masak

Tampilkan postingan dengan label mengharukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengharukan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Juni 2010

RB - Bagian Delapan

Di suatu rumah mungil, 14 tahun yang lalu..

Sintya, Seorang ibu muda, sedang mondar – mandir dengan gelisah. Rambutnya yang panjang terikat dengan asal dengan sebuah ikat rambut berwarna putih. Sesekali tangannya meraba perutnya yang sedikit membuncit. Ia sedang hamil. Lingkaran hitam di sekitar matanya terlihat dengan jelas, menandakan ia kurang tidur beberapa hari ini.

“Ma, papa mau datang ya, ma?” tanya anak kecil yang tengah asyik dengan mainan di depannya.

“Iya, sayang.”

“Emang kita mau pelgi ya, mama?”

“Nggak, sayang. Papa Cuma mau ajak tante Tyas ke sini. Papa sekarang akan jemput dia.”

“Tante Tyas, ma?”

“Iya, tante Tyas, ada Dinda juga, seumur sama kamu, nanti nggak boleh berantem ya..”

“Nanti papa bawa mainan ya, ma?”

“Iya, udah sana. Mandi dulu, biar nanti kalau papa datang, nanti papa senang, malu kan kalau masih belepotan begitu?”

“Ya, ma.“ Anak itu mengangguk dengan patuh, lalu menuju kamar, mengambil handuk, dan bergegas masuk ke kamar mandi.

Sepeninggal anaknya, Sintya kembali dengan kesibukannya. Mondar-mandir dan sesekali melongok ke jendela. Hatinya diliputi rasa was-was, “Mas Pram, apa yang terjadi? Apa semuanya baik – baik saja? Kenapa sampai jam segini belum juga datang? Bukankah mereka seharusnya sudah sampai sejak dua jam yang lalu? Ataukah Tyas memang tak bisa menerima kehadirannya? Dan karena itu.. mereka tak jadi kemari?”

Sintya tenggelam dalam pikiran dan penantiannya. Ia memandang ke luar Jendela dengan harap cemas.

Di waktu yang sama, Di Kawasan Puncak…

Hari masih belum terlalu siang. Jalan kawasan puncak yang masih sepi dengan arus kendaraan yang biasanya padat merayap. Mungkin karena ini bukan hari libur dan hujan deras yang mengguyur jalan yang dikelilingi kebun teh itu dengan lebatnya, sehingga lebih banyak para pengemudi yang memutuskan untuk berhenti dan berteduh di pondok – pondok di sepanjang jalan sambil menikmati jagung bakar atau singkong bakar yang dijajakan penjual yang berasal dari penduduk setempat. Sebuah sedan hitam tampak masih berjalan dengan perlahan..

“Yah, nanti Dinda mau makan jagung bakal ya, kalo udah sampai di puncak.” celoteh gadis kecil yang masih cadel ‘er’ itu dengan gembiranya ketika mobil mulai memasuki kawasan perkebunan teh yang semakin lama semakin menghijau di daerah puncak.

“Iya, trus apa lagi?” jawab Pram dengan sabar.

“Telus, beli mainan boneka balbie..”

“Kalo udah beli boneka barbie?”

“Udah gitu, beli bajunya juga, baju Dinda juga ya, yah?”

“Iya, sayang, trus..?”

“Beli straubely, telus Dinda mau beli kuda – kudaan, maenan... pokonya semua ya yah?..”

Pram tertawa melihat tingkah putrinya. Dibelainya rambut Dinda dengan saying, “Kalau udah semua?”

“Eit, stop. Dinda, udah ah, jangan gangguin Ayah terus, Ayah kan lagi nyetir, tanyanya sama bunda aja ya? Ayah juga, udah tahu lagi ujan, perlu konsentrasi nyetirnya, eh, malah ngeladenin si Dinda, udah tau anaknya nggak mau diam..” Ucap Tyas, sang istri, panjang lebar.

Pram tersenyum melihat wajah khawatir istrinya. Dari dulu Tyas memang tipe orang yang penuh kekhawatiran. Ia juga tipe orang yang penuh konsentrasi kalau melakukan pekerjaan, termasuk soal menyetir. Makanya, kalau pergi bareng Tyas, dia harus sedia banyak kaset biar nggak ngantuk! Soalnya gimanapun diajak becanda atau ngobrol, pasti nggak diladenin! Tapi itu dulu, sebelum ada Dinda kecil yang lebih cerewet kalau bertanya di sepanjang jalan dan selalu ngambek kalau pertanyaannya nggak dijawab. (Hayo, milih mana? Ngambeknya Dinda tea nggak tanggung – tanggung, bisa sehari semalem, he..he..).

“Makanya, tadi ayah bilang juga apa? Berhenti aja dulu, eh, bundanya nggak mau, ya kan Din?”sahut Pram.

“Hmm, anak sama ayah sama aja!”

“Iya, kan bisa jajan, tapi Dinda juga pengen cepat sampai, Nda.”

“Tuh kan? Dan lagi kan Sintya mas, dia pasti udah nungguin kita dari tadi, udah masakin lagi, kalo berhenti dulu paling nggak pasti dua jam-an, ya kan? Bilang aja pada mau makan jagung bakar dulu.”.

Pram nyengir. Ketahuan ni yee..!

“Yes madame!”. Pram segera berkonsentrasi kembali dengan jalan yang semakin licin dan kabur oleh air hujan.

Sambil menyetir, pikiran Pram kembali melayang,“Ah, Tyas.. selalu memikirkan orang lain. Entah terbuat dari apakah hati bidadariku ini. entah, entahlah, rasanya beban ini semakin berat. Bagaimana aku harus mempertemukan mereka nanti? Mempertemukan dua orang perempuan yang sama – sama aku cintai? Tyas memang sudah menerima kehadiran Syntya sejak awal. Tapi bagaimanapun Pram tahu pasti ada goresan luka di sana, walaupun sedikit. tentang.. Sintya? Aku.. aku tak sanggup melihat Sintya terluka lagi, tapi aku juga lebih tak sanggup melihat Tyas terluka, walaupun Tyas menerima dengan lapang dada, tapi aku tahu, sebagai perempuan sedikit ataupun banyak pasti merasa sakit, tapi aku.. ” Pram merasakan dadanya sesak oleh semua angan – angan buruknya.

Tiba – tiba sebuah truk dengan kecepatan tinggi melesat dari arah yag berlawanan. Pram yang sangat terkejut dengan kondisi yang tak terduga itu segera berusaha menghidari truk itu dengan sedikit membanting stir agak ke kanan. Tias menjerit panik dan segera mendekap Dinda kuat – kuat.

BRAKKK!!!

Sebuah hantaman keras di sisi kiri membuat Pram kehilangan kendali. Sedan itu terseret oleh truk yang baru berhenti setelah beberapa meter, lalu menabrak sedan berwarna hitam lain yang melaju berlawanan arah dengannya, diiringi jeritan penumpang di dalamnya.

Pram langsung tak sadarkan diri. Di sebelahnya Tyas berlumuran darah dan tergeletak lemah. Tangannya mendekap Dinda yang juga tak sadarkan diri. Dinda merasakan sebuah tangan mengguncang – guncang tubuhnya dan sebuah suara lemah bundanya berusaha menyadarkannya, suara itu semakin lama semakin jelas bergaung di telinganya..

“Dinda, bangun..”

Bunda? Ada apa? Suara bunda?

“Dinda… “ suara itu terasa semakin mendekat di telinga Dinda.

“Dinda, non Dinda! ini Mbok Yana..”

HAHH!!!

Dinda langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya tersengal dan tubuhnya bermandikan keringat. Di samping Dinda mbok Yana memandangnya dengan wajah cemas. Dinda langsung memeluk Mbok Yana.

“Mbok? ”

“Non nggak apa – apa?”

“Nggak, Mbok.” Dinda menggeleng, lalu melepaskan pelukannya. ”Dinda Cuma mimpi tentang kecelakaan waktu itu, Mbok.” ucap Dinda, kesedihan masih menghiasi wajah sayunya.

“Tapi, mbok kenapa udah ngebangunin Dinda? Bukannya belum pagi ya?”. Ucap Dinda heran.

“Anu, Non., tuan..”

“Kenapa dengan ayah Mbok?” Dinda was – was.

“Tuan belum pulang dari semalam, tuan juga nggak telpon, Mbok khawatir, makanya mbok bangunin non, karena Mbok kan nggak hapal non nomor telpon tuan.”

Kening Dinda langsung berkerut. Hatinya mulai dipenuhi rasa takut dan cemas. Ayah nggak pulang?

Hmm.. ini adalah kasus pertama! Selama ini ayah memang sering pulang malam sejak bunda meninggal, tapi ayah nggak pernah sampai nggak pulang, ataupun kalau ada rapat di luar kota, ayah pasti akan memberitahu Dinda atau mbok Yana lewat telpon atau SMS. Ada apa? Kemana ? Apa yang terjadi dengan Ayah?

“Ya udah, mbok. Nanti Dinda coba hubungi handphon ayah, Dinda cuci muka dulu ya!”

Mbok Yana mengangguk, lalu segera keluar. Dinda segera bergegas menuju kamar mandi. Beban pikirannya bertambah. Kemana Ayah semalaman?

Dinda segera menyambar handphonnya. Jemari mungilnya mulai menekan bebarapa tombol nomor. Beberapa kali ia mengulangi hal yang sama, tapi tak membuahkan hasil. Nomor handphon ayahnya tetap tak bisa dihubungi. Dinda mulai gelisah. Ayah? Kemana ayah?

Kriiing! Kriiingg!

Bunyi telpon rumah parallel di kamarnya membuat Dinda segera meletakkan handponnya dan cepat – cepat menyambar gagang telepon di samping tempat tidurnya. Ayah?

“Halo..”. ucap Dinda gemetar.

“Assalamu’alaikum, Bisa bicara dengan Dinda?” jawab sebuah suara bariton dari seberang telepon. Dinda mendesah kecewa. Bukan suara ayah!

“Wa’alaikum salam. Ya, ini Dinda. Maaf, ini siapa ya?”

“Ini Ryan, yang motornya kamu tumpangin waktu itu, masih ingat? Saya cuma mau mastiin apa kamu baik – baik aja.”

“O, baik, saya nggak apa – apa, makasih ya kemarin.”

“Sama – sama, Din. Syukurlah kalau begitu.” jawab Ryan.

Dahi Dinda langsung mengernyit begitu mendengar Ryan menyebutkan namanya. Dinda langsung bertanya, “Lho, kok kamu tahu namaku?”

“Ah, nggak, ya udah dulu ya! Assalamualaikum!” sahut Ryan.

Dinda langsung teringat dengan jas hujan yang dipinjamkan sosok itu kemarin. Spontan ia berteriak sebelum gagang telpon itu diletakkan “O oh, ya, tunggu! sorry ya, jas hujannya masih sama aku, kapan aku bisa kembaliin?”

“Ya, kalau kamunya masih belum sehat banget, ya biar aku aja yang ambil nanti kalau aku ada waktu, ok? Atau titip aja di kantin sekolah kamu, sama bu Sami, penjaganya. Assalamu’alaikum.”

“Wa.. wa’alaikum salam..” jawab Dinda gelagapan. Telpon kok buru – buru amat?

Dinda meletakkan gagang telepon dengan masih mengernyitkan dahi. Sejenak mendung di wajahnya sedikit terhapus. Tapi, tiba – tiba kening Dinda berkerut. Dari mana sosok yang bernama Ryan itu tahu nama dan nomor telponnya? Kok dia kenal sama penjaga kantin sekolahnya? Siapa dia?

KRIIINGGG! KRINGGG!

Deg! Sekali lagi Dinda terlonjak kaget. Lalu meraih gagang telepon. Mungkinkah yang kali ini benar – benar ayah? Dinda berharap dengan cemas, ”Ya, halo?”

“Maaf, apakah betul ini dengan keluarga bapak Pram?”

“Ya, saya putrinya, ada apa ya mbak? Mbak ini dari siapa? Kenapa tahu nomor telpon sini?”. Tanya Dinda tak sabar. Suster itu melanjutkan, “Begini dik, kami dari rumah sakit Cipto, bapak adik sekarang ada di rumah sakit, sekarang..”

“Kenapa dengan ayah saya, mbak?” potong Dinda. Bagaimanapun, kejadian empat belas tahun lalu masih sangat jelas membekas di kepala gadis itu, membuatnya sangat anti dengan kata – kata yang berbau rumah sakit, apalagi sampai harus berurusan dengan pihak rumah sakit.

“Semalam pak Pram mengalami kecelakaan, korban tabrak lari, sekarang pak Pram dalam keadaan koma di rumah sakir Cipto, kejadiannya.. mbak, mbak?”

BRUKKK!

Dinda merasakan kepalanya berputar – putar mengikuti kalimat yang dikatakan oleh penelpon itu. Seakan ada palu yang besar sekali menghantam kepalanya, membuat semuanya langsung terasa semakin berat dan.. gelap!.

………bersambung ke bagian sembilan.…………

jgn lupa coment-nya ya.thq

Rabu, 16 Juni 2010

RB - Bagian Tujuh

Senja Kelabu di hari yang sama…

Hari sudah menjelang senja. Gerimispun mulai mengguyur ibukota Jakarta. Dinda berjalan dengan gontai seorang diri tanpa tujuan di jalan raya yang mulai dipadati pedagang asongan. Seragam sekolahnya tampak mulai basah, lusuh dan lecek. Air mata masih mengalir deras dari pipinya, seperti tak habis – habisnya sejak tadi pagi. Bersamaan dengan gerimis yang semakin deras.

Hancur sudah semua harapannya. Siapa sangka semua akan seperti ini? dalam sekejap, ia telah kehilangan semuanya. Jalan hidupnya, prestasi, semangat hidup, kehangatan dan kebersamaan dari para sahabat yang selama ini menjadi motivasi untuknya untuk segera sembuh, yang menjadi pendorong semangat hidupnya, kini semua telah meninggalkannya. Membawa semangat hidupnya, membawa semua harapannya. Sekarang, bagaimana mungkin ia bisa berusaha untuk terus hidup tanpa mereka semua? Bagaimana mungkin ia bisa bertahan hidup? Untuk apa ia bertahan lagi? Untuk siapa lagi ia harus bertahan hidup?

Tak ada lagi yang bisa diharapkan. Cita – cita dan usaha yang akhirnya menjadi usaha yang sia – sia dan kandas dalam sekejap. Mimpi – mimpi yang berakhir dengan mimpi buruk. Oh, bunda.. seandainya Bunda masih ada, tentunya ia tidak akan semenderita dan seterluka ini. Bunda pasti akan langsung memeluknya, menghiburnya, dan tak akan membiarkan bidadari kecilnya ini menangis dan bersedih. Bunda tak akan membiarkannya meneteskan air mata barang setetespun dan larut dalam kepedihan ini. ..

Tapi, perempuan terkasih itupun telah meninggalkannya ketika ia masih berumur empat tahun. Kecelakaan mobil yang dikendarainya waktu itu telah merenggut hidupnya. Ah, umur.. siapa yang akan tahu?

Ayah. Ah, entahlah. Sosok itu terlalu susah untuk didekati Dinda sekarang. Sejak Bunda meninggal, Ayah selalu pergi sebelum Dinda bangun, dan pulang setelah Dinda tidur. Ayah yang dulu selalu memanggilnya dengan sebutan “bidadari kecilku” itu tak pernah lagi mengajak Dinda kecil pergi untuk jalan – jalan di hari libur, Ayah tak pernah lagi tersenyum pada Dinda, apalagi untuk mendengarkan cerita sedihnya ataupun menangis di pelukannya ketika gadis kecil itu beriba hati karena semua ibu teman - temannya datang ke acara sekolah. Ayah seperti sudah lupa kalau di rumah masih ada Dinda kecil yang kesepian dan tiba - tiba..

“Awas..!! “BRAAAKK!

Sebuah teriakan dan bunyi sesuatu yang jatuh membuat semua yang ada di pikiran Dinda luluh lantak. Langkah gadis itu langsung terhenti dan terlonjak kaget. Terlebih lagi ketika sadar bahwa ia ternyata sedang berhenti di tengah jalan!. Bajunya sudah basah karena hujan yang semakin deras. Dinda bergegas menepi.

Seorang pengendara motor tampak sedang berusaha membangunkan motornya yang terjelembab di antara semak – semak. Jas hujan membalut tubuhnya. Pengendara motor yang sudah berhasil membangunkan motornya itu segera membuka helmnya, lalu bergegas menghampiri Dinda yang masih terdiam di pinggir jalan dengan wajah kaget dan penuh kekesalan yang hampir meledak – ledak.

“Hei, kamu udah bosen hidup ya?! Hujan – hujan begini kok malah jalan di tengah jalan. memang sudah siap mati? Alhamdulillah kamu nggak ketabrak, tapi Coba kalo ketabrak? Na’uzubillah..” bentaknya kepada Dinda.

Dinda menatap pengendara motor itu tanpa ekspresi, “ Tabrak aja sekalian.” ucapnya dingin.

Pengendara motor itu terperangah mendengar ucapan Dinda, “Apa?! Kamu jangan ngaco ya, emang kamu udah nggak mau hidup? Udah punya bekal apa kamu buat mati? Seharusnya kamu bersyukur karena Allah udah ngasih kamu kesempatan untuk hidup! Kamu tahu seberapa banyak orang yang ingin tetap hidup? Seberapa banyak orang yang berusaha untuk tetap hidup? Apa kamu nggak pernah mikir gimana nanti orang – orang di sekitar kamu akan menderita kehilangan kamu?” lalu, apa kamu pikir semua masalah kamu akan selesai dengan kematian? Bukan kesenangan yang akan kamu dapat, tapi dosa!” ujar pemuda itu. Huh! Udah bikin jatuh orang, bukannya minta maaf, eh malah bikin kesel!, gerutu pemuda itu. Kesal.

“Apa bedanya mati sekarang atau nanti? toh aku juga nggak akan bertahan lama, nggak akan ada yang akan merasa kehilangan.” Ucap gadis itu sinis di balik kerapuhan yang terpancar dari tatapan matanya. Butiran – butiran kembali mengalir dari matanya yang menatap ke depan dengan pandangan kosong.

Pengendara motor itu terperangah mendengar ucapan dan reaksi gadis di depannya itu. Wajah galaknya terlihat berubah. pandangannya sudah sedikit melembut, walau masih terlihat kesal. Aneh!

“Ok, nona yang nggak tau arti hidup, nama aku Ryan. Walaupun tidak seharusnya aku ikut campur urusan kamu, tapi Aku akan antar kamu pulang, nggak baik perempuan kayak kamu masih ada di jalan udah hampir malam gini, apalagi dengan kondisi kayak gini, ok?” cowok yang memperkenalkan dirinya bernama Ryan itu kembali menstarter motornya. Dinda masih terdiam di tempatnya.

“Ok, kalo kamu nggak mau jawab siapa namamu nggak apa – apa? Tapi tolong kasih tau kemana aku harus nganterin kamu. Tolong hargailah sedikit hidup yang udah dikasih tuhan sama kamu. Nih, Pakai! Ayo!” Ryan melepas jas hujan yang dipakainya, lalu mengangsurkannya kepada Dinda dengan canggung. Ia sendiri kini hanya mengenakan sweater.

Tak ada kata – kata yang terucap dari bibir Dinda yang semakin memucat, tapi gadis itu menurut. Hujan semakin deras ketika motor itu terus melaju. Membawa kepedihan di hati Dinda yang semakin mengiris, membuat hatinya semakin terluka. Pedih.

………………………..

Dinda memberi isyarat kepada Ryan, si pengendara motor itu, untuk berhenti di depan sebuah rumah megah yang masih terang benderang. Gadis itu lalu turun, lalu melangkah menuju gerbang, setelah mengucapkan sepatah kata terima kasih.

Ryan memandang punggung gadis itu dari kejauhan dengan perasaan sedih, kesal, bingung dan penuh kasihan, terlebih lagi saat ia memandang rumah megah di depannya. Ada banyak hal yang tak ia mengerti. Ya, Dinda, mungkin gadis itu memang tak pernah mengenalnya, tapi ia tahu persis siapa Dinda.

“Ah, Sudahlah. Aku kan harus cepat pulang, kasihan ibu dan Zahra di rumah, mereka pasti menungguku.” desah Ryan.

Ia lalu bergegas menghidupkan motornya kembali. Bayangan menghilang dalam kegelapan pekatnya malam dan hujan yang tak juga mereda meredam panasnya ibukota.

Sementara itu di rumah..

Dinda langsung disambut dengan tatapan khawatir oleh mbok Yana, perempuan yang sudah hampir lanjut usia yang hampir selama hidupnya dihabiskan untuk bekerja di rumah Pak Pram, ayah Dinda. Tubuh lemah Dinda yang sesegukan menahan tangis. Ia tampak sangat rapuh. Gadis itu langsung memeluk pemilik wajah yang sudah mulai keriput itu, seperti anak kecil kepada ibu yang sudah bertahun – tahun tak bertemu.

Tanpa bertanya, mbok Yana segera memapah tubuh lemah Dinda ke kamar di lantai dua. Lalu dengan sigap ia mencari baju ganti dan membuatkan segelas susu hangat dan memberikannya pada Dinda.

Dinda tak mampu lagi menghabiskan setengah susu di gelasnya. Membuat mbok Yana yang duduk di samping tempat tidur Dinda dari tadi itu memandang Dinda dengan penuh perasaan iba.

“Non, non tadi dari mana hujan – hujan? Mbok khawatir tadi, udah malem non Dinda belum pulang juga, trus Mbok suruh pak Maman ngeliat lagi ke sekolah, eh katanya non udah pulang dari sore…”.

“Dinda nggak kemana – mana kok, mbok.”

“Tapi kok pulang – pulang basah kuyup begini, nanti non sakit lagi! Non kan nggak boleh kena udara dingin, apalagi hujan – hujanan kayak gini!”

“Dinda nggak apa – apa mbok. Oh, ya, Ayah kemana ya Mbok? “ tanya Dinda parau.

“Tuan belum pulang non, mungkin nanti kalau sudah malam baru pulang, emang kenapa non?” jawab perempuan asli jawa itu.

Dinda terdiam.

Ayah. Sampai saat ini Dinda tak mengerti, sejak bunda meninggal, seperti tak ada lagi waktu yang tersisa untuknya. Apa ayah lupa kalau masih ada Dinda yang menunggu kepulangannya?

“Coba ya Mbok kalo bunda masih hidup, mungkin rumah ini nggak sesepi ini. Kalau Dinda sakit, pasti bunda nemenin, ngobatin.. Dinda kangen Mbok sama bunda, kapan ya Dinda bisa ketemu Bunda..”. air mata semakin deras mengalir di pipi Dinda. Matanya menerawang jauh. Tatapannya kosong.

Mbok Yana tak kuasa untuk tidak meneteskan air mata mendengar ucapan Dinda. Hatinya terasa ikut teriris – iris dan sedih.

“Non, udah.. jangan bikin Mbok tambah sedih, sekarang mbok yang akan nemenin non, non jangan ngomong begitu, bunda non juga pasti pengen ngeliat non seneng, bahagia. Kalau rajin berdo’a, gusti Allah pasti mendengarkan do’a kita, non pasti sembuh, non pasti sehat lagi, trus nanti punya keluarga yang bahagia.. mbok yakin, pasti itu juga yang diinginkan almarhum Nyonya.”

“Mbok, apa ayah masih ingat ya sama bunda?”

“Kok non ngomong begitu?”

“Ya.. Dinda juga nggak tahu, tiba – tiba aja pikiran itu melintas di kepala Dinda. Jangan – jangan ayah udah lupa sama bunda, makanya jadi jarang merhatiin Dinda.”

“Nggak, non. Mbok tahu bagaimana sifat tuan. Dia suka memendam sendiri perasaannya. Mbok sering lihat tuan memandangi photo Nyonya, photo Non juga.. mungkin bukan dia nggak memperhatikan non, nggak sayang sama non, tapi.. dia hanya ingin menyembunyikan kesedihannya dari Non. Non mengerti kan?”

Dinda mengangguk. Mbok Yana memeluk gadis yang sudah sejak kecil diasuhnya itu. membiarkan Dinda menghabiskan sisa tangis di pelukannya.

Mbok Yana mengusap kepala Dinda dengan penuh kasih sayang. Keduanya larut dalam berbagi kepedihan. Dinda adalah amanat Nyonya sebelum ia meninggal yang sudah menjadi bagian dari jiwanya, karena itu, bagaimanapun ia tak sanggup melihat Dinda bersedih. Tak bisa!

“Non, minum obat ya? Kan kata dokter obatnya nggak boleh putus, Mbok ambilkan obatnya ya? Kalau non rajin minum obat, trus rajin berdoa sama Tuhan, pasti bisa sembuh..”

Dinda mengangguk. Mbok Yana segera membuka laci meja rias, lalu mengeluarkan mengeluarkan sebuah kantong yang bertuliskan nama sebuah klinik sebuah rumah sakit besar di kota Jakarta yang berisi beberapa macam obat, lalu membukakannya satu per satu dan mengangsurkannya lima jenis tablet obat kepada Dinda. Dinda menerima obat itu dengan tangan gemetar dan meneguknya bersamaan dengan gelas air putih yang diangsurkan mbok Yana satu demi satu.

“Non udah makan belum? Tadi mbok bikinin rendang kesukaan non, makan ya? Atau mbok bawain ke sini ya?”

“Bawa ke sini aja mbok. Tapi, mbok juga ikut makan ya?”

Mbok Yana mengangguk, lalu bergegas meninggalkan kamar itu dan kembali membawa nasi dan lauk – pauk.

Suasana malam itu begitu sepi dan sunyi, hanya suara piring dan sendok yang beradu yang sesekali terdengar memecah kesunyian. Gerimis masih turun rintik – rintik.

……………………….

21.00 WIB, di hari yang sama, kawasan Kuningan, Jakarta…

Hujan masih turun rintik – rintik. Basemen tempat parkir gedung perkantoran itu mulai sep. Satu persatu mobil yang tadinya berderet rapi mulai meninggalkan arena parkir, hingga hanya menyisakan beberapa buah mobil saja. Fery melirik arloji yang melingkar di tangannya dengan gelisah. Sesekali matanya melihat berkeliling, mencari sosok yang ditunggunya sejak setengah jam yang lalu. Kemana lelaki itu, harusnya jam segini dia udah pulang, tapi udah malam begini kenapa belum pulang juga?

Huh! Malam ini lelaki itu akan merasakan bagaimana rasanya mati kecelakaan seperti papa! Fery tak akan pernah lupa wajah lelaki yang telah menabrak mobil sedan papanya dan membuatnya dan adik semata wayangnya untuk kehilangan papa untuk selama – lamanya. Yah, laki – laki itu adalah Pram, Ayah kandung gadis itu. Dinda!

Dan Dinda? Dada Fery langsung bergemuruh. Sebetulnya Fery merasa kasihan dengan gadis istimewa yang menarik hatinya itu. sungguh, tak tega rasanya melihat gadis itu menderita, tapi dendamnya terlau besar dibandingkan rasa kasihannya. Dendamnya terlalu besar menutupi perasaan sukanya terhadap gadis itu. Peristiwa belasan tahun yang lalu itu masih membekas jelas di hatinya. Jadi, gadispun itu harus merasakan perasaan seperti yang dirasakannya empat belas tahun yang lalu, gadis itu harus ikut menanggung akibat perbuatan papanya juga!. Harus!

Dada Fery semakin bergemuruh dan berdebar semakin dahsyat ketika dari kejauhan, Pram berjalan menuju tempat mobinya di parkirkan. Seikat bunga beraneka warna yang berhiaskan dengan pita tergenggam di tangan kirinya. Terlihat jelas sebuah tulisan tertera di sanaUntuk Dinda, my little Princess

Dinda, ya, hari ini Pram sengaja memesan seikat bunga ini sebagai ucapan selamat untuk Dinda dan sebagai permintaan maafnya atas kejadian dua hari yang lalu karena tak bisa hadir di acara sekolah Dinda. Ah, sudah lama sebenarnya Pram ingin meminta maaf, tapi baru kali ini baru kesampaian, “Mudah – mudahan gadis kecilnya itu belum tidur saat aku pulang nanti.” gumam lelaki setengah baya itu lirih, lalu melesat pergi meninggalkan tempat parker perkantoran itu.

Baru beberapa kilometer kemudian dari kawasan kuningan Pram menghentikan mobilnya mendadak. Fery ikut berhenti sesaat beberapa meter di depan mobil Pram. Dadanya bergemuruh lebih dahsyat. Pikirannya kembali saling berperang dan berkecamuk bimbang mulai menguasai hatinya. Kata – kata yang saling bertentangan mulai berterbangan, berebut mendominasi pikirannya. Lakukan! Tidak! Lakukan!. Sekaranglah saatnya Fer! Kapan lagi ada kesempatan seperti ini?

Pram turun dari mobil. Oh, Shit! Kempes!. Pram bergegas membuka bagasi, mencoba mencari kalau – kalau ada sebuah dongkrak di sana. Namun, lama mengaduk – aduk isi bagasi, tak ditemukannya benda yang biasanya tak pernah ketinggalan itu di sana.

Pram bergegas kembali ke dalam mobil dan kembali dengan handpon di tangannya. Ia berusaha menghubungi seseorang, sambil menyetop mobil atau taksi kalau – kalau ada yang lewat.. Tapi, baru beberapa langkah berjalan, tampak sebuah mobil melesat dengan kecepatan penuh kearahnya. Pram yang tadinya senang akan mendapatkan tumpangan, mulai gelagapan ketika mobil berwarna mencolok itu hanya tinggal beberapa meter dari tempatnya berdiri dan tidak menunjukkan tanda – tanda akan berhenti.

Pram berusaha melompat, sedapat mungkin menghindar. Tapi.. terlambat.

BRAKKKK!

Pram terpelanting. Sosok itu berusaha untuk bangkit, namun darah yang mengucur dengan deras dari kepalanya membuat kepalanya berkunang – kunang dan terasa amat berat dan gelap. Pram tak sadarkan diri!

Beberapa detik kemudian..

Tak jauh dari sana, Fery tak berhenti – berhentinya mengutuk dan memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia tampak begitu menyesali apa yang telah ia lakukan. Sungguh, ini adalah sebuah perbuatan pengecut dan penakut! Pikirannya mulai berkecamuk tak karuan. Berbagai ketakutan mulai menguasai hatinya, sampai akhirnya sebuah mobil melintas melewatinya dengan kecepatan tinggi. Fery tersadar dan langsung langsung tancap gas dan menghilang dalam kegelapan malam membawa rasa takut yang kian menyergap hatinya.

………bersambung ke bagian delapan…………..

yg baca leave comment ya...:-)

Selasa, 15 Juni 2010

RB - Bagian Enam

Dua Hari setelah pemilihan Siswa Teladan…

“Hi, Nggi, Des, udah pada ngerjain pe-er belum?” teriak Dinda ketika dua sahabat kentalnya, Desi dan Mia, melintas hanya beberapa meter di depannya. Di luar dugaan Dinda, kedua gadis itu melengos dan langsung pergi meninggalkan Dinda yang langsung terdiam dan bengong di tempatnya berdiri. Ada apa sebenarnya? Apa yang terjadi? Apakah ia telah melakukan suatu yang besar sekali? Kemarin ada surat misterius itu, sekarang apa lagi? atau Mungkinkah… ah, Dinda segera menepis prasangkanya, lalu bergegas menuju kelasnya.

BERSIHKAN SEKITAR KITA DARI KUMAN TBC!! ”.

“JAUHI PENDERITA TBC JIKA ANDA TAK INGIN TERTULAR!”

“HATI – HATI PADA PENDERITA TBC, BISA JADI BENCANA!”

“BEBASKAN KELAS INI DARI BAKTERI TUBER CULOSIS!!”

Apa?! Dinda terperanjat melihat coretan kapur di mejanya begitu gadis itu hendak meletakkan tas. Gadis itu urung untuk segera duduk. Ia langsung mengedarkan pandangan ke segala penjuru kelas, berharap ada yang menjelaskan semua ini kepadanya. Tapi tak ada jawaban. Hanya bisik – bisik yang disertai tatapan sinis dan jijik yang ada di segenap sudut kelas, seolah menyuruh gadis itu adalah kuman yang harus segera disingkirkan dari pandangan mereka.

Dinda merasakan kedua matanya mulai terasa panas. Dadanya mulai terasa sesak. Air matanya seakan ingin berhamburan untuk segera keluar. Siapa yang melakukan semua ini? Siapa provokator semua ini? bukankah pak Teguh kemarin sudah berjanji tidak akan membocorkan rahasia ini? ah, tidak. Dinda menepis prasangkanya. Pak Teguh bukanlah orang yang begitu! yang dengan mudah berbicara kepada orang lain tentang aib seseorang. Sedangkan orang lain? Rasanya Dinda tak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun, termasuk kepada Fery!. Lalu siapa? Oh! Dinda langsung terlonjak, bukankah ada seorang lagi -- yang entah siapa namanya--? seseorang yang membocorkan rahasia itu kepada pihak sekolah! apakah masih orang yang sama? Tapi siapa dia? Oh, Tuhan!

Dada Dinda mulai terasa sesak. Ia segera mengambil tas yang tadi sudah tergeletak di atas kursi. Ia segera berlari keluar kelas dengan berurai air mata. Gadis itu tidak menyadari sesosok bayangan sedang menatap bayangannya yang semakin menjauh dari sebuah kelas tak jauh dari sana.

Toilet! Hanya toilet yang terpikir oleh Dinda. Tempat yang menjijikkan memang, tapi setidaknya di sana ia akan bisa menumpahkan sesak di dadanya dengan menangis sebentar tanpa seorangpun yang akan tahu dan tanpa seorangpun yang akan menatapnya dengan jijik dan penuh benci.

Namun, baru saja Dinda hendak membuka pintu toilet. Tiba – tiba langkahnya mendadak terhenti ketika mendengar suara – suara yang rasanya sangat akrab di telinganya, yang berasal dari dalam toilet. Dinda mengusap air matanya yang tadi mengalir, lalu berusaha untuk menajamkankan kupingnya. Suara itu rasanya amat dekat, batin Dinda.

“Eh, udah deh! Mendingan nggak usah deket – deket dulu deh sama si Dinda, ntar kita ketularan lagi!” seru suara itu. Dinda terbelalak. Siapa? siapa yang sedang membicarakannya?

Dinda berusaha lebih mendekatkan lagi telinganya ke daun pintu. Itu.. Dinda seakan tak percaya dengan pendengarannya ketika ia berhasil mengenali suara itu. Mia? Mia bicara seperti itu?

“Iya, gw juga nggak mau deket – deket sama dia, pantesan dia nggak mau kita ajak ke dokter waktu itu, takut ketahuan kali, ya? Kasian amat si Fery! ” itu suara.. Selly!

“Kok, malah Fery sih?” tanya Mia lagi.

“Iya, duh! Patah hate, hiks! Hiks!” jawab Selly pura – pura sedih.

“Ih, tau gitu mah.. iiih! Ntar gw ketularan lagi! TBC kan penyakit yang menular lewat udara, trus masuk ke paru, trus ke saluran limfe paru, tapi nggak pa – pa denk, enak lagi!” kata gadis yang sedang menyisir rambut pendeknya. Desy?

“Haah?? Lu mau tebece Des? Mau mati lu? TBC kan bisa nyebar ke seluruh tubuh, Des!” Selly kaget.

“Kata siapa?” Desi ngakak.

“Waktu itu kalo nggak salah gw pernah baca di koran, udah gitu nih yang kena nggak akan Cuma paru – paru aja, bisa seluruh tubuh.. udah gitu tiap harinya yang meninggal karena tebece tuh sampai empat ratusan! Hiii, ngeri deh gw..!” jelas Selly.

Desi semakin ngakak,” Sok tua lu!! Maksud gw TeBeCe.. Tidak Butuh Cinta maksud gw, kan enak tuh gw nggak usah capek – capek cari kecengan! ha… ha…”

“Huu! gw kirain..”

“Kirain apa? tebece kayak Dinda, nggak lah yau..”

“Udah ah, yuk semuanya. Cau!” Anggi? Anggi juga ada?

Komplit!

Dinda terhenyak. Keempat sahabat yang selama ini menjadi bagian hidupnya dan menjadi tempat harapan untuknya bersandar, kini membicarakannya dengan begitu kejam dan menyakitkannya.

KREEKK!!

Dinda bergerak reflek menghindar dari pintu dan bersembunyi di balik tumpukan papan di samping toilet. Dugaan Dinda tak salah. Tampak Anggi, Mia, Selly dan Desi keluar dari sana. Dinda terpaku. Airmata yang tadi sempat tertahan, kini mengalir tak tertahankan dengan deras dari bola matanya yang hitam seperti kristal. Dadanya semakin sesak. Persendian tulang inda terasa lunglai dan lemas.

“Ya Allah, apa salahku sehingga aku harus menerima hukuman seperti ini? mengapa semua orang, termasuk para sahabatku ikut menyalahkan aku yang tak tahu apa – apa ini? Aku harus bagaimana? Siapa yang mau menderita tebece? akupun tak pernah menginginkan mendapatkan penyakit seperti ini.. Tuhan, aku tak pernah meminta dijangkiti penyakit ini. Aku harus bagaimana? Ya Allah…!!” jerit Dinda lirih. Pedih.

….……………

Sementara itu di sebuah rumah beberapa jam kemudian …

“Bu, saya sudah menemukan dia, dia ada di kota ini, saya juga sudah tahu tentang anaknya, anaknya Papa..” ujar anak itu kepada ibunya yang tengah asik dengan sebuah komputer di depannya. Dahinya mengernyit. Ia menoleh dengan terkejut atas ucapan anaknya itu.

“Apa? Apa kamu bilang, nak? Menemukan siapa?”

“Saya udah tahu tentang orang yang bernama Pram itu, orang yang ibu suruh saya panggil papa.”

“Demi tuhan nak, jangan lakukan apa – apa, biarkan ia bahagia dengan kehidupannya sekarang. Jangan ganggu mereka.”

“Biarkan, bu? Bukankah dia yang sudah meninggalkan ibu? Adikku? Meninggalkan kita?”

Kan ibu sudah bilang berkali-kali, bukan dia yang meninggalkan ibu, tapi ibu yang meninggalkannya, justru ibulah yang berhutang budi padanya, dia yang menolong ibu dan kamu, adikmu.. dia nggak salah, nak. Ibu dari awal sudah tahu kalau ia sudah berkeluarga. Ia punya keluarga yang bahagia dan kehidupan yang bahagia, jadi ibu pikir.. waktu itu.. waktu dia tak datang itu adalah waktu yang tepat buat ibu untuk keluar dari kehidupannya, sebelum terlalu jauh dan terlalu banyak bikin masalah dalam keluarganya..”

“Ibu nggak bohong?”

“Tentu aja nggak, buat apa ibu bohong sama kamu.. Lagian dendam itu nggak baik nak..”

“Tapi, aku boleh kan melakukan sesuatu?”

“Melakukan apa?”

Ada deh, ibu nggak usah tahu dulu, nanti juga ibu tahu sendiri..”

Ibu dan anak itu saling memandang, lalu diam dengan pikiran mereka masing – masing dan larut dalam lamunan mereka masing – masing.

Jakarta masih panas, seperti hujan yang akan turun dengan lebatnya.

…………bersambung ke bagian Tujuh…………………..

Minggu, 13 Juni 2010

RB - Bagian Empat

Menjelang Puncak acara Pemilihan Siswa Teladan…

Satu per satu mobil mulai memadati halaman parkir SMU Teladan dengan teratur, sehingga dalam waktu setengah jam saja mobil – mobil itu sudah tersusun rapi memenuhi lapangan yang tak begitu luas. Para orang tua murid mulai memasuki gedung aula serbaguna, layaknya orang – orang yang akan menyaksikan sebuah pertunjukan besar. Sedangkan para anak mereka sibuk hilir mudik mencari teman masing – masing atau menunggu orang tua mereka yang masih belum datang, seperti halnya Dinda yang sedang mondar – mandir di depan lapangan parkir sekolah! (bukan jadi tukang parkir lho..! he..he..).

Gadis itu tampak gelisah. Sesekali tangannya melirik handpon mungil yang digenggamnya. Sesekali mulutnya bergumam tak jelas. Barangkali gadis itu bilang, “Kemana sih ayah? Bukankah ayah udah janji akan datang ke acaranya Dinda? Kok, malah belum datang? padahal acara sudah akan dimulai.. “

RRRrrRRR! RRrrrrRr!!

Akhirnya ponsel di tangannya bergetar juga. “Ayah”, tulisan yang tertera di layar. Dinda langsung mengangkatnya dengan tergesa-gesa.

“Ya, Ayah di mana sih? Acaranya udah mau mulai nih! Cepetaaan!”

“Maafkan ayah Din, ayah nggak bisa ke sana, ada pertemuan penting yang mendadak yang nggak bisa ayah batalkan. Kamu nggak apa – apa kan sendiri di sana? Nanti kalau..”

Click!. Tut. tut. Tut!

Tanpa menunggu kelanjutan kalimat selanjutnya, Dinda mematikan ponselnya dan memasukkan benda mungil itu kembali ke sakunya dengan wajah berlipat empat, lalu bergegas kembali ke dalam aula. Kesal! “Selalu… begitu! Kenapa sih ayah nggak pernah mikirin perasaan Dinda? Sekaliiii.. aja deh dia ngeluangin waktunya untuk hadir ke acara Dinda, sekaliiiii.. aja! Ayah egois!” Omel Dinda dalam hati. Kesal!

Sementara Itu, di sudut lain..

Ryan akhirnya memilih untuk menunggu tak jauh dari tempat Dinda berdiri. Tanpa disadari gadis itu, sepasang matanya memandang tajam ke tempat di mana Dinda berdiri, seakan – akan sedang mengawasi gerak – gerik gadis itu. Sinar matanya menyiratkan kalau ia sedang menunggu sesuatu yang akan terjadi. Satu menit, dua menit, lima menit… tak ada yang terjadi. Raut kecewa terpancar dari mukanya ketika gadis itu berbalik kembali ke dalam aula. Ia pun lalu menuju gerbang sekolah, “Masih ada kesempatan lain.” desisnya pelan.

…..……………….

Semua mata tertuju pada pertunjukan siswa yang sedang berlangsung. Tapi, tidak dengan Dinda. Ia mengikuti jalannya pertunjukan demi pertunjukan dengan gelisah dan tak berselera. Matanya menerawang tak menentu, pikirannya mengembara entah kemana. Sesekali ia melirik deretan wali murid yang berjejer di barisan kursi paling depan. Sekali lagi ia menarik napas kesal, sampai..

“Baiklah para hadirin, untuk pemenang siswa teladan SMU kita kali ini jatuh kepada Adinda Putri Maharani, dari kelas tiga IPA 2..!! untuk pemenang dan orang tuanya dipersilahkan untuk menerima penghargaan dan memberikan sepatah dua patah kata sambutan”.

Plok! Plok! Plok!. Riuh tepuk tangan membahana menyambut akhir Pengumuman yang disampaikan pak Teguh, kepala sekolah SMU teladan, sekolah Dinda. Wajah para finalis yang tadinya terlihat tegang, kini memancarkan kekecewaan. Tak terkecuali Selvy, yang walaupun akhirnya diumumkan menduduki runner up. Matanya yang agak kecoklatan memandang Dinda dengan tatapan sinis, penuh rasa iri dan kesal.

Dinda gelagapan. Anggi Cs segera beramai – ramai memeluk Dinda yang masih bengong, tak percaya dengan pendengarannya. Gadis itu hampir saja hilang dari peredaran eh, maksudnya dikerumuni orang - orang, kalau seandainya saja tak ada panggilan dari atas panggung aula yang kembali memintanya untuk maju ke depan untuk menerima penghargaan.

Dinda melangkah sendirian ke atas panggung di tengah kasak – kusuk penonton yang semakin ramai dengan perasaan bercampur aduk. Perasaan senang dan sedih meliputi. Tangannya bergetar ketika menerima hadiah dan mikrofon yang diangsurkan panitia kepadanya. Pikirannya langsung melayang dan hatinya berbisik dengan sedih, Ayah! Lihatlah Dinda ayah.. Ini semua untuk ayah! Seandainya saja ayah ada di sini..

“Assalamu‘alaikum warahmatullahi wabarokatuh. Pertama, syukur kepada Allah, lalu Makasih atas kesempatan yang para guru, juri, dan teman – teman berikan kepada saya untuk menerima penghargaan ini..” Dinda mengangkat tropi itu ke atas. Ia berusaha tersenyum, walau terasa getir.

Dinda terdiam sesaat. Para hadirin juga ikut diam menanti kat selanjutnya yang akan keluar dari mulut gadis itu.

“Saya juga mohon maaf, karena sesuai dengan apa yang disampaikan kepala sekolah tadi, seharusnya yang ikut naik ke panggung ini adalah saya dan keluarga saya. Tapi, karena suatu hal, mereka tak bisa hadir di sini. Ibu saya sudah tiada sejak saya kecil dan ayah saya tidak bisa hadir saat ini, but thank’s for them! ” Dinda mengacungkan tropinya sekali lagi, “Dan untuk para orang tua yang bisa hadir di sini, saya bangga Pak, bu, kebahagian karena menerima penghargaan ini tidak akan sebanding dengan kebahagian karena kehadiran kalian di sini, saya yakin semua itu dirasakan oleh teman – teman saya yang di sini. Sekian dari saya. Terimakasih.” Dinda kehabisan kata – kata. Matanya terasa perih menahan agar air mata itu tak menetes. Seketika aula itu langsung diliputi suasana haru biru.

Dengan tertunduk gadis itu segera turun dari podium diiringi tepuk tangan yang semakin membahana sampai gadis itu kembali ke tempat duduknya. Ingin rasanya Dinda menangis, kalau seandainya saja teman – temannya tidak langsung menyalaminya dan mengucapkan selamat saat itu. Hatinya berbisik, kalau seandainya boleh memilih antara penghargaan dan kehadiran ayah saat ini, tentunya ia akan lebih memilih ayah ada di sini, meskipun tak menang. Tapi lagi – lagi hanya seandainya dan berandai – andai..

Sementara itu..

Di sudut ruangan, seorang wanita menyaksikan pemandangan yang mengharukan itu dengan tatapan penuh arti. Ia terlihat bingung dengan semua yang dikatakan gadis yang berdiri di depan itu. Hatinya berbisik, berusaha menampik apa yang sekarang ada di pikirannya. “Tidak, Tidak. Itu tak mungkin!”, desisnya pelan.

…………………….

Malam hari, di hari yang sama..

“Udah dulu ya Din, aku pulang dulu, nggak enak udah malem, makasih udah nemenin aku makan malam.” ucap Fery ketika mereka sudah sampai di depan rumah Dinda.

Ya, malam ini adalah malam yang dijanjikan Fery waktu itu, sekaligus ucapan selamat untuknya dari cowok itu.

“Makasih juga untuk makan malamnya.” balas Dinda.

Fery tersenyum. Lalu hening sesaat. Sampai..

“Hei!! Kok malah bengong sih? Dinda tinggal masuk nih, mau mampir dulu nggak?”tegur Dinda yang tahu - tahu sudah ada di jendela samping Fery. Fery gelagapan.

“Ngg, gimana ya? Tapi..” Fery ragu – ragu.

“Udahlah, yuk!” Tanpa menunggu persetujuan Fery, Dinda langsung meninggalkannya. Dengan geleng – geleng kepala akhirnya Fery mengikuti Dinda turun dan dengan ragu-ragu memasuki rumah itu.

Dinda mempersilahkan cowok itu duduk, “Mau minum apa?” tanyanya. Cowok itu menggeleng.

“Nggak usah repot, Din. Terserah kamu aja.”

“Dingin atau panas?”

“Nggg, dingin aja.”

Dinda lalu meninggalkan Fery menuju dapur dan bergegas membuatkan minuman dingin. Namun baru beberapa detik cowok itu duduk, tiba – tiba ia tampak terkejut ketika melihat sebuah figura yang terpajang tak jauh dari sudut ruang tamu . Matanya menyipit, seperti memperhatikan sesuatu yang aneh dan menarik dari photo dalam figura itu.

Dinda yang sudah selesai membuatkan minuman dan kini tengah meletakkan gelas berisi sirup itu di depannya ikut bingung ketika menyaksikan Fery yang masih tak berkedip. Dinda heran, “Kenapa sih? Kok bengong? Ngeliatin photo itu?”

“Nggak, nggak apa-apa. Ini.. siapa?” tanya Fery ragu.

“Itu photo ayahku.”

“Ayah kamu?”

“Iya, kenapa?” jawab Dinda dengan nada heran dengan pertanyaan itu.

“Ngg, nggak. Oh ya, aku lupa tadi aku ninggalin kerjaan penting, kayaknya aku harus pulang sekarang deh Din, nggak apa – apa kan?”.

“Kerjaan?”

“Ya, tugas buat besok”

“Kok buru – buru amat?”

Eng.. iya, soalnya bahannya banyak banget. Maaf ya Din, aku nggak bisa lama – lama. Nggak apa – apa kan?” Fery memasang wajah memelas.

Dinda cemberut, tapi akhirnya gadis semampai itu mengiyakan permintaan cowok itu, “Nggak apa- apa, tapi kamu minum habiskan dulu minumnya, ok?”

Fery menuruti kemauan gadis itu. ia langsung menghabiskan minumannya, lalu buru – buru pamit. Dinda mengantarkan Fery sampai pintu.

“Ya udah, hati – hati ya!”

Fery mengangguk, “Iya, Bye!”

Dinda balas mengangguk. Fery berbalik meninggalkan Dinda juga melangkah masuk yang masih dengan senyum mengembangnya.

Sementara itu sesampainya di mobil, Fery ternyata tak langsung pergi. Ia hanya duduk di belakang kemudi. Matanya masih terus memperhatikan bayangan Dinda yang menjauh dan akhirnya hilang di balik daun pintu yang menutup. Pikirannya kembali melayang kepada figura yang terpajang di ruang tamu tadi.

Benar! Pasti ia tidak salah lihat. Pram, pasti laki – laki itu adalah Pram! Sosok lelaki yang selama ini paling dibencinya. Karena lelaki itulah ia harus kehilangan papa untuk selamanya! Ya, Fery tidak akan lupa wajah lelaki yang menangis meminta maaf kepada mama itu waktu. Tapi, ayah? Dinda memanggil lelaki itu dengan panggilan ayah? benarkah hubungan Pram dengan Dinda adalah ayah dan anak? Mengapa ia tak pernah tahu selama ini? Mungkinkah…

Fery buru – buru mengeluarkan ponselnya dari kantong dan menekan sebuah nomor yang sepertinya sudah begitu hapal di kepalanya. Seseorang di seberang sana langsung menjawab telponnya.

“Halo, sialan lu ya!” maki Fery.

“Lu kenapa, kok tiba – tiba mencaci – maki gw?” tanya suara itu.

“Ya, kenapa lu nggak bilang ke gw kalo Dinda adalah anak Pram? Laki – laki itu?” sahutnya ketika seseorang di seberang sana sudah mengangkat telponnya.

“Oh, ckk, ckk. Sang pangeran rupanya sudah tahu identitas cinderellanya. Fery, Fery, Fery, justru lu harus makasih kan sama gw?”

“Makasih? Makasih buat apa?”

“Masa lu belum ngerti juga. Gw tahu lu cerdas Fer, tapi gw lebih cerdas. Gw tahu semua rencana yang akan mempermudah pembalasan lu. Gw nggak salah kan? Makanya lu harus bilang terima kasih sama gw ya, Fery sayang? Ha ha ha! Click! Tut.. tut..!” Tanpa menunggu pertanyaan lebih lanjut, suara di sebarang itu segera memutuskan telpon.

Fery bertambah kesal. Di bantingnya handpon mungil itu ke jok mobil dengan kesal. Dahinya mengernyit beberapa saat, memikirkan perkataan si penerima telpon tadi. Makasih? Apa maksudnya?

Tiba – tiba saja senyum manis cowok itu mengembang dan langsung berubah menjadi sebuah seringai. Seperti seringai seekor srigala yang menemukan santapan lezat yang terhidang di depannya. Thank’s!. hebat! Sebuah rencana seperti tergambar langsung dibenaknya. Rencana yang begitu sempurna! Sedetik kemudian, mobil keluaran terbaru itu meluncur menembus kegelapan dan menyisakan kesepian malam.

…………………….