Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Rabu, 23 Juni 2010
RB-Bagian Sembilan Belas
“Din, maafin kita semua, ya? Seharusnya kita tetap dampingin elo, bantuin elo untuk melewati semua ini.. seandainya saja kita nggak ninggalin elo.. pasti semuanya nggak akan begini.. ” Mia menggenggam tangan Dinda. Matanya dipenuhi oleh butir – butir bening air mata dan memancarkan rasa penyesalan yang amat sangat.
Dinda hanya mengangguk lemah sebagai jawaban. Hati Mia, Selly, Desy dan Anggi semakin teriris – iris. Ketiganya tak mampu menahan rasa sedih mereka dan menahan isak tangis.
Tiba – tiba suasana yang beku itu dicairkan oleh suara dari arah pintu. Dokter Frans!
“Bapak Pram, nyonya Tari..” panggilan dokter mengagetkan semua yang hadir di ruangan itu. Tanpa banyak bertanya, Pram dan Tari segera mengikuti isyarat dokter yang bernama Frans itu menuju ruangannya.
“Begini pak, ibu Tari.. kami tetap akan berusaha semampu kami, tapi kami juga tidak mau membohong bapak dan ibu tentang keadaan Dinda, ini adalah saat – saat yang sulit..” Dokter Frans membuka perbincangan.
“Memangnya keadaan Dinda bagaimana Dokter?” tanya Pram cepat.
“Tubercolosis sebenarnya penyakit yang bisa diobati dan pemerintah sendiri sebenarnya menyiapkan pengobatan gratis untuk penyakit ini. Kalau pasien bisa mengikuti pengobatan menurut semestinya, Insya Allah akan sembuh. Cuma, kebanyakan pasien biasanya tidak tahan karena pengobatan yang membutuhkan waktu yang panjang, sehingga banyak yang putus berobat.. dan akibatnya kumat tebece jadi kebal terhadap obat – obatan.. Dan itulah yang dialami Dinda yang putus berobat berkali – kali dan sudah terbilang parah dan sudah mengeluarkan batuk darah.. serta tebece tidak lagi hanya menyerang paru – parunya, tapi juga telah menyerah organ – organ lainnya.. dan juga mungkin karena selama ini ia kurang istirahat, kami menemukan ada pendarahan bagian organ dalamnya, untuk itu kami masih harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan ini,“ Dokter itu menunjuk hasil roentgen di layer proyektor di sampingnya,” Anda lihat kan? Dalam roentgen Thorax, tulang yang padat akan terlihat putih, sedangkan udara akan terlihat hitam.. tapi ini, lihatlah! Bayangan putih di mana – mana, itu artinya ada infeksi di mana – mana, dan juga undara yang tersimpan di paru – parunya sangat sedikit.”
“Berapa persen kemungkinan akan sembuh dok?” tanya Pram dengan penuh harap dan rasa takut.
“Ada, tapi sangat kecil kalau tidak segera ditangani.. sementara ini kami sudah memberi obat – obat yang mungkin akan membantu, tapi kami sendiri tidak yakin.. obat – obat itu hanya untuk sementara.. apalagi, kemungkinan pasien punya asma dan penyakit lainnya.. tapi, kami bukan tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, karena itu kita semua harus berdoa.”
Pram dan Tari menarik napas dalam – dalam. Semua terdiam.
“Maaf, Dokter…”
Suara lain di belakang mereka membuat ketiganya menoleh. Kaget. Ryan berdiri di sana.
“Ryan? Kok kamu bisa ke sini?” tanya Pram spontan.
“Maaf, apakah anda ada perlu dengan pak Pram atau Ibu Tari?” potong dokter Frans.
“Nggak, dokter. Saya Ryan, Nngg.. temannya Dinda. Ngg.. Maaf, sebenarnya saya sudah sejak tadi mendengar pembicaraan dokter di sini, hm.. saya Cuma menyampaikan informasi yang saya dapat.”
“Tentang apa?”
“Saya baca di internet, dan ternyata ada rumah sakit pertama yang didirikan oleh WHO dan pemerintah Latvia yang khusus menangani pasien putus berobat dan pasien yang terbilang cukup parah.”
“Oh, ya.. saya juga tahu hal itu, waktu pengobatannya cukup singkat dan memang saya tadinya akan menyarankan itu. Dan untuk pengobatan lainnya pun mungkin akan lebih baik di sana. Bagaimana pak, bu?” dokter Frans berpaling pada Pram dan tante Tari. Pram dan Tari menghela napas pasrah, seperti tak ada pilihan.
“Ngg.. tapi..” Ryan tiba – tiba tampak ragu.
“Tapi apa?” tanya Pram dan Tari serentak. Cemas.
“Saya juga dapat informasi kalau ternyata biayanya seratus kali lipat berobat biasa…”
“Itu benar.” Dokter Frans mengangguk mengiyakan.
“Saya akan bantu, dokter..” ucap tante Tari tiba – tiba, mengejutkan Pram dan Ryan. Tari mengangguk meyakinkan ketiga orang itu. Pram dan Ryan memandang Tari dengan tatapan terima kasih yang tak bisa digambarkan dengan kata- kata. Haru semerbak mewangi di ruangan itu seketika.
…………………
Fery masih termagu sendirian di samping tempat tidur Dinda. Matanya terus memandangi Dinda yang tertidur pulas. Hatinya masih terasa was-was, walaupun sejak beberapa saat yang lalu gadis di depannya itu tak lagi membutuhkan alat bantu pernapasan. Hatinya terasa pedih, begitu mengingat apa yang terjadi selama ini.
“Fer, Zahra..”
Fery dan Zahra yang sedari tadi membisu terlonjak kaget. Terlebih lagi melihat Dinda yang ternyata kini telah terbangun.
“Kok pada bengong? Mana.. yang lainnya?”
“Eh, em.. itu.. “ Fery gelagapan, “Temen – temen kamu udah pulang, waktu kamu tidur tadi, trus ayah kamu sama mamaku masih di ruang dokter..”
“Ra, Ryan udah datang ya?” tanya Dinda dengan suara lemah. Wajah terlihat semakin pucat, seputih kapas.
“Udah kak, maaf, Zahra terpaksa kasih tahu kak Ryan, tadi pas dia datang kakak lagi tidur, sekarang dia lagi ke ruang dokter.” Jawab Zahra agak cangung.
“Kamu nggak ngasih tau kan, Fer tentang apa yang terjadi?”
“Belum sempat, Din..”
“Ada apa sih kak?” Tanya Zahra penasaran.
Dinda tak menjawab, matanya terlihat berkaca – kaca. Zahra tak berani bertanya lebih jauh lagi.
“Tolong jangan kasih tau apa-apa ya? Janji ya, Fer?” pinta Dinda.
Fery mengangguk. Hatinya terasa teriris – iris dan sedih, “udah, Din.. kamu nggak usah mikirin apa – apa dulu, yang penting kamu bisa sembuh, ok? Oh, ya.. tadi Selvy telpon, dia titip salam buat kamu..” bujuk Fery.
“Iya.. makasih ya, kalian udah nungguin aku..”
“Seharusnya aku yang makasih, Din.. kamu nggak benci sama aku, padahal aku udah nyakitin hati kamu..” Fery tertunduk. Hatinya diliputi rasa bersalah. Dinda tersenyum.
“Udahlah, jangan diungkit lagi, semua ini bukan salah siapa – siapa. Lagipula aku senang sekarang, semua udah kembali kayak semula, teman – teman.. ayah.. kamu.. juga Ryan.. aku udah tenang sekarang, Fer.. kalaupun aku harus pergi..”
Fery dan Zahra tak tahan mendengar ucapan Dinda. Fery memalingkan mukanya. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Zahra reflek menyilangkan jarinya di bibir Dinda, menyuruh gadis itu menghentikan ucapannya, “Kak, please.. jangan bilang begitu, kakak pasti sembuh! kakak akan sembuh.”
“Benar, Din.. “
Terdengar suara dari arah Pintu ruangan yang terkuak.
“Ryan? Ayah? Tante Tari?” ucap Dinda.
“Ya, nak, besok kita akan berangkat ke Latvia..” jelas Pram. Dinda menatap ayahnya dengan bingung.
“Buat apa, yah?”
“Ya, buat berobat laah, masak mo piknik!” celetuk Ryan.
Dinda tersenyum, lalu “Trus, biayanya..?”
Pram dan Ryan tidak segera menjawab. Keduanya hanya memandang Tari dan mengedipkan mata sebagai isyarat. Dinda segera mengerti.
“Makasih ya, tante. Maaf, Dinda merepotkan..” tante Tari mengangguk, Dinda lalu berpaling pada Pram, “Ayah, Dinda mau bicara berempat dengan ayah, Zahra dan Ryan.” pinta Dinda
Pram bingung. Semua yang hadir di ruangan itu segera menyingkir, lalu melangkah ke luar ruangan dengan wajah mengerti, walaupun wajah mereka diliputi rasa ingin tahu.
“Ayah, ayah nggak akan menuntut Anggi kan?”
“Nggak, sayang. Ayah udah maafkan semuanya.”
“Ayah, kalau boleh, Dinda punya satu permintaan sebelum Dinda dibawa kesana” ucap Dinda. Pram memandang Dinda bingung.
“Permintaan apa, Din?” tanya Pram.
“Dinda.. Dinda ingin ayah mau bertemu dengan seseorang..” ucap gadis itu sembari berpaling pada Ryan. Ryan balas mengangguk.
“Siapa?”
Dinda berpikir sejenak, lalu dikuatkannya hati mengatakan hal itu, “Tante.. tante Sintya.” Jawabnya pendek. Wajah Pram langsung diliputi rasa terkejut.
Di sisi lain, Ryan dan Zahra memandang Dinda dengan tak kalah terkejut. Dinda balas menatap mereka dengan wajah memohon agar kedua kakak beradik itu mengerti.
“Yan, sudah saatnya semua rahasia ini dibongkar.” Gumam Dinda pelan. Ia memberi isyarat agar Ryan mendekat.
“Din, aku…” ia berusaha membantah, tapi akhirnya ia menyadari kebenaran kata-kata gadis itu. tak ada lagi yang harus dirahasiakan, jangan adalagi teka – teki!
Dinda berpaling pada Pram, “Yah, maaf Dinda menyelidiki ini sendiri dan tak memberitahu ayah tentang semua yang sudah Dinda ketahui selama ini.. ini Ryan, anaknya tante Sintya. Dan ini.. “ Dinda berpaling pada Zahra yang sedari tadi menunduk cemas.”Ini anak.. anak ayah..” Dinda mengucapkan kata-kata terakhir itu dengan penuh ragu – ragu.
Zahra tak berani menengadahkan mukanya. Wajah itu berubah seputih kapas. Pram apalagi. Ia terperanjat kaget, “Apa?! kamu bilang apa, Din?”
“Ya, ayah. Dinda.. Dinda menemukan photo tante Sintya dan ternyata.. dia adalah ibu dari Ryan dan Zahra, yang selama ini menemani Dinda, menjaga ayah..”
“Benarkah itu, Din? Ryan? Zahra”
Ketiganya langsung mengangguk menjawab pertanyaan itu. lalu ia memandang Dinda, Zahra dan Ryan secara bergantian. Tanpa diduga ia menghambur memeluk anak itu, memeluk Zahra, lalu memeluk Ryan.
“Ya Allah, terima kasih telah mempertemukan kami kembali…” air mata menetes dari sudut mata Pram. Dinda memandang pemandangan dengan perasaan haru.
“Kapan ayah mau menemui tante Sintya?” sela Dinda.
Pram melepaskan pelukannya, matanya memandang ketiga anak yang kini berdiri di depannya secara bergantian,”Ayah… ayah..” Pram tak dapat melanjutkan kata – katanya.
“Kenapa Yah?”
“Beri ayah waktu..” gumam laki – laki setengah baya itu lirih. Matanya menerawang sedih. Ryan segera memapahnya duduk di kursi di samping tempat tidur Dinda.
Semua menghela napas panjang.
……………………..
Sintya sedang duduk di kursi ruang tengah. Sebuah majalah tergeletak di depannya. Ia membolak – balik kertas itu dengan malas, seperti bosan dan capek. Tiba – tiba…
“Tok! Tok! Tok! Assalamu’alaikum…”
Suara ketukan pintu dan sebuah suara yang amat dikenalnya membuat ibu satu anak itu menoleh, “Wa’alaikumussalam” jawabnya, lalu beranjak menuju ruang tamu.
Namun sesaat kemudian langkahnya terhenti. Ia terpaku menatap orang – orang yang datang bersama Ryan. Mereka tak lain adalah Dinda dan.. Pram!
Ryan segera menyalami wanita itu, diikuti oleh Dinda, sedangkan Pram masih terpaku di depan pintu dengan mata tak berkedip dan rasa tak percaya dengan apa yang disaksikannya.
“Ibu.. maafkan Ryan. Ini..,”Ryan berpaling pada Pram,”Ibu.. ibu belum lupa bukan?”
Wanita itu tak bergeming dan seperti tak mendengar apa yang dikatakan Ryan. Matanya menatap lurus ke depan. Menatap Pram.
“Mas..” ucapnya dengan bibir gemetar.
“Sintya? Saya.. saya mencarimu kemana – mana…”
“Maafkan saya, mas…”
Dinda dan Ryan tak ingin menggangu suasana itu. Keduanya lalu segera menyingkir ke ruang tengah, membiarkan kedua orang yang baru bertemu itu.
Pram mendekati Sintya, “Saya.. Tyas..”
“Maafkan saya, mas. Saya pergi karena saya tak ingin merusak keluarga mas.. tapi, saya tak tahu kalau Tyas.. ah, saya tak tahu Tyas sudah meninggal.. sampai saya mendengar kata – kata yang diucapkan Dinda waktu acara sekolah itu.. saya benar – benar kaget..” Sintya mengucapkan kata – kata itu dengan mata berkaca-kaca. Perasaannya hancur berkeping – keping.
“Kamu tidak salah, saya yang salah.. saya yang melibatkan kamu dengan semua masalah ini.. saya yang tak berhasil menemukanmu..”
“Mas, jangan bilang begitu.. tak ada lagi yang harus disalahkan sekarang..”
Keduanya lalu beradu pandang, ada secercah kesedihan, kehilang dan kebahagiaan yang terpancar di sana.
“Mereka… “ Pram menunjuk Ryan dan Dinda yang memandang mereka dari kejauhan.
Sintya mengangguk, “Ya, mereka adalah anak – anak kita, anak – anak yang manis..” Gumamnya.
“Ya, rahasia Tuhan memang tak bisa kita duga.. “Ucapan syukur mengalir dari mulut Pram. Keduanya mengucapkan syukur tiada henti.
………………………..
Bandara Sukarno Hatta, dua hari kemudian…
Dinda membetulkan kain selendang yang menutupi kepala dan rambut panjangnya dengan rapat. Wajahnya yang pucat tertutupi oleh serinya. Empat orang gadis sebayanya bergantian memeluknya. Mereka adalah keempat sobat Dinda. Anggi menyerahkan handphon mungilnya kepada Dinda. Gadis itu menerimanya dengan senang.
“Makasih ya, semuanya..” jawab Dinda lirih.
Dinda langsung memeluk erat Anggi, Mia, Selly dan Desi, para sahabatnya sekali lagi, dengan perasaan bahagia bercampur sedih. Bahagia, karena semuanya sudah kembali seperti semula, sedih karena akan berpisah dan belum tentu akan bertemu kembali. Anggi, Mia, Selly dan Desy membalas pelukan Dinda. Kelima gadis itu tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata.
“Ayo, anak–anak, kita harus pergi sekarang.” Pram menyadarkan mereka akan waktu yang semakin sempit.
Anggi Cs segera melepaskan pelukan mereka. Dinda segera berpaling ke arah lain. Dinda segera menghampiri Fery dan Selvy yang hanya beberapa langkah darinya.
“Fer, makasih atas semuanya, Selv.. maaf ya, kalo gw sempat berburuk sangka sama elo, kapan lu balik lagi ke australi?”
“Sama – sama, Din.. mungkin minggu ini, alhamdulillah, tempat gw dapat beasiswa dulu nawarin beasiswa untuk nerusin kuliah gw juga, doakan aja lancar, biar ntar kalo lu nyusul tahun depan, udah ada yang bantu lo di sana.. ” ujar Selvy dan langsung memeluk Dinda. Dinda membalas pelukan itu dengan hangat.
Fery menyalami Dinda dengan canggung. Dinda menyambut uluran tangannya dengan menelungkupkan kedua tangannya di dada, seperti salaman ala sunda. Zahra memandang Dinda dengan tersenyum (karena yang ngajarin Dinda Zahra lho, termasuk kerudung yang sekarang menempel di kepala Dinda!)
“Ok, Hati – hati ya, Din. Oh, ya.. Yan, jaga Dinda baik – baik ya!” ucap Fery setengah berteriak ke arah Ryan. Ryan balas mengacungkan jempol, lalu bergegas memeluk Fery, “Sorry ya, gw sempat ngatain lu yang enggak – enggak..”ujar Ryan.
“Ah, justru gw yang harus minta maaf, jaga Dinda baik – baik ya, gw tahu cuma lu mengerti dia Yan, kayaknya gw harus belajar banyak nih dari elo sebelum gw jadi ipar lu...” Fery menepuk – nepuk punggung Ryan.
Semua yang hadir terbelalak, termasuk Dinda dan Zahra. Mereka semua serentak berseru, “Ipar?! Ngincer kakak atau adeknya?”.
Muka Dinda dan Zahra seketika itu juga berubah merah. Keduanya tertawa. Semua ikut tertawa.
Dinda, Pram, Anggi Cs, tante Tari dan Sintya memandang pemandangan itu dengan geleng – geleng kepala.
Dinda lalu berpaling pada Sintya, “I.. ibu.. jaga kesehatan baik – baik ya, doakan Dinda..” ujar Dinda dengan gugup, lalu berpaling pada Zahra, “Ra, jaga ibu baik – baik ya..”.
Zahra mengangguk, lalu memeluk Dinda. Sintya tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk gadis yang baru beberapa dua hari memanggilnya dengan sebutan ibu itu dengan perasaan sayang.
“Ibu pasti doakan, nak.. “ ucapnya, membiarkan gadis itu tetap memeluknya untuk beberapa saat.
Selang beberapa detik kemudian, terdengar pengumuman untuk nomor pesawat yang akan mereka tumpangi. Dinda mencium tangan wanita itu dengan takzim. Ryan mengikuti.
“Mas, saya titip Ryan..” ucapnya sembari memandang Pram. Pram mengangguk, lalu mengulurkan tangan, sebagai salam perpisahan.
Pram dan Ryan lalu membimbing Dinda meninggalkan ruang tunggu, diikuti tante Tari. Semua menatap pemandangan itu dengan perasaan sedih, cemas, dan penuh harap. akankah waktu masih berkenan mempertemukan mereka kembali ataukah justru menjadikan pertemuan ini pertemuan terakhir? Entahlah! Tak ada yang berani memastikan dan memberi jawaban, hanya waktu yang bisa memberikan jawaban atas semua rahasia di dunia ini...
……THE END….
RB- Bagian Enam Belas
Tiga bulan kemudian…
Tiga bulan sudah berlalu sejak rahasia Zahra dan Ryan terbongkar. Artinya, sudah tiga bulan juga mereka menyimpan rahasia itu dengan rapat. Ya, mereka akhirnya memutuskan untuk menyimpan dulu sementara hal itu, menunggu sampai keadaan ayah Dinda benar – benar pulih dan mereka siap untuk menguak kebenaran dan membuka luka lama itu.
Uhuk!! Uhuk!!
Dinda berusaha menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan sesekali menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang menggenggam tisu. Sekotak tisu yang tadi pagi dikantonginya terlihat hampir habis. Sementara tangan kanannya sibuk membilas piring kotor yang tak ada habisnya. Ya, Dinda mengikuti saran ayahnya, walaupun untuk itu ia harus menerima ditempatkan di tempat cucian dan bagian bersih – bersih, agar batuknya tidak mengganggu tamu yang sedang makan.
“Udahlah Din, kalo kamu sakit, kamu istirahat aja di belakang, aku masih bisa kok ngerjain ini semua, lagi pula agak sepi kok tamu hari ini..” Nana, teman se-bidang Dinda terlihat prihatin dengan kondisi Dinda.
“Iya Nda, aku juga bisa kok bantuin Nana.” Agus yang rada – rada kemayu ikut menimpali.
Dinda tersenyum, “Nggak pa – pa kok Na, Gus, lagian tanggung! “ jawab Dinda. Nana dan Agus tak berkata apa – apa lagi. Rupanya seminggu penuh bergaul dengan Dinda sudah membuat kedua orang itu mengerti dengan karakter Dinda yang sedikit keras kepala alias susah dibilangin!
“Oh ya Din, cowok yang dulu nganterin kamu waktu pertama kali kerja itu, trus yang suka mampir itu sekarang kemana? Keren juga tuh! Tapi kok nggak pernah kelihatan lagi sih?” tanya Nana.
“O.. Ryan, sekarang dia
“Kenapa? Mau daftar jadi kakak ipar gw?”
“Kakak ipar?”
“Ryan
Nana ternganga kaget, “Oh, my God!”. Ia menepuk keningnya.
Tiba – tiba pikiran jahil Dinda muncul untuk terus melanjutkan godaannya. “Kenapa? Nggak mau punya adik ipar sebaik gw? Gw baik lho? Lu nggak akan nyesel deh jadi adek gw..!” Dinda sok promosi.
“Hueeekkkkk! Nggak deh..!”Nana kontan berteriak, namun gadis itu tetap saja tak mampu menyembunyikan mukanya yang bersemu merah. Dinda ketawa ngakak. Nana lalu buru – buru meniggalkan Dinda, sebelum gadis itu sempat menggodanya lagi.
Namun, baru akan mengambil piring kotor lagi ketika langkahnya mendadak berhenti. Mata gadis itu terbelalak begitu melihat sekelebat dua bayangan yang baru memasuki restoran. Fery? Dan.. Anggi? Mengapa mereka berdua ada di sini?
Dinda urung melanjutkan langkahnya. Dengan tergesa – gesa, ia kembali ke belakang membawa tumpukan piring kotor ala kadarnya yang sudah terkumpul. Tanpa mempedulikan tatapan heran rekan – rekannya, Dinda melepaskan celemeknya.
“Na, Gus, gw istirahat dulu ya sebentar!” ucap Dinda.
Nana dan Agus jadi bengong. Tadi disuruh istirahat nggak mau,malah ketawa – ketawa, eh.. kok sekarang tiba – tiba minta pensiun, eh, istirahat mendadak?
Beberapa detik kemudian barulah kedua bujang dan gadis itu mengerti perihal yang menyebabkan sahabat baru mereka itu buru – buru ke belakang, yaitu ketika melihat tatapan seorang cowok yang mengikuti kepergian Dinda yang menghilang dari balik pintu ruang istirahat. Keduanya langsung geleng – geleng kepala.
Sementara itu…
Fery terlihat kaget melihat sosok seperti Dinda ada di restoran itu. berkali – kali matanya mengerjap, mencoba meyakinkan bahwa yang dilihatnya adalah Dinda. Hatinya bertanya, benarkah itu Dinda? Tapi, Mengapa gadis itu ada di sini? Bekerjakah?
Cowok itu terus memandangi punggung yang langsung menghilang dari balik daun pintu. Fery jadi bimbang dan ragu dengan penglihatannya. Dipandanginya sekali bayangan Dinda dan Anggi yang duduk di sampingnya dengan cuek dengan ber-SMS ria secara bergantian dengan hati sedih dan teriris - iris.
Dinda. sebenarnya ada rasa tak tega di hatinya melihat keadaan gadis itu, tapi ia harus bagaimana? Anggi.. Bagaimanapun Anggi sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya dan tak mungkin ia menolak keinginan gadis itu.. tak bisa!
Fery memandang bayangan Dinda dan Anggi sekali lagi. hatinya bimbang. Ah, persetan dengan semuanya!. Akhirnya Fery bergegas kebelakang meninggalkan Anggi yang kini memandangnya dengan kesal. Fery bergegas menghampiri dua sosok yang tadi dilihatnya bicara akrab dengan Dinda. Nana dan Agus.
“Maaf mbak, mas, bisa saya bicara dengan mbak yang tadi bicara sama Mbak?” tanya Fery. Dinda yang tadinya berniat memejamkan mata sebentar, jadi urung begitu mendengar samar – samar percakapan di luar.
“O.. mbak Dinda, sebentar ya mas.” Jawab Agus, yang langsung disambut dengan sikutan oleh Nana. Agus mengaduh, lalu berlari ke belakang, diikuti oleh Nana.
Tanpa menunggu Nana dan Agus bicara padanya, Dinda segera bangkit dari posisi tidurnya dengan wajah kesal dan enggan. Gadis itu segera menanggalkan celemek yang tadi masih menempel di tubuhnya, lalu bergegas menghampiri sosok Fery.
“Din, saya mau bicara.” pinta Fery.
“Saya lagi kerja.” Jawab Dinda ketus.
“Tolong, Din!
“Ok, kamu Cuma punya waktu
Fery mengangguk. Dinda melangkah menuju ruang belakang kafe yang agak sepi. Tak dihiraukannya pegawai kebersihan yang sedang membereskan tempat itu memperhatikannya dengan penuh heran. Fery mengikutinya.
“Din, maafkan sikap saya selama ini, tolong..” ucap Fery.
Dinda terbelalak,” Maaf ? Maaf untuk apa, ya?” tanya Dinda dingin.
“Karena saya udah nyakitin perasaan kamu, karena..”
“Karena apa?”
“Atas semua salah saya selama ini.”
“Kamu nggak salah, kok. Itu memang pantas aku dapatkan.”
“Nggak Din, saya tahu saya salah, karena itu saya minta maaf..”
“Maaf? Kenapa semua orang harus minta maaf sama aku sekarang? Kenapa begitu mudahnya?” tanya Dinda. Mata gadis itu memerah menahan semua perasaannya, “Kenapa baru sekarang? Kemana kamu pada saat aku butuhkan? Kemana kamu? Kalian? Nggak Anggi, nggak kamu.. semua sama! Apa kalian semua udah nyesel ninggalin Dinda yang tebece ini? aku ini masih tebece, jadi belum pantas untuk kalian dekati! lagi pula aku ini Cuma seorang pelayan, beda sama kalian yang orang kaya!”
Fery tertunduk,”Aku tahu, karena itu.. “
“Karena itu apa?! Saya nggak butuh rasa kasihan kamu, saya udah nggak butuh kamu, aku udah tenang dengan keadaanku sekarang, tolong jangan ganggu lagi, aku bahagia dengan hidupku sekarang, jadi tolong biarkan aku tetap bahagia sebentar saja..” Dinda berusaha menahan air matanya yang semakin berdesakan untuk segera keluar. Tidak! Aku harus kuat!
“Din, tolonglah Din, aku sama Anggi..” Fery memohon dengan wajah memelas.
Dinda memberi isyarat dengan tangan kirinya, “Please Fer, Aku nggak mau denger penjelasan apa – apa Fer, semua yang aku lihat sudah memberikan jawaban, aku nggak perlu penjelasan apa – apa lagi dari kamu, waktu kamu udah habis, tinggalin aku sekarang juga!”
“Aku dan Anggi..”
“STOP!” potong Dinda,”Aku udah bilang, tinggalin aku sekarang atau aku akan teriak. Cepat!”
Fery menurut. Dengan langkah berat ia meninggalkan Dinda yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa suara, air mata mengalir deras di pipinya. Hatinya terasa hancur berkeping – keping.
Sementara itu di belakangnya Dinda tampak mulai terhuyung – huyung.
“Ya Allah, kuatkan Dinda.. Ryan, tolong Dinda, bantu Dinda menjalani semua ini, bantu adikmu ini.. Uhuk! Uhuk!” tanpa sadar Dinda bergumam lirih.
Uhuk! Huk!
Dinda mencoba menahan batuknya yang semakin menjadi – jadi dengan membekap mulutnya lebih erat dengan tisu pada tangan kanannya. Tiba – tiba mata gadis itu terbelalak melihat tisu itu. Darah!
Dalam bayangan yang semakin menghilang Dinda mendengar suara-suara panik di sekelilingnya…
……………….
Dinda membuka matanya perlahan. Bau steril obat langsung menusuk hidungnya. Di sampingnya, tampak Agus dan Nana memandangnya dengan wajah pucat dan cemas.
“Na, gw di mana?” Dinda berusaha untuk bangkit. Tangan kirinya memegang kepalanya. Sakit! Nana segera membantu gadis itu bangun.
“Lu tadi pingsan, gw sama Agus langsung aja bawa lu ke klinik ini.” Nana ikut memijit kepala Dinda.
“Iya Din, makanya dari tadi gw bilangin lu biar istirahat, eh lu nya nggak mau, gini deh jadinya.. mana gw
Dinda tertegusn tapi bibirnya berusaha tersenyum, “Thank’s ya udah nolong gw, sebenernya gw tebece Na, Gus.. temen – temen gw pada ngejauh dan ini kali kedua gw putus berobat lagi untuk kedua kalinya, sejak gw terlalu sibuk ngurusin bokap gw, gw kehabisan uang untuk biaya perawatan bokap.. hmm, tapi please jangan bilang bokap gw ya keadaan gw kayak gini, please..!”Dinda memohon. Nana dan Agus memandang Dinda beberapa saat dengan tatapan iba dan bingung. Dengan ragu – ragu, akhirnya keduanya mengangguk.
“Ok, tapi lu harus janji nggak maksain lagi..” jawab Nana.
“Dan harus istirahat di sini sampai sore, ok?” sambung Agus.
Dinda mengangguk dengan penuh terima kasih kepada kedua sobatnya. Nana dan Agus tersenyum.
“Oh ya, kata dokter yang periksa lo tadi waktu pingsan, lu juga nggak boleh banyak pikiran, ntar kalo udah baikan, lu boleh balik ke restoran. Tenang aja ntar gaji lu gw yang ambilin, jadi ntar sore lu tinggal ambil ke gw, ntar gw juga yang bilang sama bos, ok?”
“Iya, makasih ya, lu bedua baik banget sama gw..”
“Yah, namanya juga temen Din,
Dinda balas menatap Nana nakal, “Serius? Bukan karena mau jadi ipar gw?” goda Dinda.
Muka Nana kembali bersemu merah, “Huss!! Lu ada – ada aja. Ya nggaklah.. lagian mana mungkin sih anak kuliahan yang pinter dan cakep kayak Ryan mau sama gw, Din..”
“Kalau mau? Cinta
Muka Nana tambah memerah. “Udah ah! Ok, Gw sama Agus cau dulu ya, istrahat ya! oh ya, gw lupa, bukannya ada program obat gratis dari pemerintah Din buat penderita tebece?”
“
“O, gitu, ya udah ya, gw tinggal, bye..” Nana menggenggam tangan Dinda, lalu melangkah menuju pintu.
“Iya, bye juga Din, istirahat ya?” ujar Agus mengikuti buru-buru, takut ditinggal Nana!.
Dinda tersenyum dengan melihat tingkah kedua sobatnya itu. Matanya terus memandangi punggung dua sobat barunya yang hilang dari balik daun pintu. Gajian, ya! Untungnya bos restoran tempatnya bekerja sekarang itu mau berbaik hati pada Dinda dan bersedia memberikan gaji tiap minggunya, sehingga Dinda tak begitu kesulitan dalam pengeluaran sehari – harinya.
Nana dan Agus. Mengingatkan Dinda pada sahabat – sahabatnya waktu di SMU dulu, bagaimana ya kabarnya mereka sekarang? Pada kuliah di mana? Ah, mungkin benar kata orang, sahabat itu selalu datang dan pergi. Tapi, di manakah yang namanya sahabat sejati?
……………….
“Lam lei koem! Ayah..! Dinda pulang nih! Hari ini Dinda gajian lho.. Tau nggak Dinda bawa apaan buat ayah? Pasti deh ayah suka, Dijamin!” Dinda berteriak nyaring setelah membuka pintu dengan kunci serap yang di bawanya. Wajahnya berusaha menyembunyikan apa yang telah menimpanya. Ceria. Kantong plastik bawaannya diletakkannya dengan hati – hati di atas meja makan berukuran kecil itu. lalu dengan hati – hati gadis itu melangkah ke depan pintu kamar ayahnya, dengan niat mengagetkan pria itu ketika sang ayah membuka pintu nanti.
Namun, beberapa detik kemudian.. pintu yang yang diharap – harap akan terbuka tak juga menunjukkan tanda – tanda akan terbuka. Perasaan Dinda langsung was – was. Didorongnya handel pindu perlahan. Kosong! Kamar ayah kosong!
Kemana Ayah? Kenapa tak bilang kalau mau pergi?
Mata Dinda menyapu seisi kamar. Tiba – tiba matanya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak di lantai kamar, di samping tempat tidur ayahnya. Sebaris tulisan tangan tertera di
Apa ini? Kening Dinda mengernyit. Otaknya mencoba mengolah dan memahami maksud dari tulisan tersebut. Komplek Ini rasanya tak begitu jauh dari sini, tapi ini rumah siapa? mungkinkah Ayah pergi menemui seseorang yang memiliki nomor telpon ini dan di tempat yang tertulis di kertas ini? lalu kalau ternyata benar, siapa orang ini? kenapa ayah tak bilang kalau dia akan pergi?
Dinda memasukkan kertas itu ke dalam kantong jaketnya dengan tergesa – gesa. Disambarnya kembali tas yang tadi di sandangnya tanpa mempedulikan belanjaan yang tergeletak di meja. Pikirannya hanya satu, Ini saatnya Din menyelesaikan semuanya! ia harus mencari tahu siapa yang ditemuinya dan menjawab semua teka – teki yang memenuhi kepalanya selama ini, termasuk masalah tante Tari!
…………bersambung ke bagian 17……
Selasa, 22 Juni 2010
RB - Bagian Empat Belas
Dinda menyandarkan punggungnya di dinding ruangan sempit itu. Mukanya tampak agak pucat dan lelah. Dilapnya keringat yang bercucuran di wajahnya dengan sehelai handuk kecil yang dikeluarkannya dari tas kecil bawaannya. Pegal. Tamu restoran hari ini banyak sekali, sehingga ia dan karyawan lainnya merasa kewalahan melayani.
“Capek, Din?” tanya Nana, rekan seprofesinya.
“Yah, lumayan.” Jawab Dinda.
“Yah, ginilah Din kerja di sini, nggak kayak di kantoran, kerjanya Cuma duduk doang, nggak capek dan udah gitu gajinya gede lagi!”
“Ah, tapi otaknya
“Ya, tapi
“Lho, emang mikirin apaan Na,
“Capek mikirin gaji yang kecil! kira – kira cukup nggak ya, buat sampai akhir bulan.” Ujar Agus yang muncul tiba – tiba dari dapur, tanpa diduga oleh Nana.
Nana langsung cemberut. Dinda tersenyum, “Ah, kalian ada-ada aja, udah ah! makan yuk, laper nih!” Dinda menepuk - nepuk perutnya, lalu mengeluarkan kotak bekalnya. Agus dan Nana melakukan hal yang sama.
“Eh, Na..”
“Ha?”jawab Nana dengan mulut yang penuh nasi. Melihat hal itu Dinda tak jadi meneruskan kalimatnya dan menunggu gadis itu menelan semua nasi yang ada di mulutnya.
“Aha ci? Gadi hanggil, heharang hok dihuehin?” tanyanya, masih dengan nasi di mulut.
“Udah, ntar aja. Abisin dulu, ntar keselek lagi.. hanggil-hanggil..” nasihat Agus. Nana mengangguk, lalu cepat – cepat menelan nasi yang masih tersisa, “Ya, sudah nona!” ujarnya.
“Ngg.. lu pernah kebayang nggak seumpamanya…”
“Apa? Nana
Agus mencibir, lalu bergegas bangkit meninggalkan mereka sebelum sendal Nana melayang ke kepalanya. Nana balas menatapnya dengan kesal, lalu kembali berpaling ke arah Dinda yang masih menunggu untuk melanjutkan kembali kalimatnya yang tadi terpotong.
“Kalau seumpamanya apa, Din?”
“Ya.. kayak yang dibilang Agus tadi..” canda Dinda.
“Ah, yang bener Din?” tanyanya antusias.
Dinda geleng – geleng kepala, “Ya, nggak laaahhh..!”
Nana urung senyum, “Trus apa dong?”
“Nggg..” Dinda ragu – ragu melanjutkan kalimatnya,“Ngg.. Kalau ternyata selama ini, selama bertahun – tahun lamanya ternyata baru sekarang lu tahu kalau ternyata lu sebenarnya punya saudara tiri dan ibu tiri?”
“Emang elo.. punya saudara tiri ya, Din?” tanya Nana hati-hati.
Dinda mengangguk, “Ya, ayah baru cerita ke aku, rahasia itu ia pendam sejak belasan tahun yang lalu..”
“Berarti bokap lu punya istri dua?”
“Ya.”
“Setelah nyokap lu meninggal?”
Dinda menggeleng, “Nggak, sebelum nyokap gw meninggal, atas saran nyokap gw.”
“Kok bisa?”
“Bisa aja.”
“Nyokap lu nggak marah? Trus di mana mereka sekarang?
Dinda mengangkat bahu, “Gw sendiri nggak tahu, Ayah nggak pernah cerita apa-apa lagi soal itu, tapi.. “ ucapan Dinda terpotong. Dahinya mengernyit dan matanya menerawang.
“Tapi apa?”
“Tapi entah mengapa, kok gw ngerasa mereka itu ada di sekitar gw ya? Gw nggak tahu siapa mereka, tapi.. kok rasanya mereka ada di dekat gw, tapi gw nggak inget apa yang bikin gw ngerasa kayak gitu, Na..”
“Emang lu nggak tahu sama sekali ciri – cirinya?
“Justru itu Na, masalahnya dia bukan anak kandung bokap gw. Dia itu anak bawaan istrinya itu, artinya, dia itu anak tiri bokap gw, trus kalau yang satu lagi gw nggak tau dia cowok atau cewek.”
“Lho, kok?”
“Iya, soalnya waktu itu adik gw itu masih dalam kandungan.”
“O…” mulut Nana mengerucut bulat mengucapkan huruf itu. keningnya sekarang ikut mengernyit, “Ya udah, kita selidiki aja..” ceplosnya enteng.
Kening Dinda jadi tambah berkerut, “Selidiki? Selidiki dari mana Na? Emangnya gw mo harus nanya Ayah gw lagi? nggak, mendingan gw nggak nanya dari pada dia sedih lagi..”
“Yee, siapa yang bilang begitu. Maksud gw.. lu cari aja diam – diam, siapa tahu bokap lu masih nyimpan photo lama, gw yakin nggak mungkin dia nggak nyimpan barang satupun..” Nana mengecungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
Dinda mengangguk –angguk. Iya juga ya? Mungkin aja..
…………………
Pram tampak tengah sibuk dengan tumpukan koran di depannya. Tangannya sibuk membalik halaman demi halaman. Sebuah tongkat tersandar tepat di sampingnya. Dinda mendekati sosok itu dengan wajah ceria.
“Lho, udah pulang, Din?” tanyanya sebelum Dinda membuka suara.
“Udah, yah. Kan tadi Dinda masuk shift pagi.. ayah kok sibuk banget kayaknya, lagi ngapain sih?”
“Nggg, yah. Cari – cari sesuatulah! Udah sana makan, ayah udah masak tuh buat kamu.”
“Waahhh, ayahku baik sekali..!” puji Dinda. Ia lalu melenggang menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia baru ingat tujuannya semula waktu datang tadi. Ia kembali berbalik.
“Ayah..”
“Ya?”
“Ayah masih nyimpen album – album Dinda sama bunda waktu kecil nggak?”
“Ada. Kenapa?”
“Dinda mau lihat dong..!”.
“Buat apa, sayang?” jawabnya tanpa menoleh dari halaman yang sedang dicermatinya dengan hati – hati.
“Dinda mau lihat sebentar, ada perlu, buat.. buat biodata.” Jawab Dinda bohong.
“Sebentar, ayah lihat dulu.”
Pram segera melipat korannya, lalu mengambil tongkatnya dan beranjak dari tempat duduknya. Dengan dibantu Dinda, ia segera membuka lemari pakaiannya, lalu menurunkan sebuah koper kecil yang sedikit berdebu. Dibukanya koper itu dengan hati – hati, lalu mengeluarkan isi demi isi dari koper itu. Dinda menunggu dengan dada yang berdebar.
Akhirnya, setelah tiga per empat dari semua isi koper yang terbongkar, didapatinya dua buah album berukuran sedang yang tampak sudah sangat usang. Dikeluarkannya kedua album itu, lalu diserahkannya kepada Dinda.
Dinda menerima album itu dengan campuran berbagai perasaan. Ia lalu membawa album itu ke kamarnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Pram memandanginya dengan tatapan aneh, lalu kembali ke kesibukannya semula.
Setibanya di kamar, Dinda tak sabar untuk segera membuka album itu. Dengan tergesa – gesa ia melompat ke tempat tidur, lalu membalik lembar demi lembar photo yang terpajang di sana dengan teliti dan penuh selidik.
“Ah, kenapa semua hanya photo aku dan bunda? Kenapa tak ada photo tante Sintya atau anaknya itu?” desah Dinda kecewa dengan album yang bertama yang didapatinya tidak memberikan apa yang dicarinya.
Dinda lalu membuka album yang ke dua. Ia melakukan hal yang sama seperti yang pertama. Lembar demi lembar, photo demi photo. Hingga akhirnya ia akan menutup album itu dengan penuh kecewa, tiba – tiba.. matanya memaksanya untuk kembali ke halaman sebelumnya. Dua photo didempetkan jadi satu!.
Dengan hati – hati segera dilepaskannya steples yang menempelkan kedua photo itu dan terlihatlah wajah seorang wanita, yang dibuat bertahun – tahun yang lalu dan dengan dandanan yang mungkin sedang musim waktu zaman itu. Polesan make up tipis menutupi kulitnya yang putih, tapi hal itu tak membuat Dinda tak mengenali wajah itu. Ya, wajah yang beberapa waktu lalu dijumpainya! Yang terasa begitu dekat dengannya dan langsung akrab dengannya, yang anaknya selalu mendampingi dan membantunya, dia adalah.. Ibu Ryan! Ibu Zahra!
Dengan dada berdebar dan berharap cemas Dinda membaca tulisan di balik photo itu. “Sintya.” Dinda terhenyak.
…………bersambung ke bagian 15………………….