Perubahan: mulai tanggal 21/06/2010 posting perharinya akan ditambah menjadi dua bagian per hari. selamat membaca..! jgn lupa komentarnya ya,thq
Senin, 21 Juni 2010
RB - Bagian Dua Belas
Dinda dan Ryan memapah Pram memasuki halaman sebuah rumah kecil yang sederhana. Sementara itu Zahra membawakan barang bawaan mereka. Pram terlihat ragu ketika Dinda membimbingnyanya masuk dan membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya, sedangkan Ryan kembali ke luar untuk membantu Zahra menurunkan barang – barang bawaan mereka. Berbagai pertanyaan berserakan di kepalanya. Dinda segera membawa ayahnya duduk di kursi. Lalu ia sendiri duduk di sampingnya. Keningnya tampak mengkerut berusaha mencari kata – kata yang tepat untuk menjelaskan semua yang ada di kepalanya.
“Ayah, maafin Dinda ya, karena sekarang kita udah nggak punya rumah sebagus dulu, dan Dinda menyewakannya tanpa menunggu persetujuan ayah dan sekarang, ayah terpaksa tinggal di rumah kecil ini.. Dinda janji ya, nanti setelah Dinda dapat kerja, Dinda akan nabung, biar kita bisa tinggal rumah itu lagi..”
Dinda menggenggam tangan Pram. Pram memandang Dinda beberapa saat dengan perasaan haru, sedih, dan bangga. Dinda, inilah salah satu sikap Dinda yang persis sekali seperti Tyas, selalu minta maaf terlebih dulu kalau merasa salah. Perasaan yang begitu lembut dan perasa. Ah, Tyas.. seandainya kamu masih ada, kamu pasti bangga melihat Dinda sekarang, anak kita sudah dewasa..
“Ayah? ayah marah sama Dinda?” Dinda bertanya sekali lagi ketika melihat Pram tak juga menjawab pertanyaannya sekali lagi.
Pram tersadar dari lamunannya. Senyumnya mengembang. Segara dipeluknya gadis kecilnya itu dengan saying, “Dinda, mana mungkin ayah marah.. ayah justru bangga, karena kamu udah bisa ngambil keputusan sendiri, ayah bangga kamu bisa bertahan merawat ayah selama itu. Yah, harta hanya titipan dari yang Maha Kuasa dan dapat dicari, tapi keluarga? rumah kita sekarang ini emang kecil, tapi bukankah sering dikatakan ,’ rumah yang sempit akan terasa lapang, asalkan penghuninya berhati lapang’ ya, kan?” Pram mengusap rambut putrinya dengan sayang. Ryan yang sudah selesai membereskan barang – barang menyaksikan pemandangan ayah dan anak itu dengan penuh perhatian dan penuh rasa haru. (hiks.. hiks.. kayak di telenovela.. )
………………
Jakarta, Awal Juni 2005
Dinda mengemasi berkas – berkasnya yang berceceran di lantai. Ini adalah hari ke tiga ia berkeliling di tengah panasnya kota demi mengharapkan sebuah pekerjaan. Panas dan hujan sudah dilewatinya. Perkantoran di gedung – gedung bertingkat sampai yang hanya di petakan kecil sekalipun telah dimasukinya. Namun sampai saat ini belum membuahkan hasil. Semuanya tersangkut pada riwayat kesehatannya, TBC. Memang sih ada beberapa kantor yang tidak mempedulikan itu, tapi tidak ada kecocokan dalam gaji. Atau ada yang gajinya cocok, pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan.
Huff. Ternyata emang sulit ya, cari kerja dengan Cuma bermodal ijazah SMU, desah Dinda. Ijazah? Ya, berkat kemurahan hati kepala sekolahnya, akhirnya Dinda diperbolehkan mengikuti ujian akhir dan tentu saja di tempat yang terpisah dari murid lainnya. Dan berkat kesungguhan Ryan dan Zahra (lho, kok mereka? Oh iya, pasalnya sebelum mengikuti ujian, merekalah yang mengajari Dinda semua materi yang sempat ditinggalkan Dinda), hingga akhirnya gadis itu bisa memperoleh ijazahnya beberapa hari yang lalu.
“Ehem.. ehem.. anak ayah sedang mikirin siapa nih? “ deheman ayahnya membuat Dinda berhenti melamun. Pram, ayahnya tengah berdiri di pintu kamar dengan kruk di ketiak kanannya. Muka Dinda langsung bersemu merah (kepergok ni ye..).
“Ah, ayah! Nggak kok, Dinda Cuma lagi mikirin kerjaan apa lagi yang harus Dinda coba lamar.” jawab Dinda.
“O, kirain mikirin ngg..” Pram pura – pura berpikir dan menopang dagunya, berpikir.
“Nggg apa? Ayo, mulai deh! Ayah ada – ada aja, yang Dinda pikirin tuh Cuma ayah, suwer deh! Tak kan ada cinta yang lain..” Dinda menirukan sebuah lagu yang cukup ngetop. Tiba – tiba..
“Assalamu ‘alaikum!”
Suara dari pintu membuat Dinda berhenti berkoar, eh, menyanyi!. Hm.. pasti Ryan, bisik gadis itu dalam hati. Dan ternyata dugaannya nggak salah, Ryan memang udah cengar – cengir di sana!
“Hmmm, lumayan juga suaranya,” komentar Ryan iseng. Dinda tersenyum malu. Tapi.. “Lumayan nakutin tikus maksudnya! he..he..”
Dinda berubah manyun. Huh! Dasar, nyebeliinnnn lin.. lin..!
“Ada juga nggak apa – apa kok, Oh ya, Din, kamu udah putusin kamu mau kuliah Dimana? Ryan gimana? Oh ya, kok tumben Zahra nggak ikut?” tanya Pram.
“Eh, ada ooom. Zahra bentar lagi juga nyusul kesini oom.” cowok itu mesem – mesem begitu menyadari Pram sedang duduk di kursi tamu. Gantian Dinda yang cengar – cengir. Rasain!
“Ryan diterima di teknik ITB om, jadi, minggu depan harus berangkat ke Bandung.” jawab Ryan.
“Gitu – gitu kan fisikanya paling pinter di sekolahan yah! Kalo Dinda, Dinda belum tahu, pokoknya Dinda nggak mau macam – macam, Dinda Cuma pengen ayah sembuh dulu, baru abis itu mikirin kuliah Dinda, ok?” ucap Dinda sambil membolak balik tawaran yang diberikan Anggi kemarin, mulutnya mengerucut.
“Oh iya, gimana keadaan ibumu? Sehat? Ah, karena kamu udah banyak bantu om dan Dinda, mungkin nanti sesekali om pengen ketemu sama ibumu.” Sambung Pram.
Ryan terlihat sedikit gelagapan, “Nggg, ibu sehat, om. Tapi sekarang sedang sibuk, ngg.. mungkin..” suara Ryan tersendat, seperti ada sesuatu mengganjal tenggorokannya.
“Mungkin apa?”
“Ah, nggak, om.” Jawab Ryan menutupi apa yang ada di pikirannya. Pram tak lagi bertanya. Karena Dinda segera menyodorkan sebuah iklan yang sudah digarisi di depan mukanya.
“Yah, lihat deh! Nggg, kalo ngelamar pelayan di restoran untuk sementara dulu nggak apa – apa kali ya? Gimana yah, cocok nggak tampang Dinda yah? Ok kan Yan?”
“Cocok, buat nakutin preman yang nagih uang keamanan Din! he..hee.. “ jawab Ryan asal. Ggrr.. Dinda tambah cemberut, “Becanda denk! Mendingan cari kerjaan part time di butik – butik atau toko islam aja Din, kan kamu bisa sekalian belajar pakai jilbab.”
Kening Dinda berkerut, “ Belajar pakai jilbab kayak Zahra?”
Ryan mengangguk. Dinda memandang Ayahnya, “ Pantes juga kali ya, yah? Seragam kerja panjang, trus pakai jilbab, gimana yah?” Dinda memandang Pram meminta pendapat.
Pram terdiam. Ia mengerti dengan ucapan putrinya. Dinda, sebegitu besarkah cintamu pada ayahmu ini? Sampai harus mencari pekerjaan dan menunda kuliah demi Ayahmu ini? mengapa selama ini aku tak menyadarinya selama ini?
“Lho, kok ayah jadi diam? Dinda kan nanya pendapat ayah...” Dinda bingung. Ryan yang tadinya cengengesan ikut diam.
Pram menatap Dinda, “Nggak, nggak apa – apa kalo kamu suka, lagian mungkin memang sudah sepantasnya kamu memakai kerudung. Dan sementara itu, sambil nanti ayah coba hubungi beberapa mantan relasi papa di kantor apa ada yang butuh staff di sana, sekaligus nanyain apa ayah masih bisa masuk lagi ke sana. Ngg.. tadi, ayah cuma mikir aja, kalau ayah nggak ngalamin seperti ini, kamu pasti sedang sibuk seperti temen – temenmu yang lain sekarang, sibuk nyari tempat kuliah, tes ke sana – sini atau siap – siap kuliah di universitas favorit dan bukannya sibuk cari kerjaan. “
“Udah ah, ayah. “ Dinda memotong perkataan ayahnya, ”Kok ngomong gitu sih? kan ayah sendiri yang ngomong, semua ada hikmahnya, jadi kita ambil hikmahnya aja, ok? Mungkin Dinda mau ngasih kesempatan dulu buat orang lain kuliah di sana, lumayan kan satu bangku? Hmm, Dinda mo masak dulu, biar ntar kita bisa makan bareng – bareng. Ayah ngobrol aja sama tuan iseng ini ya? Ok?” ujar Dinda. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum, sebelum berlalu menuju dapur. Pram geleng – geleng kepala melihat ulah putrinya. Dinda.. Dinda !
Di dapur, Dinda merenungkan kembali kata – kata ayahnya. Hati Dinda terasa teriris. Bukan, bukan karena ia memikirkan kenyataan bahwa dirinya tak bisa seperti teman – temannya yang lain, juga bukan memikirkan keadaan ayahnya yang membuatnya seperti ini.. karena tanpa kejadian yang menimpa ayahnyapun ia pasti akan mengalami seperti ini. Tapi, hatinya terasa pedih karena memikir kenyataan tentang keadaan dirinya yang kian hari semakin memburuk dan membayangkan waktu yang semakin menyempit, Apalagi mengingat beberapa hari terakhir ini frekuensi batuknya yang semakin menjadi – jadi dan dadanya yang sering kali terasa sakit. Pilu.
…………bersambung ke bagian 13…………
RB - Bagian Sebelas
Pram membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk di sela – sela gorden membuatnya tak bisa membuka mata secara langsung, karena belum terbiasa dengan sinar terang. Perlahan, matanya yang masih kabur mencoba menangkap bayangan gadis yang tertidur pulas di samping tempat tidurnya. Dinda. Tangan Pram berusaha menggapai dan membangunkan gadis semata wayang kesayangannya itu. Namun, sepertinya tangannya terasa sangat lemah, sehingga hanya mampu mengenai gelas yang tergeletak di sampingnya. Gelas itu oleng beberapa saat sebelum akhirnya pecah berantakan jatuh ke lantai.
Praaannggg..!!!
Dinda terlonjak dari tidurnya begitu mendengar benda pecah yang tak jauh dari telinganya. Matanya yang masih bengkak mencoba mencari sumber suara. Dinda langsung terlonjak kaget dengan apa yang di lihatnya. Di depannya, Ayahnya telah membuka mata. Ayahnya telah sadar!
Dinda segera memanggil dokter dan perawat. Setelah dokter mamastikan bahwa Pram, ayahnya, akan baik – baik saja, langsung saja bak anak kecil, Dinda segera memeluk, menciumi tangan dan kening ayahnya dengan suka cita. Sedangkan bibir mungilnya tak henti – hentinya mengucapkan syukur. Tak dihiraukannya dokter yang meninggalkannya dengan geleng – geleng kepala, serta Ryan dan Zahra yang baru datang membawakan makan siang yang menatapnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Air mata ikut menetes di pipinya. Satu masalah terselesaikan, walaupun ribuan masalah lainnya masih menunggu gadis itu.
……………………………
“Din…”
Sebuah suara mengagetkan Dinda yang sedang menyuapi ayahnya sarapan bubur pagi itu. Rasanya dulu suara itu pernah bergaung di pendengarannya. Dinda menoleh dengan cepat.
“Selvy?” Dinda mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Ryan yang berdiri di samping Selvy menganggukkan kepala meyakinkan Dinda, lalu menggantikan Dinda menyuapi pak Pram. Dinda tak segera berbicara, setelah diambilnya sapu tangan penutup mulutnya kalau batuk, gadis itu langsung mengajak Selvy ke ruang tunggu di depan kamar ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk, untuk apa dia ke sini setelah semua yang terjadi?
“Sorry Din, gw baru dateng sekarang, gw minta maaf atas kejadian waktu itu.” jelas Selvy, penyesalan jelas terpancar dari matanya. Dinda memandang Selvy bingung.
“Minta maaf?”
“Ya, minta maaf atas sikap gw, lu mau
Dinda tergagap. Ya Tuhan, apakah ini berarti dugaannya selama ini terhadap Selvy adalah benar?
Kening Dinda berkerut, tapi ia tak berani bertanya apa – apa selain menganggukkan kepala, “Gw.. gw nggak pernah mikirin itu lagi kok, gw udah maafin semuanya.”
Selvy langsung memeluk Dinda, “Gw ternyata salah paham ya Din sama lo, ternyata lu baik banget orangnya, kita temenan, ya ? gw malu sama sikap gw selama ini sama elo, Din.”
Dinda bengong. It’s Right? It’s enough ? apakah semua ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan itu? Semudah itukah? Seakan itu adalah kesalahan yang sangat kecil?
“Selvy..!!”
Sebuah bentakan dari belakangnya membuat Selvy melepaskan pelukannya dari Dinda. Anggi berdiri di
“Ngapain lu di sini?” Anggi langsung menarik tangan Selvy dengan kasar, seolah – olah menjauhkan gadis itu dari Dinda.
“Lu sendiri ngapain?” balas Selvy sengit.
“Mau tau aja lu, gw ingetin ya, lu jangan coba – coba deketin Dinda, jangan mentang – mentang selama ini gw nggak bareng Dinda deh! atau lu kurang puas udah ngerebut gelar siswa teladan? Jangan pura – pura baik, ok!?” Anggi mendorong Selvy agar gadis itu menjauhi Dinda.
“Gw nggak pura – pura baik Din, Nggi, tapi..” Selvy memandang Dinda ragu,”Ah, Ok, Din. Ngg.. ok, gw pulang dulu ya?”
Tanpa menunggu jawaban, akhirnya Selvy meninggalkan Dinda yang masih melongo dengan pandangan tak mengerti menatap mantan sahabat dan mantan saingannya itu.
“Din, maafin gw ya? selama ini, gw tau gw salah ninggalin lu sendirian. Gw baru sadar, seharusnya gw nggak ngebiarin lu sendirian memikul beban seberat ini.“ ucap Anggi berubah lembut.
Dinda semakin bingung. Tadi Sevy, sekarang Anggi?
“Din..” Anggi menepuk bahu Dinda.
Dinda tersadr dari lamunannya, “Eh, I..iya, udahlah Nggi, lu nggak salah, semua wajar kok.” Ujar Dinda sambil menahan batuknya.
Dinda menatap Anggi. Keduanya tersenyum. Lalu Anggi menarik Dinda menuju mobil, mengambil plastik berisi oleh – oleh yang dibawanya.
“Selvy ngapain nemuin lu, Din?” tanya Anggi sambil mengeluarkan bawaannya dari bagasi.
“Dia minta maaf.”
“Minta maaf?”
“Ya.”
“Tuh
“Dugaan apa?”
“Iya, dia pasti mau ngambil kesempatan buat ngedeketin lu selagi kita – kita nggak ada.. jangan – jangan dia juga lagi yang ngelakuin semua ini sama elo, sampai – sampai kita benci sama elo…” Anggi menutup bagasi, lalu kembali mengunci mobilnya.
“Nggak tahu lah, siapapun nggak masalah. Semua udah lewat Nggi.” Ucap Dinda, lalu mengikuti Anggi yang berjalan masuk menuju kolidor rumah sakit yang menghubungkan dengan kamar ayahnya.
Sementara itu…
Selvy mengamati Anggi dan Dinda yang berjalan dari kejauhan dengan kesal. Dinda. Sedikit lagi! padahal sedikit lagi… seandainya saja Anggi tidak muncul, pasti ia akan berhasil melakukan hal itu! pasti ia akan bisa mengatakan hal itu! tinggal selangkah lagi! ah, Dinda, gadis itu begitu kuat, tapi akankah ia masih sekuat itu jika mengetahui kenyataan itu?. Bisik batin Selvy lirih, lalu meninggalkan kawasan rumah sakit.
………..…………….
“Aku bingung..” ujar Dinda suatu sore kepada Zahra dan Ryan.
“Bingung?” sahut Ryan dan Zahra berbarengan. Zahra memandang Ryan dengan tajam. Ryan mengerti arti pandangan itu.
“Ya.”
“Sebabnya?” kali ini hanya Zahra yang menyahuti, sedangkan Ryan kembali sibuk dengan buku di tangannya.
“Ya… a.. aku bingung sama Anggi dan Selvy, kok mereka tiba – tiba dateng barengan, padahal selama ini mereka nggak pernah mikirin aku, eh, kok pada dateng tiba – tiba, apalagi sampai nengokin ayah.. udah gitu mwnghilangnya juga barengan. Aneh
Zahra mengerutkan kening. Ryan yang mau tak mau ikut mendengar, juga ikut berpikir, walaupun matanya terpaku pada buku di tangannya itu.
Dinda menceritakan pertemuannya siang itu dengan Anggi dan Selvy, kedua gadis itu memang langsung tiba – tiba menghilang, alias nggak pernah datang lagi menemui Dinda. Cukup aneh memang. Apalagi sikap Selvy yang berbeda waktu itu, yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa Dinda tak tahu.
“Aneh memang, tapi menurut aku, kak Dinda nggak usah pikirin, mungkin aja ini jawaban atas doa – doa kakak selama ini atau memang Allah telah membukakan pintu hati mareka saat ini, siapa tahu..!!” Zahra mengangkat bahu, “Udahlah kak, nggak usah bingung, yang namanya temen, seneng bareng, susah juga bareng, lupain aja mereka, banyak yang harus kakak pikirin selain mereka. Trus ntar kalo kakak udah bener – bener sembuh, baru deh kakak pilih yang mana yang bener – bener temen.”
“Betul, Din!” Ryan akhirnya menimpali juga, “Sekarang mulai aja siap – siapin barang buat pulang, tadi aku udah bicara ke dokter, katanya kalau keadaan normal – normal aja lusa om udah bisa dibawa pulang.”
“Bener?” Dinda kaget,”Kok kalian nggak bilang – bilang sama aku sih? Jahat!“ Buugg! Dinda melempar dua bantal kursi yang tadi di tangannya kepada Ryan dan Zahra, membuat kedua kakak beradik itu reflek mengelak.
Dan dalam waktu singkat, bantal di ruangan itu melayang kembali. Perang bantal!
“
Dinda jadi bengong. Lho, Kok dia yang repot?
“Iya, ntar aku yang repot bawa kakak ke rumah sakit jiwa! ha.. ha..”
Blukgk! Sekali lagi bantal di tangan Dinda mengenai kepala Zahra, “Dasar! Kakak adik jailnya kompak..!”
Namun, akhirnya gadis itu beranjak juga mengambil kantong obat di laci tak jauh dari tempat duduknya. Satu persatu obat tablet yang bertuliskan rifamficin, pirazinamid, etanbutol, dan streptomizin itu di keluarkannya dan di telannya dengan segelas air yang diangsurkan Ryan kepadanya. Tapi, baru beberapa saat..
“Yan..”
“Apalagi? Bentar Yan, bentar Ra, kenapa?”
“Gimana ya kabarnya Fery?”
Ryan terdiam sesaat.
“Udah ah, ngapain sih kamu mikirin dia?” Ryan sewot.
“Ya, lupain aja kak, kalau jodoh
“Yeee, anak kecil ikut – ikutan, emang tahu?” balas Dinda. Zahra nyengir. Dinda tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zahra diam, “Hmm…”
“Apa lagi?” Ryan dan Zahra berbarengan.
“Nggak, Cuma mikir aja, sampai kapan ya aku kayak gini? Apa aku bisa ya bertahan terus sama obat – obat ini?”
Dinda menatap sekantong obat di tangannya dengan sedih. Ryan menatap Dinda perasaan tak menentu.
“Din, kamu pasti bisa bertahan, percayalah Din. Kamu aja bisa melewati masa – masa sulit kemarin, kenapa sekarang kamu nggak bisa? Kamu pasti bisaa! Aku dan Zahra akan terus nemenin kamu Din, sampai kamu sembuh..” Ryan menatap Dinda, berusaha membangkitkan rasa optimis gadis rapuh itu.
“Kalian nggak takut ketularan?” tanya Dinda.
“Kak Dinda. Aku ulangi, Temen susah bareng, seneng juga bareng. Kalo aku berpikiran kayak gitu, udah lama kita nggak mau deket – deket sama kakak! Itu kata seseorang sih..”Zahra mengerling ke arah Ryan.
Ryan jadi salah tingkah.
Zahra menggengam tangan Dinda, “Aku nggak berharap apa – apa, aku Cuma pengen lihat kak Dinda yang dulu, yang selalu tersenyum. karena itu, kakak harus terus berjuang ya? Mau
“Huuu! iya Nona sok dewasa. tapi, dapet kata – kata dari mana nih anak?”kening Dinda mengerut.
“He.. he..” Zahra nyengir, “Dari buku harian seseorang..” jawabnya polos, sambil mengerling jail ke arah Ryan.
Hukkggkk!.
Muka Ryan langsung bersemu merah seketika. Ketiganya lalu larut dalam canda di sela – sela batuk kecil Dinda, walau masih terbesit kerinduan dan pertanyaan dalam hati Dinda.
Ah, seandainya yang berkata demikian adalah Fery dan teman - temannya.. Tapi, entahlah! Fery, kemana sosok itu? mengapa tak sekalipun Fery menemuinya? Lalu ayah? Jika mereka akan pulang besok, bagaimana cara menjelaskan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu? termasuk masalah penjualan rumah? Serta menjelaskan kenyataan yang ada?
“Eh, Din..” Suara Ryan membuyarkan lamunan Dinda.
“Ya?”
“Untuk besok siang aku udah minta tolong si mbok buat nungguin papa kamu, karena itu kamu bisa ikut aku dan Zahra besok.”
“Ikut? Kemana?”
“Ke rumahku, ke rumah kami.”
“Emang ada acara apa?”
“Nggak, kita
Dinda berpikir sejanak, lalu “Ngg, nggak apa-apa kali ya? ya deh! jam berapa?”
“Jam setengah satu siang.”
“Ok.” Jawab Dinda. Ngg..ibu, seperti apa ya, ibunya Ryan dan gadis kecil itu? Ah, mudah – mudahan saja baik, lembut, pengertian, ramah.. ah, Bunda, itukan seperti bunda. Mungkinkah ibunya Ryan juga seperti bunda?
Dinda kembali tenggelam dalam lamunan dan angan - angannya.
…………………
Dinda mngikuti Ryan dan Zahra memasuki pekarangan sebuah ruah mungil. Ryan mengetuk pintu rumah mungil itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita setengah baya membukakan pintu itu dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh senyum. Dinda segera menebak, mungkinkah ini ibu mereka?
Dugaan Dinda tampaknya tak meleset. Ryan dan Zahra segera membungkuk mencium tangan wanita itu. Dinda mengikuti melakukan hal yang sama dengan agak canggung dan kikuk. Tangan lembut wanita itu tampak sedikit gemetar ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Dinda.
“Bu, ini Dinda,”Ryan memperkenalkan Dinda, “Din, ini ibuku.”
“Ibuku juga.” sambung Zahra tak mau kalah.
Dinda tersenyum. Wanita itu membalas senyumnya,”Ayo, silahkan duduk. Ibu bikinkan minum dulu ya, Dinda mau minum apa?”
“Ah, nggak usah repot – repot, bu. Apa aja boleh.”
Ryan dan Zahra pamit sebentar meninggalkan Dinda untuk berganti pakaian. Dinda mengamati seisi ruangan itu. Ruang tamu yang sederhana. Tak ada pajangan, hanya ada beberapa photo Ryan sewaktu masih SD dan SMP, juga photo Zahra dan beberapa photo ibu Ryan sewaktu masih gadis. Tiba – tiba saja Dinda merasakan ada sesuatu yang kurang di ruangan itu. Tapi, ia tak segera menemukan kekurangan itu, karena pikirannya segera terhenti karena ibu Ryan telah kembali dengan membawa nampan yang di atasnya ada tiga gelas air sirop.
“Maaf, ya Din, ini seadanya.” Ibu itu meletakkan gelas di depan Dinda.
“Nggak apa-apa kok, bu.” Jawab Dinda, bersamaan dengan kemunculan Ryan dari arah kamarnya. Tampaknya ia sudah berganti baju.
“Bagaimana kabarnya ayah Dinda sekarang?”
“Ya, udah lumayan baik, bu. Mungkin besok udah bisa pulang.”
“Syukurlah..” wanita itu menarik napas panjang.
Demikianlah! Setelah itu dua jam mereka terlibat dalam percakapan – percakapan sehari – hari. Mulai dari pekerjaan, sekolah, sampai – sampai membicarakan resep masakan, dan banyak hal lainnya, diselingi tawa renyah yang sesekali terdengar. Akrab dan hangat, walaupun banyak hal yang tak dimengerti oleh Dinda dalam percakapan itu.
…………………….
Jumat, 18 Juni 2010
RB - Bagian Sembilan
Dinda masih terpaku menatap wajah ayahnya yang dibalut perban yang masih menyisakan bercak merah darah yang terbaring beberapa meter di depannya. Tangan Gadis itu menggenggam seikat bunga yang bertuliskan namanya. Mulut gadis itu tak henti – hentinya berbicara, walaupun sosok yang diajaknya bicara tak juga menjawab.
“Ayah, makasih bunganya. Dinda baru tahu kalau ayah sebenarnya sayang banget sama Dinda.. maafin Dinda yah, harusnya Dinda bisa jagain Ayah. Dinda tau, Ayah juga kesepian, sama seperti Dinda setelah bunda pergi ninggalin kita.. yah, ayah harus tau, Dinda sayang sama ayah, Dinda nggak mau ayah ninggalin Dinda, ayah harus berusaha untuk hidup, sama kayak Dinda! Ayah nggak boleh ninggalin Dinda, Nggak boleh..” Ucap Dinda serak. Air mata membanjiri matanya yang tampak membengkak karena menangis semalaman.
Tangannya menggenggam tangan dingin lelaki yang dicintainya yang terbaring lemah itu. Airmata mengalir deras di sela – sela suara seraknya yang semakin habis. Dua hari sudah ayahnya terbaring, tanpa menunjukkan perubahan apa – apa. Seandainya bisa, sungguh ingin rasanya Dinda menggantikan tubuh itu berbaring di sana itu..
“Maaf, non Dinda..”
“Ya, mbok?”
“Anu.. ada .. ada temannya di luar, mbok suruh masuk atau tunggu aja?” suara mbok Yana membuat Dinda menoleh. Gadis itu mengusap airmatanya, “ Siapa mbok? Kalau Cuma satu atau dua orang, suruh masuk aja, Mbok.” jawab Dinda. Mbok Yana mengangkat bahu, lalu kembali keluar.
Teman. Siapa yang masih mengakuinya sebagai teman setelah semua ini terjadi? Apakah itu Anggi Cs yang kembali setelah pergi meninggalkannya begitu saja sejak saat itu? Ataukah Fery, yang langsung berubah drastis setelah semua yang dialaminya?
Ah, Fery.. perih sekali rasanya hati Dinda ketika mengingat nama itu. Dulu, sebelum semua ini terjadi sosok Fery adalah teman terbaik di mata Dinda. Fery yang selalu menyanjungnya dan dapat membuatnya melupakan segala resah. Memang seharusnya Dinda tidak berprasangka, tapi bukankah kenyataan bahwa Fery memang menghilang dari kehidupannya sejak berita tentang dirinya yang mengidap tebece menyebar di sekolah itu?
“Assalamualaikum..” Dinda reflek menoleh ke asal suara di belakangnya. Sosok tegap Ryan berdiri di sana. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis berkerudung rapi, usianya kira – kira tiga belas atau empat belas tahun, tiga atau empat tahun lebih muda dari cowok itu.
“Eh, wa’alaikum salam. Kamu.. Kok kamu tau aku ada di sini? Dan dia?” Tanya Dinda sejenak mengalihkan perhatian dari ayahnya yang terbaring. Matanya beralih ke sosok di samping Ryan.
“Eh, nggak, tadi aku ke rumah kamu, karena sudah tiga hari ini aku nyari kamu di sekolah, tapi kamunya nggak masuk terus, trus kata bu Sami yang jaga, katanya ayah kamu lagi dirawat. Oh ya, ini Zahra adikku.”
Sosok yang disebut Zahra segera mengulurkan tangan, Dinda menyambut uluran tangan itu. Mata mereka berpandangan sejenak. Sesaat Dinda merasa ada sesuatu yang lain pada gadis itu, namun entah apa.
“Gimana keadaan ayah kamu?” Ryan kembali mengagetkan Dinda.
“Ya, seperti yang kamu lihat Yan, ayah masih koma. Aku selalu bicara sama ayah, tapi ayahku tetap nggak ngejawab.”
“Kamu sabar aja ya? Mungkin emang ini ujian buat kamu” ucap Ryan.
Dinda mengangguk. Ya, Dinda juga berharap hal yang sama dengan Ryan dan berdoa semua ini akan segera berlalu dari hidupnya. Bukankah selalu ada ungkapan yang mengatakan bahwa badai pasti akan berlalu ?
“Oh ya, Aku beliin makan ya, kamu ngobrol aja sama adikku ya, sekalian buat mbok yang di depan. Ra, temenin kak Dinda ya!” ujar Ryan.
Zahra mengangguk. Dinda memandang mereka dengan penuh terima kasih, “Makasih Yan, Zahra. Oh ya, Ryan, kamu nggak mau lihat keadaan ayahku dulu?” tanya Dinda dengan nada yang seriang mungkin dan senyum terpaksa.
“O, i.. iya, nanti aja. Setelah beli makan buat kamu.” Ryan gelagapan dan berusaha menutupi rasa gugupnya dengan membalas senyum sebelum ia meninggalkan Dinda. Zahra menatap kepergian kakaknya dengan bingung.
Di sampingnya, Dinda menatap bayangan Ryan yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan kolidor rumah sakit. ”Ya Allah, kuatkan hatiku menjalani semua ini, jangan biarkan Ayah meninggalkanku saat ini, berilah kekuatan padanya untuk bisa melewati deritanya dan.. Bunda, ya Allah.. Dinda kangen baget sama bunda.” Dinda bergumam dalam hati.
Selanjutnya Dinda larut dalam percakapannya dengan Zahra. Gadis itu, walaupun lebih muda dari pada Dinda, tapi ternyata enak diajak ngobrol dan dewasa. Sedikit banyak Dinda merasakan beban di pundaknya sedikit lebih ringan.
……….…………..
Hari ketiga setelah kecelakaan…
Sosok itu menatap Pram yang terbaring tak berdaya di depannya dengan perasaan tak menentu. Kesal, sedih, kasihan, dan marah bercampur jadi satu di ekspresinya yang kaku. Sebuah photo lama tergenggam di tangannya yang mengepal keras.
“Pram.. atau harus aku panggil papa? papa tiriku, apa kabar? Apa? Kamu nggak kenal aku? Oh, ya! Pantas saja, karena kita ketemu udah lamaaa.. banget!. Aku siapa? Aku anakmu! Anak yang terus menunggumu datang sejak empat belas tahu yang lalu.. ibu? Papa pasti ingin bertanya tentang ibu dan adikku kan? Ibuku masih menunggumu, pa, sampai saat ini..!” sosok itu berhenti sejenak, lalu menyapukan pandangan ke sekitarnya, takut ada yang mendengar kata – katanya.
Sementara itu, sosok yang ditatapnya masih tak bergerak. Ia melanjutkan bicaranya, “Ibuku menunggu siang dan malam, bekerja membanting tulang demi kehidupan kami. Ibuku menuggumu! Aku memang kesal padamu, aku sempat benci, aku sempat ingin kau lenyap saja dari dunia ini. tapi, sekarang tidak, pa! Aku ingin kau sadar, sadar! Hadapi aku!” Sosok itu tergugu menahan isak dan luapan emosinya yang tertahan, “Ya, aku tak tahu alasannya, tapi yang aku tahu, aku tidak menjalani hidup seperti anak lainnya, seperti Dinda misalnya. Hidupku penuh kepahitan, pa, karena itu aku .. aku rasanya tak ingin Dinda.. ”
Sosok itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dari kejauhan terdengar langkah – langkah yang semakin mendekat. Sosok itu segera bangkit dengan terburu – buru, namun berusaha agar tampak wajar. Ia melangkah perlahan menuju pintu. Seorang suster yang berpapasan dengannya di depan pintu tersenyum padanya. Ia membalas senyum itu dengan penuh arti.
Minggu ketiga setelah kecelakaan Pram..
Dinda termagu sendirian di depan kolidor rumah sakit yang dipenuhi semerbak bau obat. Di tangannya tergenggam sebuah buku mungil, buku tabungan. Mobil, surat – surat berharga yang ditinggalkan Ayah untuknya, satu persatu melayang sudah untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit itu. Perusahaan ayahnya tak banyak dapat membantu, karena kondisinyapun sedang sulit. Hanya beberapa kali waktu itu mereka datang menjenguk. Sekarang, tabungan.. Dinda menatap saldo di buku tabungan yang ada di tangannya yang semakin menipis dengan desah napas panjang. Ayah, tolong Dinda ayah..!
“DOR!!”
Hah!! Dinda tersentak kaget. Di depannya Zahra berdiri cengengesan melihat kekagetan gadis itu. Dinda langsung menekuk mukanya jadi delapan, cemberut.
“Assalamu’alaikum. Kakak kok bengong aja? Gimana keadaan oom sekarang?”
“Wa’alaikum salam. Masih sama, belum sadar. Kamu sendirian? Kamu bawa apaan?” Tanya Dinda begitu melihat tangan kanan gadis kecil itu menjinjing sebuah plastik putih.
Zahra tersenyum, lalu mengangsurkan plastik itu kepada Dinda, ”Ada titipan makanan buat kak Dinda, nih!”
Dinda menerima bungkusan itu dengan senyum mengembang. Laper!! Tangan gadis itu langsung membuka kardus nasi itu dengan hati – hati. “Makasih ya, Enak nih kayaknya.. kamu yang masak?”
Senyum Zahra terlihat pudar seketika, Dinda jadi bingung, “Ada apa? Aku salah ngomong ya?” tanya Dinda hati – hati, takut ada yang salah dengan ucapannya.
Zahra menggeleng, memandang Dinda sesaat, lalu “Nggak, iya, itu dari ibuku. Dia yang yang masak buat kamu, aku belum ahli masak..” sahutnya dengan malu – malu.
“Ce ilee.. gitu aja sedih, ntar juga lama – lama kamu pasti bisa. Aku juga belum bisa masak. Ini buat aku?”
“Iya, buat kakak.”
“Emangnya ibu kamu kenal sama aku?”
“Ya, nggak sih, Cuma Kak Ryan yang cerita.”
“Ryan yang cerita?”
“Yup!”
“Kamu tinggal sama siapa aja? Ayah? Adik?”
“Nggak, Cuma sama ibu sama kak Ryan aja kok, aku udah nggak punya ayah dan nggak punya adik.”
Dinda tercenung. Pikirannya berusaha menangkap hikmah yang bisa diambilnya dari perkataan Zahra. Benarkah? Nasib mereka sama. Dinda punya bunda, dan Ryan dan Zahra punya ibu. Selama ini Dinda selalu berpikir betapa malangnya hidupnya tanpa bunda, tapi ternyata masih ada juga yang bernasib malang seperti dirinya? Bukankah seharusnya juga bersyukur masih memiliki Ayah yang tinggal serumah dengannya, meskipun seringkali tak peduli padanya? Dan si Mbok yang perhatian sebagai pengganti bunda? Jadi itukah sebabnya Ryan begitu benci dan kesal sekali mendengar perkataannya waktu malam itu?
“Mungkin kita emang senasib kak, Jodoh kali! He..he..”
Dinda langsung cemberut. “Yeee! ngasal! Ogah ah!”
“Lho, kok?”
“Ogah, emangnya lesbong?”
“Yee, emang jodoh dalam hal nikah aja, cocok temenan juga namanya berjodoh.”
“Ehem!”
Deheman dari belakang mereka membuat keduanya menoleh,“ Udah akrab nih kayaknya.” sapa Ryan.
“Yeee! datang – datang bukannya ucap salam, malah ehem – ehem..” Zahra buru – buru menimpali.
Ryan jadi malu, “Iya, assalamu’alaikum..” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam.” koor keduanya.”
“Eh, Yan, Tapi kok kamu tahu bundaku udah meninggal? Aku kan nggak pernah cerita?” Selidik Dinda.
“Ada aja!” hm, lagi – lagi nih anak.
“Huuu..! sok detektifnya kumat deh!” sambung Zahra.
“Jangan – jangan kamu CIA ya? Atau FBI, yang dikasih kerjaan buat mata – matain aku?”
“Yee.. kurang kerjaan amat tuh agen! Emangnya kamu sepenting apa? Putri presiden aja nggak gitu – gitu amat! Ya pokoknya ada deh! mau tau aja!”
Hm… JTAK! Buku kecil yang tadi di tangan Dinda langsung melayang ke kepala cowok itu, membuat cowok itu mengaduh.
“Syukur!! Nih tambah lagi!” Zahra ikut menimpali, sebuah bantal sofa sekarang ada di tangannya, siap melayang.
Ryan buru – buru menghidar dari serangan kedua gadis itu. Namun, jauh di hatinya, Ryan merasa senang bisa membuat Dinda kembali tersenyum, meski ada sesuatu yang tersimpan di balik senyumnya itu. Sejenak semua beban yang tadi ada di kepalanya terlupakan oleh Dinda.
…………………
Bulan kedua setelah kecelakaan Pram…
“Jadi, ayah saya nggak bisa terus dirawat di sini kalau saya nggak bisa bayar biaya sebesar ini dokter? Mengapa sebesar ini dokter?”. Tanya Dinda meyakinkan pendengarannya atas penjelasan dokter yang begitu panjang tadi. Mata gadis itu tak lepas dari sebuah kertas yang bertuliskan nominal yang siapapun pasti akan terbelalak melihatnya.
“Jadi memang begitulah..”
“Tapi kenapa, dokter?”
“Yah, nona, saya rasa nona tahu dan sudah cukup besar dan dewasa untuk mengerti hal – hal seperti ini, perawatan ayah nona itu bukan perawatan biasa, tapi koma! Anda juga pasti pernah dengar kan? dan dana yang nona bayarkan beberapa waktu yang lalu sudah tidak mencukupi untuk biaya perawatan selanjutnya. Pihak rumah sakit sebenarnya sudah berusaha membantu, tapi bantuan yang bisa kami berikan juga terbatas, karena banyak pasien lain yang juga membutuhkan bantuan. Saya rasa anda mengerti, nona.” Dokter Hans mengakhiri pembicaraannya.
“Tapi, bukannya biasanya di setiap rumah sakit ada keringanan untuk orang yang nggak mampu, dok?”
“Ya, mungkin nanti nona bisa tanya di bagian administrasi. Yah, biasanya ada beberapa syarat yang harus dilengkapi dulu.”
“Ya, makasih dokter. Mungkin saya akan coba ke sana.”
Dinda tertunduk sedih. Lalu pamit keluar ruangan.
Dinda bukan hanya mengerti dengan ucapan dokter Hans, tapi juga paham betul apa artinya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebesar puluhan juta itu untuk kelanjutan biaya rumah sakit ayahnya?. Perusahaan tempat ayahnya bekerja tak lagi bisa memberikan dana cash, perhiasan terakhir peninggalan bunda sudah terjual kemarin siang, sementara untuk mencari pekerjaan tanpa ijazah SMU yang seharusnya diperolehnya beberapa bulan lagi? pekerjaan apa yang bisa didapatkan gadis kecil sepertinya di tengah panasnya persaingan ibukota saat ini? Paling berapa sih gaji pegawai lulusan SMU apalagi yang nggak lulus?
Hufh! SMU. Dinda jadi teringat sekolahnya yang terbengkalai dan tentang teman – temannya. Sungguh menyenangkan saat – saat dulu. Tidak seperti sekarang yang sejak peristiwa itu, tak seorangpun dari Anggi, Mia, Selly ataupun Desi yang datang menjenguknya ke rumah sakit ini. jadi bagaimana mungkin ia bisa meminta bantuan? Sedangkan meminta bantuan kepada guru – guru yang sempat beberapa kali datang menjenguk jelas rasanya nggak mungkin, Dinda tahu pasti kondisi ekonomi dan keluarga mereka yang juga pas-pasan karena gaji guru yang kecil. Sementara minta tolong Ryan? Jelas lebih nggak mungkin lagi, karena Dinda tahu Ryan juga harus membantu biaya sekolah Zahra dan bibinya menghidupi dua adik sepupunya yang juga masih sekolah dan kecil – kecil. lalu? Huh! Dahi Dinda semakin mengernyit. Hm, apa ya yang bisa ia lakukan sekarang?
“Din, kamu kenapa?”. teguran Ryan yang baru tiba entah dari mana mengagetkan Dinda.
“Eh, nggak apa – apa. Zahra mana?” Jawab Dinda berbohong.
“Mungkin bentar lagi datang, tadi dia ada les dulu, dia kan udah mau ujian kenaikan kelas.”
“Ow..” mulut Dinda mengerucut.
“Hm.. gitu. oh ya, Ini ada surat dari sekolah kamu, tadi nggak sengaja aku lewat rumah kamu, trus mampir dan mbok Yana ngasih ini.. katanya kamu diperbolehkan ikut ujian akhir, nanti bulan Juni, jadi kamu siapin aja mulai sekarang.”
“Bener, Yan? Aku bisa ujian? Bisa lulus?” Dinda menatap Ryan tak percaya. Ryan mengangguk, ”Bisa ujian, kalo lulus mah tergantung kamu”
Dinda memplototi Ryan dengan jengkel. Ryan langsung salah tingkah.
Sejak kejadian itu Dinda memang sudah tak pernah memikirkan akan masuk sekolah lagi, apalagi yang namanya mengikuti ujian. Bukannya tak ingin, tapi dalam situasi seperti ini?
“Trus, bungkusan itu?” Dinda melirik bungkusan yang dijinjing Ryan.
“Ini ada titipan dari rumah, mbok Yana udah cerita sama aku soal penyakit kamu, trus Mbok Yana nitip ini ke aku, katanya ini ramuan tradisional untuk mengobati tebece, campuran dari bunga tembelekan, akar alang – alang, kencur, gula batu rebus, sama air yang disaring.” jelas Ryan panjang lebar.
“Buat apa?” Dinda bingung.
“Ya buat kamu minum tiap hari.”
“Kamu kan tahu aku paling benci minum jamu? Pahit! ”
“Mau aku suruh Zahra maksa kamu minum?”
Dinda menggeleng dengan cepat. Ryan ketawa melihat ekspresi Dinda yang langsung seperti orang mau muntah, “ Bodo! Kata simbok ini bisa buat nyembuhin tebece, tapi kamu harus minum rutin dua kali sehari, trus katanya ini untuk selanjutnya kamu harus ambil sendiri tiap pagi ke rumah, jelas?”
Dinda mengkerut. Huh.. udah maksa, pahit, pake ngambil sendiri lagi! maunya diambilin! He.. he.. Dinda nyengir.
Tapi sesaat kemudian Dinda kembali terdiam.
Rumah? Oh! Ya.. mengapa tak pernah terpikirkan olehnya selama ini? ia masih memiliki rumah! Tapi, kalau rumah itu ia jual atau sewakan?, bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Ayah nanti? lalu ia akan tinggal dimana? tapi, bukankah yang penting ayah bisa sembuh? Bukankah ia bisa mencari kontrakan kecil dulu, sambil mencari kerja? Apapun akan dikorbankannya untuk ayah! ya, apapun! Termasuk jatah berobatnya yang habis akhir bulan ini.. (Eit, diam – diam ya! ini nggak boleh ketahuan Ryan, lho!)
“Makasih Yan!, tolong jaga Ayahku sebentar ya..! bentar lagi aku balik kok, ok? Nggak pake lama kok, paling cuma beberapa jam. Kalau Zahra datang, suruh nunggu aja, ok?” Dinda mengatupkan kedua tangan di dadanya.
Lalu gadis itu langsung berlari, setelah mengambil dompetnya di laci lemari bangsal tempat ayahnya dirawat, tanpa mempedulikan Ryan yang masih bingung menatap bungkusan dan surat yang masih digenggamnya. Bingung. Makasih? For what? (kan titipannye belom aye kasihin, non!) .
….……bersambung ke bagian sepuluh……………
leve coment y
Kamis, 17 Juni 2010
RB - Bagian Delapan
Di suatu rumah mungil, 14 tahun yang lalu..
Sintya, Seorang ibu muda, sedang mondar – mandir dengan gelisah. Rambutnya yang panjang terikat dengan asal dengan sebuah ikat rambut berwarna putih. Sesekali tangannya meraba perutnya yang sedikit membuncit. Ia sedang hamil. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat dengan jelas, menandakan ia kurang tidur beberapa hari ini.
“Ma, papa mau datang ya, ma?” tanya anak kecil yang tengah asyik dengan mainan di depannya.
“Iya, sayang.”
“Emang kita mau pelgi ya, mama?”
“Nggak, sayang. Papa Cuma mau ajak tante Tyas ke sini. Papa sekarang akan jemput dia.”
“Tante Tyas, ma?”
“Iya, tante Tyas, ada Dinda juga, seumur sama kamu, nanti nggak boleh berantem ya..”
“Nanti papa bawa mainan ya, ma?”
“Iya, udah
“Ya, ma.“ Anak itu mengangguk dengan patuh, lalu menuju kamar, mengambil handuk, dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Sepeninggal anaknya, Sintya kembali dengan kesibukannya. Mondar-mandir dan sesekali melongok ke jendela. Hatinya diliputi rasa was-was, “Mas Pram, apa yang terjadi? Apa semuanya baik – baik saja? Kenapa sampai jam segini belum juga datang? Bukankah mereka seharusnya sudah sampai sejak dua jam yang lalu? Ataukah Tyas memang tak bisa menerima kehadirannya? Dan karena itu.. mereka tak jadi kemari?”
Sintya tenggelam dalam pikiran dan penantiannya. Ia memandang ke luar Jendela dengan harap cemas.
Di waktu yang sama, Di Kawasan Puncak…
Hari masih belum terlalu siang. Jalan kawasan puncak yang masih sepi dengan arus kendaraan yang biasanya padat merayap. Mungkin karena ini bukan hari libur dan hujan deras yang mengguyur jalan yang dikelilingi kebun teh itu dengan lebatnya, sehingga lebih banyak para pengemudi yang memutuskan untuk berhenti dan berteduh di pondok – pondok di sepanjang jalan sambil menikmati jagung bakar atau singkong bakar yang dijajakan penjual yang berasal dari penduduk setempat. Sebuah sedan hitam tampak masih berjalan dengan perlahan..
“Yah, nanti Dinda mau makan jagung bakal ya, kalo udah sampai di puncak.” celoteh gadis kecil yang masih cadel ‘er’ itu dengan gembiranya ketika mobil mulai memasuki kawasan perkebunan teh yang semakin lama semakin menghijau di daerah puncak.
“Iya, trus apa lagi?” jawab Pram dengan sabar.
“Telus, beli mainan boneka balbie..”
“Kalo udah beli boneka barbie?”
“Udah gitu, beli bajunya juga, baju Dinda juga ya, yah?”
“Iya, sayang, trus..?”
“Beli straubely, telus Dinda mau beli kuda – kudaan, maenan... pokonya semua ya yah?..”
Pram tertawa melihat tingkah putrinya. Dibelainya rambut Dinda dengan saying, “Kalau udah semua?”
“Eit, stop. Dinda, udah ah, jangan gangguin Ayah terus, Ayah
Pram tersenyum melihat wajah khawatir istrinya. Dari dulu Tyas memang tipe orang yang penuh kekhawatiran. Ia juga tipe orang yang penuh konsentrasi kalau melakukan pekerjaan, termasuk soal menyetir. Makanya, kalau pergi bareng Tyas, dia harus sedia banyak kaset biar nggak ngantuk! Soalnya gimanapun diajak becanda atau ngobrol, pasti nggak diladenin! Tapi itu dulu, sebelum ada Dinda kecil yang lebih cerewet kalau bertanya di sepanjang jalan dan selalu ngambek kalau pertanyaannya nggak dijawab. (Hayo, milih mana? Ngambeknya Dinda tea nggak tanggung – tanggung, bisa sehari semalem, he..he..).
“Makanya, tadi ayah bilang juga apa? Berhenti aja dulu, eh, bundanya nggak mau, ya
“Hmm, anak sama ayah sama aja!”
“Iya,
“Tuh
Pram nyengir. Ketahuan ni yee..!
“Yes madame!”. Pram segera berkonsentrasi kembali dengan jalan yang semakin licin dan kabur oleh air hujan.
Sambil menyetir, pikiran Pram kembali melayang,“Ah, Tyas.. selalu memikirkan orang lain. Entah terbuat dari apakah hati bidadariku ini. entah, entahlah, rasanya beban ini semakin berat. Bagaimana aku harus mempertemukan mereka nanti? Mempertemukan dua orang perempuan yang sama – sama aku cintai? Tyas memang sudah menerima kehadiran Syntya sejak awal. Tapi bagaimanapun Pram tahu pasti ada goresan luka di
Tiba – tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dari arah yag berlawanan. Pram yang sangat terkejut dengan kondisi yang tak terduga itu segera berusaha menghidari truk itu dengan sedikit membanting stir agak ke kanan. Tias menjerit panik dan segera mendekap Dinda kuat – kuat.
BRAKKK!!!
Sebuah hantaman keras di sisi kiri membuat Pram kehilangan kendali.
Pram langsung tak sadarkan diri. Di sebelahnya Tyas berlumuran darah dan tergeletak lemah. Tangannya mendekap Dinda yang juga tak sadarkan diri. Dinda merasakan sebuah tangan mengguncang – guncang tubuhnya dan sebuah suara lemah bundanya berusaha menyadarkannya, suara itu semakin lama semakin jelas bergaung di telinganya..
“Dinda, bangun..”
Bunda?
“Dinda… “ suara itu terasa semakin mendekat di telinga Dinda.
“Dinda, non Dinda! ini Mbok Yana..”
HAHH!!!
Dinda langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya bermandikan keringat. Di samping Dinda mbok
“Mbok? ”
“Non nggak apa – apa?”
“Nggak, Mbok.” Dinda menggeleng, lalu melepaskan pelukannya. ”Dinda Cuma mimpi tentang kecelakaan waktu itu, Mbok.” ucap Dinda, kesedihan masih menghiasi wajah sayunya.
“Tapi, mbok kenapa udah ngebangunin Dinda? Bukannya belum pagi ya?”. Ucap Dinda heran.
“Anu, Non., tuan..”
“Kenapa dengan ayah Mbok?” Dinda was – was.
“Tuan belum pulang dari semalam, tuan juga nggak telpon, Mbok khawatir, makanya mbok bangunin non, karena Mbok
Kening Dinda langsung berkerut. Hatinya mulai dipenuhi rasa takut dan cemas. Ayah nggak pulang?
Hmm.. ini adalah kasus pertama! Selama ini ayah memang sering pulang malam sejak bunda meninggal, tapi ayah nggak pernah sampai nggak pulang, ataupun kalau ada rapat di luar
“Ya udah, mbok. Nanti Dinda coba hubungi handphon ayah, Dinda cuci muka dulu ya!”
Mbok Yana mengangguk, lalu segera keluar. Dinda segera bergegas menuju kamar mandi. Beban pikirannya bertambah. Kemana Ayah semalaman?
Dinda segera menyambar handphonnya. Jemari mungilnya mulai menekan bebarapa tombol nomor. Beberapa kali ia mengulangi hal yang sama, tapi tak membuahkan hasil. Nomor handphon ayahnya tetap tak bisa dihubungi. Dinda mulai gelisah. Ayah? Kemana ayah?
Kriiing! Kriiingg!
Bunyi telpon rumah parallel di kamarnya membuat Dinda segera meletakkan handponnya dan cepat – cepat menyambar gagang telepon di samping tempat tidurnya. Ayah?
“Halo..”. ucap Dinda gemetar.
“Assalamu’alaikum, Bisa bicara dengan Dinda?” jawab sebuah suara bariton dari seberang telepon. Dinda mendesah kecewa. Bukan suara ayah!
“Wa’alaikum salam. Ya, ini Dinda. Maaf, ini siapa ya?”
“Ini Ryan, yang motornya kamu tumpangin waktu itu, masih ingat? Saya cuma mau mastiin apa kamu baik – baik aja.”
“O, baik, saya nggak apa – apa, makasih ya kemarin.”
“Sama – sama, Din. Syukurlah kalau begitu.” jawab Ryan.
Dahi Dinda langsung mengernyit begitu mendengar Ryan menyebutkan namanya. Dinda langsung bertanya, “Lho, kok kamu tahu namaku?”
“Ah, nggak, ya udah dulu ya! Assalamualaikum!” sahut Ryan.
Dinda langsung teringat dengan jas hujan yang dipinjamkan sosok itu kemarin. Spontan ia berteriak sebelum gagang telpon itu diletakkan “O oh, ya, tunggu! sorry ya, jas hujannya masih sama aku, kapan aku bisa kembaliin?”
“Ya, kalau kamunya masih belum sehat banget, ya biar aku aja yang ambil nanti kalau aku ada waktu, ok? Atau titip aja di kantin sekolah kamu, sama bu Sami, penjaganya. Assalamu’alaikum.”
“Wa.. wa’alaikum salam..” jawab Dinda gelagapan. Telpon kok buru – buru amat?
Dinda meletakkan gagang telepon dengan masih mengernyitkan dahi. Sejenak mendung di wajahnya sedikit terhapus. Tapi, tiba – tiba kening Dinda berkerut. Dari mana sosok yang bernama Ryan itu tahu nama dan nomor telponnya? Kok dia kenal sama penjaga kantin sekolahnya? Siapa dia?
KRIIINGGG! KRINGGG!
Deg! Sekali lagi Dinda terlonjak kaget. Lalu meraih gagang telepon. Mungkinkah yang kali ini benar – benar ayah? Dinda berharap dengan cemas, ”Ya, halo?”
“Maaf, apakah betul ini dengan keluarga bapak Pram?”
“Ya, saya putrinya, ada apa ya mbak? Mbak ini dari siapa? Kenapa tahu nomor telpon sini?”. Tanya Dinda tak sabar. Suster itu melanjutkan, “Begini dik, kami dari rumah sakit Cipto, bapak adik sekarang ada di rumah sakit, sekarang..”
“Kenapa dengan ayah saya, mbak?” potong Dinda. Bagaimanapun, kejadian empat belas tahun lalu masih sangat jelas membekas di kepala gadis itu, membuatnya sangat anti dengan kata – kata yang berbau rumah sakit, apalagi sampai harus berurusan dengan pihak rumah sakit.
“Semalam pak Pram mengalami kecelakaan, korban tabrak lari, sekarang pak Pram dalam keadaan koma di rumah sakir Cipto, kejadiannya.. mbak, mbak?”
BRUKKK!
Dinda merasakan kepalanya berputar – putar mengikuti kalimat yang dikatakan oleh penelpon itu. Seakan ada palu yang besar sekali menghantam kepalanya, membuat semuanya langsung terasa semakin berat dan.. gelap!.
………bersambung ke bagian sembilan.…………
jgn lupa coment-nya ya.thq
Selasa, 15 Juni 2010
RB - Bagian Lima
Tok! Tok! Tok!
Dinda mengetuk pintu ruang kepala sekolah dengan hati – hati. Hatinya diliputi tanda tanya besar karena baru pertama kali ini pak Teguh, kepala sekola SMA Teladan, memanggilnya ke sini dengan tiba – tiba dan sendirian. Sebuah suara bariton yang sudah dikenalnya menyuruh Dinda untuk melangkah memasuki ruangan berbentuk persegi itu. Di pojok ruangan pak Teguh tampak sudah menunggunya. Dinda segera dipersilahkannya duduk.
“Maaf pak, ada apa ya bapak manggil saya?” tanya Dinda.
Pak teguh mamandang Dinda dengan tatapan yang tak dimengerti oleh gadis itu. Keningnya yang mulai keriput tampak mengernyit seperti berpikir. Dinda jadi tambah bingung dan sekali lagi menegur dengan suara agak dikeraskan, “Pak?”
“Eh, iya, iya.. begini nak Dinda, bapak dan sekolah ini bangga sekali dengan prestasi yang sudah kamu lakukan untuk sekolah ini.”
“Kok bapak jadi gitu ngomongnya sih? Itu
“Bapak tahu itu, tapi.. maafkan bapak nak Dinda, maafkan sekolah ini..” Pak teguh mengelap keringat di dahinya.
“Emang kenapa pak?” tanya Dinda tak mengerti, ”Maaf untuk apa?”
“Begini nak Dinda, kami sebenarnya ingin mengurus beasiswa nak Dinda secepat mungkin, seperti tahun – tahun sebelumnya, karena nak Dinda tau sendiri kan bentar lagi di sana semester baru akan segera dimulai, tapi kami mendapatkan bahwa ada satu syarat yang tidak bisa nak Dinda penuhi.”
Dinda terperangah.Kaget. Syarat? Bukankah semua syarat sudah dilengkapinya? Lalu?
“Syarat apa, pak?”
“Tes kesehatan.”
“Tes apa, pak?”
“Kesehatan.”
“Lho, bukannya sebelumnya nggak ada tes – tesan segala pak selain seleksi itu? Dan bukankah semua syaratnya udah saya penuhi?”
“Ya, tapi kami mendapatkan sebuah informasi penting.”
“Informasi apa, pak?”
“Informasi bahwa.. maaf, kami mendapatkan informasi dari sebuah sumber kalau nak Dinda mengidap penyakit tebece. Apakah informasi itu benar?”
PLUGG! Dinda bagai terlempar ke jurang yang dalam. Dinda mengangguk dengan lesu ,”Ya, pak.”
“Begini, sesuai perjanjian antara pihak sekolah dan mereka, mereka akan menolak siswi yang mengalami gangguan kesehatan dan berpenyakit menular, apalagi yang namanya, tebece. Mereka tidak mau menerima, kecuali ganti orang. Dan kalau kita mengulur – ulur waktu lagi, kita nggak akan bisa mengejar semester ini.”
Dinda terdiam. Perkataan pak Teguh barusan seperti mengikat lidahnya untuk membantah dan membela diri. Tebece? Bagaimana mungkin penyakit itu bisa jadi penghalang cita – cita seumur hidupnya? Apakah semua impiannya harus kandas hanya karena tebece yang dideritanya?
Dinda terhenyak. Tapi.. tunggu dulu. Kenapa pihak sekolah sampai tahu semua itu? bukankah tak ada yang tahu tentang hal ini? siapa yang mengatakan hal itu? siapa yang membocorkan rahasia itu? hal tes kesehatan beberapa bulan lalukah?
“Maaf pak, boleh saya tau dari mana pihak sekolah tahu hal itu?” tanya Dinda.
Pak Teguh lalu tampak mengaduk – aduk isi lacinya, seperti mencari – cari sesuatu. Dan akhirnya tangannya menggenggam sebuah amplop coklat yang akhirnya diangsurkannya amplop itu kepada Dinda.
Dinda menerima amplop itu dengan bingung dan penuh dengan tanda tanya. Tapi tak urung, tangannya segera membuka isi amplop polos itu dan mengeluarkan dua lembar kertas dari dalammya.
“Kepada kepala Sekolah SMU Teladan,
Saya hanya ingin memberitahukan, bahwa siswa yang bernama Adinda Putri adalah pengidap tubercolosis atau TBC dan tidak layak mewakili sekolah ini sebagai siswa teladan. Harap ditindak lanjuti.. kalau sekolah bapak tidak ingin mendapat malu dan tercemar. Terima kasih bapak kepala yang baik.” dari : the best student.
Dinda terperanjat kaget. The best student? Siapa dia? Ia langsung melihat kertas lembar ke dua? Oh, my god! Apa ini? mengapa ini ada di sini? Dinda menahan napas. Dadanya terasa semakin sesak. Kertas itu.. kertas itu adalah hasil pemeriksaan laboratoriumnya!
“Kami mohon maaf nak Dinda, kami harap…”
“Tidak apa – apa, pak.” Potong Dinda dengan nada lesu.
“Benar nak Dinda, kami nggak bermaksud.. tapi demi kebaikan kamu, dan teman – temanmu juga, dan sekolah kita ini juga.”
“Tidak pak,” potong Dinda lagi, ”Saya tahu sekolah nggak salah. Mungkin emang jalan hidup saya nggak ke
“Terima kasih Dinda, oh ya, kamu akan digantikan oleh runner up waktu pemilihan, temanmu Selvy yang akan berangkat. Mudah – mudahan kamu cepat sembuh ya! Oh ya, kami tidak akan membocorkan hal ini kepada para siswa asalkan kamu tetap berobat dan berusaha untuk sembuh. Bapak yakin kamu pasti bisa sembuh.”
“Makasih juga pak, saya permisi, Assalamu ‘alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Dinda melangkah menuju pintu dengan lunglai. Ia pergi dengan membawa kepingan pecahan cahaya bintang yang mulai mulai padam pijar cahayanya. Hanya sebuah pertanyaan yang masih tersisa di kepala Dinda. Siapa orang yang begitu tega melakukan semua ini kepadanya? Dinda mencoba mengingat – ingat di mana ia terakhir kali meletakkan kertas itu, namun pikirannya buntu, kepalanya terasa berputar.
“Hai, Din..!” sapa sebuah suara ketika Dinda baru menutup pintu ruangan itu. Ia berbalik. Selvy berdiri di
“Hai juga.” Balas Dinda.
“Baru dari kepsek?”
Dinda mengangguk, “Ya, selamat ya..!”
“Oh, Eh.. iya. Makasih. Eh, gw masuk dulu ya, daaagh!” Selvy melambaikan tangan, lalu menghilang di balik pintu yang sama dengan yang tadi dimasuki Dinda. Dinda masih bisa menangkap senyum kemenangan yang terpancar di wajah cantik itu sebelum menghilang di balik daun pintu.
Dinda menatap tempat dimana bayangan itu menghilang sesaat, lalu berbalik menuju kelasnya dengan hati hancur. Dinda kembali berpikir. Selvi? Apakah Selvy yang melakukan semua ini? ya, mungkin hanya nama itulah yang masuk akal akan melakukan hal ini. Tapi, apakah memang sebesar itu kebencian Selvi padanya? Tapi, kalau bukan Selvy, lalu siapa yang begitu menginginkan kehancurannya? Siapa sosok yang begitu membencinya dan begitu tega menghancurkan impiannya? Menghancurkan cita – cita dan harapannya selama ini?
…bersambung ke bagian enam…………