”
“Iya, ya.. bidadari kecil, eh, Bidadari dewasa. Begini.. “
Lalu mengalir mengalirlah cerita Pram tentang ingatannya tadi, tentang Sintya. Dinda mendengarkannya dengan serius.
“Lalu…?”
“Lalu kami sempat bertemu beberapa kali setelah itu dan setahun kemudian baru ayah menikah dengannya, dengan Sintya.”
Dinda merasakan debar di dadanya lebih cepat dan semua saraf – sarafnya menegang, “Jadi.. jadi ayah punya istri lain selain bunda? Ayah ayah pernah mengkhianati bunda?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Ayah menikahi Sintya atas saran dan persetujuan dan saran dari bundamu.”
“Bunda melakukan itu? mengapa?”
“Itulah yang sampai sekarang belum ayah mengerti. Ia merelakan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Yang ayah tahu..Tyas, bundamu, adalah seorang bidadari, benar – benar seperti bidadari dan memiliki hati bidadari, sampai sekarangpun ayah tak tahu rahasia bidadari itu sehingga bisa setegar itu…”
“Lalu, dimana tante Sintya sekarang?”
“Ayah nggak tahu.”
“Apa bunda pernah bertemu dengannya?”
“Belum. Seharusnya kita, Ayah, bunda, dan kamu bertemu empat belas tahun yang lalu. Tapi, kecelakaan itu… ya, dalam perjalanan kesana terjadi kecelakaan itu, dan bundamu…” Pram tak kuasa meneruskan kata – katanya.
“Ya, Dinda mengerti. Tapi, kenapa setelah itu ayah tidak mau menemui siapa?oh, tante Syntya?”
Pram menatap Dinda sedih.
“Bukannya tidak mau. Enam bulan setelah kecelakaan itu, setelah ayah sembuh, ayah berusaha mencarinya ke rumah kami yang dulu, tapi kata para tetangga di sana, Sintya dan anaknya sudah pindah sejak beberapa bulan yang lalu, lalu papa mencari ke rumah orang tuanya, di Sukabumi, tapi mereka bilang, mereka tak tahu apa – apa tentang keberadaannya..”
Dinda manggut-manggut, dahinya berkerut.
“Ngg.. bukankah dia punya anak?”
“Ya, dua orang, yang satu mungkin kalau masih hidup, mungkin seumur kamu, karena waktu itu kalian lahir secara bersamaan, Cuma beda bulan. Sedang satu lagi waktu itu masih dalam kandungan. Ayah juga nggak tahu, laki – laki atau perempuan..”
“Berarti Dinda punya adik tiri?”
“Bukan, satu kakak tiri, dia lebih dulu lahir dari kamu. Dan satu adik tiri”
“Ya, kakak tiri dan adik tiri.” Ucap Dinda pelan.
Kepala Dinda kembali berusaha memecahkan semua kata – kata yang terekam di otaknya tadi. Sebuah rahasia besar. Tapi, anak - anak itu… di mana sekarang anak yang disebut – sebut papa sebagai saudara tirinya itu? satu tanya sudah terjawab, meninggalkan pertanyaan baru di hati Dinda. Ibu tiri, saudara tiri…
“Oh ya, gimana kerjaannya? Dapet di butik atau took Islam seperti saran Ryan itu?”
Dinda menggelang, “Nggak yah, susah! Pada penuh! Kayaknya Dinda nyari kerjaan di restoran biasa aja dulu deh, sambil lihat – lihat kerjaan lain.”
“Yaaah, ayah nggak jadi ngelihat bidadari ayah pakai jilbab dong!”
“Emang belum saatnya kali, yah! Dinda kasih Zahra aja gelar bidadarinya deh, kan Zahra pakai jilbab!”
Pram tertawa,” Kamu ini ada – ada aja.”
Dinda ikut tertawa.
…………bersambung ke bagian empat belas……………..