masak

Selasa, 22 Juni 2010

RB - Bagian Empat Belas

Dinda menyandarkan punggungnya di dinding ruangan sempit itu. Mukanya tampak agak pucat dan lelah. Dilapnya keringat yang bercucuran di wajahnya dengan sehelai handuk kecil yang dikeluarkannya dari tas kecil bawaannya. Pegal. Tamu restoran hari ini banyak sekali, sehingga ia dan karyawan lainnya merasa kewalahan melayani.

“Capek, Din?” tanya Nana, rekan seprofesinya.

“Yah, lumayan.” Jawab Dinda.

“Yah, ginilah Din kerja di sini, nggak kayak di kantoran, kerjanya Cuma duduk doang, nggak capek dan udah gitu gajinya gede lagi!”

“Ah, tapi otaknya kan capek juga mikir!” Dinda tak mau kalah.

“Ya, tapi kan nggak secapek kita, udah pake otot, capek lagi mikir..”

“Lho, emang mikirin apaan Na, kan yang mikirin nasib restorannya si bos, menu makanan dan minumannya juga urusan atas, emang kita capek mirin apa?” tanya Dinda penasaran. Nana mengernyitkan dahi. Mulutnya menganga, seperti sedang mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan. Tapi..

“Capek mikirin gaji yang kecil! kira – kira cukup nggak ya, buat sampai akhir bulan.” Ujar Agus yang muncul tiba – tiba dari dapur, tanpa diduga oleh Nana.

Nana langsung cemberut. Dinda tersenyum, “Ah, kalian ada-ada aja, udah ah! makan yuk, laper nih!” Dinda menepuk - nepuk perutnya, lalu mengeluarkan kotak bekalnya. Agus dan Nana melakukan hal yang sama.

“Eh, Na..”

“Ha?”jawab Nana dengan mulut yang penuh nasi. Melihat hal itu Dinda tak jadi meneruskan kalimatnya dan menunggu gadis itu menelan semua nasi yang ada di mulutnya.

“Aha ci? Gadi hanggil, heharang hok dihuehin?” tanyanya, masih dengan nasi di mulut.

“Udah, ntar aja. Abisin dulu, ntar keselek lagi.. hanggil-hanggil..” nasihat Agus. Nana mengangguk, lalu cepat – cepat menelan nasi yang masih tersisa, “Ya, sudah nona!” ujarnya.

“Ngg.. lu pernah kebayang nggak seumpamanya…”

“Apa? Nana Ada yang mau nembak?” potong Agus cepat sebelum Dinda menyelesaikan pertanyaannya. Nana cemberut lagi, begitu pertanyaan yang seharusnya untuknya itu diserobot untuk kedua kalinya.

Agus mencibir, lalu bergegas bangkit meninggalkan mereka sebelum sendal Nana melayang ke kepalanya. Nana balas menatapnya dengan kesal, lalu kembali berpaling ke arah Dinda yang masih menunggu untuk melanjutkan kembali kalimatnya yang tadi terpotong.

“Kalau seumpamanya apa, Din?”

“Ya.. kayak yang dibilang Agus tadi..” canda Dinda.

“Ah, yang bener Din?” tanyanya antusias.

Dinda geleng – geleng kepala, “Ya, nggak laaahhh..!”

Nana urung senyum, “Trus apa dong?”

“Nggg..” Dinda ragu – ragu melanjutkan kalimatnya,“Ngg.. Kalau ternyata selama ini, selama bertahun – tahun lamanya ternyata baru sekarang lu tahu kalau ternyata lu sebenarnya punya saudara tiri dan ibu tiri?”

“Emang elo.. punya saudara tiri ya, Din?” tanya Nana hati-hati.

Dinda mengangguk, “Ya, ayah baru cerita ke aku, rahasia itu ia pendam sejak belasan tahun yang lalu..”

“Berarti bokap lu punya istri dua?”

“Ya.”

“Setelah nyokap lu meninggal?”

Dinda menggeleng, “Nggak, sebelum nyokap gw meninggal, atas saran nyokap gw.”

“Kok bisa?”

“Bisa aja.”

“Nyokap lu nggak marah? Trus di mana mereka sekarang? Kan katanya lu Cuma tinggal berdua sama bokap lu..”

Dinda mengangkat bahu, “Gw sendiri nggak tahu, Ayah nggak pernah cerita apa-apa lagi soal itu, tapi.. “ ucapan Dinda terpotong. Dahinya mengernyit dan matanya menerawang.

“Tapi apa?”

“Tapi entah mengapa, kok gw ngerasa mereka itu ada di sekitar gw ya? Gw nggak tahu siapa mereka, tapi.. kok rasanya mereka ada di dekat gw, tapi gw nggak inget apa yang bikin gw ngerasa kayak gitu, Na..”

“Emang lu nggak tahu sama sekali ciri – cirinya? Kan kalo saudara biasanya ada dikit – dikit miripnya..”

“Justru itu Na, masalahnya dia bukan anak kandung bokap gw. Dia itu anak bawaan istrinya itu, artinya, dia itu anak tiri bokap gw, trus kalau yang satu lagi gw nggak tau dia cowok atau cewek.”

“Lho, kok?”

“Iya, soalnya waktu itu adik gw itu masih dalam kandungan.”

“O…” mulut Nana mengerucut bulat mengucapkan huruf itu. keningnya sekarang ikut mengernyit, “Ya udah, kita selidiki aja..” ceplosnya enteng.

Kening Dinda jadi tambah berkerut, “Selidiki? Selidiki dari mana Na? Emangnya gw mo harus nanya Ayah gw lagi? nggak, mendingan gw nggak nanya dari pada dia sedih lagi..”

“Yee, siapa yang bilang begitu. Maksud gw.. lu cari aja diam – diam, siapa tahu bokap lu masih nyimpan photo lama, gw yakin nggak mungkin dia nggak nyimpan barang satupun..” Nana mengecungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.

Dinda mengangguk –angguk. Iya juga ya? Mungkin aja..

…………………

Pram tampak tengah sibuk dengan tumpukan koran di depannya. Tangannya sibuk membalik halaman demi halaman. Sebuah tongkat tersandar tepat di sampingnya. Dinda mendekati sosok itu dengan wajah ceria.

“Lho, udah pulang, Din?” tanyanya sebelum Dinda membuka suara.

“Udah, yah. Kan tadi Dinda masuk shift pagi.. ayah kok sibuk banget kayaknya, lagi ngapain sih?”

“Nggg, yah. Cari – cari sesuatulah! Udah sana makan, ayah udah masak tuh buat kamu.”

“Waahhh, ayahku baik sekali..!” puji Dinda. Ia lalu melenggang menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ia baru ingat tujuannya semula waktu datang tadi. Ia kembali berbalik.

“Ayah..”

“Ya?”

“Ayah masih nyimpen album – album Dinda sama bunda waktu kecil nggak?”

“Ada. Kenapa?”

“Dinda mau lihat dong..!”.

“Buat apa, sayang?” jawabnya tanpa menoleh dari halaman yang sedang dicermatinya dengan hati – hati.

“Dinda mau lihat sebentar, ada perlu, buat.. buat biodata.” Jawab Dinda bohong.

“Sebentar, ayah lihat dulu.”

Pram segera melipat korannya, lalu mengambil tongkatnya dan beranjak dari tempat duduknya. Dengan dibantu Dinda, ia segera membuka lemari pakaiannya, lalu menurunkan sebuah koper kecil yang sedikit berdebu. Dibukanya koper itu dengan hati – hati, lalu mengeluarkan isi demi isi dari koper itu. Dinda menunggu dengan dada yang berdebar.

Akhirnya, setelah tiga per empat dari semua isi koper yang terbongkar, didapatinya dua buah album berukuran sedang yang tampak sudah sangat usang. Dikeluarkannya kedua album itu, lalu diserahkannya kepada Dinda.

Dinda menerima album itu dengan campuran berbagai perasaan. Ia lalu membawa album itu ke kamarnya setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih. Pram memandanginya dengan tatapan aneh, lalu kembali ke kesibukannya semula.

Setibanya di kamar, Dinda tak sabar untuk segera membuka album itu. Dengan tergesa – gesa ia melompat ke tempat tidur, lalu membalik lembar demi lembar photo yang terpajang di sana dengan teliti dan penuh selidik.

“Ah, kenapa semua hanya photo aku dan bunda? Kenapa tak ada photo tante Sintya atau anaknya itu?” desah Dinda kecewa dengan album yang bertama yang didapatinya tidak memberikan apa yang dicarinya.

Dinda lalu membuka album yang ke dua. Ia melakukan hal yang sama seperti yang pertama. Lembar demi lembar, photo demi photo. Hingga akhirnya ia akan menutup album itu dengan penuh kecewa, tiba – tiba.. matanya memaksanya untuk kembali ke halaman sebelumnya. Dua photo didempetkan jadi satu!.

Dengan hati – hati segera dilepaskannya steples yang menempelkan kedua photo itu dan terlihatlah wajah seorang wanita, yang dibuat bertahun – tahun yang lalu dan dengan dandanan yang mungkin sedang musim waktu zaman itu. Polesan make up tipis menutupi kulitnya yang putih, tapi hal itu tak membuat Dinda tak mengenali wajah itu. Ya, wajah yang beberapa waktu lalu dijumpainya! Yang terasa begitu dekat dengannya dan langsung akrab dengannya, yang anaknya selalu mendampingi dan membantunya, dia adalah.. Ibu Ryan! Ibu Zahra!

Dengan dada berdebar dan berharap cemas Dinda membaca tulisan di balik photo itu. “Sintya.” Dinda terhenyak.

…………bersambung ke bagian 15………………….

Senin, 21 Juni 2010

RB - Bagian Tiga Belas

Pram memandang photo lama di dalam buku catatan pribadinya itu dengan cermat. Dahinya mengernyit. Matanya menerawang. Ia berpikir dan berusaha membandingkan wajah yang ada dalam ingatannya dengan wajah yang ada di dalam photo itu. Persis! Dugaannya pasti tak salah!
Tapi sesaat Pram bimbang. Benarkah anak itu adalah anak perempuan itu, anak Sintya? Kalau memang benar, mengapa anak itu tak pernah mengatakan apapun tentang dirinya ataupun tentang ibunya? Apakah karena anak itu tak tahu ada hubungan apa antara ia dan ibunya? Apakah wanita itu tak pernah cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum anak itu lahir ke dunia ini? Ataukah ada sesuatu di balik semua ini?
Pram resah. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat itu, ke sebuah rahasia tak seorangpun mengetahuinya…

…………………


Delapan belas tahun Lalu…
Pram mengendarai mobilnya dengan hati – hati melewati tikungan demi tikungan. Ia baru saja pulang dari menyelesaikan sebuah proyeknya di sebuah desa kecil di daerah Jawa barat. Sesekali matanya melirik spion dan sesekali memandang deretan tebing – tebing tinggi yang dilewatinya. Sepi dan sunyi.
Namun tiba – tiba matanya menangkap seperti sesosok orang yang terbaring diantara semak – semak di bawah tebing curam itu. Pram berusaha menepis pa yang terpikir oleh otaknya. Tapi, akhirnya ia menghentikan mobilnya juga dengan mendadak, lalu mundur kembali ke tempat yang tadi ia yakini dimana ia melihat sosok terbaring itu. Dadanya berdegup kencang ketika menyadari bahwa penglihatannya ternyata tidak salah! Seonggok tubuh manusia!
Sosok itu tak bergerak. Tapi Pram yakin sosok itu adalah manusia. Ia lalu memutuskan untuk turun, lalu mendekati sosok terbaring tak berdaya itu.
Pram terkesiap. Wanita. Ternyata seorang wanita!. Pram meraba denyut nadi wanita itu. Ia lalu bernapas lega ketika didapatinya nadi wanita itu masih berdenyut. Tanpa menunggu lagi, segera digotongnya sosok itu ke mobilnya, lalu melarikan mobil itu dengan kencang menuju rumah sakit terdekat.
…………………………..

Pram berdiri dengan gelisah di depan kamar sebuah rumah sakit. Dua puluh menit sudah ia menunggui wanita itu, namun wanita yang tak dikenal itu belum juga siuman dan dokter masih belum keluar dari kamar itu. hatinya bertanya – tanya, apakah sebenarnya yang terjadi dengan wanita itu? korban perampokankah, perkosaankah, pembunuhankah, atau apa?
Pram menduga – duga dalam hati, sambil sesekali menguap. Sampai sebuah teriakan histeris yang berasal dari kamar yang ditunggunya itu mengagetkannya. Pram mencoba mendekati pintu, namun belum ada tanda – tanda pintu itu akan dibuka. Lalu ia mencoba mengintip dari celah – celah hordeng jendela.
Samar – samar ia bisa melihat seorang wanita (wanita itu) sedang meronta dan histeris. Para suster dan dokter tampak berusaha menenangkannya dengan susah payah. Dan.. lalu wanita itu terkulai lemah. Mungkin diberi suntik penenang, pikir Pram.
Selang beberapa detik, pintu kamar itu terbuka. Seorang dokter segera menghampiri Pram, “Maaf, apakah anda keluarga yang ada di dalam?” tanya dokter itu pada Pram.
Pram menggeleng, “Sebenarnya bukan, dok. Memang saya yang membawanya tadi kesini dan mengurus administrasinya, saya temukan dia dalam keadaan tak sadar, saya sendiri belum tahu siapa dia.”
“O.. begitu. Namanya Sintya, ia mengatakannya kepada kami tadi. Sekarang ia sedang istirahat.”
“Sebenarnya apa yang terjadi dengannya, dok?”
“Hanya ia sendiri yang tahu apa yang menimpanya. Kemungkinan ia mengalami suatu peristiwa yang membuatnya shok berat, dan ia sedang hamil. Saya khawatir kondisinya bisa berakibat buruk bagi bayinya. Mungkin nanti setelah ia tenang, anda bisa menemui dan menanyainya. Saya permisi dulu, saya sarankan anda menungguinya dulu sementara waktu.”
“Baik, dok. Terima kasih.”
Dokter itu berlalu. Tinggallah Pram dengan kebingungannya. Ia lalu mengambil handpone-nya kembali, lalu menelpon Tyas, memberitahukan pembatalan kepulangannya. Ia lalu melangkah masuk menuju kursi ruang tamu kamar itu. Sekilas melemparkan pandangan ke sosok yang terbaring tenang di ruangan itu.

…………………….

Suara sesegukan tangis membangunkan Pram yang tertidur di sofa itu. Pram mengerjab – ngerjabkan matanya, lalu melihat Sintya, wanita itu, tengah menangis. Pram mencoba mendekat.
“Maaf, saya yang membawa anda semalam ke sini.”
“Kenapa?” tanya wanita itu dengan kesal, “Kenapa?”
“Mengapa? Mengapa saya bawa ke sini? Karena saya ingin menolong anda.” Pram sedikit kesal dengan pertanyaan itu.
“Biarkan, kenapa nggak biarin aja saya mati? Biar saya mati.. saya tak pantas lagi untuk hidup” wanita itu tergugu. Tangisnya semakin kencang dan memilukan, seakan sedang menyesali sesuatu. Bibirnya mengucapkan kalimat – kalimat tak jelas. Pram menunggu sampai wanita itu menuntaskan tangisnya.
“Boleh saya bertanya tentang apa yang menyebabkan anda seperti ini? Saya janji akan membantu semampu saya.” Pram memberanikan diri bertanya.
“Nggak ada yang bisa bantu saya..!!”
“Saya akan coba.“Pram meyakinkan.
Wanita itu menyeka air matanya, ia terdiam beberapa saat, matanya menerawang jauh..
“Dia.. saya bertemu dengannya sudah lama, sejak saya bekerja di salah satu perusahaannya, dia bilang.. dia mencntai saya dan akan menikahi saya, tapi.. tapi dia malah menghancurkan hidup saya, dia meninggalkan saya, mencampakkan saya saat tahu saya sedang hamil, dan berpaling pada wanita lain. Ia menikah dengan wanita lain dan dia.. dia tidak mengakui anak ini..” wanita itu meraba perutnya.
“Saya sudah terlanjur berbohong pada keluarga saya bahwa saya saya sudah menikah beberapa bulan yang lalu. Ya, saya terpaksa berbohong demi anak ini, dan berharap ia akan segera menikahi saya walaupun hanya nikah sirri, dan kami bisa pulang menjenguk orang tua saya di kampung nanti bersama – sama. Tapi, dia tetap tidak mengindahkan permintaan saya. Ia malah pindah ke kota di mana wanita itu tinggal. Saya bingung..! saya ingin pulang, tapi saya tak berani pulang sendiri. Saya sudah terlanjur bilang kalau saya pulang bersama suami saya, tapi sekarang hidup saya sudah hancur, saya ingin mati saja.. biarkan saya mati..”
Wanita itu menangis lagi. Pram tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya duduk memandangi wanita itu dengan sedih. Sebuah pikiran lalu terlintas di benaknya.
“Berapa lama Nona…”
“Sintya, nama saya Sintya.”
“Ya, baik. Sintya, berapa lama anda akan menjenguk orang tua anda itu?”
“Orang tua saya di Sukabumi, biasanya hanya dua hari.”
“Hanya dua hari?”
“Ya, kenapa?”
“Saya rasa anda tak bisa pulang sendirian dengan kondisi psikologis seperti ini. Saya akan mengantar anda. Itu kalau anda tak keberatan dengan bantuan yang saya tawarkan itu.”
“Maksud anda?”
“Saya akan mengantar nona, kalau nona mengizinkan, setelah itu saya akan pulang.”
“Itu artinya… tidak! saya tak sanggup pulang. Saya tak sanggup menghadapi semua ini! Saya nggak bisa..! Saya nggak berani..!”
“Saya akan antar.”
“Imbalan apa yang anda harapkan dari saya?”
“Tidak ada.”
“Apa?!” Sintya terperanjat.
“Ya, tidak ada. Saya hanya ingin membantu saja. Tapi, sungguh saya tidak akan melakukan apa-apa selain memainkan peran yang akan anda berikan kepada saya di depan orang tua anda, entah sebagai teman, adik, sopir, ataupun yang lainnya. Semua terserah anda. Hanya itu. saya bersumpah.”
“Setelah itu?”
“Setelah mengantar anda saya langsung pulang, dan urusan selanjutnya adalah urusan anda, tapi saya sarankan anda istirahat dulu di sana sampai kondisi anda membaik. Kasihan, bayi itu tak berdosa. Akan lebih berdosa lagi kalau membiarkannya tersia – siakan. Mati tak akan menyelesaikan masalah. Setiap masalah pasti ada penyelesaiannya, walaupun itu harus menempuh jalan yang sulit. Jadi, hadapilah! Mengakui kebohongan dan keadaan yang sebenarnya memang sulit, tapi akan lebih sulit lagi kalau menyelesaikan kebohongan dengan kebohongan lagi..”
“Jadi?”
“Jadi, saya sarankan anda menceritakan yang sebenarnya kepada keluarga anda, saya yakin mereka akan mengerti.”
Wanita itu termenung. Lalu mengangguk dengan perlahan. Itulah awal perkenalan mereka. Pram dan Sintya.

……………………..

DORRRR!!!
Suara dan tepukan di bahunya membuat Pram kembali ke dunia yang sebenarnya. Dilihatnya Dinda cengengesan duduk di sampingnya.
“Dinda, ngagetin ayah aja!”
“Emang ada yang papa pikirin ya?”
“Nggak..”
“Bohong. Buaya kok mau dikadalin?”
“Emang ini buaya, ya?” Pram menunjuk Dinda.
“Ah, ayah mah gitu!” Dinda cemberut, “Ayo dong cerita ke Dinda!”
“Emang nggak, Cuma ingat masa lalu.”
“Ah, yang bener? Ada yang ayah rahasiakan ya ke Dinda?”
“Emang kamu merasa begitu?”
Dinda mengangguk, “Dinda kan udah gede, Yah.. Dinda kan udah bisa mengerti. Ya, kalau ayah nggak keberatan Dinda menawarkan diri lho untuk mendengarkan cerita atau masalah ayah.”
“Duh, bidadari kecilku udah dewasa nih ceritanya?” Pram mengacak rambut Dinda, “Tapi bener kok, ayah cuma inget masa lalu..”
“Ya udah, kalau nggak mau, Dinda nggak maksa!” Gadis itu cemberut.
Pram tersenyum, “Lho, katanya udah dewasa? Tapi kok cemberut gitu? Ngambek? Ok, nih, sini papa ceritain. Dulu, jaman dahulu kala, seribu tahun yang lalu..” Pram memulai ceritanya, tapi tiba-tiba..
“Stop, stop. Ih, ayah nyebelin! emangnya Dinda anak kecil apa? Pake mulai dari jaman dahulu kala..”
“Lha, trus apa dong?”
“Apa kek, waktu kek, tahun kek..”
“Iya, ya.. bidadari kecil, eh, Bidadari dewasa. Begini.. “
Lalu mengalir mengalirlah cerita Pram tentang ingatannya tadi, tentang Sintya. Dinda mendengarkannya dengan serius.
“Lalu…?”
“Lalu kami sempat bertemu beberapa kali setelah itu dan setahun kemudian baru ayah menikah dengannya, dengan Sintya.”
Dinda merasakan debar di dadanya lebih cepat dan semua saraf – sarafnya menegang, “Jadi.. jadi ayah punya istri lain selain bunda? Ayah ayah pernah mengkhianati bunda?”
“Tidak.”
“Lalu?”
“Ayah menikahi Sintya atas saran dan persetujuan dan saran dari bundamu.”
“Bunda melakukan itu? mengapa?”
“Itulah yang sampai sekarang belum ayah mengerti. Ia merelakan berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Yang ayah tahu..Tyas, bundamu, adalah seorang bidadari, benar – benar seperti bidadari dan memiliki hati bidadari, sampai sekarangpun ayah tak tahu rahasia bidadari itu sehingga bisa setegar itu…”
“Lalu, dimana tante Sintya sekarang?”
“Ayah nggak tahu.”
“Apa bunda pernah bertemu dengannya?”
“Belum. Seharusnya kita, Ayah, bunda, dan kamu bertemu empat belas tahun yang lalu. Tapi, kecelakaan itu… ya, dalam perjalanan kesana terjadi kecelakaan itu, dan bundamu…” Pram tak kuasa meneruskan kata – katanya.
“Ya, Dinda mengerti. Tapi, kenapa setelah itu ayah tidak mau menemui siapa?oh, tante Syntya?”
Pram menatap Dinda sedih.
“Bukannya tidak mau. Enam bulan setelah kecelakaan itu, setelah ayah sembuh, ayah berusaha mencarinya ke rumah kami yang dulu, tapi kata para tetangga di sana, Sintya dan anaknya sudah pindah sejak beberapa bulan yang lalu, lalu papa mencari ke rumah orang tuanya, di Sukabumi, tapi mereka bilang, mereka tak tahu apa – apa tentang keberadaannya..”
Dinda manggut-manggut, dahinya berkerut.
“Ngg.. bukankah dia punya anak?”
“Ya, dua orang, yang satu mungkin kalau masih hidup, mungkin seumur kamu, karena waktu itu kalian lahir secara bersamaan, Cuma beda bulan. Sedang satu lagi waktu itu masih dalam kandungan. Ayah juga nggak tahu, laki – laki atau perempuan..”
“Berarti Dinda punya adik tiri?”
“Bukan, satu kakak tiri, dia lebih dulu lahir dari kamu. Dan satu adik tiri”
“Ya, kakak tiri dan adik tiri.” Ucap Dinda pelan.
Kepala Dinda kembali berusaha memecahkan semua kata – kata yang terekam di otaknya tadi. Sebuah rahasia besar. Tapi, anak - anak itu… di mana sekarang anak yang disebut – sebut papa sebagai saudara tirinya itu? satu tanya sudah terjawab, meninggalkan pertanyaan baru di hati Dinda. Ibu tiri, saudara tiri…
“Oh ya, gimana kerjaannya? Dapet di butik atau took Islam seperti saran Ryan itu?”
Dinda menggelang, “Nggak yah, susah! Pada penuh! Kayaknya Dinda nyari kerjaan di restoran biasa aja dulu deh, sambil lihat – lihat kerjaan lain.”
“Yaaah, ayah nggak jadi ngelihat bidadari ayah pakai jilbab dong!”
“Emang belum saatnya kali, yah! Dinda kasih Zahra aja gelar bidadarinya deh, kan Zahra pakai jilbab!”
Pram tertawa,” Kamu ini ada – ada aja.”
Dinda ikut tertawa.

…………bersambung ke bagian empat belas……………..

RB - Bagian Dua Belas

Hari kepulangan Pram dari rumah sakit…
Dinda dan Ryan memapah Pram memasuki halaman sebuah rumah kecil yang sederhana. Sementara itu Zahra membawakan barang bawaan mereka. Pram terlihat ragu ketika Dinda membimbingnyanya masuk dan membuka pintu rumah dengan kunci yang dibawanya, sedangkan Ryan kembali ke luar untuk membantu Zahra menurunkan barang – barang bawaan mereka. Berbagai pertanyaan berserakan di kepalanya. Dinda segera membawa ayahnya duduk di kursi. Lalu ia sendiri duduk di sampingnya. Keningnya tampak mengkerut berusaha mencari kata – kata yang tepat untuk menjelaskan semua yang ada di kepalanya.
“Ayah, maafin Dinda ya, karena sekarang kita udah nggak punya rumah sebagus dulu, dan Dinda menyewakannya tanpa menunggu persetujuan ayah dan sekarang, ayah terpaksa tinggal di rumah kecil ini.. Dinda janji ya, nanti setelah Dinda dapat kerja, Dinda akan nabung, biar kita bisa tinggal rumah itu lagi..”
Dinda menggenggam tangan Pram. Pram memandang Dinda beberapa saat dengan perasaan haru, sedih, dan bangga. Dinda, inilah salah satu sikap Dinda yang persis sekali seperti Tyas, selalu minta maaf terlebih dulu kalau merasa salah. Perasaan yang begitu lembut dan perasa. Ah, Tyas.. seandainya kamu masih ada, kamu pasti bangga melihat Dinda sekarang, anak kita sudah dewasa..
“Ayah? ayah marah sama Dinda?” Dinda bertanya sekali lagi ketika melihat Pram tak juga menjawab pertanyaannya sekali lagi.
Pram tersadar dari lamunannya. Senyumnya mengembang. Segara dipeluknya gadis kecilnya itu dengan saying, “Dinda, mana mungkin ayah marah.. ayah justru bangga, karena kamu udah bisa ngambil keputusan sendiri, ayah bangga kamu bisa bertahan merawat ayah selama itu. Yah, harta hanya titipan dari yang Maha Kuasa dan dapat dicari, tapi keluarga? rumah kita sekarang ini emang kecil, tapi bukankah sering dikatakan ,’ rumah yang sempit akan terasa lapang, asalkan penghuninya berhati lapang’ ya, kan?” Pram mengusap rambut putrinya dengan sayang. Ryan yang sudah selesai membereskan barang – barang menyaksikan pemandangan ayah dan anak itu dengan penuh perhatian dan penuh rasa haru. (hiks.. hiks.. kayak di telenovela.. )

………………

Jakarta, Awal Juni 2005
Dinda mengemasi berkas – berkasnya yang berceceran di lantai. Ini adalah hari ke tiga ia berkeliling di tengah panasnya kota demi mengharapkan sebuah pekerjaan. Panas dan hujan sudah dilewatinya. Perkantoran di gedung – gedung bertingkat sampai yang hanya di petakan kecil sekalipun telah dimasukinya. Namun sampai saat ini belum membuahkan hasil. Semuanya tersangkut pada riwayat kesehatannya, TBC. Memang sih ada beberapa kantor yang tidak mempedulikan itu, tapi tidak ada kecocokan dalam gaji. Atau ada yang gajinya cocok, pekerjaannya yang tidak sesuai dengan keinginan.
Huff. Ternyata emang sulit ya, cari kerja dengan Cuma bermodal ijazah SMU, desah Dinda. Ijazah? Ya, berkat kemurahan hati kepala sekolahnya, akhirnya Dinda diperbolehkan mengikuti ujian akhir dan tentu saja di tempat yang terpisah dari murid lainnya. Dan berkat kesungguhan Ryan dan Zahra (lho, kok mereka? Oh iya, pasalnya sebelum mengikuti ujian, merekalah yang mengajari Dinda semua materi yang sempat ditinggalkan Dinda), hingga akhirnya gadis itu bisa memperoleh ijazahnya beberapa hari yang lalu.
“Ehem.. ehem.. anak ayah sedang mikirin siapa nih? “ deheman ayahnya membuat Dinda berhenti melamun. Pram, ayahnya tengah berdiri di pintu kamar dengan kruk di ketiak kanannya. Muka Dinda langsung bersemu merah (kepergok ni ye..).
“Ah, ayah! Nggak kok, Dinda Cuma lagi mikirin kerjaan apa lagi yang harus Dinda coba lamar.” jawab Dinda.
“O, kirain mikirin ngg..” Pram pura – pura berpikir dan menopang dagunya, berpikir.
“Nggg apa? Ayo, mulai deh! Ayah ada – ada aja, yang Dinda pikirin tuh Cuma ayah, suwer deh! Tak kan ada cinta yang lain..” Dinda menirukan sebuah lagu yang cukup ngetop. Tiba – tiba..
“Assalamu ‘alaikum!”
Suara dari pintu membuat Dinda berhenti berkoar, eh, menyanyi!. Hm.. pasti Ryan, bisik gadis itu dalam hati. Dan ternyata dugaannya nggak salah, Ryan memang udah cengar – cengir di sana!
“Hmmm, lumayan juga suaranya,” komentar Ryan iseng. Dinda tersenyum malu. Tapi.. “Lumayan nakutin tikus maksudnya! he..he..”
Dinda berubah manyun. Huh! Dasar, nyebeliinnnn lin.. lin..!
“Ada juga nggak apa – apa kok, Oh ya, Din, kamu udah putusin kamu mau kuliah Dimana? Ryan gimana? Oh ya, kok tumben Zahra nggak ikut?” tanya Pram.
“Eh, ada ooom. Zahra bentar lagi juga nyusul kesini oom.” cowok itu mesem – mesem begitu menyadari Pram sedang duduk di kursi tamu. Gantian Dinda yang cengar – cengir. Rasain!
“Ryan diterima di teknik ITB om, jadi, minggu depan harus berangkat ke Bandung.” jawab Ryan.
“Gitu – gitu kan fisikanya paling pinter di sekolahan yah! Kalo Dinda, Dinda belum tahu, pokoknya Dinda nggak mau macam – macam, Dinda Cuma pengen ayah sembuh dulu, baru abis itu mikirin kuliah Dinda, ok?” ucap Dinda sambil membolak balik tawaran yang diberikan Anggi kemarin, mulutnya mengerucut.
“Oh iya, gimana keadaan ibumu? Sehat? Ah, karena kamu udah banyak bantu om dan Dinda, mungkin nanti sesekali om pengen ketemu sama ibumu.” Sambung Pram.
Ryan terlihat sedikit gelagapan, “Nggg, ibu sehat, om. Tapi sekarang sedang sibuk, ngg.. mungkin..” suara Ryan tersendat, seperti ada sesuatu mengganjal tenggorokannya.
“Mungkin apa?”
“Ah, nggak, om.” Jawab Ryan menutupi apa yang ada di pikirannya. Pram tak lagi bertanya. Karena Dinda segera menyodorkan sebuah iklan yang sudah digarisi di depan mukanya.
“Yah, lihat deh! Nggg, kalo ngelamar pelayan di restoran untuk sementara dulu nggak apa – apa kali ya? Gimana yah, cocok nggak tampang Dinda yah? Ok kan Yan?”
“Cocok, buat nakutin preman yang nagih uang keamanan Din! he..hee.. “ jawab Ryan asal. Ggrr.. Dinda tambah cemberut, “Becanda denk! Mendingan cari kerjaan part time di butik – butik atau toko islam aja Din, kan kamu bisa sekalian belajar pakai jilbab.”
Kening Dinda berkerut, “ Belajar pakai jilbab kayak Zahra?”
Ryan mengangguk. Dinda memandang Ayahnya, “ Pantes juga kali ya, yah? Seragam kerja panjang, trus pakai jilbab, gimana yah?” Dinda memandang Pram meminta pendapat.
Pram terdiam. Ia mengerti dengan ucapan putrinya. Dinda, sebegitu besarkah cintamu pada ayahmu ini? Sampai harus mencari pekerjaan dan menunda kuliah demi Ayahmu ini? mengapa selama ini aku tak menyadarinya selama ini?
“Lho, kok ayah jadi diam? Dinda kan nanya pendapat ayah...” Dinda bingung. Ryan yang tadinya cengengesan ikut diam.
Pram menatap Dinda, “Nggak, nggak apa – apa kalo kamu suka, lagian mungkin memang sudah sepantasnya kamu memakai kerudung. Dan sementara itu, sambil nanti ayah coba hubungi beberapa mantan relasi papa di kantor apa ada yang butuh staff di sana, sekaligus nanyain apa ayah masih bisa masuk lagi ke sana. Ngg.. tadi, ayah cuma mikir aja, kalau ayah nggak ngalamin seperti ini, kamu pasti sedang sibuk seperti temen – temenmu yang lain sekarang, sibuk nyari tempat kuliah, tes ke sana – sini atau siap – siap kuliah di universitas favorit dan bukannya sibuk cari kerjaan. “
“Udah ah, ayah. “ Dinda memotong perkataan ayahnya, ”Kok ngomong gitu sih? kan ayah sendiri yang ngomong, semua ada hikmahnya, jadi kita ambil hikmahnya aja, ok? Mungkin Dinda mau ngasih kesempatan dulu buat orang lain kuliah di sana, lumayan kan satu bangku? Hmm, Dinda mo masak dulu, biar ntar kita bisa makan bareng – bareng. Ayah ngobrol aja sama tuan iseng ini ya? Ok?” ujar Dinda. Bibirnya berusaha menyunggingkan senyum, sebelum berlalu menuju dapur. Pram geleng – geleng kepala melihat ulah putrinya. Dinda.. Dinda !
Di dapur, Dinda merenungkan kembali kata – kata ayahnya. Hati Dinda terasa teriris. Bukan, bukan karena ia memikirkan kenyataan bahwa dirinya tak bisa seperti teman – temannya yang lain, juga bukan memikirkan keadaan ayahnya yang membuatnya seperti ini.. karena tanpa kejadian yang menimpa ayahnyapun ia pasti akan mengalami seperti ini. Tapi, hatinya terasa pedih karena memikir kenyataan tentang keadaan dirinya yang kian hari semakin memburuk dan membayangkan waktu yang semakin menyempit, Apalagi mengingat beberapa hari terakhir ini frekuensi batuknya yang semakin menjadi – jadi dan dadanya yang sering kali terasa sakit. Pilu.

…………bersambung ke bagian 13…………

RB - Bagian Sebelas

Pram membuka matanya perlahan. Cahaya yang masuk di sela – sela gorden membuatnya tak bisa membuka mata secara langsung, karena belum terbiasa dengan sinar terang. Perlahan, matanya yang masih kabur mencoba menangkap bayangan gadis yang tertidur pulas di samping tempat tidurnya. Dinda. Tangan Pram berusaha menggapai dan membangunkan gadis semata wayang kesayangannya itu. Namun, sepertinya tangannya terasa sangat lemah, sehingga hanya mampu mengenai gelas yang tergeletak di sampingnya. Gelas itu oleng beberapa saat sebelum akhirnya pecah berantakan jatuh ke lantai.

Praaannggg..!!!

Dinda terlonjak dari tidurnya begitu mendengar benda pecah yang tak jauh dari telinganya. Matanya yang masih bengkak mencoba mencari sumber suara. Dinda langsung terlonjak kaget dengan apa yang di lihatnya. Di depannya, Ayahnya telah membuka mata. Ayahnya telah sadar!

Dinda segera memanggil dokter dan perawat. Setelah dokter mamastikan bahwa Pram, ayahnya, akan baik – baik saja, langsung saja bak anak kecil, Dinda segera memeluk, menciumi tangan dan kening ayahnya dengan suka cita. Sedangkan bibir mungilnya tak henti – hentinya mengucapkan syukur. Tak dihiraukannya dokter yang meninggalkannya dengan geleng – geleng kepala, serta Ryan dan Zahra yang baru datang membawakan makan siang yang menatapnya dengan penuh rasa haru dan bahagia. Air mata ikut menetes di pipinya. Satu masalah terselesaikan, walaupun ribuan masalah lainnya masih menunggu gadis itu.

……………………………

“Din…”

Sebuah suara mengagetkan Dinda yang sedang menyuapi ayahnya sarapan bubur pagi itu. Rasanya dulu suara itu pernah bergaung di pendengarannya. Dinda menoleh dengan cepat.

“Selvy?” Dinda mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan penglihatannya. Ryan yang berdiri di samping Selvy menganggukkan kepala meyakinkan Dinda, lalu menggantikan Dinda menyuapi pak Pram. Dinda tak segera berbicara, setelah diambilnya sapu tangan penutup mulutnya kalau batuk, gadis itu langsung mengajak Selvy ke ruang tunggu di depan kamar ayahnya. Pikirannya masih berkecamuk, untuk apa dia ke sini setelah semua yang terjadi?

“Sorry Din, gw baru dateng sekarang, gw minta maaf atas kejadian waktu itu.” jelas Selvy, penyesalan jelas terpancar dari matanya. Dinda memandang Selvy bingung.

“Minta maaf?”

“Ya, minta maaf atas sikap gw, lu mau kan maafin gw, Din?”

Dinda tergagap. Ya Tuhan, apakah ini berarti dugaannya selama ini terhadap Selvy adalah benar?

Kening Dinda berkerut, tapi ia tak berani bertanya apa – apa selain menganggukkan kepala, “Gw.. gw nggak pernah mikirin itu lagi kok, gw udah maafin semuanya.”

Selvy langsung memeluk Dinda, “Gw ternyata salah paham ya Din sama lo, ternyata lu baik banget orangnya, kita temenan, ya ? gw malu sama sikap gw selama ini sama elo, Din.”

Dinda bengong. It’s Right? It’s enough ? apakah semua ini sudah cukup untuk membayar semua kesalahan itu? Semudah itukah? Seakan itu adalah kesalahan yang sangat kecil?

“Selvy..!!”

Sebuah bentakan dari belakangnya membuat Selvy melepaskan pelukannya dari Dinda. Anggi berdiri di sana dengan wajah yang hampir memerah menahan marah. Demikian juga Dengan Selvy yang tiba – tiba berubah sangar. Sungguh, bukan seperti Selvy yang baru saja dihadapi Dinda.

“Ngapain lu di sini?” Anggi langsung menarik tangan Selvy dengan kasar, seolah – olah menjauhkan gadis itu dari Dinda.

“Lu sendiri ngapain?” balas Selvy sengit.

“Mau tau aja lu, gw ingetin ya, lu jangan coba – coba deketin Dinda, jangan mentang – mentang selama ini gw nggak bareng Dinda deh! atau lu kurang puas udah ngerebut gelar siswa teladan? Jangan pura – pura baik, ok!?” Anggi mendorong Selvy agar gadis itu menjauhi Dinda.

“Gw nggak pura – pura baik Din, Nggi, tapi..” Selvy memandang Dinda ragu,”Ah, Ok, Din. Ngg.. ok, gw pulang dulu ya?”

Tanpa menunggu jawaban, akhirnya Selvy meninggalkan Dinda yang masih melongo dengan pandangan tak mengerti menatap mantan sahabat dan mantan saingannya itu. Ada apa ini? kenapa Anggi dan Selvy bisa datang tiba – tiba dan secara hampir bersamaan? Kenapa Anggi begitu marah ketika Selvy mendekatinya? Dan kenapa Anggi tiba – tiba muncul setelah sekian lama dan seakan – akan selama ini tak ada apa – apa? Ada apa lagi ini ya Tuhan?

“Din, maafin gw ya? selama ini, gw tau gw salah ninggalin lu sendirian. Gw baru sadar, seharusnya gw nggak ngebiarin lu sendirian memikul beban seberat ini.“ ucap Anggi berubah lembut.

Dinda semakin bingung. Tadi Sevy, sekarang Anggi? Ada apa sebenarnya?

“Din..” Anggi menepuk bahu Dinda.

Dinda tersadr dari lamunannya, “Eh, I..iya, udahlah Nggi, lu nggak salah, semua wajar kok.” Ujar Dinda sambil menahan batuknya.

Dinda menatap Anggi. Keduanya tersenyum. Lalu Anggi menarik Dinda menuju mobil, mengambil plastik berisi oleh – oleh yang dibawanya.

“Selvy ngapain nemuin lu, Din?” tanya Anggi sambil mengeluarkan bawaannya dari bagasi.

“Dia minta maaf.”

“Minta maaf?”

“Ya.”

“Tuh kan? Benerkan dugaan gw..”

“Dugaan apa?”

“Iya, dia pasti mau ngambil kesempatan buat ngedeketin lu selagi kita – kita nggak ada.. jangan – jangan dia juga lagi yang ngelakuin semua ini sama elo, sampai – sampai kita benci sama elo…” Anggi menutup bagasi, lalu kembali mengunci mobilnya.

“Nggak tahu lah, siapapun nggak masalah. Semua udah lewat Nggi.” Ucap Dinda, lalu mengikuti Anggi yang berjalan masuk menuju kolidor rumah sakit yang menghubungkan dengan kamar ayahnya.

Sementara itu…

Selvy mengamati Anggi dan Dinda yang berjalan dari kejauhan dengan kesal. Dinda. Sedikit lagi! padahal sedikit lagi… seandainya saja Anggi tidak muncul, pasti ia akan berhasil melakukan hal itu! pasti ia akan bisa mengatakan hal itu! tinggal selangkah lagi! ah, Dinda, gadis itu begitu kuat, tapi akankah ia masih sekuat itu jika mengetahui kenyataan itu?. Bisik batin Selvy lirih, lalu meninggalkan kawasan rumah sakit.

………..…………….

“Aku bingung..” ujar Dinda suatu sore kepada Zahra dan Ryan.

“Bingung?” sahut Ryan dan Zahra berbarengan. Zahra memandang Ryan dengan tajam. Ryan mengerti arti pandangan itu.

“Ya.”

“Sebabnya?” kali ini hanya Zahra yang menyahuti, sedangkan Ryan kembali sibuk dengan buku di tangannya.

“Ya… a.. aku bingung sama Anggi dan Selvy, kok mereka tiba – tiba dateng barengan, padahal selama ini mereka nggak pernah mikirin aku, eh, kok pada dateng tiba – tiba, apalagi sampai nengokin ayah.. udah gitu mwnghilangnya juga barengan. Aneh kan?”

Zahra mengerutkan kening. Ryan yang mau tak mau ikut mendengar, juga ikut berpikir, walaupun matanya terpaku pada buku di tangannya itu.

Dinda menceritakan pertemuannya siang itu dengan Anggi dan Selvy, kedua gadis itu memang langsung tiba – tiba menghilang, alias nggak pernah datang lagi menemui Dinda. Cukup aneh memang. Apalagi sikap Selvy yang berbeda waktu itu, yang seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi entah apa Dinda tak tahu.

“Aneh memang, tapi menurut aku, kak Dinda nggak usah pikirin, mungkin aja ini jawaban atas doa – doa kakak selama ini atau memang Allah telah membukakan pintu hati mareka saat ini, siapa tahu..!!” Zahra mengangkat bahu, “Udahlah kak, nggak usah bingung, yang namanya temen, seneng bareng, susah juga bareng, lupain aja mereka, banyak yang harus kakak pikirin selain mereka. Trus ntar kalo kakak udah bener – bener sembuh, baru deh kakak pilih yang mana yang bener – bener temen.”

“Betul, Din!” Ryan akhirnya menimpali juga, “Sekarang mulai aja siap – siapin barang buat pulang, tadi aku udah bicara ke dokter, katanya kalau keadaan normal – normal aja lusa om udah bisa dibawa pulang.”

“Bener?” Dinda kaget,”Kok kalian nggak bilang – bilang sama aku sih? Jahat!“ Buugg! Dinda melempar dua bantal kursi yang tadi di tangannya kepada Ryan dan Zahra, membuat kedua kakak beradik itu reflek mengelak.

Dan dalam waktu singkat, bantal di ruangan itu melayang kembali. Perang bantal!

“Kan surprise, abisnya kamu betah kayaknya di rumah sakit.. he.. he…” Ryan nyengir melihat wajah Dinda yang berlipat empat cemberut. Melihat itu, Zahra yang biasanya tak suka menggoda jadi ingin menggoda, “Eit, kak, udah minum obat belum ? Ntar aku yang repot lagi..”

Dinda jadi bengong. Lho, Kok dia yang repot?

“Iya, ntar aku yang repot bawa kakak ke rumah sakit jiwa! ha.. ha..”

Blukgk! Sekali lagi bantal di tangan Dinda mengenai kepala Zahra, “Dasar! Kakak adik jailnya kompak..!”

Namun, akhirnya gadis itu beranjak juga mengambil kantong obat di laci tak jauh dari tempat duduknya. Satu persatu obat tablet yang bertuliskan rifamficin, pirazinamid, etanbutol, dan streptomizin itu di keluarkannya dan di telannya dengan segelas air yang diangsurkan Ryan kepadanya. Tapi, baru beberapa saat..

“Yan..”

“Apalagi? Bentar Yan, bentar Ra, kenapa?”

“Gimana ya kabarnya Fery?”

Ryan terdiam sesaat. Ada perasaan tak tega tergambar di sana. Dinda, seandainya saja kamu tahu kenyataannya..

“Udah ah, ngapain sih kamu mikirin dia?” Ryan sewot.

“Ya, lupain aja kak, kalau jodoh kan nggak akan kemana..” Zahra ikut – ikutan.

“Yeee, anak kecil ikut – ikutan, emang tahu?” balas Dinda. Zahra nyengir. Dinda tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat Zahra diam, “Hmm…”

“Apa lagi?” Ryan dan Zahra berbarengan.

“Nggak, Cuma mikir aja, sampai kapan ya aku kayak gini? Apa aku bisa ya bertahan terus sama obat – obat ini?”

Dinda menatap sekantong obat di tangannya dengan sedih. Ryan menatap Dinda perasaan tak menentu.

“Din, kamu pasti bisa bertahan, percayalah Din. Kamu aja bisa melewati masa – masa sulit kemarin, kenapa sekarang kamu nggak bisa? Kamu pasti bisaa! Aku dan Zahra akan terus nemenin kamu Din, sampai kamu sembuh..” Ryan menatap Dinda, berusaha membangkitkan rasa optimis gadis rapuh itu.

“Kalian nggak takut ketularan?” tanya Dinda.

“Kak Dinda. Aku ulangi, Temen susah bareng, seneng juga bareng. Kalo aku berpikiran kayak gitu, udah lama kita nggak mau deket – deket sama kakak! Itu kata seseorang sih..”Zahra mengerling ke arah Ryan.

Ryan jadi salah tingkah.

Zahra menggengam tangan Dinda, “Aku nggak berharap apa – apa, aku Cuma pengen lihat kak Dinda yang dulu, yang selalu tersenyum. karena itu, kakak harus terus berjuang ya? Mau kan demi aku? Please.. please…” Zahra menangkupkan kedua tangannya di dada, membuat Dinda tertawa melihat ekspresinya yang lucu. Ryan ikut tertawa.

“Huuu! iya Nona sok dewasa. tapi, dapet kata – kata dari mana nih anak?”kening Dinda mengerut.

“He.. he..” Zahra nyengir, “Dari buku harian seseorang..” jawabnya polos, sambil mengerling jail ke arah Ryan.

Hukkggkk!.

Muka Ryan langsung bersemu merah seketika. Ketiganya lalu larut dalam canda di sela – sela batuk kecil Dinda, walau masih terbesit kerinduan dan pertanyaan dalam hati Dinda.

Ah, seandainya yang berkata demikian adalah Fery dan teman - temannya.. Tapi, entahlah! Fery, kemana sosok itu? mengapa tak sekalipun Fery menemuinya? Lalu ayah? Jika mereka akan pulang besok, bagaimana cara menjelaskan semua yang telah terjadi kepada lelaki itu? termasuk masalah penjualan rumah? Serta menjelaskan kenyataan yang ada?

“Eh, Din..” Suara Ryan membuyarkan lamunan Dinda.

“Ya?”

“Untuk besok siang aku udah minta tolong si mbok buat nungguin papa kamu, karena itu kamu bisa ikut aku dan Zahra besok.”

“Ikut? Kemana?”

“Ke rumahku, ke rumah kami.”

“Emang ada acara apa?”

“Nggak, kita kan cerita sama ibuku tentang kamu. Nah! besok, aku, Zahra, mau ajak kamu kenalan sama beliau, mau kan?”

Dinda berpikir sejanak, lalu “Ngg, nggak apa-apa kali ya? ya deh! jam berapa?”

“Jam setengah satu siang.”

“Ok.” Jawab Dinda. Ngg..ibu, seperti apa ya, ibunya Ryan dan gadis kecil itu? Ah, mudah – mudahan saja baik, lembut, pengertian, ramah.. ah, Bunda, itukan seperti bunda. Mungkinkah ibunya Ryan juga seperti bunda?

Dinda kembali tenggelam dalam lamunan dan angan - angannya.

…………………

Dinda mngikuti Ryan dan Zahra memasuki pekarangan sebuah ruah mungil. Ryan mengetuk pintu rumah mungil itu. Tak berapa lama kemudian seorang wanita setengah baya membukakan pintu itu dan menyambut mereka dengan ramah dan penuh senyum. Dinda segera menebak, mungkinkah ini ibu mereka?

Dugaan Dinda tampaknya tak meleset. Ryan dan Zahra segera membungkuk mencium tangan wanita itu. Dinda mengikuti melakukan hal yang sama dengan agak canggung dan kikuk. Tangan lembut wanita itu tampak sedikit gemetar ketika kulitnya bersentuhan dengan tangan Dinda.

“Bu, ini Dinda,”Ryan memperkenalkan Dinda, “Din, ini ibuku.”

“Ibuku juga.” sambung Zahra tak mau kalah.

Dinda tersenyum. Wanita itu membalas senyumnya,”Ayo, silahkan duduk. Ibu bikinkan minum dulu ya, Dinda mau minum apa?”

“Ah, nggak usah repot – repot, bu. Apa aja boleh.”

Ryan dan Zahra pamit sebentar meninggalkan Dinda untuk berganti pakaian. Dinda mengamati seisi ruangan itu. Ruang tamu yang sederhana. Tak ada pajangan, hanya ada beberapa photo Ryan sewaktu masih SD dan SMP, juga photo Zahra dan beberapa photo ibu Ryan sewaktu masih gadis. Tiba – tiba saja Dinda merasakan ada sesuatu yang kurang di ruangan itu. Tapi, ia tak segera menemukan kekurangan itu, karena pikirannya segera terhenti karena ibu Ryan telah kembali dengan membawa nampan yang di atasnya ada tiga gelas air sirop.

“Maaf, ya Din, ini seadanya.” Ibu itu meletakkan gelas di depan Dinda.

“Nggak apa-apa kok, bu.” Jawab Dinda, bersamaan dengan kemunculan Ryan dari arah kamarnya. Tampaknya ia sudah berganti baju.

“Bagaimana kabarnya ayah Dinda sekarang?”

“Ya, udah lumayan baik, bu. Mungkin besok udah bisa pulang.”

“Syukurlah..” wanita itu menarik napas panjang. Ada suatu perasaan lega dalam nada suaranya.

Demikianlah! Setelah itu dua jam mereka terlibat dalam percakapan – percakapan sehari – hari. Mulai dari pekerjaan, sekolah, sampai – sampai membicarakan resep masakan, dan banyak hal lainnya, diselingi tawa renyah yang sesekali terdengar. Akrab dan hangat, walaupun banyak hal yang tak dimengerti oleh Dinda dalam percakapan itu.

…………………….

Sabtu, 19 Juni 2010

RB - Bagian Sepuluh

Beberapa hari kemudian setelah percakapan itu..
Dinda memandang rumah megah di depannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya. Rumah yang tidak hanya megah dan nyaman untuk ditempati, tapi juga menyisakan begitu banyak kenangan manis dan pahit. Dan kini, ia harus melepas semuanya, termasuk Mbok Yana dan pak Maman yang mengabiskan hampir separuh umurnya untuk mengabdi pada keluarga Dinda.
“Baik – baik sama majikan yang baru ya mbok, pak!” ucap Dinda kepada Mbok Yana dan pak Maman.
Mbok Yana dan pak Maman akan tetap bekerja di rumah ini dengan majikannya yang baru. Itu adalah syarat yang diberikan Dinda kepada tuan Tan, pengusaha China, penyewa baru rumah ini.
Mbok Yana dan pak Maman mengangguk mengerti. “Kami mengerti non, malah kalau non nggak keberatan, non bisa tinggal sama mbok, di rumah mbok.” Mbok Yana memandang Dinda.
“Makasih Mbok, tapi biar Dinda cari kontrakan aja. Nanti kalau Dinda ada rezeki, pasti balik lagi tinggal di sini, sekarang Dinda pulang dulu ya, kasian Ryan nungguin ayah sendirian.”
Dinda menyalami pak Maman, lalu memeluk mbok Yana. Keduanya tak tahan untuk tidak meneteskan airmata. Kedua ibu dan anak yang tak ada hubungan darah itu berpelukan dengan erat.
“Jaga diri baik – baik ya non, kalau ada apa – apa datang atau telpon aja simbok, nanti sekali – kali mbok akan datang ke rumah sakit, jangan lupa minum obat .”
“Iya mbok..”
“Iya non, sama bapak juga nggak usah sungkan kalau mau minta tolong pada kami.” pak Maman menimpali.
“Makasih mbok, pak, untuk semuanya. Nanti kalau ayah udah sembuh, nanti Dinda telpon deh ke sini. Assalamu alaikum.”
“Wa’alaikum salam..” jawab keduanya bersamaan.
Dinda segera melangkah menuju gerbang. Tapi baru beberapa langkah kemudian, teriakan mbok Yana kembali menghentikan langkahnya.
“Eh, iya non, lupa!”
“Ada apa lagi mbok?” tanya Dinda. Keningnya mengernyit.
“Anu.. salam ya, buat den Ryan dan non Zahra, mereka anak baik ya? mudah – mudahan aja dia jodohnya si non!”.Mbok Yana nyengir. Pak Maman menyikutnya.
“Siapa mbok?”
“Ya den Ryan! masak non Zahra?” mbok Yana nyengir lagi.
“Ah, mbok bisa aja.. ” Dinda tersenyum malu. Ia lalu melambaikan tangan dan melanjutkan langkahnya yang semakin menjauh meninggalkan mbok Yana dan pak Maman.
Ah, Ryan, Zahra. Tak banyak yang Dinda ketahui tentang kehidupan kedua sosok itu. Rasanya Ryan dan Zahra masuk kekehidupannya begitu saja. Dinda tak tahu darimana cowok itu memperoleh informasi tentang dirinya sampai sedetail itu. Di sekolah? memang rasanya tampang cowok itu sering terlihat, tapi siapa yang kenal? Yang jelas, Dinda menyadari secara tak langsung, Ryan dan Zahralah yang telah meyakinkan Dinda untuk terus bertahan sampai saat ini. Ah, tapi bagaimana kalau suatu saat Ryan juga akan sama dengan teman – temannya yang lain? Jodoh? Ah, Dinda tak berani berpikir terlalu jauh. Jodoh siapa yang tahu? Bukankah semua itu rahasia tuhan? Ryan. Ya, sosok itu memang istimewa dan terus terang rasanya memang ada yang terasa berbeda dengan cowok dan kakak - beradik itu sejak pertemuan pertama kali itu. Tapi entah apa.. Dinda tak tahu dan tak bisa mengingat hal itu. Otaknya terlalu lelah untuk memikirkan masalah itu.

……………….

08.00 pm.Di sebuah kafe, kawasan kuningan…
Ryan memasuki sebuah kafe dengan ragu – ragu. Suasana di dalam yang penuh dengan kepulan asap rokok dan lampu yang remang – remang membuat cowok itu kesulitan mengenali orang – orang di sekelilingnya. Matanya masih terus menyusuri meja demi meja, hingga akhirnya menemukan meja yang ia cari. Tujuh orang yang sudah sangat dihapalnya. Ketujuhnya asyik dengan pembicaraan mereka masing – masing. Ryan segera menuju meja tersebut.
“Nggi, Fer, bisa kita bicara sebentar?” Ryan mengeraskan suaranya, berusaha mengalahkan irama hentakan musik yang di setel dengan cukup keras itu. Merasa namanya disebut, Anggi dan Fery mendongak.
“Ngomong ya ngomong aja..” Anggi menyahuti.
“Gw Ryan, temen Dinda..”
Anggi ngakak, “Ha.. ha… hei temen – temen, dia bilang dia sekarang temennya Dinda, Dinda si tebece itu udah punya temen baru dia rupanya.”
“Ha… ha…” Serentak ruangan itu dipenuhi gelak tawa. Ryan berusaha untuk tidak peduli dengan sekelilingnya.
“Trus, lu mau apa ke sini, mau minta gw nemenin lagi tuh anak, trus ntar gw duluan yang mati dari pada dia? iya? Atau mo minta uang untuk berobat? Udah deh, dia emang lebih pantes kok temenan sama orang kuper dan kampungan kayak lu, udah sana! Ganggu gw aja!” Anggi mengepulkan asap rokoknya ke arah Ryan, membuat cowok itu terbatuk – batuk. Tawa kembali meledak memenuhi seisi ruangan.
Kali ini Ryan merasa tak dapat lagi menahan diri, mukanya memerah menahan amarah.
“Ok, gw kuper, tapi lebih baik dari pada kalian yang sombong kayak gini! Gw masih punya hati.. Teman macam apa kalian yang senang – senang diatas penderitaan orang lain? Asal kalian tahu, sekarang Ayah Dinda sedang di rawat di rumah sakit, korban tabrak lari, sedangkan Dinda kondisinya sendiri juga kalian tau sendiri. Sedangkan kalian? Kalian asyik besenang – senang di sini! Trus, Hanya karena tebece, lalu Dinda pantas menerima perlakuan seperti itu? ha? Apa dia pernah minta dikasih tebece? Hah?”
Keenam orang lainnya tampak tak peduli. Hanya Fery yang berubah ekspresinya dan terlihat menyimpan sesuatu di kepalanya. Keningnya berkerut dan terlihat sedang berusaha menyembunyikan keterkejutannya.
“Dan lu Fer, gw nggak nyangka lu orang yang serendah itu, lu tega ninggalin Dinda begitu aja. Lu rendah Fer! Pengecut!”
Fery tersentak dibentak begitu. Dipandangnya Ryan dengan tatapan tajam. Baru kali ini ada orang yang membentaknya, di depan umum lagi! naluri cowok itu segera bekerja. Ia berdiri dengan tangan terkepal.
“Hei, tau apa lu tentang gw? hah?! Tau apa lu tentang gw? tau pa lu tentang gw dan Dinda? Berani lu sama gw?” Fery mencengkram kerah baju Ryan sampai kusut. Ryanpun tampak siaga, siap membalas. Semua pengunjung kafe sekarang tampak diam, tak berani bersuara.
“Eit, STOP!! Udah Fer, masak lu mau berantem sama dia anak kampung gini, nggak lucu kan?” Selly menahan Fery, lalu berpaling pada Ryan, “Hei, berani lu ya, bentak – bentak gw dan temen – temen gw? lu pikir lu siapa? Keluar deh lu dari sini! Satpam..!” Selly melerai.
Dua orang lelaki bertubuh kekar dan berpakaian bertuliskan “security” segera pasang badan. Fery langsung melepaskan kerah baju Ryan, tanpa melepaskan tatapannya yang masih tajam. Tanpa menunggu kedua lelaki itu menyeretnya keluar, Ryan segera berbalik dan pergi meninggalkan hiruk pikuk yang kembali mewarnai kafe itu.
Percuma. Sungguh percuma meminta pertolongan mereka. Nggak cewek – cewek centil itu, nggak Fery, semuanya sama!, maki Ryan dalam hati. Lalu bagaimana lagi ia harus membantu gadis itu?
Ryan tahu betul kesulitan keuangan yang dialami Dinda, meskipun Dinda berusaha menyembunyikan hal itu kepadanya. Sementara ini memang uang hasil sewa rumah yang merupakan jalan terakhir itu cukup untuk membiayai perawatan pak Pram. Tapi sampai kapan uang itu mencukupi, sedangkan biaya perharinya saja mencapai jutaaan rupiah? Lalu bagaimana dengan pengobatan dan perawatan yang juga harus dijalani gadis itu agar sembuh dari tebe-nya?

………………..

Dinda baru hendak mengetuk pintu ruangan dokter Hans ketika terdengar suara dari dalam. Oo.. berarti sedang ada tamu, pikir Dinda, lalu duduk di bangku yang berderet di samping pintu masuk.
“Jadi nyonya akan membantu biaya pengobatan pak Pram selanjutnya?” tanya dokter Hans, memastikan apa yang disampaikan wanita itu sekali lagi.
“Ya, Dok, saya akan bayar semua biaya pengobatan untuk Pram..”
APA??!!
Dinda terlonjak kaget ketka mendengar nama ayahnya disebut – sebut. Gadis itu mencoba melihat ke dalam melalui celah tirai yang sedikit tersibak. Dan menajamkan pendengarannya Tampak seorang wanita tengah berbicara dengan dokter Hans. Tidak, wajah wanita itu tidak kelihatan, karena membelakangi jendela, hanya kalau dilihat dari bajunya sepertinya dia adalah seorang pengusaha atau bisniswomen. Dinda semakin menempelkan telinganya ke jendela dengan penuh penasaran. Siapa dia?
“Kami sangat berterima kasih sekali, karena terus terang kami melihat Putrinya sudah agak.. yah bingung karena kehabisan biaya. Saya jadi kasihan juga melihatnya. Gadis sekecil itu sudah harus menghadapi masalah hidup seperti ini, sedangkan kondisi pak Pram belum juga membaik, ada gumpalan darah yang menggumpal di bagian kepalanya. tapi, kalau boleh, bisakah anda memberitahu saya apa alasan kenapa anda melakukan ini nyonya ?” tanya dokter Hans lagi.
Dinda menanti jawaban selanjutnya dengan berdebar – debar.
Wanita itu tampak menghela napas panjang,” Tidak ada maksud apa – apa dokter, hanya saja pak Pram di mata saya adalah seorang yang baik, seseorang yang sangat berarti dalam hidup saya..” jawab si wanita yang wajahnya masih belum kelihatan juga pleh Dinda itu.
Dinda terbelalak. Beberapa perkiraan langsung seperti tertulis di otaknya. “Seseorang yang teramat berarti? Siapa sebenarnya wanita itu? ada hubungan apa ayah dengan wanita itu? mungkinkah ayah… ah, tidak! Ah, ayah tak mungkin seperti itu!” Dinda berusaha menepis pikirannya.
“Dan saya juga minta pada dokter, tolong rahasiakan hal ini kepada siapapun dok, termasuk Dinda, putri pak Pram dok, dan juga anak - anak saya..”
Apa?! Dinda semakin penasaran. Jadi?
“Kalau boleh saya tau, kenapa harus dirahasiakan pada anak ibu?”. Tanya dokter Hans lagi.
Wanita itu terdiam. Dinda menanti kalimat selanjutnya dengan dada yang semakin membuncah. Napasnya tertahan. Ayo, cepat katakan!
“Begini dok, selama ini anak saya itu sangat benci sama Pram, saya takut mereka jadi tambah benci dan bertindak macam – macam kalo dia tau saya masih menghubungi, apalagi sampai membantu Pram. Biarlah semua menjadi rahasia sampai keadaan mengizinkan saya untuk menceritakan segalanya kepada mereka.“
Mas Pram? Ibu? Anak? Siapa wanita ini? Anaknya siapa? Mengapa harus dirahasiakan segala?
Dinda menanti kelanjutan percakapan itu dengan penuh dugaan. Tapi, tak ada pembicaraan lagi tampaknya. Dokter Hans terlihat manggut – manggut.
“Baiklah Dokter, saya permisi dulu. Kalau ada perkembangan tolong kabari saya, permisi.”
Suara wanita itu membuat Dinda kembali tersadar dengan posisinya yang masih berdiri tepat di depan pintu. Dengan cepat gadis itu berbalik mundur dan masuk ke toilet di samping ruangan tersebut.
Dinda merasa kepalanya seperti meledak ketika sosok itu keluar dari ruangan dengan tergesa - gesa. Dia mundur terhenyak ke belakang ketika sosok itu melintas di depan toilet tempatnya berdiri. Tante Tari? Mamanya… Fery?!
Beberapa pertanyaan langsung menyergap otak Dinda. Mungkinkah semua prasangka yang ada di kepalanya benar? Inikah jawaban atas tatapan aneh nyonya itu waktu di pesta ulang tahun putranya Fery waktu itu? Mungkinkah Fery terlibat atas semua yang dialami ayah dan dirinya dan yang terjadi selama ini sehingga semua harus dirahasiakan kepadanya? kalau benar Fery terlibat, apa arti kedekatan mereka selama ini? ataukah mungkinkah Fery hanya memanfaatkannya untuk membalaskan kebenciannya? Apakah perubahan sikapnya ini juga merupakan salah satu urutan dalam menuntaskan kebenciannya pada papa? Dinda merasa kepalanya semakin berputar. Pusing!
Huff. Dinda menarik napas panjang. Ia segera mengurungkan niatnya untuk menemui dokter Hans. Ia kembali melangkah menuju kamar tempat ayahnya dirawat. Ia bernapas lega ketika di sana tak ada siapa - siapa. Tampaknya tante Tari langsung pulang, bisik hati Dinda.
Namun, hanya sesaat ia bernapas lega, kening Dinda kembali mengernyit begitu melihat seikat bunga mawar beraneka warna yang tergeletak di meja samping tempat tidur ayahnya. Dinda segera mengambil dan membaca nama si pengirimnya. Gadis itu langsung terperanjat, di kertas itu hanya ada kata “Untuk Mas Pram” dan tak ada tulisan apa – apa lagi!
Dinda merasa otaknya langsung berputar dengan otomatis. Mungkinkah tante Tari sempat mampir ke sini tadi? Ataukah dari seseorang yang lain? Atau dikirimkan melalui perawat? Oh, tunggu.. tunggu.. kalu dikirimkan lewat perawat atau dengan memesan, bukankah seharusnya ada nama pengirim atau minimal tulisan untuk siapa yang diberi?
Dinda lalu menghampiri perawat yang menunggu di ruang informasi, bunga itu tergenggam di tangannya.
“Maaf, suster!”
Suster yang sedang sibuk dengan berkas – berkas di mejanya itu menoleh, “Ya, mbak. Ada yang bisa saya bantu?”
“Ini..”Dinda mengacungkan seikat bunga yang dipegangnya,”Apa suster lihat siapa yang membawa masuk bunga ini tadi?”
“O.. itu, ya. Tadi saya yang antar ke tempat pak Pram. Memangnya ada apa mbak?”
“Boleh saya tahu siapa yang menitipkannya?”
“Kalau namanya saya nggak tahu mbak, tapi yang jelas dia seorang wanita, saya lupa seperti apa rupanya, karena tadi saya sedang sibuk dengan pekerjaan saya, jadi saya tak terlalu memperhatikannya.”
“Oh, begitu. Makasih suster.”
Suster itu mengangguk, lalu kembali sibuk dengan berkas – berkas di depannya. Dinda meninggalkan ruang informasi itu dengan wajah yang tak berubah dengan sebelum ia bertanya tadi. Seorang wanita? Siapa dia? Apakah wanita itu tante Tari? ataukah ada wanita lain yang menjenguk papa? Tapi ini? oh! Jadi berarti.. ah, bodo! EGP aja deh!, seru Dinda dalam hati.
Dinda bergegas kembali ke kamar ayahnya.

………..…………………

Dinda terduduk di depan ranjang ayahnya yang sudah terbaring selama empat puluh hari lebih itu. Ditatapnya mata ayahnya yang terbaring lekat – lekat. Sesekali tangan yang dari tadi tak lepas dari genggamannya itu diciumnya dengan sayang. Air mata mengalir dari matanya yang bening. Dengan pilu dan lirih ia berbisik, “ Ayah, ayah masih ingat sama Dinda? Dinda nggak tau ayah bisa dengerin Dinda apa nggak, tapi ayah harus dengerin Dinda! Dinda mohon ayah..! kalau ayah nggak bisa menjawab, tunjukkin sama Dinda kalo ayah bisa denger Dinda ngomong, beri Dinda sebuah tanda… tanda ayah bisa dengerin Dinda, tolonglah ayah!”
Dinda menelan ludah, suaranya semakin habis dan parau, “ Ayah, ayah harus tau, ayah sangat berarti buat Dinda. Ayah tahu? Dinda pengen banget kita balik kayak dulu lagi, jalan – jalan sekeluarga.. uhuk! Uhuk! tapi Dinda tahu, itu nggak mungkin karena bunda udah nggak ada, dan sekarang yang Dinda punya Cuma ayah! Ayah harus dengar, yang satu – satunya Dinda punya Cuma ayah . Dinda nggak sanggup lagi yah, kalau harus hidup tanpa ayah! Dinda nggak akan bisa menghadapi kenyataan ini.. tolonglah ayah.. Dinda nggak peduli ada hubungan apa ayah dengan ibunya Fery atau siapalah yang ngirim bunga itu buat ayah, asalkan ayah sembuh, Dinda nggak akan protes apapun lagi..”
Mata Dinda memandang ke sudut ruangan di tempat seikat bunga yang mulai layu itu. Entahlah, sampai sekarangpun Dinda masih bertanya – tanya siapakah wanita yang mengirimkan bunga tanpa pengirim itu. Ingin rasanya Dinda bertanya pada ayahnya, tapi itu tak mungkin! Pram tetap saja terbaring tak bergerak!
Dinda mengusap pipi ayahnya dengan punggung tangannya yang lembut. Mulutnya terus berkata di sela – sela batuknya dengan suaranya yang semakin serak,” Ayah, kita kan hidup bahagia lagi setelah ayah sembuh. Dinda akan terus ada di samping ayah, merawat ayah, memperhatikan ayah, menyayangi Ayah, kita akan hidup bahagia, meski kita udah nggak punya rumah bagus lagi, kemana – mana nggak pakai mobil, hidup dengan sederhana, uhukkk!!” Dinda terbatuk menahan sedih di hatinya.
“Dindapun nggak tau, apa Dinda masih punya umur yang panjang, ayah tau kenapa? karena setiap tahun minimal orang yang meninggal di Indonesia hampir lima ratus ribu per tahun.. karena itu, Dinda pengen dalam waktu yang nggak tentu ini Dinda bisa merawat ayah, menjaga ayah, berbakti pada ayah, ayah adalah satu – satunya yang bikin Dinda semangat lagi untuk hidup.. tolong Dinda ayah! Dinda… ”
Kalimat Dinda terhenti ketika merasakan tangannya basah dan hangat. Sudut mata ayahnya tampak mengeluarkan butiran air mata. Dinda terloncat kaget. Ia segera melompat ke luar ruangan.
” Dokter..! ayah bisa mendengarkan saya dokter! Zahra..! ke sini Ra, ayah, ayah bisa mendengarkan Dinda! Lihat Zahra! Ayah bereaksi, ayah bisa mendengarkan Dinda..“ jerit Dinda menghambur keluar kamar. Ia melompat seperti anak kecil yang kegirangan.
Zahra segera memanggil para suster dan dokter. Dalam sekejap kamar itu langsung dipenuhi kesibukan yang luar biasa.

…….bersambung ke bagian sebelas.…………….

Jumat, 18 Juni 2010

RB - Bagian Sembilan

Rumah sakit Cipto, beberapa jam setelah kecelakaan Pram..

Dinda masih terpaku menatap wajah ayahnya yang dibalut perban yang masih menyisakan bercak merah darah yang terbaring beberapa meter di depannya. Tangan Gadis itu menggenggam seikat bunga yang bertuliskan namanya. Mulut gadis itu tak henti – hentinya berbicara, walaupun sosok yang diajaknya bicara tak juga menjawab.
“Ayah, makasih bunganya. Dinda baru tahu kalau ayah sebenarnya sayang banget sama Dinda.. maafin Dinda yah, harusnya Dinda bisa jagain Ayah. Dinda tau, Ayah juga kesepian, sama seperti Dinda setelah bunda pergi ninggalin kita.. yah, ayah harus tau, Dinda sayang sama ayah, Dinda nggak mau ayah ninggalin Dinda, ayah harus berusaha untuk hidup, sama kayak Dinda! Ayah nggak boleh ninggalin Dinda, Nggak boleh..” Ucap Dinda serak. Air mata membanjiri matanya yang tampak membengkak karena menangis semalaman.
Tangannya menggenggam tangan dingin lelaki yang dicintainya yang terbaring lemah itu. Airmata mengalir deras di sela – sela suara seraknya yang semakin habis. Dua hari sudah ayahnya terbaring, tanpa menunjukkan perubahan apa – apa. Seandainya bisa, sungguh ingin rasanya Dinda menggantikan tubuh itu berbaring di sana itu..
“Maaf, non Dinda..”
“Ya, mbok?”
“Anu.. ada .. ada temannya di luar, mbok suruh masuk atau tunggu aja?” suara mbok Yana membuat Dinda menoleh. Gadis itu mengusap airmatanya, “ Siapa mbok? Kalau Cuma satu atau dua orang, suruh masuk aja, Mbok.” jawab Dinda. Mbok Yana mengangkat bahu, lalu kembali keluar.
Teman. Siapa yang masih mengakuinya sebagai teman setelah semua ini terjadi? Apakah itu Anggi Cs yang kembali setelah pergi meninggalkannya begitu saja sejak saat itu? Ataukah Fery, yang langsung berubah drastis setelah semua yang dialaminya?
Ah, Fery.. perih sekali rasanya hati Dinda ketika mengingat nama itu. Dulu, sebelum semua ini terjadi sosok Fery adalah teman terbaik di mata Dinda. Fery yang selalu menyanjungnya dan dapat membuatnya melupakan segala resah. Memang seharusnya Dinda tidak berprasangka, tapi bukankah kenyataan bahwa Fery memang menghilang dari kehidupannya sejak berita tentang dirinya yang mengidap tebece menyebar di sekolah itu?
“Assalamualaikum..” Dinda reflek menoleh ke asal suara di belakangnya. Sosok tegap Ryan berdiri di sana. Di sampingnya berdiri seorang gadis manis berkerudung rapi, usianya kira – kira tiga belas atau empat belas tahun, tiga atau empat tahun lebih muda dari cowok itu.
“Eh, wa’alaikum salam. Kamu.. Kok kamu tau aku ada di sini? Dan dia?” Tanya Dinda sejenak mengalihkan perhatian dari ayahnya yang terbaring. Matanya beralih ke sosok di samping Ryan.
“Eh, nggak, tadi aku ke rumah kamu, karena sudah tiga hari ini aku nyari kamu di sekolah, tapi kamunya nggak masuk terus, trus kata bu Sami yang jaga, katanya ayah kamu lagi dirawat. Oh ya, ini Zahra adikku.”
Sosok yang disebut Zahra segera mengulurkan tangan, Dinda menyambut uluran tangan itu. Mata mereka berpandangan sejenak. Sesaat Dinda merasa ada sesuatu yang lain pada gadis itu, namun entah apa.
“Gimana keadaan ayah kamu?” Ryan kembali mengagetkan Dinda.
“Ya, seperti yang kamu lihat Yan, ayah masih koma. Aku selalu bicara sama ayah, tapi ayahku tetap nggak ngejawab.”
“Kamu sabar aja ya? Mungkin emang ini ujian buat kamu” ucap Ryan.
Dinda mengangguk. Ya, Dinda juga berharap hal yang sama dengan Ryan dan berdoa semua ini akan segera berlalu dari hidupnya. Bukankah selalu ada ungkapan yang mengatakan bahwa badai pasti akan berlalu ?
“Oh ya, Aku beliin makan ya, kamu ngobrol aja sama adikku ya, sekalian buat mbok yang di depan. Ra, temenin kak Dinda ya!” ujar Ryan.
Zahra mengangguk. Dinda memandang mereka dengan penuh terima kasih, “Makasih Yan, Zahra. Oh ya, Ryan, kamu nggak mau lihat keadaan ayahku dulu?” tanya Dinda dengan nada yang seriang mungkin dan senyum terpaksa.
“O, i.. iya, nanti aja. Setelah beli makan buat kamu.” Ryan gelagapan dan berusaha menutupi rasa gugupnya dengan membalas senyum sebelum ia meninggalkan Dinda. Zahra menatap kepergian kakaknya dengan bingung.
Di sampingnya, Dinda menatap bayangan Ryan yang semakin menjauh dan menghilang di balik tikungan kolidor rumah sakit. ”Ya Allah, kuatkan hatiku menjalani semua ini, jangan biarkan Ayah meninggalkanku saat ini, berilah kekuatan padanya untuk bisa melewati deritanya dan.. Bunda, ya Allah.. Dinda kangen baget sama bunda.” Dinda bergumam dalam hati.
Selanjutnya Dinda larut dalam percakapannya dengan Zahra. Gadis itu, walaupun lebih muda dari pada Dinda, tapi ternyata enak diajak ngobrol dan dewasa. Sedikit banyak Dinda merasakan beban di pundaknya sedikit lebih ringan.

……….…………..

Hari ketiga setelah kecelakaan…
Sosok itu menatap Pram yang terbaring tak berdaya di depannya dengan perasaan tak menentu. Kesal, sedih, kasihan, dan marah bercampur jadi satu di ekspresinya yang kaku. Sebuah photo lama tergenggam di tangannya yang mengepal keras.
“Pram.. atau harus aku panggil papa? papa tiriku, apa kabar? Apa? Kamu nggak kenal aku? Oh, ya! Pantas saja, karena kita ketemu udah lamaaa.. banget!. Aku siapa? Aku anakmu! Anak yang terus menunggumu datang sejak empat belas tahu yang lalu.. ibu? Papa pasti ingin bertanya tentang ibu dan adikku kan? Ibuku masih menunggumu, pa, sampai saat ini..!” sosok itu berhenti sejenak, lalu menyapukan pandangan ke sekitarnya, takut ada yang mendengar kata – katanya.
Sementara itu, sosok yang ditatapnya masih tak bergerak. Ia melanjutkan bicaranya, “Ibuku menunggu siang dan malam, bekerja membanting tulang demi kehidupan kami. Ibuku menuggumu! Aku memang kesal padamu, aku sempat benci, aku sempat ingin kau lenyap saja dari dunia ini. tapi, sekarang tidak, pa! Aku ingin kau sadar, sadar! Hadapi aku!” Sosok itu tergugu menahan isak dan luapan emosinya yang tertahan, “Ya, aku tak tahu alasannya, tapi yang aku tahu, aku tidak menjalani hidup seperti anak lainnya, seperti Dinda misalnya. Hidupku penuh kepahitan, pa, karena itu aku .. aku rasanya tak ingin Dinda.. ”
Sosok itu tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dari kejauhan terdengar langkah – langkah yang semakin mendekat. Sosok itu segera bangkit dengan terburu – buru, namun berusaha agar tampak wajar. Ia melangkah perlahan menuju pintu. Seorang suster yang berpapasan dengannya di depan pintu tersenyum padanya. Ia membalas senyum itu dengan penuh arti.

Minggu ketiga setelah kecelakaan Pram..
Dinda termagu sendirian di depan kolidor rumah sakit yang dipenuhi semerbak bau obat. Di tangannya tergenggam sebuah buku mungil, buku tabungan. Mobil, surat – surat berharga yang ditinggalkan Ayah untuknya, satu persatu melayang sudah untuk biaya rumah sakit yang tidak sedikit itu. Perusahaan ayahnya tak banyak dapat membantu, karena kondisinyapun sedang sulit. Hanya beberapa kali waktu itu mereka datang menjenguk. Sekarang, tabungan.. Dinda menatap saldo di buku tabungan yang ada di tangannya yang semakin menipis dengan desah napas panjang. Ayah, tolong Dinda ayah..!
“DOR!!”
Hah!! Dinda tersentak kaget. Di depannya Zahra berdiri cengengesan melihat kekagetan gadis itu. Dinda langsung menekuk mukanya jadi delapan, cemberut.
“Assalamu’alaikum. Kakak kok bengong aja? Gimana keadaan oom sekarang?”
“Wa’alaikum salam. Masih sama, belum sadar. Kamu sendirian? Kamu bawa apaan?” Tanya Dinda begitu melihat tangan kanan gadis kecil itu menjinjing sebuah plastik putih.
Zahra tersenyum, lalu mengangsurkan plastik itu kepada Dinda, ”Ada titipan makanan buat kak Dinda, nih!”
Dinda menerima bungkusan itu dengan senyum mengembang. Laper!! Tangan gadis itu langsung membuka kardus nasi itu dengan hati – hati. “Makasih ya, Enak nih kayaknya.. kamu yang masak?”
Senyum Zahra terlihat pudar seketika, Dinda jadi bingung, “Ada apa? Aku salah ngomong ya?” tanya Dinda hati – hati, takut ada yang salah dengan ucapannya.
Zahra menggeleng, memandang Dinda sesaat, lalu “Nggak, iya, itu dari ibuku. Dia yang yang masak buat kamu, aku belum ahli masak..” sahutnya dengan malu – malu.
“Ce ilee.. gitu aja sedih, ntar juga lama – lama kamu pasti bisa. Aku juga belum bisa masak. Ini buat aku?”
“Iya, buat kakak.”
“Emangnya ibu kamu kenal sama aku?”
“Ya, nggak sih, Cuma Kak Ryan yang cerita.”
“Ryan yang cerita?”
“Yup!”
“Kamu tinggal sama siapa aja? Ayah? Adik?”
“Nggak, Cuma sama ibu sama kak Ryan aja kok, aku udah nggak punya ayah dan nggak punya adik.”
Dinda tercenung. Pikirannya berusaha menangkap hikmah yang bisa diambilnya dari perkataan Zahra. Benarkah? Nasib mereka sama. Dinda punya bunda, dan Ryan dan Zahra punya ibu. Selama ini Dinda selalu berpikir betapa malangnya hidupnya tanpa bunda, tapi ternyata masih ada juga yang bernasib malang seperti dirinya? Bukankah seharusnya juga bersyukur masih memiliki Ayah yang tinggal serumah dengannya, meskipun seringkali tak peduli padanya? Dan si Mbok yang perhatian sebagai pengganti bunda? Jadi itukah sebabnya Ryan begitu benci dan kesal sekali mendengar perkataannya waktu malam itu?
“Mungkin kita emang senasib kak, Jodoh kali! He..he..”
Dinda langsung cemberut. “Yeee! ngasal! Ogah ah!”
“Lho, kok?”
“Ogah, emangnya lesbong?”
“Yee, emang jodoh dalam hal nikah aja, cocok temenan juga namanya berjodoh.”
“Ehem!”
Deheman dari belakang mereka membuat keduanya menoleh,“ Udah akrab nih kayaknya.” sapa Ryan.
“Yeee! datang – datang bukannya ucap salam, malah ehem – ehem..” Zahra buru – buru menimpali.
Ryan jadi malu, “Iya, assalamu’alaikum..” ucapnya.
“Wa’alaikumussalam.” koor keduanya.”
“Eh, Yan, Tapi kok kamu tahu bundaku udah meninggal? Aku kan nggak pernah cerita?” Selidik Dinda.
“Ada aja!” hm, lagi – lagi nih anak.
“Huuu..! sok detektifnya kumat deh!” sambung Zahra.
“Jangan – jangan kamu CIA ya? Atau FBI, yang dikasih kerjaan buat mata – matain aku?”
“Yee.. kurang kerjaan amat tuh agen! Emangnya kamu sepenting apa? Putri presiden aja nggak gitu – gitu amat! Ya pokoknya ada deh! mau tau aja!”
Hm… JTAK! Buku kecil yang tadi di tangan Dinda langsung melayang ke kepala cowok itu, membuat cowok itu mengaduh.
“Syukur!! Nih tambah lagi!” Zahra ikut menimpali, sebuah bantal sofa sekarang ada di tangannya, siap melayang.
Ryan buru – buru menghidar dari serangan kedua gadis itu. Namun, jauh di hatinya, Ryan merasa senang bisa membuat Dinda kembali tersenyum, meski ada sesuatu yang tersimpan di balik senyumnya itu. Sejenak semua beban yang tadi ada di kepalanya terlupakan oleh Dinda.
…………………

Bulan kedua setelah kecelakaan Pram…
“Jadi, ayah saya nggak bisa terus dirawat di sini kalau saya nggak bisa bayar biaya sebesar ini dokter? Mengapa sebesar ini dokter?”. Tanya Dinda meyakinkan pendengarannya atas penjelasan dokter yang begitu panjang tadi. Mata gadis itu tak lepas dari sebuah kertas yang bertuliskan nominal yang siapapun pasti akan terbelalak melihatnya.
“Jadi memang begitulah..”
“Tapi kenapa, dokter?”
“Yah, nona, saya rasa nona tahu dan sudah cukup besar dan dewasa untuk mengerti hal – hal seperti ini, perawatan ayah nona itu bukan perawatan biasa, tapi koma! Anda juga pasti pernah dengar kan? dan dana yang nona bayarkan beberapa waktu yang lalu sudah tidak mencukupi untuk biaya perawatan selanjutnya. Pihak rumah sakit sebenarnya sudah berusaha membantu, tapi bantuan yang bisa kami berikan juga terbatas, karena banyak pasien lain yang juga membutuhkan bantuan. Saya rasa anda mengerti, nona.” Dokter Hans mengakhiri pembicaraannya.
“Tapi, bukannya biasanya di setiap rumah sakit ada keringanan untuk orang yang nggak mampu, dok?”
“Ya, mungkin nanti nona bisa tanya di bagian administrasi. Yah, biasanya ada beberapa syarat yang harus dilengkapi dulu.”
“Ya, makasih dokter. Mungkin saya akan coba ke sana.”
Dinda tertunduk sedih. Lalu pamit keluar ruangan.
Dinda bukan hanya mengerti dengan ucapan dokter Hans, tapi juga paham betul apa artinya. Tapi bagaimana mungkin ia bisa mendapatkan uang sebesar puluhan juta itu untuk kelanjutan biaya rumah sakit ayahnya?. Perusahaan tempat ayahnya bekerja tak lagi bisa memberikan dana cash, perhiasan terakhir peninggalan bunda sudah terjual kemarin siang, sementara untuk mencari pekerjaan tanpa ijazah SMU yang seharusnya diperolehnya beberapa bulan lagi? pekerjaan apa yang bisa didapatkan gadis kecil sepertinya di tengah panasnya persaingan ibukota saat ini? Paling berapa sih gaji pegawai lulusan SMU apalagi yang nggak lulus?
Hufh! SMU. Dinda jadi teringat sekolahnya yang terbengkalai dan tentang teman – temannya. Sungguh menyenangkan saat – saat dulu. Tidak seperti sekarang yang sejak peristiwa itu, tak seorangpun dari Anggi, Mia, Selly ataupun Desi yang datang menjenguknya ke rumah sakit ini. jadi bagaimana mungkin ia bisa meminta bantuan? Sedangkan meminta bantuan kepada guru – guru yang sempat beberapa kali datang menjenguk jelas rasanya nggak mungkin, Dinda tahu pasti kondisi ekonomi dan keluarga mereka yang juga pas-pasan karena gaji guru yang kecil. Sementara minta tolong Ryan? Jelas lebih nggak mungkin lagi, karena Dinda tahu Ryan juga harus membantu biaya sekolah Zahra dan bibinya menghidupi dua adik sepupunya yang juga masih sekolah dan kecil – kecil. lalu? Huh! Dahi Dinda semakin mengernyit. Hm, apa ya yang bisa ia lakukan sekarang?
“Din, kamu kenapa?”. teguran Ryan yang baru tiba entah dari mana mengagetkan Dinda.
“Eh, nggak apa – apa. Zahra mana?” Jawab Dinda berbohong.
“Mungkin bentar lagi datang, tadi dia ada les dulu, dia kan udah mau ujian kenaikan kelas.”
“Ow..” mulut Dinda mengerucut.
“Hm.. gitu. oh ya, Ini ada surat dari sekolah kamu, tadi nggak sengaja aku lewat rumah kamu, trus mampir dan mbok Yana ngasih ini.. katanya kamu diperbolehkan ikut ujian akhir, nanti bulan Juni, jadi kamu siapin aja mulai sekarang.”
“Bener, Yan? Aku bisa ujian? Bisa lulus?” Dinda menatap Ryan tak percaya. Ryan mengangguk, ”Bisa ujian, kalo lulus mah tergantung kamu”
Dinda memplototi Ryan dengan jengkel. Ryan langsung salah tingkah.
Sejak kejadian itu Dinda memang sudah tak pernah memikirkan akan masuk sekolah lagi, apalagi yang namanya mengikuti ujian. Bukannya tak ingin, tapi dalam situasi seperti ini?
“Trus, bungkusan itu?” Dinda melirik bungkusan yang dijinjing Ryan.
“Ini ada titipan dari rumah, mbok Yana udah cerita sama aku soal penyakit kamu, trus Mbok Yana nitip ini ke aku, katanya ini ramuan tradisional untuk mengobati tebece, campuran dari bunga tembelekan, akar alang – alang, kencur, gula batu rebus, sama air yang disaring.” jelas Ryan panjang lebar.
“Buat apa?” Dinda bingung.
“Ya buat kamu minum tiap hari.”
“Kamu kan tahu aku paling benci minum jamu? Pahit! ”
“Mau aku suruh Zahra maksa kamu minum?”
Dinda menggeleng dengan cepat. Ryan ketawa melihat ekspresi Dinda yang langsung seperti orang mau muntah, “ Bodo! Kata simbok ini bisa buat nyembuhin tebece, tapi kamu harus minum rutin dua kali sehari, trus katanya ini untuk selanjutnya kamu harus ambil sendiri tiap pagi ke rumah, jelas?”
Dinda mengkerut. Huh.. udah maksa, pahit, pake ngambil sendiri lagi! maunya diambilin! He.. he.. Dinda nyengir.
Tapi sesaat kemudian Dinda kembali terdiam.
Rumah? Oh! Ya.. mengapa tak pernah terpikirkan olehnya selama ini? ia masih memiliki rumah! Tapi, kalau rumah itu ia jual atau sewakan?, bagaimana cara menjelaskan semua ini kepada Ayah nanti? lalu ia akan tinggal dimana? tapi, bukankah yang penting ayah bisa sembuh? Bukankah ia bisa mencari kontrakan kecil dulu, sambil mencari kerja? Apapun akan dikorbankannya untuk ayah! ya, apapun! Termasuk jatah berobatnya yang habis akhir bulan ini.. (Eit, diam – diam ya! ini nggak boleh ketahuan Ryan, lho!)
“Makasih Yan!, tolong jaga Ayahku sebentar ya..! bentar lagi aku balik kok, ok? Nggak pake lama kok, paling cuma beberapa jam. Kalau Zahra datang, suruh nunggu aja, ok?” Dinda mengatupkan kedua tangan di dadanya.
Lalu gadis itu langsung berlari, setelah mengambil dompetnya di laci lemari bangsal tempat ayahnya dirawat, tanpa mempedulikan Ryan yang masih bingung menatap bungkusan dan surat yang masih digenggamnya. Bingung. Makasih? For what? (kan titipannye belom aye kasihin, non!) .

….……bersambung ke bagian sepuluh……………
leve coment y